
Wanita cantik yang masih menyandang status sebagai nyonya Wang itu kembali memamerkan senyumnya, ia meraih tangan sang lawan bicara kemudian menepuknya dengan satu tangan lainnya miliknya.
"Benar, Xiao'er pasti akan mendapatkan seseorang yang begitu sangat mencintainya.."
Pemuda itu tersenyum lebar mendengar kalimat yang Xiao Lin ucapkan padanya.
"Benar sekali Ibu, Hao'er pasti akan mendapatkan nya." Sahutnya yakin.
"Kau, memangnya siapa yang akan mencintai pemuda konyol seperti mu. Melihat wajah bodoh mu saja tidak akan ada yang tertarik, apa lagi memiliki perasaan terhadapmu. Siapa yang akan bersedia menyia-nyiakan waktu dan perasaannya untuk bocah bodoh seperti mu."
Senyuman itu luntur seketika dari wajah Wang Hao saat mendengar sang Gēgē kembali melontarkan kalimat tidak menyenangkan padanya.
"Kau saja yang tidak tahu siapa bidadari milikku sebenarnya. Dia sangat cantik, sangat cantik seperti milikmu."
Gumaman itu begitu pelan, namun nyatanya tidak cukup mampu membuat Xiao Lin mengabaikannya.
Salahkan saja pendengaran Xiao Lin yang sangat tajam, sehingga sekecil apapun suara itu dapat ia dengar dengan baik.
"Ah,, rupanya Haohao kecil kami ini telah memiliki seseorang di hatinya.. Wuah,, Ibu jadi tak sabar untuk segera mengenalnya."
Xiao Lin mulai menggoda dengan nada jahilnya yang ia buat-buat.
"Suami ku,, sepertinya kita akan segera memiliki seorang menantu. Ternyata Haohao kecil kita yang nakal ini akan segera melepas masa lajangnya, aku sangat penasaran seperti apa gadis malang yang telah meluluhkan si batu kecil nakal ini.."
Wang Yue menyeringai menanggapi ucapan sang istri sebelum kembali memprovokasi pemuda kecil di hadapannya itu.
"Hn, tentu sangat penasaran. Aku harap dia bukan orang buta yang mengakui cintanya pada Haohao bodoh kita, atau bahkan orang gila karena patah hati yang memutuskan beralih memilih si kepala batu Haohao kecil kita ini."
Ada beberapa tekanan di beberapa kalimat yang Wang Yue ucapkan, dan berakhir dengan tawa mengejek darinya.
"Eh,, Yue Gē, apa yang kau katakan. Tentu saja itu bukan kriteria yang baik untuk Haohao kecil kita ini."
Wang Hao dengan antusias mengangguk, mengiyakan kalimat wanita cantik itu.
"Benar. Ibu memang selalu paling benar. Kali ini aku biarkan kau tertawa puas mengejekku. Lain kali akan ku tunjukkan padamu bahwa dia adalah orang yang sangat baik dan begitu cantik seperti Ibu."
__ADS_1
Dalam hatinya, Wang Yue mendesah kecewa karena Wang Hao tak terpancing atas ucapannya.
~
A Xiang dan Lulu kini sibuk dengan upayanya untuk menyelamatkan Lubin. Mereka telah membersihkan seluruh darah yang mengotori wajah pemuda itu, dan telah memulai membedah di bagian kepala nya.
"Ji Chen bodoh.!!! Mengapa lama sekali,, apa kau sengaja menempatkan ku di posisi yang sulit ini. Cih.! Cepat datanglah.!! Atau aku akan meracuni mu nanti jika aampai kau terlambat.!!"
A Xiang mengumpat dalam hatinya, saat ini dirinya benar-benar merasa hampir di buat gila dengan masalah yang tengah ia hadapi.
"Tidak. Tanda vitalnya melemah. Darahnya semakin terkuras, ia membutuhkan transfusi darah saat ini. Jika tidak,,"
"Jiě, jangan panik. Gēgē pasti akan datang."
Meski mengatakan demikian, raut kekhawatiran yang sama dengan Lulu tak dapat ia sembunyikan dari wajahnya.
"Dasar Ji Chen bodoh.!! Kau bilang hanya 15 menit, ini hanya tersisa beberapa menit lagi tetapi kau masih juga belum datang.! Cepat datanglah, jangan membuat kecewa dirimu sendiri untuk kedua kalinya."
A Xiang bergegas mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang, tetapi urung saat derap langkah kaki yang menimbulkan keributan mengganggu pendengaran nya.
"Kau mengatakan untuk membawa darah untuk nya, tetapi kau justru datang dengan keributan dan,, dan, apa maksud nya dengan ini? Kau membawa seseorang kesini?"
"Bo_doh.!! Hahh hahh, hahh.." Kalimat pertama yang Chen katakan di sela nafasnya yang terengah.
"Aku berkata untuk mencari donor darah yang cocok untuk Lubin, jadi aku membawanya kemari."
"Cih. Kau berkata untuk mencari donor darah, mengapa justru membawa pendonornya bersamamu? Tidak bisakah kau melakukannya dengan benar?"
Lulu menghela nafasnya melihat percekcokan antara kedua bersaudara di hadapannya. Ia hampir memijat kepalanya yang semakin pening, jika saja tak memiliki benda yang ada di genggaman tangannya.
"Bisakah kalian diam.!! Kau ingin menyelamatkan seseorang atau ingin berdebat disini.!!"
Zizi membuka suaranya karena merasa kesal dengan sikap dua laki-laki tersebut.
"Galak sekali wanita ini."
__ADS_1
Itulah kira-kira isi pikiran a Xiang dan Chen setelah Zizi menegurnya.
"Lulu Jiějiě,, bisakah ambil darahku sekarang? Lebih cepat lebih baik bukan?"
Nada bicaranya berubah drastis saat berbicara dengan Lulu, Zizi menjadi gadis yang lemah lembut dan terlihat sangat anggun.
"Zizi,, tapi bagaimana dengan golongan darah mu? Bahkan itu berbeda."
Lulu tahu, jika sang Dìdì membutuhkan donor darah, tetapi ia tak bisa langsung menuruti keinginan gadis itu begitu saja, karena ia tahu golongan darah mereka tak sama.
Chen nampak kesal setelah mendengar ucapan dokter cantik itu, hal yang sama juga terjadi pada a Xiang.
"Kau.! Kau tahu darah kalian tak sama, tetapi kau memaksaku untuk membawamu kemari. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?! Kau pikir ini adalah mainan? Kau tahu, ini adalah nyawa seseorang. Bagaimana kau bisa seperti ini.!"
Zizi mengabaikan ucapan Chen, ia justru mendekati Lulu yang terdiam memandangnya.
"Jiě, maaf.. Maafkan Zizi yang terlalu ceroboh, tapi Jiě, Zizi mohon beri Zizi kesempatan untuk membantunya. Zizi tahu, darah kami tak sama.
Tetapi Zizi yakin, itu akan baik-baik saja untuk Binbin Gēgē. Tubuhnya akan menerima dengan baik darah milikku, seperti 4 tahun yang lalu saat Binbin Gēgē menerima darahku dalam tubuhnya."
Lulu memandang tak percaya pada gadis di hadapannya, matanya kini berkaca-kaca. Ia benar benar bimbang, namun jika ia menolak,, pemuda kesayangannya tentu tak akan selamat.
"Baiklah,, mari kita lakukan sekarang." Ucapnya kemudian tanpa ragu.
Ia menoleh pada Chen dan a Xiang secara bergantian, yang di balas anggukan oleh keduanya.
Mereka mulai melanjutkan aktivitas sebelumnya, bekerja sama untuk menyelamatkan satu nyawa yang menjadi korban kejahatan orang lain.
Meski ada keraguan dengan upaya yang mereka lakukan,, namun tak mengurangi semangat mereka untuk tetap berusaha melakukannya.
Entah apapun hasilnya, namun mereka tak ingin gagal dalam upayanya. Mereka yakin, nyawa yang tak bersalah tidak akan di biarkan pergi dengan sia sia.
~
Sementara ke empat orang di sibukkan dengan tugasnya,, beberapa orang lainnya kini masih tak berniat membuka suara.
__ADS_1
Sebenarnya baik Kuan ataupun Zi Cheng, keduanya ingin sekali melayangkan beberapa kalimat pertanyaan.
Namun melihat keadaan di sekitarnya tak memungkinkan, keduanya hanya berusaha menjaga sikap.