
~
Wang Yue dan Xiao Lin kini terdiam memandang seseorang yang memanggilnya.
Sejenak tidak ada suara yang terdengar dari mereka, hingga salah satu di antaranya memecah keheningan yang terjadi saat ini.
"Hemmh." Hembusan nafasnya terdengar di sertai senyum kecutnya.
"Apa tidak ada yang ingin mengatakan sesuatu? Kalian nampak tak senang melihat ku" Ucapnya kemudian.
"X_xiao'er.."
Xiao Lin menggumam pelan dengan berjalan mendekati si empunya, matanya terlihat berkaca-kaca saat ini.
Sementara Wang Yue tidak ada sepatah kata pun yang ia ucapkan, namun ia mengikuti sang istri dari belakang mendekati Wang Hao.
Ia masih tak tahu apa yang harus ia katakan saat ini, pikiran nya begitu kacau dengan masalah yang menurutnya hingga saat ini tidak masuk akal karena begitu banyak kejanggalan.
Wang Hao tersenyum, meski tubuhnya terasa lemah, namun ia memaksakan diri untuk bangun.
"I_ibu.." Gumamnya terbata memanggil Xiao Lin yang kini membantunya untuk duduk.
"Berbaring saja jika masih lemas, kau terlalu lama tertidur, jadi harus memulihkan tenaga dulu." Tuturnya khawatir.
"Tidak Ibu, tubuh ku terasa remuk karena terus berbaring di sini. Hao'er ingin duduk saja."
Xiao Lin tersenyum menanggapi, ia kemudian mendudukkan dirinya di samping pemuda tampan itu.
"Ibu,, apa Ibu baik-baik saja?"
"Mn. Tentu. Seperti yang kau lihat saat ini."
"Cih. Ibu,, kau bercanda? Kau masih saja begitu buruk dalam berbohong."
Xiao Lin tak bisa untuk tidak tersenyum, ia menepuk pelan kepala pemuda tampan di sisinya.
"Cih. Bocah konyol ini, kau pun masih tidak berubah dari dulu."
Keduanya larut dalam perbincangan dunia mereka sendiri, melupakan seseorang yang kini nampak begitu kesal karena terabaikan.
~
__ADS_1
Beralih pada bangunan megah milik keluarga Meng, nampak seorang gadis cantik yang tak lain adalah keturunan Meng, kini terlihat cukup asik dengan kegiatan memasaknya.
Begitu jarang dirinya sudi membuang waktunya hanya untuk menyiapkan hidangan, terlebih bukan untuk dirinya sendiri.
Namun hari ini adalah pengecualian, sejak pagi ia sibuk menyiapkan beberapa hidangan yang rencananya akan ia bawa untuk saudari tersayang nya di rumah sakit.
Selesai dengan kegiatannya, gadis cantik itu bergegas menuju kamarnya untuk sekedar menyiapkan diri, setelah memastikan bahwa semua yang akan ia bawa telah siap.
Tak butuh waktu lama bagi Zizi melakukan perjalanan nya menuju rumah sakit dimana saudarinya berada, namun entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan perasaan nya sejak pagi hingga siang ini, seakan sesuatu yang begitu mengkhawatirkan menantinya.
Setibanya di rumah sakit Zizi mendahulukan niatnya mendatangi ruangan Lulu sekedar ingin menanyakan kabar, sekaligus bertanya tentang keberadaan saudari perempuannya yang hingga saat ini sulit ia hubungi.
Namun langkahnya melambat saat mendapati Lulu yang berjalan dengan tergesa, hingga berakhir dengan keterkejutan di wajahnya.
Dengan sedikit rasa penasaran Zizi tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut, hingga berakhir ia mengetuk pintu dan bertemu dengan saudari menyebalkan nya itu.
Ia cukup terkejut mendapati Zi Cheng membukakan pintu untuknya dan justru Lulu yang entah pergi kemana.
Zizi memberikan makanan yang ia bawa pada Zi Cheng, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.
"Nona Meng, terima kasih untuk makanannya, maaf merepotkan anda."
Kuan menyadarkan Zizi dari lamunannya.
"Aku sengaja membawanya untuk kalian, makanlah sebelum itu menjadi dingin." Sambungnya, dengan wajah di kuasai kebingungan.
"Jiějiě,, apa kau tak ingin makan bersama ku?"
"Cih. Gadis bodoh ini.! Kau bertanya atau tidak memberikan pilihan untuk ku."
Zi Cheng menerima pukulan sayang dari sang Jiějiě, namun kemudian berganti dengan usapan di puncak kepalanya.
"Makan saja untuk mu, Jiějiě sengaja membuat nya untuk kalian." Sambungnya tanpa ada perdebatan seperti yang biasa mereka lakukan.
Keduanya menyantap makanan dengan saling melayangkan pandangan secara bergantian, hingga terkadang ada interaksi kecil seperti saling menggerakkan kepalanya.
Atau gerakan lainnya dari mata dan alis mereka, sesaat mengamati sikap Zizi yang terasa sangat berbeda dengan biasanya.
"Jiějiě,, apa kau baik-baik saja??"
Zi Cheng memutuskan untuk bertanya karena tak tahan melihat wajah murung Zizi yang membuat nya tak nyaman.
__ADS_1
"Jiějiě, apa kau mendengar ku?" Lanjutnya saat tak mendapat respon dari si empunya.
"Jiě, ada apa? Apa kau baik-baik saja?"
Seperti dugaannya, Zizi nampak bak orang aneh saat ini. Ia tak seaktif biasanya, nampak seperti orang linglung yang sangat aneh bagi Zi Cheng.
"Chengcheng, Jiějiě tidak tahu apa yang salah. Tetapi entah mengapa Jiějiě merasa sangat khawatir sejak pagi ini, Jiějiě tidak tahu mengapa hati ini terasa begitu sesak. Seakan,,"
Kalimat Zizi terlontar begitu saja setelah beberapa saat terdiam, masih dengan pandangan yang terlihat gelisah.
"Jiě??" Zi Cheng memanggil sang Jiějiě saat ia menggantung kalimatnya.
"Perasaan yang sama, seperti saat sesuatu buruk terjadi padamu dulu." Sahut gadis itu, yang kini menghadap sepenuhnya pada Zi Cheng.
Meski tak menjelaskan secara rinci padanya, namun Zi Cheng tahu apa yang di maksud sang Jiejie.
"Itu sebabnya Jiějiě datang menemui ku disini? Jiě,, jangan khawatir. Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat saat ini." Tutur nya berusaha menenangkan suasana hati Zizi.
"Jiějiě datang karena kau tak pernah kembali beberapa hari ini. Selain itu, meski Jiějiě tahu kau akan baik-baik saja, tetapi entah mengapa ada perasaan lain yang tidak bisa Jiějiě singkirkan."
Kedua bersaudara Meng itu asik dengan percakapan antar saudari, Kuan lah yang menjadi pendengar setia. Hingga beberapa saat kemudian terdengar pintu yang di gedor dengan bar-bar, tahu siapa pelakunya?
Tentu saja Wang Yue lah pelakunya, ia melakukannya dengan sangat baik. Setelah melepas alat kedap suara di dalam ruangan tersebut, ia menggedor pintu dengan teriakan nyaring agar seseorang bisa membukakan pintu untuknya.
Namun sebesar apapun usahanya, ataupun usaha orang lain dari luar, pintu itu jelas tidak akan bisa terbuka jika tidak memiliki kuncinya.
Beruntung saat Zi Cheng mencari di seluruh ruangan tersebut, ia menemukan sepasang kunci tergeletak di lantai, tepat di tempat di mana Chen dan Lulu sebelumnya menghilang bak di telan dinding.
"I_ini,, bagaimana cara membukanya.? Ini jelas adalah kuncinya, ini benar-benar sudah tak terkunci dari luar, tetapi mengapa masih tidak bisa terbuka?"
Zi Cheng tak kalah heboh dengan suaranya, ia telah berusaha membukakan. Akan tetapi pintu itu tak terbuka, entah ada yang salah dengan kuncinya, atau memang pintu itu telah rusak.
Di waktu bersamaan, Lulu kini tertegun sejenak sesampainya di tempat di mana Chen membawanya. Ia menolehkan wajah ke seluruh ruangan dengan perasaan bingung melihat keadaan orang-orang di sekelilingnya.
"I_ini.. Apa yang terjadi pada kalian?" Tanyanya beberapa saat kemudian.
"A_Yi??"
Dokter cantik itu mengerutkan keningnya saat mendapati si kecil a Yi dalam pandangannya.
"Nak, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" Tanyanya khawatir.
__ADS_1
Lulu yang masih dalam keadaan terkejut kini berlari mendekati a Yi saat melihat si kecil duduk bersandar di pangkuan Wen.
"Bibi,, a Yi baik-baik saja. Bagaimana keadaan Yi Maa? Apa Yi Maa baik-baik saja?"