Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
74


__ADS_3

Xiao Han mengabaikan teriakan Mo Liu dan terus berjalan.


"Simpan tenagamu untuk keselamatan dirimu sendiri, jangan kau pikir kau akan selamat dariku pak tua.! Sebaiknya kau selamatkan saja Istri sialan mu itu dan pergi tinggalkan tempat ini secepat mungkin.


Jika kau tak ingin kehilangan nyawa mu selagi kau memiliki kesempatan, atau kau akan menyesal."


Han terus melangkahkan kakinya, namun ia harus merasakan kembali satu kakinya terluka oleh timah panas dari Lu Jing.


Beruntung Wen datang dengan melesatkan beberapa tembakan pada wanita paruh baya itu dan si pak tua pada bagian lengannya.


"Xiao Han, maaf.. Aku terlambat." Ucap Wen penuh sesal.


"Y,yue_er?!! Ba,bagaimana bisa kau disini?!! Da, dan, haishh.!! K_kuan, Ha,hao'er.? Sial.!! Bagaimana bisa berantakan seperti ini?!!"


Wen terkejut saat pandangannya jatuh pada Kuan, dan ketiga orang lainnya yang terhalangi tubuh Han.


"Gēgē,, selamatkan dulu mereka.." Pinta Han di sisa tenaganya.


Wen kemudian meminta pengawalnya untuk membawa Han dan kawan-kawan. Tak lupa menangkap para musuhnya untuk ia jadikan tahanan.


Sementara Jing Xu Ying kini memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena rasa bersalahnya pada Wang Yue. Berbeda dengan Zhao Jing yang terpaksa di tembak mati oleh Wen, karena memaksa ingin mendekati Han.


Dengan kepanikan yang menguasai dirinya, Wen membawa para Dìdì nya ke suatu tempat di banding membawanya ke rumah sakit.


Kini nasib Xiao Han, Wang Hao, Wang Yue dan Kuan tergantung pada keberuntungan mereka sendiri.


"Paman, aku bergantung padamu.."


Usai mengatakannya, ah Xing dan Guo kecil mengikuti keempat pria dewasa di hadapannya.


Tinggallah Wen dengan sepasang pasutri di dalam bangunan tersebut yang kini menjadi sandera.


"Mari selesaikan urusan kami pak tua. Apa kau masih mengingatku? Aku sangat menantikan kesempatan ini, saat aku bisa menyiksamu sebelum membunuhmu. Apa kau siap?"


Dengan mengaduh kesakitan akibat luka di lengannya, Mo Liu kini harus merasakan sakitnya cambuk melayang di tubuhnya.


"Hahahaha.. Aku sangat bahagia melihat wajah kasihan mu itu pak tua.."


"W,wen.." Ucap Mo Liu terbata.

__ADS_1


"Ya. Ini aku, Xi_Wen." Sahutnya percaya diri.


"A,pa ya,ng ka_u i,ngin_kan dari ku? Bu,kan kah ki,ta re_kan? Me,,"


"Hahahaha,, Mo Liu,, Mo Liu. Kau memang benar-benar bodoh. Kau pikir selama ini aku berbisnis dengan mu untuk apa?


Semua aku lakukan hanya untuk saat ini, kau tahu?! Karena aku selalu ingin membalaskan dendam ku padamu, dan kini tibalah saatnya.. Hahahaha.."


Wen tertawa puas di hadapan Mo Liu, ia terus melayangkan pukulan padanya.


"Tidak perlu memandangku dengan tatapan itu,, kau tahu bahwa kau sudah tamat. Mo tua, apa kau pikir kau adalah orang hebat hah? Dan apa kau pikir semua orang akan tunduk padamu? Hemphh.! Jika kau terus berpikir demikian, maka akhirilah sampai disini..


Karena hari ini, aku akan membuatmu sadar siapa dirimu sesungguhnya. Kau hanyalah seekor anjing liar yang tak tahu diri. Kau bahkan tak pantas di sebut manusia.!!"


Wen semakin gencar mencambuk tubuh Mo Liu tanpa peduli rengekannya.


"Apakah itu sakit?"


"To_tolong ampuni aku.. Aku menyesal, tolong jangan siksa aku.."


"Phii.! Seperti ini saja sudah memohon ampunan. Kau pikir aku akan melepasmu? Mo tua, ini bahkan tak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan pada keluargaku.


Wen memutuskan pergi meninggalkan keduanya setelah puas menyiksa.


Keduanya tak sadarkan diri usai Wen memberikan obat, kini ia bergegas mendatangi tempat dimana sang dokter membawa keempat orang yang terluka sebelumnya.


~


Di lain tempat di waktu yang bersamaan, tepatnya di bangunan megah milik keluarga Wang, kini nampak sunyi sepi bak tak berpenghuni.


Rupanya bukan karena tak berpenghuni, hanya saja sang penghuni rumah tersebut enggan membuka suaranya sejak pagi tadi.


Cc yang merasa tak tahan dengan suasana yang di hadapinya, ia memberanikan diri membuka suaranya.


"Jiě,, jika ada sesuatu mengganggu mu, kau bisa menceritakannya.. Cc disini, ceritakan jika itu mengganggumu Jiě."


Yang di ajak berbicara tak menanggapi kalimatnya, seolah itu tak terdengar.


Cc terlalu fokus memandang Xiao Lin dengan perasaan khawatir, melupakan jika saat ini ada mahluk kecil di antara mereka yang kini ikut serta menjadi aneh.

__ADS_1


Hingga satu suara ketukan pada papan di sampingnya menyambangi pendengarannya, pandangan Cc pun teralih sepenuhnya pada si kecil a Yi yang terdiam dengan tubuh bergetar, namun air matanya bercucuran membasahi pipi chubby nya.


Sontak saja Cc terkejut melihatnya. Bagaimana bisa? Di waktu yang sama sepasang ibu dan putra itu, terlihat begitu mengkhawatirkan setelah sebelumnya mereka masih bersenda gurau.


"Hei,, nak,, ada apa hm? Mengapa jagoan kecil Bibi ini menangis?"


Meski dirinya merasa terkejut serta khawatir di saat bersamaan, Cc dengan sigap memeluk tubuh yang lebih mungil darinya itu.


"Hiks,, hiks,, Yi Paa.."


Seolah ada sesuatu mengetuk hatinya, tubuh Cc seketika menjadi kaku. Pikirkan nya menjadi melayang entah kemana.


Inikah alasan kedua orang di hadapan nya kini menjadi kacau? Mungkinkah ini yang mereka rasakan saat ini?


Itulah kiranya isi dalam pikiran gadis cantik itu saat ini.


"Bodoh.!! Bagaimana mungkin aku bisa berpikir demikian. Tidak.! Semoga saja apa yang ku pikirkan salah."


Cc mulai bergulat dengan pikirannya, tak sadar si kecil telah berpindah tepat di hadapan sang ibu.


"Hiks,, hiks,, Yi Maa,, dimana Yi Paa? Hiks,, a Yi ingin bertemu dengan Yi Paa sekarang.. Hiks,, mengapa Yi Paa meninggalkan a Yi disini.. Hiks,,


Yi Maa,, apa Yi Paa baik-baik saja? Hiks,, mengapa disini sakit sekali.. Hiks.."


Ocehan si kecil di pangkuan sang ibu menyadarkannya dari lamunan, hal itupun tak luput dari pandangan Cc yang sejak tadi diam mengamati keduanya.


Bagaikan sengatan listrik menusuk hatinya, kedua orang dewasa tersebut ikut menitihkan air mata saat si kecil mencari keberadaan sang ayah dengan berkali-kali menekan dadanya sendiri.


"Yi Maa,, hiks,, mengapa hanya diam saja? Hiks,, dimana Yi Paa? Hiks,, apa Yi Paa masih di taman? Hiks,, mengapa Yi Paa lama sekali,, hiks,, Yi Maa,, ayo temui Yi Paa.. Hiks,,"


"Nak,, Papa menyuruhmu menunggunya disini bersama Mama.. Apa a Yi lupa saat berjanji pada Papa dan Paman tadi, bahwa a Yi akan menjaga Yi Maa?"


Meski dirinya merasakan kekhawatiran yang begitu mengganggu, namun Xiao Lin tak mungkin mengungkapkan nya pada sang buah hati. Sebisa mungkin ia bersikap normal dan berusaha menenangkan si kecil agar tak menangis lagi.


Cc pun tak tinggal diam, ia beranjak dari tempatnya menuju pintu ruangan tersebut. Namun ia harus menelan kekecewaan saat mendapati pintu di hadapannya telah terkunci secara otomatis.


"Tidak. Apa yang terjadi? Mengapa ini terkunci." Gumamnya bingung.


Dengan panik dan sekuat tenaganya gadis itu berusaha mendorong pintu besi tersebut, namun apalah daya,, benda mati di hadapannya itu bukanlah tandingan nya.

__ADS_1


__ADS_2