Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
26


__ADS_3

~


Merasa tidak ada jawaban dari yang lebih tua, si kecil memaksakan diri menuruni kursi roda yang ia duduki.


"Nak. Apa yang kau lakukan.!"


Cc dengan cepat menahannya.


Ya, tentu Lulu melihatnya. Lagi lagi si kecil yang polos itu membuat semua orang di sekelilingnya khawatir.


"Bibi Lulu,, hiks,, tolong,, tolong biarkan a Yi menemani Yi Maa disini.. Hiks,, a Yi mohon Bibi.. Hiks,,hiks,,hiks,,"


Dokter cantik itu tak lagi dapat menahan air matanya, namun seakan berat baginya untuk memenuhi permintaan si kecil.


"Nak,, Bagaimana mungkin Bibi bisa membiarkanmu disini sendiri,,? Sedangkan kau masih belum sepenuhnya pulih, jika terjadi sesuatu padamu nanti, Ibumu pasti akan sedih.


Bagaimana pun juga kau adalah keponakan Bibi sendiri, dan Bibi akan lebih merasa bersalah nantinya jika sampai sesuatu benar-benar terjadi padamu. Tetapi Bibi juga tak tega membuat mu menangis seperti ini,,"


Hati benar benar sedih, ia benar-benar kebingungan dengan mengijinkan atau tidak sama sekali menuruti kemauan a Yi.


"Eh,? Nak. Ada apa? Mengapa menangis seperti itu,? Jiě,, ada apa?"


Lubin yang pergi setelah mengangkat tubuh Wang Hao, terkejut saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.


Ia awalnya berniat memindahkan Wang Hao ke ruangan lain untuk perawatan, namun urung, dan memilih menunggu di meja kerja sang Jiějiě yang berada tepat di luar kamar tersebut.


Namun ia tak tahu apa yang terjadi saat ia berada di luar.


Dirinya hanya merasa tak sabar hanya diam menunggu, jadi ia memutuskan untuk memasuki lagi ruangan tersebut.


Karena baik Lulu, a Yi dan Cc, ketiganya tak ada lagi yang keluar setelah mereka memasuki kamar tersebut setelah membawa Xiao Lin. Terlebih Wang Hao kini yang nampak belum sadarkan diri.


"Jiě,, ada apa??" Tanyanya lagi karena tak mendapat respon dari sang Jiějiě atau pun si kecil a Yi yang masih saja terus menangis.


"Cc,, Jiějiě tidak tahu lagi bagaimana mengatasinya,, Jiějiě bingung_ a Yi meminta untuk tetap disini, sedangkan ia sendiri masih belum sembuh. Jiějiě,,"


"Tidak apa Jiě, biarkan Cc mengurusnya."


Meski ada keraguan, namun Cc akan tetap berusaha meyakinkan si kecil. Kedua orang dewasa itu mengabaikan salah satu pemuda yang lebih kecil darinya di antara mereka.


Membuatnya terlihat bodoh, dan seolah menjadi orang yang tak berwujud yang bisa mereka abaikan begitu saja.


"Nak,, ada yang ingin Bibi katakan,, apa a Yi bisa jawab pertanyaan Bibi Cc sebentar?" Tanya Cc sembari mengusap air mata yang membanjiri kedua sisi pipi si kecil.

__ADS_1


Tidak ada sahutan, hanya sebuah anggukan dari si kecil sebagai jawaban untuk sang Bibi.


"Apa a Yi benar-benar ingin berada disini?" Ucap Cc memulai pertanyaan nya.


"Mn. Hik,hik,, a_Yi,, hik,, i_ngin te,tap hik,hik, di_sini. Hik."


Si kecil menyahut antusias dengan sesenggukan.


"Boleh Bibi tahu alasannya?" Tanyanya kembali.


"A_hik, Yi,, i_ngin, hik,, ber_sa,ma hik,hik,, Yi_Maa, Bi,bi,, hik,, Hik,, a_pa a,, Yi_ bo,leh me_ne,mani Yi_Maa, hik,hik,, di_sini Bi,bi??" Ucapnya terbata, akibat tangis tak hentinya sebelumnya.


"Tentu. Asalkan a Yi berjanji pada Bibi untuk tetap menjaga kesehatan a Yi, dan tidak boleh terlalu lelah disini. Bagaimana?"


"Cc.!!"


"Mn. A_Yi, se,tuju Bi_bi."


Jawaban berbeda dari Lulu yang seolah tak setuju, dan si kecil a Yi yang tanpa ragu menyahuti sang bibi dengan binar bahagianya.


Lulu yang nampak tak setuju dengan Cc lagi lagi ingin memprotes keputusan yang di buat gadis itu.


Namun kembali di cegahnya, sebelum ia memiliki kesempatan berbicara.


"Tapi,,"


"Percayalah,, semua akan baik-baik saja. Jiějiě sekarang beristirahatlah, Cc tahu Jiějiě sangat lelah hari ini. Kali ini biar Cc saja yang mengurusnya."


Gadis itu kembali memutus ucapan Lulu yang masih tetap ingin menolak keputusan nya, ia tanpa ragu menyuruh sang Jiějiě untuk beristirahat karena khawatir sang Jiějiě terlihat begitu lelah dengan pekerjaannya.


Dan seolah dirinya tak menerima penolakan, Cc meminta Lubin membawa dokter cantik itu keluar dengan menggandeng tangannya.


Meski Lubin dengan cepat menuruti perintah Cc, namun ada sedikit gumam kekesalan dari pemuda itu setelahnya.


"Apa aku sudah terlihat kali ini? Apa aku berguna bagi kalian disini? Aku pikir aku hanyalah bayangan saja yang sebelumnya tak di anggap dan tak nampak di mata kalian.!"


Lulu dengan berat hati mengikuti langkah pemuda yang kini memeluk erat lengannya.


Sementara Cc hanya tersenyum menanggapi gumaman pemuda itu.


Setelah memastikan semua baik-baik saja, Cc pula meminta Zi Cheng dan sang kekasih untuk kembali. Namun sayang,, sepertinya itu mendapat penolakan keras dari keduanya.


Jadi, mau tak mau ia membiarkan mereka tetap berada di ruangan sang dokter untuk tetap menunggu. Sementara dirinya kembali memasuki kamar di dalam ruangan tersebut untuk menjaga a Yi dan yang lainnya.

__ADS_1


Di saat bersamaan, terdengar dering ponsel berbunyi. Cc yang merasa itu tidak berasal dari ponsel miliknya, lantas mencari sumber suara ponsel tersebut.


Langkahnya terhenti saat tubuhnya berada tepat di tengah Xiao Lin dan Wang Hao, di lihatnya benda pipih persegi bergetar dengan layar menyala yang masih terus berbunyi di sisi Wang Hao terlelap.


Dengan ragu gadis itu mengangkat tangannya, berniat untuk mengambil ponsel yang masih berdering milik pemuda itu.


Namun nampaknya Cc enggan untuk menjawab panggilan tersebut, ia merasa tidak berhak dan tak sopan jika menerima panggilan yang bukan di tujukan pada dirinya. Apa lagi, jelas,, jika benda yang ia pegang saat ini adalah milik orang lain, bukan miliknya.


"Bibi,, ada apa?"


Si kecil yang masih setia di sisi sang ibu, menjadi bingung melihat wajah sang bibi yang terasa aneh di pandang.


"Bibi, siapa yang menghubungi Paman?"


"Ah,, ini.."


Cc mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia pegang.


"Ini,,, tuan Wang."


"Hm??"


Melihat si kecil yang memiringkan kepalanya seolah berpikir, Cc berjalan mendekatinya.


Ia menyodorkan benda mungil itu pada si kecil, namun si empunya justru hanya melirik, tanpa niat merespon. Dan menyuruhnya untuk menjawab panggilan tersebut.


Cc masih enggan menjawab, ia hanya diam memandang benda tersebut. Hingga berulang kali itu terus berdering, membuat si kecil merasa terganggu karenanya.


"Bibi, mengapa tak menjawabnya? Itu sangat mengganggu.."


"Itu,, bisakah a Yi menjawabnya? Bibi,, Bibi tidak bisa menerimanya.."


"Ah,??"


Si kecil membuka mulutnya lebar, ia tak mengerti dengan sikap orang dewasa di sampingnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2