
Meskipun dalam keadaan panik, Lulu tetap memaksakan senyumnya pada si kecil. Dengan beberapa gerakan kecil yang ia lakukan untuk memeriksanya ia memberitahukan bahwa keadaan kedua orang tuanya aman.
Namun saat pandangannya menemukan tubuh Cc yang terbaring tak sadarkan diri di sisi lain, ia mulai merasa sesuatu menekan hatinya.
Perasaan takut semakin besar bersarang di hatinya lebih dari saat ia memasuki ruangan tersebut. Entah mengapa melihat Cc tak berdaya di atas tempat tidur dadanya semakin sesak.
Ia ingat, jika sebelumnya Lubin berpamitan untuk mengantar Cc dan a Yi. Namun saat ini yang ia lihat, gadis itu justru tak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuhnya, lalu bagaimana dengan pemuda kesayangannya?
Bukankah itu berarti Lubin tidak dalam keadaan baik-baik saja? Itulah yang ada di pikiran Lulu saat ini.
Hal yang sama ia lakukan saat mendekati Cc, yaitu memeriksa keadaan nya. Dalam keadaan mata yang berembun ia mencoba menahan untuk tidak menjatuhkan nya, namun gerakan tangannya terhenti saat seseorang menahannya.
Luluu menoleh, Chen dengan pandangan bersalahnya menggeleng. Lluu tahu Chen adalah orang yang baik, ia mengerti arti dari tatapan dan gelengan kepalanya itu dan ia sangat menghargai segala perhatian yang di tujukan kepada dirinya.
Namun meski begitu, tatapan mata Chen tidak bisa membohongi nya. Begitu menakutkan, meski dirinya telah siap dengan segala kemungkinan buruk, akan tetapi untuk menerima kenyataan tidaklah mudah baginya.
Dokter cantik itu memantapkan hatinya saat Chen menganggukan kepalanya dengan senyum yang di paksakan. Menuntunnya pada satu ruangan lain yang tertutup rapat, hatinya bergetar, langkahnya melambat seakan ragu memasukinya.
Namun kali ini Chen memegang erat jemari tangannya, menggenggamnya seakan memberinya kekuatan untuk lebih kuat.
Lulu tak tahu sejak kapan Chen menggenggam tangannya, ia bahkan tidak menyadari seseorang di hadapannya itu kini telah berada disisi nya. Namun perasaan jelas saat ini adalah, ada kenyamanan dan ketenangan saat kedua tangan itu menyatu.
"Hiks,, hiks,,"
Air mata kini membanjiri pipinya, isak tangis tak lagi tertahankan saat melihat sosok yang begitu ia sayangi terbaring dengan darah hampir menutupi seluruh wajahnya.
Sejenak Lulu terpaku pada satu titik, ia tak dapat menggumamkan sesuatu yang ingin ia katakan, lidahnya seakan kelu tak bisa untuk berbicara.
"Gēgē, semua sudah ku siapkan, kita bisa segera memulai nya. Hanya saja,,,"
Chen memutar tubuhnya saat a Xiang mendekatinya.
"Hanya apa? Katakan dengan jelas."
"Benturan di kepalanya terlalu keras, mengakibatkan pendarahan hebat. Selain itu,, darahnya terlalu banyak terbuang. Kita harus segera melakukan operasi saat ini, tetapi kita tidak memiliki darah yang sama dengannya."
Chen mulai terserang rasa panik, mendengar nya.
"Kalau begitu sekarang kau minta Shu Gē menyiapkannya, dan cepatlah kembali." Titahnya, namun tak langsung di turuti sang lawan bicara.
"Tapi Gē, aku sudah memeriksanya,, tidak ada dengan milik Binbin."
__ADS_1
"Apa?!! Bagaimana mungkin rumah sakit sebesar ini tak memiliki darah yang sama dengan milik Binbin.!" Teriaknya kesal.
"Kalau begitu cepat hubungi semua pihak rumah sakit, atau bahkan rumah sakit manapun yang memiliki sampel darah yang sama dengan Binbin. Adapun orang disini, kita dahulukan mereka, mungkin ada salah satu di antara mereka yang memiliki nya."
"Gē, aku sudah mencoba, namun semuanya nihil. Dan aku sudah memeriksa semua yang ada disini, tapi hanya darah Han Gēgē yang sama.
Tetapi bagaimana mungkin aku melakukan itu? Sementara Han Gē juga dalam keadaan kritis."
Kekhawatiran memenuhi isi pikiran ketiga orang di dalam ruangan tersebut.
"A Xiang, tadi saat aku membawanya, luka di kepala Binbin tidak separah itu. Mengapa bisa menjadi begitu mengkhawatirkan seperti ini?"
Si empunya yang di tanya terlihat gelagapan untuk menjelaskan, ada rasa bersalah dan tak tahu bagaimana ia akan berbicara dengan posisi Lulu di sisinya.
"Gē, takutnya itu bukan dari luka luar. Tetapi,,"
Chen menyadari perasaan yang di tunjukkan sang Dìdì. Hanya dengan melirik seseorang di sampingnya Chen sudah tahu, itu sesuatu yang tidak baik.
Keduanya mungkin lupa, bagaimana pun usahanya menutupi keadaan Lubin. Faktanya Lulu adalah seorang dokter, yang tidak mungkin baginya untuk tidak mengetahui keadaan saudara kandungnya tersebut.
"Berapa lama dia bisa bertahan?" Tanyanya dengan berbisik.
"15 menit. Tolong beri Gēgē 15 menit untuk menemukan darah yang cocok untuknya, tolong bantu Gēgē kali ini. Gēgē mohon, lakukan yang terbaik yang kau bisa."
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Chen dengan cepat memutuskan sesuatu sesuai keinginan nya, tanpa memikirkan resiko terberat yang akan ia dapat.
Ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut meninggalkan seseorang di belakangnya dengan pandangan tak percaya.
"Gēgē, berhenti bersikap bodoh.!! Meskipun masih ada harapan untuk menyelamatkan nya, tetapi dengan keadaan seperti ini bagaimana bisa kau membuat keputusan seperti itu.!"
Chen merasakan sentuhan tangan menahan lengannya tepat setelah dirinya berada di luar ruangan tersebut.
"Ji Xiang Yu.!! Kaulah yang harus berhenti bersikap bodoh.!! Bagaimana bisa kau memberikan harapan jika kau tidak bisa memenuhinya.!!"
Chen tak kalah seru dengan ucapannya.
"Kau bilang kau bisa menyelamatkan nya, bukankah itu masih ada harapan? Gēgē mohon,, berikan Gēgē kesempatan untuk kali ini. Meskipun Gēgē tahu resiko terburuk nya, setidaknya Gēgē telah mencobanya." Ucapnya dengan nada lebih lembut.
"Tapi Gē,,"
Chen menggelengkan kepalanya, ada secuil senyum terluka yang ia tampilkan.
__ADS_1
"Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku pada seseorang."
Ji Xiang Yu, atau yang kerap di sapa a Xiang itu memandang prihatin pada seseorang di hadapannya.
A Xiang tahu Chen akan berusaha sekuat tenaga nya untuk mencari kan donor darah untuk Lubin.
Akan tetapi ia tidak ingin jika sang Gēgē akan merasakan kembali rasa bersalahnya untuk seumur hidupnya, jika ia tidak berhasil mendapatkannya dan gagal menyelamatkan nyawa seseorang.
"Baiklah, jika tidak ada pilihan lain. Sementara kau tetap disini, bantulah Nona Lu sesuai kemampuan mu. Aku akan pergi mencari pendonor untuk nya, juga,, jangan lupa menghubungi si tua Ji itu untuk datang jika tidak ada lagi yang bisa kau lakukan."
Chen sadar akan hal yang tak mungkin baginya, ia benar-benar sadar jika keputusannya bisa saja salah. Namun ia juga tidak bisa menyerah begitu saja sebelum mencoba.
"A Xiang, lakukan sekarang. Ku mohon, lakukan dengan benar, lakukan sesuai kemampuan mu. Jangan lupa, tugasmu adalah menyelamatkan nyawa orang lain. Gēgē pergi."
Usai mengatakannya Chen berlalu meninggalkan a Xiang di belakangnya, sementara semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut kini hanya terdiam memandang kepergian nya.
"Eu,, maaf, tentang kejadian barusan."
A Xiang tersenyum tak enak pada orang-orang yang datang bersama nya itu, ia kembali memasuki ruangan dimana kedua bersaudara Lu di tinggalkan.
"Eu,, Lulu Jiějiě, jangan khawatir. Jika Gēgē sudah mengatakan seperti itu, dia pasti akan mendapatkan nya." Ucapnya gugup.
Ia tahu jika Lulu akan menanyakan sesuatu padanya, jadi ia berusaha mengatakan apa yang menurutnya bisa sedikit menenangkan dokter cantik itu.
"Lalu,, untuk saat ini sebaiknya aku harus memulainya, sesuai dengan perintah Gēgē.
Ma_maaf. Aku tidak bermaksud lancang, hanya saja,, jika aku tak melakukan nya Gēgē pasti akan membunuhku."
Di tengah suasana hatinya yang tak menentu, Lulu menampilkan senyum hangatnya. Meski hanya sedikit, tetapi itu benar-benar menenangkan bagi a Xiang.
"Mn. Jika begitu,, mari kita lakukan. Katakan saja apa yang bisa ku bantu untuk mu."
"Ma_maafkan a Xiang yang lancang ini Jiě, a Xiang tidak bermaksud."
Lulu kembali tersenyum, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.
"Bocah konyol. Apa yang membuat mu meminta maaf padaku, ini demi keselamatan Binbin. Lagi pula,, kau yang lebih mengerti di banding aku. Jadi Jiějiě dengan sangat meminta bantuan mu."
Satu tepukan sayang mendarat di kepala a Xiang, ia tersipu malu mendapat perlakuan dari seseorang yang baru pertama ia kenal.
~
__ADS_1