
~
Abaikan Cc yang masih bergulat dengan kebingungannya sendiri.
Kini beralih pada pria tampan yang nampak sibuk dengan benda kesayangan miliknya.
Wang Yue, pria itu berkali-kali memutar dan membolak-balikkan benda mungil di tangannya dengan raut kebingungan di wajah tampannya.
"Hahh,,,! Ada apa ini,, mengapa perasaan ku semakin tak terkendali. Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumamnya seraya nafasnya yang terbuang kasar.
"Apa lagi yang kau pikirkan. Apa kau tidak lelah dengan imajinasi mu itu hah?"
Suara lain mengusik pendengaran Wang Yue, akan tetapi pria tampan itu tak berniat menolehkan wajahnya pada seseorang yang kini berada di belakangnya.
"Atau sebaiknya aku memanggil ahli psikologis untuk mu? Ku rasa mungkin itu sedikit membantu." Sambung nya kemudian.
Namun sepertinya Wang Yue benar benar enggan untuk membalikkan badannya. Ia yang merasa sangat mengenal suara di seseorang belakangnya, mengira jika seseorang itu adalah bawahannya.
Akan tetapi, ia saat ini seolah tengah mengingat sesuatu dalam pikirannya. Namun otaknya lambat untuk bisa mengenali siapa sang pemilik suara tersebut.
"Bukankah kau memiliki tugas yang harus kau selesaikan. Untuk apa kau datang kemari menemui ku.
Apa semua sudah kau kerjakan. Atau kau datang hanya untuk membuang waktu ku saja."
Wajahnya kini terlihat datar. Masih dengan posisi seperti sebelumnya, Wang Yue tak sedikitpun bergerak dari tempatnya.
"Ch. Kau.! Kau masih saja sama seperti dulu Tuan muda Shen terhormat."
"Kau.!!! Jangan pernah sebut nama itu lagi di depan ku.!!!"
Wang Yue berteriak dengan nada yang menyeramkan, ia marah dan tak terima dengan ucapan seseorang itu.
Ia yang di kuasai oleh amarah, menggebrak meja besar di hadapannya. Seketika berdiri dan membalikkan badannya untuk memaki seseorang yang ia kira adalah bawahannya.
"Kau.!! Ja,,!!"
Ya,, ucapannya tak ia lanjutkan. Pria tampan itu yang semula berniat memaki seseorang yang telah memancing emosinya, kini justru terdiam seribu bahasa setelah melihat wajah si empunya.
Sementara orang yang berada di seberang nya, kini justru tersenyum mengejek melihat ekspresi wajah Wang Yue yang nampak konyol di hadapannya.
"Wow.!! Sungguh,, apa itukah ekspresi pertama dari wajah mu yang kau tunjukkan padaku, setelah sekian lama kita tak bertemu?
Hoo,, benar-benar tidak ada yang berubah sama sekali darimu. Kau masih saja sama seperti Yue'er yang dulu. Angkuh dan tidak bisa mengontrol emosi."
Mendengar ucapan tersebut, yang terkesan sebuah ejekan untuk dirinya, namun entah mengapa wajah Wang Yue yang semula marah, kini justru nampak biasa saja mendengar ucapan itu.
"Ch.! Kau sendiri apa yang berubah darimu? Kau masih sama saja seperti dulu, tengil dan arogan. Berkacalah pada diri sendiri, sebelum kau mengatakannya pada orang lain.!"
__ADS_1
Terdengar layaknya orang marah bukan? Tetapi tidak demikian. Wang Yue masih bertahan dengan wajah datar nya saat ini, entah itu karena marah atau mungkin sebaliknya.?
"Hahaa,, kau ini. Apa ini sambutan mu untuk seorang sahabat mu yang baik hati ini?"
"Hmph. Sahabat yang baik katamu?! Kau justru tak pantas mendapat sambutan apapun dariku. Ch.! Tidak ada orang baik yang mengaku baik pada orang lain.!"
Meski keduanya saling berbalas mengejek, namun tidak berarti demikian. Itu terjadi setiap kali mereka bertemu, sejak mereka berteman, dan itu hanyalah candaan semata yang membuat keduanya bertahan menjadi sahabat.
"Oy.!! Chen.!!! Apa yang kau lakukan.!! Oy.!! Menjauh lah dariku.!!!"
Mendapat serangan tak terduga dari sang sahabat yang bergelayut memeluk tubuhnya, Wang Yue seketika berteriak meminta sang sahabat menjauh dari dirinya.
Namun nampaknya si empunya enggan untuk melepaskan diri dari pria tampan itu.
"Kau ingin menjauhkan dirimu dariku dengan sendiri, atau aku yang akan melakukan nya sekarang juga."
Meski tak ada nada tinggi atau kasar dalam ucapannya, namun nyatanya itu berhasil membuat nyali laki-laki dewasa yang tengah bergelayut di tubuhnya kini menciut.
"Ha. Ok,ok. Biar aku turun sendiri. Aku masih ingin merasakan menjadi seorang pangeran di altar bersama bidadari cantikku." Ucap seorang yang mengaku sebagai sahabat Wang Yue itu.
"Baguslah kau menjauh dariku sekarang."
"Hn. Aku masih menyayangi diriku sendiri. Ku rasa jika aku tak melakukan nya, kau bisa membuat nyawaku pergi dengan cepat meninggalkan ku, sebelum aku merasakan hidup indah bersama bidadari ku nanti."
Wang Yue tak lagi merespon ucapan sang sahabat, ia justru berjalan menuju sofa dimana sebelumnya sang sahabat menduduki nya.
"Oy.! She... Ah,, hehe,, ok.ok"
Dirinya merasa gugup sekaligus takut pada pria menyeramkan di hadapannya. Alhasil ucapannya menggantung dengan cengiran konyol khas orang yang salah tingkah.
"Maaf,, maksud ku Wang Yue yang terhormat."
Masih setia dengan cengiran nya, Chen mendekati Wang Yue di tempatnya.
"Euu,, maksud ku, bisakah kau mendengarkan ucapan ku?!! Mengapa kau justru mengabaikan ku.! Kau justru tak menganggap ku disini.!" Ucapnya kembali, dengan nada yang tinggi di akhir kalimatnya, seolah ia tengah emosi merasa di abaikan.
"Aku baru saja kembali dan langsung datang menemui mu, membiarkan waktuku terbuang untuk mu, juga membuat ku harus menahan rasa ingin bertemu dengan bidadari cantikku. Dan kau.!"
Chen terus mengoceh, meluapkan kekesalannya pada sang sahabat yang sejak saat ia datang telah sibuk dengan ponsel miliknya sendiri.
"Kau terus mengabaikan ku, bahkan menyambut ku saja tidak.!! Kau anggap seolah aku ini tak ada. Jika saja kau bukan sahabat ku sendiri, su,,,"
"Tutup mulut berisikmu itu dan diamlah.!! Kau sangat menggangu, kau tahu.!"
Wang Yue yang semula tak ingin di ganggu kini mulai geram, ia kesal dengan sikap Chen yang menurutnya kekanakan.
Oleh karena nya, Chen yang sebelumnya sangat berisik, kini terdiam dengan wajah suram di seberang Wang Yue.
__ADS_1
"Ada apa lagi sekarang,, mengapa perasaan ku kembali tak tenang. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, mengapa kau tak kunjung menjawab panggilan Gēgē.. Apa terjadi sesuatu padamu Hao'er?"
Wang Yue beranjak dari tempat duduknya.
"A_apa yang akan kau lakukan. Apa kau berniat meninggalkan ku sendiri disini? Kemana kau akan pergi?"
Chen yang sudah mengatupkan mulutnya rapat, kini kembali membuka suara dengan pertanyaan yang kembali membuat Wang Yue harus melirik tajam padanya.
"Diamlah.! Atau aku yang akan menutup mulut mu rapat-rapat."
Chen kembali patuh menutup mulutnya rapat, ia berjalan tergesa mengikuti Wang Yue yang berjalan dengan langkah cepatnya entah kemana ia akan pergi.
"Yue, Dìdì. Tunggu.!"
Langkah Wang Yue terhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Kemana kau akan pergi? Apa terjadi sesuatu?" Tanya seseorang tersebut.
"Rumah sakit." Sahut Wang Yue singkat.
"Apa sesuatu terjadi pada a Yi?"
"Tidak. Hao'er." Sahutnya lagi dengan singkat.
"Maksudmu Wang Hao? Ada apa dengannya?"
Tak ada lagi jawaban dari Wang Yue, ia hanya menggeleng dan tanpa permisi pergi begitu saja meninggalkan kedua orang yang terdiam dengan kebingungan.
"Ah, tidak. Aku harus mengikutinya. Jika tidak bersamanya, sesuatu pasti terjadi jika dia berkendara sendiri. Ah, Wen Gē. Maaf, aku harus menyusul Yue'er bodoh itu."
Chen pamit seraya membungkukkan badannya sebelum berlari mengejar sang sahabat yang sedikit lebih jauh berlari di depannya.
"Oy. Wang Yue bodoh.!! Tunggu aku.!!" Kalimat terakhir yang terdengar dari Chen, sebelum memasuki lift menyusul Wang Yue yang lebih dulu memasukinya.
"Katakan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Xiao Hao.? Tidak akan ada hal yang membuat mu menjadi khawatir, jika itu bukan masalah serius."
"Haohao tidak sadarkan diri." Sahut Wang Yue menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Bagaimana bisa?"
"Sudahlah. Lebih baik kau simpan pertanyaan bodoh mu itu. Karena aku sendiri tak tahu apa jawabannya. Lagi pula untuk apa kau mengikuti ku, kau tidak berkepentingan dalam hal ini. Lebih baik kau pergi saja temui wanita mu itu."
"Eitss. Kau tidak bisa mengusir ku begitu saja, karena aku tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri.
Dan aku disini adalah untuk mengantar mu kemanapun kau pergi, jadi jangan katakan jika aku tidak berkepentingan disini. Karena apa? Aku sangat berkepentingan dalam hal ini.!"
"Ch. Apa kau ini seorang supir." Ucap Wang Yue dengan seringai kecil di bibirnya.
__ADS_1
"Mn,, setidaknya aku masih peduli dengan keselamatan mu kawan."
Tak ada lagi percakapan diantara dua sahabat itu, hingga mereka tiba di rumah sakit dimana a Yi dan Wang Hao berada.