
°
~
Hari menjelang petang, namun percakapan di antara kedua pria berparas tampan dan kalem yang sebelumnya terlihat serius, kini masih tetap berlanjut.
"Gē. Apa yang kau pikirkan?"
Wang Yue menggeleng menanggapi ucapan Lubin.
"Bin, apa kau yakin dengan ucapan mu itu?"
Wang Yue kembali memastikan, setelah beberapa saat lalu berkali kali menggelengkan kepalanya.
"Mn. Kau dapat yakin Gē, itulah yang Jiějiě katakan padaku tentang Wang Hao."
Lubin dengan santai menyahuti pertanyaan yang di tujukan padanya.
"Tidak. Itu tidak mungkin Bin." Sangkal Wang Yue.
"Meskipun Hao'er begitu keras kepala, tetapi menjadi orang pendendam bukanlah sifatnya." Lanjutnya pelan.
"Maaf Gē jika aku lancang dan menyinggung perasaan mu. Aku tahu ini sulit untuk kau percaya, tetapi apa yang Jiějiě katakan tak mungkin salah."
"Lalu bagaimana bisa Nona Lu menilai hal itu?" Tanyanya lagi dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Bin, bukan aku membela Hao'er karena ia adalah saudara ku sendiri. Tetapi yang ku tahu, Hao'er bukanlah seorang yang pendendam."
Lubin sedikit tersentak atas pertanyaan Wang Yue, namun kembali ia tanggapi dengan santai. Meski ia sendiri tak mengetahui jawabannya.
"Gē. Aku memang tidak mengetahui tentang hal menyangkut apa yang terjadi pada a Hao. Tetapi berdasarkan dari pengalaman ku saat melihat beberapa pasien yang pernah Jiějiě tangani sebelumnya, sedikitnya aku menjadi tahu.
Bahwasanya, setiap orang memiliki beban di dalam hatinya. Entah apapun yang menjadi pokok permasalahannya, itu sangat mengganggu dan tentunya menjadi beban tersendiri bagi semua orang. Tergantung tingkat emosi yang mereka miliki." Jelasnya.
"Jika orang tersebut termasuk orang yang enggan untuk mempersulit keadaan atau dirinya sendiri, mungkin ia akan bisa melupakan semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Tentunya ia adalah orang yang benar-benar memiliki hati suci, atau bisa di sebut orang yang tak pernah memiliki kegelapan dalam hatinya." Paparnya.
"Bagaimana kau menilainya? Apa kau sungguh mengerti?"
Lubin yang semula begitu santai, kini menundukkan kepalanya dengan wajah menyendu.
"Itu telah menjadi pengalaman ku sebelumnya." Jelasnya dengan senyum yang di paksakan.
Wang Yue mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Lubin.
"Dari pada memikirkan hal itu, sebaiknya kita pikirkan cara mengembalikan keadaan seperti seharusnya. Banyak hal yang telah jauh berubah tidak pada seharusnya."
Wang Yue membuang nafasnya kasar, saat Lubin kembali mengatakan hal yang membuatnya tergelitik.
"Bukan hal yang berpengaruh, tetapi juga tidak bisa untuk melewatkan nya. Keadaan memang telah berubah. Meski mampu untuk mengembalikannya, itu tidak akan bisa mengubah apa yang telah terenggut. Karena yang seharusnya terjadi, tidak selalu menjadi pilihan."
"Eh?" Lubin di buat bingung dengan maksud dari ucapan Wang Yue barusan
"Tidak akan mengubah seperti apapun masa lalu, bukan berarti untuk mengabaikannya karena keadaan yang tak sama." Hati Wang Yue kembali bergumam.
"Kau bilang Nona Lu adalah Jiějiě mu." Ucapnya, alih-alih menjawab rasa penasaran Lubin atas ucapan nya, ia justru mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mn. Apa kami tidak mirip?" Tanya Lubin yang begitu saja melupakan rasa penasaran di kepalanya.
"Oy Gē. Apa yang kau lakukan.! Jangan melihat ku seperti itu.! Aku merasa geli, seolah kau ingin menerkam ku. Kau tahu.!"
Lubin meninggikan suaranya saat Wang Yue sedikit mencondongkan kepalanya dengan pandangan tajam padanya.
"Hmphh. Baru ku sadari, ternyata,,,"
Pria tampan itu menggantung ucapannya, tanpa mengalihkan pandangannya dari sang lawan bicara. "Kau,,,"
"Gē, a_apa yang sebenarnya kau pikirkan. Jangan macam-macam padaku.! Atau kau akan tahu aki,,," Lubin dengan rasa takut merasuki pikiran nya, mencoba memperingati pria yang wajahnya cukup dekat dengannya dan terlihat mencurigakan baginya.
"Bodoh.!! Kau sendiri apa yang kau pikirkan.!" Tiba-tiba saja Wang Yue memukul kepala Lubin yang telah berburuk sangka padanya.
Sedangkan si empunya kinj mengaduh kesakitan dengan gerutuan yang terus keluar dari mulutnya.
"Jangan berpikir jika aku tertarik padamu." Jelas Wang Yue dengan tegas.
"Ak_aku tidak berpikir begitu,, hanya saja_tatapan matamu begitu mencurigakan tadi. Dan membuat ku merasa takut."
"Hah..." Wang Yue membuang nafasnya kasar.
"Saat aku memandang mu tadi, aku baru menyadari."
Wang Yue mengatupkan bibirnya kembali, tanpa peduli dengan Lubin yang semakin penasaran akibat ucapannya yang tanpa kelanjutan.
"Huhhft..."
Lubin yang meniup rambut miliknya sendiri yang sedikit menutupi keningnya.
"Apa yang membuat mu sebegitu senangnya mengerjai ku. Aku merasa begitu penasaran pada reaksi Xiao Jiějiě dengan sikapmu yang seperti ini. Aku yakin di dalam hatinya memiliki begitu banyak kekesalan yang ia simpan karena mu." Sambungnya.
Umpatan untuk ke sekian kalinya yang keluar dari mulut Wang Yue. Sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Mana mungkin. Xiaoxiao bukanlah orang yang seperti itu. Meskipun dia sering kali kesal atau menegurku, tetapi dia bukanlah orang yang mampu menyimpan kegelapan di dalam hatinya. Karena ia memiliki hati yang begitu tulus." Lanjutnya kemudian.
"Mm.. Siapa yang tahu bagaimana hatinya." Celetuk Lubin yang mulai bosan dengan obrolan antara dirinya dan pria di hadapannya.
"Ya. Setidaknya itulah yang ku tahu, meski mungkin aku tidak sepenuhnya memahaminya. Dan itulah secuil alasan yang membuat ku selalu merasa takut." Pungkasnya dalam hati.
"Gē, lebih baik kau simpan saja wajah kusam mu itu untuk dirimu sendiri. Jangan kau tunjukkan itu di hadapan ku saat ini, karena itu terlalu menggelikan bagiku untuk melihatnya."
Wang Yue memandang geram pada Lubin yang mengucapkan kalimat mengesalkan baginya.
"Kau.!!"
"Tidak untuk itu. Simpan saja dulu untuk saat ini. Lihatlah.."
Lubin mencegah Wang Yue memaki dirinya.
Pria tampan itu melebarkan matanya sempurna saat mengikuti arah tunjuk Lubin.
Dirinya yang sebelumnya berniat memaki Lubin, justru amarah itu kinj hilang begitu saja saat melihat sang pemilik hati membuka matanya.
Wang Yue tak bergeming, hanya terpaku pada satu titik yang menjadi objek pandangannya.
__ADS_1
"Xiao Jiě,," Sapa Lubin riang.
Suara Lubin mengalihkan perhatian Xiao Lin padanya. Ia tersenyum lembut, perlahan senyumnya semakin mengembang, entah apa sebabnya.
"Bagaimana perasaan mu saat ini Jiě?"
"Hn. Sangat baik." Sahutnya masih dengan senyum menghiasi wajah cantiknya.
"Syukurlah,,"
Lubin tersenyum menanggapi, entah apa yang membuatnya menggantungkan kalimatnya, ia menolehkan wajahnya pada seseorang yang sedari tadi terdiam di sampingnya.
"Eu,, Gē. Apa tidak ada yang ingin kau katakan?"
"Eh,,?"
Wang Yue terkejut mendengar kalimat Lubin yang tiba-tiba di tujukan untuk dirinya.
"Yue_Gē."
Lebih mengejutkan lagi bagi nya, saat namanya di sebut begitu lembut, oleh seseorang yang begitu sangat ia cintai.
"Xiao,xiao.." Ucap Wang Hao terbata, dengan bola mata memerah serta genangan air membanjiri seluruh matanya.
"Ah,,. Aku rasa kalian butuh waktu untuk bersama. Aku akan menunggu di luar, jika kalian membutuhkan sesuatu panggil saja aku."
Selesai dengan kalimatnya, Lubin bergegas meninggalkan sepasang suami istri itu.
Sementara beberapa pasangan lainnya yang sebelumnya di selimuti ketegasan, kini beralih menatap Lubin dengan tatapan berbagai macam makna. Namun, sedikit banyaknya memiliki pertanyaan yang sama.
"Apa semuanya baik?"
"Bagaimana keadaan di dalam?"
"Apa sudah tenang?"
Itulah pertanyaan yang terdengar dari beberapa orang di antaranya.
"She,,, eu_maksudku Wang Yue Dìdì.."
Hingga pertanyaan yang ragu, namun masih terucap dengan samar itupun tak luput dari pendengaran mereka.
Lubin tersenyum, ia mengambil langkahnya mendekati si empunya yang bertanya dengan ragu itu.
"Wang Yue Gē baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan nya Gē, pikirkan kesehatan mu untuk saat ini." Ucapnya dengan tepukan yang ia daratkan di pundak Kuan.
"Mn. Dengarkan saja apa yang Bin katakan. Jangan terlalu memikirkan nya." Timpal Chen.
"Heehh,, jangan pedulikan dia. Percayalah,, Yue'er akan baik-baik saja." Sambungnya kemudian, meyakinkan pria yang berwajah khawatir itu.
"Hahh.."
Tarikan nafas cukup panjang darinya, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Ya, dia memang begitu syok melihat mu Gē, terlebih di waktu bersamaan saat ia bertemu dengan istrinya dan itu di satu tempat yang sama. Ketahuilah, saat ini dia hanya merasa takut hal sebelumnya kembali terjadi menimpa keluarga nya yang dulu pernah hancur.
__ADS_1
Yue'er hanya masih menyimpan dendam yang begitu besar pada orang-orang yang pernah terlibat dengan masa lalunya. Itu sebabnya,, saat pertama kali ia melihat mu, ketakutan dalam hatinya kembali datang menghantuinya." Paparnya.
Raut penyesalan kiji nampak jelas di wajah Kuan usai mendengar kalimat Chen. Wajahnya di selimuti rasa bersalah, juga kekecewaan yang mendalam.