
Di tengah perasaan harunya, si kecil berulang kali mengangkat wajahnya untuk memastikan jika benar kedua orang yang memeluknya kini adalah kedua orang tuanya.
"Yi Paa,, ayo bawa Yi Maa pulang.." Ucapan si kecil membuyarkan lamunan kedua orang dewasa yang masih asik memeluknya.
"Mn. Kita pulang bersama Yi Maa.." Sahut sang ayah tanpa ragu.
"Yi Maa,, ayo pulang bersama a Yi dan Yi Paa.." Lanjutnya yang kini memandang sang ibu penuh harap.
Xiao Lin mengalihkan pandangannya pada sang suami, sebelum menjawab pertanyaan putranya.
"Yi Maa,, Yi Maa ikut pulang bersama a Yi kan?" Tanya si kecil lagi, dengan sedikit paksaan memegang kedua sisi pipi sang ibu dan mengarahkan pandangannya agar menghadap sepenuhnya pada dirinya.
"Tanpa meminta pun Yi Maa akan selalu menuruti permintaan mu nak,, hanya saja,,, masih pantaskah Yi Maa berada disisi kalian? Terutama Papa mu,, pantaskah Yi Maa berada disampingnya?
Selama ini Yi Maa pergi tanpa tahu seperti apa kehidupan kalian, bagaimana penderitaan kalian, Yi Maa ingin sekali bersamamu sepanjang waktu. Tetapi Yi Maa ragu,, ragu dengan perasaan ini.."
Xiao Lin terdiam dengan sejuta kalimat memenuhi kepalanya, entah mengapa ada rasa sesak menyeruak ke dalam hatinya. Tak sadar meneteskan air matanya, Xiao Lin tersentak saat tangan besar nan hangat menyentuh wajahnya.
"Jangan menangis lagi,, buang jauh jika itu membuat sesak di hatimu. Ingatlah,, aku disini, akan selalu berada di sisimu. Dan akan selalu menjagamu, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakanlah..
Berbagilah dengan ku, pada Suamimu ini. Aku tidak akan membiarkan meski hanya sebutir debu menyakiti mu, Istriku." Tuturnya, di susul dengan mengecup kening dan puncak kepala istri serta putra kesayangannya.
Tanpa mereka sadari, seseorang yang berada di balik pintu mendengar percakapan mereka.
Seseorang itu membuka pintu tanpa mengeluarkan suaranya dan terus memandang dengan binar kebahagiaan menghiasi wajahnya.
"Wuee, Jiě. Apa yang kau laku_ eh,?? Ooppsst. Sepertinya ada reuni keluarga bahagia disini."
Lubin dengan suara lantangnya datang menghampiri si empunya yang sedari tadi menguping.
Dirinya tak melanjutkan ucapannya, yang justru sedikit terkejut dan seketika mengatupkan mulutnya rapat menggunakan tangannya, saat pandangan matanya tertuju pada keluarga kecil yang tengah berbahagia.
"Ma_maaf sepertinya aku mengganggu waktu bahagia kalian.." Sambungnya dengan cengiran konyolnya.
Cc yang kesal memukul kepala Lubin. "Kau memang sangat menggangu.!! Mengganggu momen bahagia ku.!! Dan merusak pemandangan ku.!!" Ucapnya dengan geram.
Sementara Lubin mengaduh kesakitan, pandangan berbeda terpampang dari wajah ketiga orang yang menjadi objek perdebatan keduanya.
__ADS_1
Wang Yue memandang kesal pada keduanya, karena acara berpeluk bahagia bersama istri dan putranya menjadi terganggu.
Sedang Xiao Lin, hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang yang telah menjadi keluarga baginya.
"Paman dan Bibi,, apa yang kalian lakukan disana? Apa orang dewasa suka melakukan hal seperti itu?" Tanya si kecil heran dengan wajah bingungnya.
"Hehee,, euu,, bukan seperti itu,,"
Lubin berniat menjelaskan, namun nyalinya menciut kala mendapati sorot mata Wang Yue terlihat sangat terganggu dengan kehadirannya.
"Ah,, maaf mengganggu kebahagiaan kalian.. Jiě, sudah waktunya untuk makan, jadi ku bawakan makanan untukmu." Ucap Cc sembari mendorong kereta makanan yang berada di hadapannya.
"Tuan Wang, jika Anda tak keberatan, bergabunglah bersama kami." Sambungnya dengan sopan.
Namun nampaknya itu tak mendapat respon baik dari Xiao Lin.
"Wue. Jika kau mengajak Yue Gē makan bersama kalian, lalu siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini." Protesnya dengan menunjuk makanan-makanan di sampingnya.
Cc membuang nafasnya kasar seraya senyumnya mengembang, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ucapan yang membuat sang Jiějiě tersenyum.
Senyum yang sebelumnya mengembang di wajah Xiao Lin, seketika luntur setelah mendengar ucapan gadis muda itu.
"A Yi,, kemarilah nak. Ikutlah Bibi sebentar, ada sesuatu yang ingin Bibi tunjukkan." Ucapnya dengan tergesa, sebelum sang Jiějiě benar-benar kesal dan memburunya.
Cc meminta si kecil a Yi ikut bersamanya, karena ingin memberi waktu bagi sepasang suami-istri itu untuk berdua.
Meski sebelumnya mendapat penolakan dari a Yi, namun akhirnya si kecil tetap mengikutinya.
Setelah yang lain pergi, tinggallah pasangan Wang Yue dan Xiao Lin, dengan Wang Hao yang masih tak sadarkan diri. Keduanya menjadi lebih canggung tak seperti sebelumnya saat masih bersama a Yi.
"Emh. Makanlah,,"
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Wang Yue membuka suaranya, menghancurkan keheningan di sekitar mereka.
Xiao Lin sendiri tersenyum saat melihat sang suami yang entah sejak kapan memiliki semangkuk makanan di tangannya, dengan satu suapan yang siap untuk ia lahap di saat bersamaan.
"Buka,, kau harus memakannya, agar tenaga mu pulih dan bisa segera kembali bersama kami. A Yi begitu gembira saat melihat Ibunya sadar, dan pasti akan sangat bahagia karena Ibunya kini bisa menemaninya sepanjang waktu." Ucapnya dengan sangat lembut masih dengan suapan yang siap untuk di lahap sang istri tercintanya.
__ADS_1
"Masihkah,,,"
Dengan ragu Xiao Lin mengucapkan kalimat yang mengganjal di kepalanya, mengabaikan sang suami yang masih memegang semangkuk makanan di satu tangannya dan sendok berisi makanan di satu tangan lainnya.
Namun nyatanya itu terdengar bak hembusan nafas yang samar, dan menggantung begitu saja.
"Kau sangat pantas. Xiaoxiao,, dengarkan Gēgē. Hanya kau Istriku. Kaulah Xiaoxiao ku, hanya kaulah pemilik hatiku. Kau segalanya dalam hidupku, tidak ada yang lain, dan hanya kau di dalam hatiku.
Jadi jangan lagi bertanya apakah kau pantas atau tidak, karena kau sangat pantas. Dan hanya kaulah yang pantas bersamaku untuk tetap berada di sisiku."
Usai mengatakannya, Wang Yue terkejut saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang istri. Xiao Lin tanpa membuang kesempatan, langsung menubrukkan tubuhnya pada sang suami. Memeluknya begitu erat dengan isakkan tertahan.
"Ada apa?? Katakan padaku jika itu sangat mengganggu." Ucap Wang Yue dengan helaan nafas lega, karena berhasil menyelamatkan makanan di tangannya yang hampir terjatuh akibat ulah sang istri tercintanya.
"Hiks,, terima kasih.. Hiks,, terima kasih atas kasih yang begitu tulus padaku. Hiks,hiks,, terima kasih atas cinta yang begitu besar untuk ku,, hiks,, terima kasih..
Terima kasih masih menerima ku, hiks,, dan terima kasih,, karna masih menganggap ku pantas berada di sisimu. Hiks,,hiks,,hiks,, Terima kasih Gē. Hiks,, terima kasih.. Hiks,,,"
"Jangan katakan itu,, kau adalah hidupku, kau nafasku, dan kaulah tempat dimana hatiku singgah. Jadi kemanapun kau akan pergi, aku akan selalu menanti mu untuk kembali.
Karena meski aku pergi, aku masih akan tetap mencarimu untuk kembali. Kau adalah rumahku, tempat dimana aku harus kembali untuk menghabiskan waktu bahagiaku bersamamu."
Wang Yue terus dan terus, berulang kali mengulang kalimat yang sama. Ia hanya ingin sang istri yakin, bahwa perasaannya tak pernah berubah.
Isakkan Xiao Lin terdengar semakin tak menentu, ia semakin membenamkan wajahnya pada perpotongan leher sang suami, guna meredam suaranya agar tak semakin kencang.
Meski nyatanya itu mustahil, sekuat apapun usahanya, itu tetap saja menimbulkan suara yang terdengar oleh sang suami.
"Kau memang tak berubah,, kau masih Xiaoxiao ku yang dulu. Xiaoxiao,, ikutlah bersamaku, kita sambung kembali kisah indah kita yang pernah hilang di masa lalu. Menggantikannya dengan kebahagiaan sepanjang waktu, sepanjang kehidupan yang telah kita jalani." Bisiknya lirih tepat di telinga sang istri.
"Meski ku tahu apa yang baik untukku tidak tentu baik untukmu, karena kebahagian ku adalah petaka untuk mu. Namun maafkan aku, maafkan aku yang egois, maafkan aku yang hanya mementingkan kebahagiaan ku sendiri dan mengorbabkan kebahagiaan mu.
Ku mohon maafkan aku,, anggaplah ini sebagai penebusan ku atas semua dosa yang telah ku perbuat padamu. Akan ku lakukan apapun untuk mendapatkan kembali kebahagiaan yang pernah terenggut darimu olehku, agar tak ada perpisahan yang menyakitkan untuk kedua kalinya lagi." Lanjut Wang Yue dalam hati.
"Chhupp."
Kedipan lucu dengan lambat tercipta dari kedua mata pria tampan itu, saat sang istri yang tiba-tiba mencium bibirnya. Membuat nya kembali mengulang hal yang sama tanpa ada ******* di dalamnya.
__ADS_1