
°
Seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya, berjalan dengan langkah pelan mendekati seorang gadis manis yang berusia lebih muda darinya.
Dia tersenyum memandang pemuda di hadapannya, yang nampak tengah bersiap untuk pergi.
"Wuah,, nampaknya,, seseorang akan mengajakmu berkencan hari ini,," Godanya pada sang gadis.
"Oh, Jiějiě.!" Kaget gadis muda tersebut. "Tidak,, aku menerima panggilan dari rumah sakit Jiě," Lanjutnya.
"Apa kau akan mengunjungi nya?"
"Mn. Aku akan menemuinya Jiě,, dokter meminta ku untuk datang." Jelas sang gadis.
"Apa ada hal yang serius,? Jika tak ada kaitannya dengan mu jiejie rasa itu pasti menyaa,,,,"
"Entahlah Jiě,, tak ada penjelasan tentang apapun,, aku hanya di minta untuk datang segera,, tetapi jika itu menyangkut tentangnya,,, aku,, ah, aku harus pergi sekarang jie.." Potong gadis tersebut sebelum gadis yang lebih tua melanjutkannya.
"Tunggu. Bisakah Jiějiě ikut dengan mu,?"
Tak ada jawaban dari si gadis muda, membuat gadis dewasa itu beranggapan jika dirinya tak di izinkan untuk pergi bersama.
Namun anggapannya salah, saat tiba tiba si gadis muda merangkul tangannya dan perlahan melangkahkan kaki memintanya untuk mengikuti, tanda jika si gadis muda tak keberatan jika si gadis dewasa menemaninya.
Mereka adalah kedua bersaudari dari keluarga Meng, si gadis cantik dewasa Meng Zizi yang lemah lembut, dan si bungsu Meng Zi Cheng yang sedikit tsundere.
°
~
Saat ini Wang Yue fokus menemani putra kecilnya, yang masih belum membuka matanya sejak ia di larikan ke rumah sakit.
Namun pikirannya melayang jauh entah kemana, kilas bayang tentang percakapannya dengan sang dokter terus menyelimuti pikirannya.
"Putra anda tak menderita apapun Tuan. ,, hanya saja,,, tidak seharusnya apa yang putra anda alami, itu terjadi pada anak seusianya."
"Tolong jelaskan dengan jelas, jangan membuat saya bingung juga jangan menutupi apapun dari saya, karna saya tidak ingin hal sekecil apapun yang terjadi pada putra saya tanpa saya ketahui."
"Baiklah,, saya akan menjelaskan nya. Begini Tn.Wang,, putra anda mengalami tekanan psikologis yang akan membuat putra anda mengalami penyakit yang serius jika terus dibiarkan."
"P,p_psikologis,??? Tidak, itu tidak mungkin dok, anda pasti salah.! Putra saya tidak mungkin mengalami tekanan psikologis. Selama ini putra saya baik baik saja, anda pasti salah dok.!"
"Saya tidak mungkin salah Tuan. Untuk saat ini putra anda sering kali mengalami pusing dan lalu demam hingga menyebabkan tubuhnya semakin melemah hingga berakhir tak sadarkan diri. Itu di sebabkan karena putra anda terlalu stres dan itu membuat pernafasan putra anda terhambat.
Jika putra anda terus mengalami tekanan tersebut,, tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi penyakit yang serius. Jadi saya sarankan,, jika anda memiliki masalah dalam keluarga anda,, saya harap itu tidak mengganggu atau melibatkan putra anda, karena itu akan semakin memperburuk keadaannya."
Takut,, itulah yang mengganggu pikiran Wang Yue kini.
"Maafkan Papa nak,, semua karna kesalahan Papa kau menjadi menderita, seharusnya Papa yang menanggung semua ini, bukan kau.. Maafkan Papa.."
Entah berapa kian kalinya lagi, Wang Yue menangis. Hatinya begitu hampa saat ini,, sudah cukup baginya kehilangan sosok yang begitu ia cintai,, dan kini ia harus merasakan kembali kesedihan atas apa yang menimpa putra tercintanya.
Oh tuhan,, jika harus memilih, Wang Yue ingin dirinya saja yang pergi, atau bahkan menanggung apa yang tak seharusnya a Yi alami. Satu hal yang Wang Yue lupakan, jika ia pergi atau menanggung semua sendiri,, lalu siapa yang akan menjaga putra kecilnya,?
"Gē, minumlah. Tenangkan pikiran mu dulu.."
Wang Hao menyodorkan satu kaleng minuman hangat pada Wang Yue, membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Hahh,,, aku lapar Gē,, tolong temani aku makan." Tanpa menunggu jawaban si empunya, Wang Hao menyeret paksa seseorang yang lebih tua darinya itu untuk menemaninya makan.
"Kau makanlah,, Gēgē tidak lapar." Ucap Wang Yue saat Wang Hao melepaskan pegangan tangannya.
"Aish,, Gē. Kau ini tak berbelas kasih sekali pada Haohao tersayang mu ini. Aku bahkan belum mengisi perut ku sejak pagi tadi."
Sejujurnya Wang Yue merasa kasihan pada Wang Hao yang terlihat kelaparan saat ini, namun ia juga tak bisa menuruti permintaan Wang Hao. Meskipun perutnya juga masih kosong namun seleranya untuk menyantap makanan telah hilang.
"Gē, aku mengerti perasaan mu. Tapi,, apa kau sadar Gē, kau sudah terlalu jauh memikirkan hal yang tak penting. Semua bukan salahmu, kau tak perlu menyalakan diri lagi, jika kau terus seperti ini,, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri."
Wang Yue bimbang untuk membuka suara, entah ia harus meluapkan semua isi hatinya kepada Wang Hao,, atau hanya diam mendengarkan apa yang akan Wang Hao katakan selanjutnya?
__ADS_1
Atau apakah ia akan terus memendam semua kepedihan hatinya tanpa niat membagi kesedihan nya kepada siapapun termasuk pemuda di hadapannya ini.
"Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup mu, seseorang yang begitu sangat kau cintai,, bukan berarti kau harus menenggelamkan dirimu sendiri pada masa lalu, tidak berarti kau harus membuat hatimu mati Gē."
Wang Yue masih terdiam, pandangannya lurus dengan bibir terkatup rapat.
"Kehilangan adalah kehilangan, begitu pula cinta akan tetap menjadi cinta. Jika kau mencintai nya, hiduplah dengan bahagia meski kau kehilangannya. Jagalah cintamu agar tetap hidup, meski kehilangan menghancurkan hatimu.
Jika kau telah menerima kepergian nya, maka kau harus benar-benar merelakan kepergiannya. Tetapi jika kau masih tak bisa menerima kepergian nya, jangan pernah menganggap itu sebuah 'kehilangan', anggaplah itu sebuah perpisahan yang akan mempersatukan kalian kelak setelah saatnya kalian di pertemukan."
Pandangan Wang Yue teralih pada Wang Hao yang juga menatapnya.
"Gē,, Hao'er percaya, cinta kalian begitu kuat. Kau sangat mencintai Xiao Lin Jiějiě, dan sebaliknya,, Xiao Lin Jiějiě sangat sangat mencintai mu. Percayalah,, ini semua akan berakhir, dan kau akan menjalani kehidupan yang bahagia bersama nya juga a Yi,, percayalah pada ku Gē,."
Dengan yakinnya Wang Hao meyakinkan Wang Yue, entah apa yang ada di pikiran anak muda itu hingga ucapannya begitu meyakinkan. Menunjukkan sisi lain dari dirinya pada sang Gēgē, yang saat ini mulai merasa beban hatinya sedikit berkurang setelah mendengar ocehan anak muda di hadapannya.
"Meski mungkin ini hanyalah salah satu caramu untuk menghibur Gēgē, tetapi terima kasih Haohao,, kau selalu bisa menenangkan hati Gēgē saat kegelisahan menguasai hati dan pikiran Gēgē."
"Takkan pernah ku biarkan orang lain menghancurkan kebahagiaan keluarga kecil mu Gē, bahkan mengambil keuntungan darimu. Aku telah berjanji akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, dan akan ku hancurkan siapapun yang telah melakukannya. Ku pastikan yang berbuat harus menerima balasan yang setimpal atas perbuatannya."
Keduanya hanya saling memandang tanpa ada satu kata yang terucap. Namun siapa yang tahu isi hati mereka? Keduanya bahkan tidak bisa mendengar suara hati milik orang lain bukan,,.
°
~ Rumah saki[I]
"Binbin,, ayo cepatlah,, jangan terlalu santai."
Dengan langkah cepat nya yang terkesan berlari,, Lulu menarik tangan Lubin agar mengikuti langkah cepat nya.
"Jiě,, jangan berjalan seperti ini,, kau bisa terjatuh,,"
Lubin yang merasa khawatir dengan kondisi sang Jiějiě, menasehati agar lebih hati hati, meski itu terabaikan.
Benar saja,, tepat setelah Lubin mengatakan nya, tiba tiba saja Lulu terjatuh, dan hampir saja tubuhnya terpental ke lantai jika Lubin tidak dengan sigap menangkap tubuh sang Jiějiě.
Beruntung, tubuhnya hanya bertabrakan dengan Lubin, bukan pada lantai yang keras,, jadi takkan merasakan sakit karenanya.
"Ma,maafkan saya nona, sa_saya tidak sengaja." Ucap seseorang di hadapan mereka, setelah bangun dari duduknya karna terjatuh akibat bertabrakan dengan Lulu tadi.
"Zizi,, apa kau baik baik saja??"
Bukan marah,, Lulu justru menanyakan keadaan gadis cantik yang telah menabraknya.
"Eh,, Lulu Jiějiě.! Binbin..! Kalian juga datang?"
Tanya girang gadis cantik yang tak lain adalah Meng Zizi, setelah melihat wajah seseorang yang telah ia tabrak tanpa sengaja.
"Emn. Kami datang karena Jiějiě memaksa. Meski sudah di larang oleh Ayah dan Ibu, tetapi Jiějiě bersikeras untuk datang. Padahal semestinya hari ini waktu libur Jiějiě." Lubin berkata dengan wajah sebalnya.
"Ah,, begitu,,, eu,, maafkan aku Jiě, tadi tak sengaja menabrak. Karena terlalu terburu buru dan tak berhati hati aku malah menabrak Jiějiě.."
Lagi, Zizi membungkukkan badan meminta maaf pada dokter cantik itu, meski Lulu tak menyalahkannya namun ia merasa bersalah.
"Sudah,, tak apa,, lebih baik kita ke ruangan sekarang,, ada yang harus Jiějiě kerjakan saat ini.." Ketiganya berjalan beriringan menuju ruangan yang Lulu maksud.
Di awal langkah mereka bertiga, tak ada yang menyadari salah satu dari mereka tengah menahan rasa sakit. Hingga beberapa langkah mereka, Lubin menyadari ada sesuatu yang salah pada Zizi.
Tak ada ringisan yang terdengar namun Lubin tahu, raut wajah Zizi saat ini tengah menahan rasa sakitnya.
"Nona Meng, apa kau baik baik saja,?" Tanyanya merasa khawatir.
"Eh,,? Zizi,, apa kau terluka?? Kau terlihat tak baik.."
Lulu menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Lubin barusan, dirinya ikut merasa khawatir melihat wajah gadis cantik itu yang terlihat menahan sakit.
"A,aku baik saja Jiě,, Binbin aku tak apa,, mari kita lanjutkan.." Zizi tetap mengelak, meski tak bisa ia pungkiri rasa sakit di kakinya sangat sulit untuk ia tutupi.
"Jiě, apa tak apa jika aku melepas tangan Jiějiě? Aku,,," Bisik Lubin di telinga Lulu, ucapannya terhenti saat pandangannya teralih pada Zizi yang berjalan dengan sedikit pincang.
__ADS_1
Mengikuti arah pandang saudaranya, Lulu tersenyum,, ia mengerti maksud dari ucapan pemuda tersayang nya itu.
"Cepatlah,, dia terlihat sangat kesakitan. Jiějiě tak apa,,"
Lubin mengangguk kemudian mendekati Zizi, di rangkulnya lengan gadis cantik itu.
"Eh,, a,apa yang kau lakukan." Kaget Zizi menerima perlakuan Lubin yang tiba tiba memapah jalannya.
"Sudah tau sakit kenapa keras kepala. Kau tidak bisa semudah itu membohongi ku kau tahu,,?!" Ucap Lubin kesal, meski sejujurnya ia mengkhawatirkan keadaan Zizi.
"Eum. Maaf,,, aku hanya tak mau mengeluh, aku masih bisa menahannya. Kau tak perlu melakukan ini,, aku bisa berjalan sendiri." Elak Zizi menolak apa perlakuan Lubin padanya.
Dan setelahnya,,,
"Akhh..! Sstt,,"
Gadis itu terjatuh, saat dengan tiba Lubin melepaskan rangkulannya.
Sedang Lulu lekas menghampiri gadis cantik itu saat melihatnya terjatuh, ia tak menyangka jika Lubin akan melepaskan Zizi begitu saja.
"Apa sekarang kau masih bisa menahannya? Apa itu sangat sakit? Tentu itu sakit bukan.! Sudah jangan lagi menolak bantuan ku, jangan menjadi keras kepala disaat kau merasa sakit." Ucap Lubin dengan mengulurkan tangan, namun si empunya hanya diam menunduk, merasakan sakit di kakinya.
Bukan hanya sakit fisiknya, tetapi hatinya juga merasa sakit atas ucapan Lubin padanya.
"Mengapa ucapan mu begitu menyakitkan,, apa yang salah,? Aku hanya tak ingin merepotkan orang lain dan terlihat lemah." Batin Zizi sedih.
"Binbin.! Apa yang kau lakukan.!! Kau melukainya.!!" Marah Lulu pada Lubin. "Zizi,, apa kau masih sanggup?? Biar Jiějiě periksa kaki mu dulu." Imbuhnya.
"Gadis bodoh.! Kau tak seharusnya memaksakan diri dengan keadaan kakimu yang seperti ini.." Lulu menggeleng menatap luka pada kaki gadis cantik itu.
Mendapat tatapan menyeramkan dari sang Jiějiě, Lubin menjadi horor. Namun di banding tatapan menyeramkam itu, ia lebih merasa horor saat melihat kaki Zizi yang telah membengkak dan membiru.
Tanpa pikir panjang dan tanpa menunggu perintah yang entah siapa yang akan memerintah nya,, Lubin membungkukkan badannya. Di angkat nya tubuh mungil gadis cantik itu, membuat si empunya terkejut.
"Tu.tungu.!! A,apa yang kau lakukan. Hey,! Turunkan aku.! Dasar manusia tak berperasaan.!! Kau tak bisa seenaknya menggendong ku seperti ini..!! Turunkan aku cepat..!!"
Zizi yang masih merasa kesal dengan ucapan Lubin sebelumya, terus meronta meminta di turunkan.
"Jika kau tak bisa diam, jangan salahkan aku jika tubuh mu terlepas dari gendongan tangan ku. Dan ku jamin, tulang punggung mu akan terpisah saat itu juga dari tubuh kurus mu ini.!"
Mendengarnya saja membuat Zizi melotot horor, apa lagi jika sampai itu benar terjadi,, oh,, tidak,, Zizi tidak bisa membayangkan nya.
"Kau..!! Kau hanya bicara omong kosong untuk menakuti ku.!! Itu tidak mungkin terjadi, lagi pula siapa yang kau panggil kurus.! Enak saja.! Ayah dan Ibu ku sudah membesarkan ku sedari kecil sampai sebesar ini dan kau dengan enak nya memanggilku kurus?!!
Apa kau tahu, betapa susahnya aku yang selalu melakukan apapun agar tubuh ku bisa lebih besar dari ini?!! Heummph!! Kalau saja kau tahu, aku juga ingin memiliki tubuh yang bagus tak seperti sekarang yang kecil seperti ini.."
"Manis"
Hanya itulah satu kata yang terucap dari Lubin setelah mendengar ocehan panjang kali lebar dari si cantik Zizi.
"Aish,, dasar si manusia tak berperasaan ini.! Berapa panjang kalimat yang ku ucapkan dan dia hanya mengatakan 'manis.?!! Haish.!! Apa apaan orang i,, eh,? Tunggu. Ma,manis?? Apa maksudnya.!!"
Zizi mendengus sebal pada Lubin yang saat ini berjalan dengan menatap gadis cantik entah siapa.
"Benar benar tak berperasaan.! Aku mengoceh panjang lebar dan dia sama sekali tak mendengar ku? Malah asik menatap gadis lain, bahkan tersenyum begitu mengerikan.! Menyebalkan.!! Eh,,? Apa peduliku??"
Mungkin Zizi berpikir jika ucapan Lubin sebelumya tertuju untuk gadis yang Lubin tatap dengan senyumannya.
Namun hal yang tak ia ketahui kebenarannya adalah, ucapan dan senyuman Lubin tertuju untuk dirinya,, dan Lubin hanya memandang lurus kedepan agar langkahnya tak terjatuh.
Bagaimana dengan Lulu,? Dokter cantik itu pula hanya mengulum senyumannya melihat interaksi dua sejoli di depannya yang menurutnya menggemaskan.
•
•
•
•
__ADS_1
•