
Kini keempat orang tersebut melangkah meninggalkan ruangan itu dengan masing-masing membantu orang yang masih lemah.
Xiao Lin dan Wang Hao di buat kebingungan saat dinding yang mereka sangka hanyalah sebuah dinding tak bernyawa, siapa sangka itu adalah sebuah jalan rahasia yang terhubung dengan tempat yang Chen maksud.
Semula ketiganya nampak biasa saja sebelum memasuki satu pintu lainnya di hadapan mereka yang mana membuat ketiganya memiliki sudut pandang berbeda.
Lain dengan Chen yang nampak santai memapah tubuh Wang Hao memasuki ruangan tersebut, membiarkan ketiga orang yang bersamanya bertanya-tanya dalam hatinya.
"Eh,,?? Ada apa dengan kalian? Mengapa hanya diam disitu,? Apa kalian tidak ingin menemui putra kalian di dalam?"
Chen menghentikan langkahnya saat dirinya melangkahkan kakinya melewati pintu tersebut.
"Ibu,, ada apa?? Mengapa berhenti?"
Rupanya Wang Hao pun tak tinggal diam, ia pula merasa bingung melihat kedua orang di belakangnya mematung tak bergerak.
"Xiaoxiao,, apa yang salah?"
Tak luput, Wang Yue pun ikut serta bertanya dengan khawatir saat tahu istrinya yang juga tak bergerak dari tempatnya.
Merasakan aura kekhawatiran dari ketiga orang di sekelilingnya, Xiao Lin pun memaksakan senyumnya.
Ia menggelengkan kepalanya menandakan dirinya baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, maaf membuat khawatir. Kalian lanjutkan saja, kami mengikuti dari belakang."
Usai memastikan Xiao Lin baik-baik saja, Chen kembali memapah pemuda yang lemah di sisinya, meninggalkan sepasang suami istri itu di belakangnya.
"Xiaoxiao ada apa??"
Wang Yue kembali memastikan, ia tak begitu saja percaya pada sang istri, ia tahu betul tabiat sang istri yang akan selalu menutupi perasaan nya.
"Yue Gē, entah mengapa,, aku merasa sedikit tidak enak. Aku tak tahu siapa yang akan ku temui selain putra kita, tetapi ini sedikit menyesakkan untuk ku Gē."
Yups. Seperti dugaan Wang Yue. Ada sesuatu yang tengah Xiao Lin rasakan saat ini, namun ia menutupinya.
"Sebaiknya kita cari jalan keluar saja, kita temui Nona Lu, agar kau bisa merasa lebih nyaman."
__ADS_1
Namun Xiao Lin menggeleng tak setuju dengan ucapan sang suami.
"Yue Gē, jika kita pergi bagaimana dengan a Yi? Aku tidak ingin pergi, aku ingin melihat putra kita sekarang juga."
Helaan nafas panjang terdengar. Pria tampan itu pun hanya bisa menuruti kemauan sang istri tercintanya itu, karena tak ingin membuat nya bersedih.
Wang Yue bukan tak ingin menemui putra kesayangannya, hanya saja melihat Xiao Lin tak nyaman, membuat nya khawatir.
Jadi ia berniat membawa sang istri untuk menemui Lulu, harap-harap bisa memberinya sesuatu untuk Xiao Lin atau sekedar membuatnya lebih tenang.
Namun pria tampan itu tak tahu jika sebenarnya Lulu juga berada di dalam ruangan di balik pintu kedua setelah mereka meninggalkan ruangan sebelumnya.
Beruntung Xiao Lin menolaknya,, karena jika sampai dirinya menuruti sang suami, bukan hanya tidak akan bertemu dengan Lulu saja, tetapi juga putra tercintanya di dalam ruangan itu.
Keduanya mulai melangkahkan kakinya melewati pintu di hadapannya, dan seketika sepasang suami istri tersebut di buat terkejut atas apa yang mereka dapati di dalamnya.
Bagaimana tidak? Kini keduanya di hadapkan dengan pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Xiao Lin tercengang melihat beberapa orang di sekelilingnya di penuhi luka, sementara Wang Yue menilik sekelilingnya mencari keberadaan sang putra.
Si kecil meminta Kuan menurunkannya saat melihat kedua orang tuanya datang, ia lekas berlari untuk memeluknya yang di sambut hal serupa dari sang ayah.
Wang Yue menggendong tubuh mungil itu, agar sang istri dapat memeluk serta putranya.
Usai dengan acara 'mari berpelukan', Xiao Lin kembali melanjutkan langkahnya.
Dengan bantuan sang suami yang masih setia di sisinya, wanita cantik itu mendekati Cc yang masih berbaring setengah bersandar tak berdaya di atas ranjang.
Dengan wajah memarnya ia memaksakan senyumnya saat Xiao Lin mendekat.
"Cc,, apa yang terjadi?"
Gadis cantik itu menggeleng, ia benar-benar tak suka melihat wanita dewasa di hadapannya yang terlampau cengeng itu, hendak meneteskan air matanya.
"Jiějiě, jangan menangis, Cc baik-baik saja. Ini hanya kecelakaan kecil, ban mobil yang kami tumpangi pecah dan mengakibatkan mobil itu hilang kendali."
Cc tahu bagaimana cara menghadapi sang Jiějiě, jadi meski dirinya merasa tidak dalam baik, gadis itu akan sebisa mungkin menutupinya dari Xiao Lin, agar tak terlalu mengkhawatirkan nya.
__ADS_1
Ia tahu bagaimana karakter sang Jiějiě jika hal buruk terjadi pada keluarganya, tentu saja itu akan sangat menggangu hatinya dan akan menambah beban pikirannya.
Tentu Cc tak ingin hal tersebut terjadi, mengingat kondisi sang Jiějiě yang belum sepenuhnya pulih. Jadi ia tidak ingin memperlihatkan kelemahan nya di hadapan Xiao Lin yang telah merawatnya selama ini.
Selain hanya Xiao Lin lah satu-satunya yang menjadi keluarganya, Xiao Lin jugalah orang yang paling menyayangi nya. Jadi tak mungkin bagi Cc membiarkan sang Jiějiě menangis hanya karena dirinya.
Gadis cantik itu mengedarkan pandangannya mencari Lulu yang sedari tadi tak kunjung keluar dari kamar lainnya dimana Lubin terbaring tak sadarkan diri.
Ia berharap ada seseorang yang membantunya menjelaskan pada Xiao Lin yang terdiam memandangnya, bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Ibu,, duduklah. Kau masih lemah, jangan memaksakan diri."
Wang Hao membuka suara, memaksakan diri bangun dari kursi roda yang ia duduki saat ini saat mendekati Xiao Lin, dengan bantuan Wen ia berdiri tepat di belakang wanita cantik itu.
Wang Yue sendiri yang masih setia di sisinya, kini menurunkan putra kecilnya dari gendongan nya dan beralih membantu sang istri mendudukkan nya pada kursi tersebut.
Namun si empunya menolak, ia membalikkan badan menghadap pemuda di belakangnya.
"Suamiku, terima kasih. Xiao'er ah Xiao'er, terima kasih. Tetapi aku baik-baik saja, sebaliknya kau. Apa kau benar-benar baik-baik saja hm? Kau baru saja siuman dan,,"
"Eh,,,? Ibu.. Ibu kau terlalu banyak berpikir, aku baik-baik saja. Sebaliknya, Ibulah yang harus ku perhatikan. Duduklah, aku justru akan tidak baik-baik saja jika Ibu tak menuruti ku."
Xiao Lin tersenyum dengan gelengan kepalanya, ada sentuhan lembut mendarat di kepala pemuda itu darinya seraya mengucapkan terima kasihnya.
Cc pula tak dapat menahan senyumnya melihat pemandangan tersebut, ia bersyukur Wang Hao membantunya mengalihkan perhatian sang Jiějiě darinya.
"Tetaplah tersenyum seperti itu Jiě, karena senyummu adalah kebahagiaan semua orang yang menyayangi mu.."
"Yi Maa,, kau sangat cantik saat tersenyum."
Celetukan si kecil membuyarkan kegembiraan orang-orang dewasa di sekelilingnya, terutama si empunya yang di maksud oleh si kecil.
Dan, Xiao Lin tidak dapat menahan rasa gemasnya, ia berbalik mendekati sang putra yang berada di sisi gadis cantik itu.
Gelak tawa keduanya pun terdengar meramaikan ruangan yang terasa sunyi sebelum nya, meski itu tak berlangsung lama.
Karena setelah nya a Xiang bersuara dengan nada kepanikan, hal itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan tersebut padanya.
__ADS_1