Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
29


__ADS_3

Lain Wang Yue, lain pula Xiao Lin. Namun meski begitu, keduanya sama-sama memiliki kilas bayangan masa lalu sebelum mereka akhirnya terpisahkan.


"Tolong,!! Siapapun di luar sana, kumohon tolong aku.. Yi Ge,! Hiks,, tolong aku, hiks,, aku takut. Hiks,,  adakah kau di luar sana,, hiks,, hiks,, bisakah kau mendengar ku Ge,? Hiks,,"


Xiao Lin beberapa kali menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus atau mengalihkan semua ingatan di masa lalu yang kembali muncul di kepalanya.


Meski nampaknya saat ini usahanya gagal. Karena semua masih melekat dalam ingatan nya, dan terus saja berputar bak siaran ulang sebuah adegan dalam film yang telah rusak.


"Apa kau tahu,, semua masalah yang terjadi di keluarga kalian adalah kau penyebabnya.!!


Dan apa kau sadar, jika bencana yang kalian alami di kehidupan kalian selama ini adalah karena dirimu.!!


Kau sendiri yang telah menghancurkan keluarga mu.!!


Sadarlah Lin Xiao.! Sadarlah.!! Kau sumber masalah.!! Kau adalah bencana.!!


Kau tak pantas hidup.!! Matilah kau Lin Xiao.!! Matilah kau.!!!"


Gelengan di kepalanya semakin kencang, kali ini dengan kedua tangannya meremas setiap helai rambutnya.


"Xiǎomèi.!!! / Lin Jiějiě.!!!" Ucap Lulu dan Cc bersamaan dengan keras.


Keduanya menjadi khawatir melihat Xiao Lin yang terus menerus menarik rambutnya sendiri, dengan gelengan di


kepalanya.


Si kecil memandang heran juga takut di waktu bersamaan, melihat kedua orang tuanya yang entah mengapa menjadi mengkhawatirkan.


Ia pula tak tahu hal apa yang terjadi, yang membuat sang ayah terdiam dengan tangis tak bersuara, dan sang ibu yang mengalami hal serupa namun kini menjadi seorang yang terlihat sangat kesakitan.


"Yi Paa..!!" Seru si kecil, namun tak di hiraukan oleh sang ayah.


"Yi Paa.!!" Lagi, namun masih tak mendapat respon.


"Yi Maa.!! Yi_Maa.!! Ada apa dengan kalian. Hiks,, mengapa kalian tidak mendengarkan ku,, hiks,,"


Si kecil mulai terisak saat tak mendapat respon sebaliknya dari sang ibu.

__ADS_1


"Hiks,,hiks,, Bibi Cc, hiks,, mengapa Yi Paa dan Yi Maa terus diam, hiks,, mengapa mereka tidak mendengarkan a Yi,, hiks,, mengapa mereka menangis? Hiks,, mereka tidak marah pada a Yi kan? Hiks,,"


Mendengar ucapan si kecil yang ditujukan padanya, Cc melirik bingung pada Lulu.


"Jiě,," Gumamnya memanggil Lulu, seolah meminta bantuan.


Lulu yang pada dasarnya tidak memahami makna dari kesedihan diantara kedua orang di hadapannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya pada gadis di sisinya itu.


Ia mengedikkan bahunya, sebelum akhirnya mendekati si kecil yang kini menangis dalam pelukan Cc.


"Nak,, jangan menangis,, tenanglah. Yi Maa dan Yi Paa hanya terlalu bahagia, itu sebabnya mereka menangis." Ucapnya pada si kecil dengan usapan sayang pada sudut mata si kecil, serta kepalanya.


"Hiks,, Bibi Lulu, tolong katakan pada Yi Maa, hiks,, jangan terus bersedih. Hiks,, a Yi janji, a Yi akan jadi anak baik, hiks,, a Yi akan menurut pada Yi Maa dan Yi Paa. Hiks,, Yi Maa,, hiks,, sadarlah,, hiks,, Yi Paa,, hiks,, ayo sadarlah.. Hiks,, a Yi mohon, hiks,, bicaralah pada a Yi.. hiks,,"


"Baiklah,, Bibi akan coba bicara dengan Yi Maa mu. Sudah,, jangan menangis lagi,,"


Luli mencoba berulang kali menyadarkan Xiao Lin, namun tak membuahkan hasil. Xiao Lin masih tetap diam, dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Lín Xiǎomèi." Ucap Lulu kembali mencoba menyadarkan Xiao Zhan.


"Xiǎomèi.!" Panggil nya lagi dengan sedikit guncangan di pundaknya.


Tak mendapat respon dari si empunya, Lulu terus mengguncangkan lengan Xiao Lin namun dengan suara yang lebih keras.


"Hiks,, Yi Maa,, hiks,, jangan terus melakukan itu, hiks,, Yi Maa bisa sakit, hiks,, hiks,, Yi Maa,, hiks,, sadarlah.. Hiks,, a Yi tidak ingin melihat Yi Maa seperti ini.. Hiks,, a Yi mohon,, sadarlah.. Hiks,,"


Si kecil yang tak tahan melihat raut kesakitan di wajah sang ibu, berlari memeluk sang Ibu yang masih saja menarik rambutnya sendiri.


"Hiks,, a Yi mohon, hiks,, sadarlah.. Hiks,, apapun yang Yi Maa rasakan, hiks,, a Yi mohon, Yi Maa bertahan, hiks,, demi, hiks,, a Yi,, hiks,, juga Yi Paa,, hiks,, hiks,,"


Dalam peluknya, a Yi terus mengucapkan kalimat permohonan dengan isakkan yang semakin terdengar menyedihkan.


Tanpa si kecil sadari, sebuah lengan melingkari tubuh mungilnya. Dan rupanya sang ibu lah yang melakukan nya.


"Maaf,, maafkan Yi Maa sayang. Maafkan Yi Maa membuat pangeran kecil Yi Maa ketakutan. Jangan menangis sayang,, jangan takut, Yi Maa baik-baik saja."


Entah memang dirinya telah baik-baik saja, atau mungkin hanya alasan baginya untuk membuat putra kecilnya tak khawatir pada dirinya.

__ADS_1


"Hiks,, berjanjilah,, hiks,, berjanjilah pada a Yi, hiks,, berjanji untuk tidak melakukannya lagi, hiks,, a Yi tidak ingin melihatnya lagi,, hiks,, rasanya sangat sakit melihat Yi Maa seperti itu.. Hiks,,"


"Sekali lagi maafkan Yi Maa sayang,, Yi Maa janji, Yi Maa tidak akan melakukan nya lagi."


Xiao Lin memeluk putranya erat, dengan kecupan-kecupan pada puncak kepala si kecil.


"Maafkan Yi Maa yang telah melukai perasaan mu sayang, maaf, karena lagi dan lagi air matamu terbuang sia-sia karena Yi Maa.


Yi Maa janji, ini untuk terakhir kalinya. Maafkan Yi Maa membuat mu bersedih, tidak dan tidak akan pernah lagi Yi Maa biarkan air mata berhargaku berjatuhan."


"Xiao_xiao.."


Xiao Lin menoleh, pada sumber suara sang pemanggil.


"Xiaoxiao,, apa benar itu kau? Apa benar kau adalah Xiaoxiao ku? Benarkah itu kau?"


Wang Yue membuka suaranya saat tersadar dari lamunannya, tepat saat mendengar suara nyaring milik Lulu saat menyadarkan Xiao Lin.


"Apa sungguh kau adalah Xiaoxiao?? Orang yang selama ini ku cintai??"


Wang Yue terus pbertanya setelah jiwanya terseret ke alam sadarnya.


"Apa kau orang yang sama dengan Xiaoxiao ku yang dulu?? Apa kau sama dengan orang yang telah ku nikahi dulu??" Tanyanya lagi dengan selangkah demi selangkah kakinya berjalan.


"Dan itukah kau,? Orang yang telah mengikat janji suci, sehidup semati bersama ku dahulu di atas altar, di hadapan semua orang. Benarkah itu kau??"


Wang Yue perlahan terus melangkahkan kakinya mendekati Xiao Lin, yang terdiam memandang tanpa satu kalimat yang ia ucapkan.


"Hiks,, tolong jawab jika itu benar dirimu, hiks,, tolong katakan jika itu memang dirimu,, hiks,, tolong bicaralah Xiaoxiao, hiks,, katakan pada Gēgē jika itu dirimu. Hiks,, Gēgē mohon padamu,, hiks,, katakan bahwa itu adalah dirimu. Hiks,,"


Isakkan demi isakkan terdengar jelas dari bibirnya. Tepat saat dirinya berada di sisi Xiao Lin, ia terdiam.


"Tuhan,, jika benar dia adalah istriku, ku mohon,, kembalikan ia padaku. Kembalikan ia seperti dahulu, tetap menjadi seseorang yang akan selalu berada di sisiku, dan menemani hingga sisa umurku, menua bersama, hingga engkau memisahkan kami dengan cara yang indah."


Dengan ragu Wang Yue memberanikan diri, untuk menyentuh wajah cantik orang iya yakini adalah istrinya.


"Jangan.! Ku mohon jangan dekati aku. Hiks,, tolong. Jangan dekati aku.! Hiks,, tolong,, jangan mendekat.!! Menjauh lah.!! Hiks,, tolong jangan dekati aku.!! Hiks.."

__ADS_1


Mata Wang Yue membulat sempurna saat Xiao Lin menolak keberadaannya.


__ADS_2