Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
63


__ADS_3

Xiao Lin terus menggenggam tangan Han, dengan harapan agar saudara nya itu cepat membuka matanya.


"Gēgē, hiks,, bukankah dulu kau berjanji untuk selalu menjagaku? Hiks,, kau berjanji untuk tidak meninggalkan ku, dan akan selalu bersama ku, hiks,, hiks,, tetapi kau mengingkarinya.


Hiks,, Gē,, tahukah kau jika saat itu aku sangat kehilangan mu? Hiks,,hiks,, Lin'er mohon jangan ulangi untuk yang kedua kalinya Gē, hiks,, jangan lagi tinggalkan Lin'er sendiri, hiks,hiks,,"


"Xiaoxiao,, tenangkan dirimu, percayalah,, semua akan baik-baik saja."


Wang Yue yang tak tega melihat sang istri bersedih, mencoba sedikit menenangkannya. Meski ia tahu dalam keadaan suasana hati yang tidak baik, Xiao Lin akan sangat sulit untuk melupakan kesedihannya.


"Hiks,, Yue Gē,, hiks,,hiks,, bagaimana bisa pertemuan pertama kami setelah sekian lama tak bertemu, terasa begitu menyesakkan seperti ini, hiks,, mengapa ini terjadi pada Xiao Gēgē?


Hiks,, Yue Gē, bukankah kau telah mendengar nya sendiri, jika Gēgē akan mengalami kelumpuhan? Bagaimana mungkin itu akan baik-baik saja? Hiks,, Gēgē ada,,,"


"Lin_er.."


Xiao Lin menggantung kalimatnya, matanya yang merah membola sempurna saat mendengar panggilan yang selama ini begitu ia rindukan.


Dengan air mata yang masih mengalir deras, Xiao Lin menolehkan wajahnya pada si empunya yang memanggil.


Dapat di lihatnya, wajah itu, wajah yang masih sama seperti dulu, kini memandangnya.


"Hiks,, hiks,," Hanya isakkan yang terdengar darinya.


"Lin'er mengapa menangis? Gēgē baik-baik saja, sudah menjadi seorang Ibu mengapa masih secengeng ini hm?"


Satu usapan sayang mendarat di pipi Xiao Lin.


Dengan suara serak dan lemahnya, serta wajah menahan sakit di balik senyumnya, Xiao Han mencoba menutupi rasa sakitnya itu dari gadis kecilnya yang sangat ia sayangi.


Sementara si empunya kini semakin deras mengalirkan air matanya tanpa ada kata yang terucap darinya.


"Eh,,?? Mengapa malah semakin deras? Apa kau tak senang melihat Gēgē masih hidup? Bukankah tadi kau yang meminta agar Gēgē membuka mata hm? Jika tahu kau hanya akan menangis seperti ini, Gēgē lebih memilih untuk tertidur lebih lama agar tidak melihat Lin'er,,"


"Gē.! Apa yang kau katakan.! Hiks,, hiks,, berhenti mengoceh tak jelas.! Hiks,, apa kau senang jika membuat ku bersedih? Hiks.."


Xiao Han kembali memamerkan senyumnya, ia tahu bagaimana cara membuat wanita cantik itu membuka suaranya.


Meski telah menjadi seorang ibu,, namun di mata Xiao Han, Xiao Lin masihlah gadis kecilnya yang cengeng. Jadi sebisa mungkin ia harus terlihat baik di depannya, meskipun itu sulit.

__ADS_1


"Jadi apa Lin'er ku ini senang setelah bertemu dengan Xiao Gēgē yang malang ini??"


Dengan wajah melasnya Han menggoda Xiao Lin, dengan menirukan gayanya saat tengah menginginkan sebuah pelukan atau sesuatu yang lainnya.


Hal itu lantas membuat si empunya tersenyum, meski tangisnya tak begitu saja terhenti, namun setidaknya Han dapat melihat gadis kecilnya kembali tersenyum.


"Cih. Dasar konyol.!"


Xiao Lin membuang mukanya seraya kalimatnya terucap, namun sedetik kemudian ia langsung menubruk tubuh seseorang di hadapannya itu.


"Hiks,, hiks,,"


Xiao Lin kembali menangis dalam pelukannya.


"Lin'er ah,, dengarkan Gēgē. Ini hanya luka kecil, tidak akan bisa dengan mudah membunuh Gēgē. Jadi jangan khawatir, Gēgē tidak akan pernah meninggalkan mu lagi.


Berhentilah menangis, lebih baik kau pukul saja Gēgē, atau lakukan apapun sesukamu pada Gēgē, asal jangan menangis di hadapan ku seperti ini.


Gēgē benci air mata yang menetes dari mata indah kesayangan Gēgē ini. Itu sama saja menyakiti mu karena telah membuat gadis kecil yang manis ini menangis. Dan Gēgē tidak menyukainya."


Dan setelahnya, terjadilah aksi memukul yang Xiao Lin lakukan. Kemudian berlanjut dengan canda tawa dari keluarga bahagia itu.


~ ~ ~>7 hari terlewati.<~ ~ ~


*


Xiao Lin tersadar dari lamunannya, saat merasakan sentuhan tangan mungil milik putra kecilnya.


Ia menundukkan kepalanya guna melihat malaikat mungil miliknya yang sangat ia sayangi.


Xiao Lin menyamakan tingginya dengan si kecil yang terus menarik tangannya.


"Ada apa hm? Katakan, apa yang Yi kecil Mama ini inginkan?"


Si kecil tersenyum sumringah mendengar kalimat yang terucap dari bibir sang ibu.


Dan akan selalu seperti itu setiap kali Xiao Lin mengatakan sesuatu pada putranya, akan selalu di tanggapi dengan senyum polos si kecil.


Dengan responnya yang lambat dan seolah enggan untuk berbicara, hanya mengandalkan kemampuan sang ibu untuk menebak isi pikirannya, si kecil dengan sengaja melakukannya.

__ADS_1


Bukan berarti si kecil anak yang bodoh, namun karena kecerdasannya, ia selalu mencari cara agar sang ibu terus memperhatikannya.


Dan terbukti, setiap kemauannya selalu terpenuhi. Karena sang ibu mampu mengerti segala sesuatu yang tengah ia pikirkan, meskipun tidak ia nyatakan secara langsung.


A Yi adalah anak yang tak banyak permintaan, dan setiap keinginan nya pada orang tuanya bukanlah sesuatu yang mewah, mahal, atau mungkin meminta barang seperti umumnya anak di usianya.


Meskipun ia terlahir memiliki seorang ayah yang bergelimang harta, namun selama ini a Yi tak pernah meminta sesuatu yang berlebihan dari sang ayah, jika bukan Wang Yue sendiri yang memberinya.


Hanya sebuah pelukan serta kecupan sayang dari keduanya orang tuanya yang ia inginkan, terkhusus dari sang ibu yang sedari kecil tak bersamanya.


"Jadi,, bisa beritahu Yi Maa sekarang hm?"


Si kecil mengangguk antusias setelah sang ibu memeluknya dan memberinya beberapa kecupan sayang.


"Paman Xiao Yi memanggil Yi Maa dan Yi Paa, Paman Chenchen dan Paman a a Xiang juga datang, meleka menunggu Yi Maa dan Yi Paa di taman."


"Eh,,?? Sudah berubah?? Mengapa terdengar seperti memanggil nama pangeran kecil Yi Maa ini?"


Si kecil kembali memamerkan senyumnya sebelum menjawab pertanyaan sang ibu.


"Mn.! Karena Paman,, adalah putra pertama seperti a Yi, dan Paman memiliki nama seperti milik Yi Maa,, jadi a Yi memanggilnya Paman Xiao Yi. Bukankah itu luci Yi Maa?"


Xiao Lin di buat menganga mendengar penjelasan putranya, yang terlihat semakin menggemaskan meski sangat ramai.


"Sejak Paman berkata jika Yi Maa selalu memanggilnya 'Xiao Gēgē' saat kecil dulu, jadi a Yi ingin sama seperti Yi Maa memanggilnya Paman Xiao, dengan tambahan nama a Yi.


Jadi seperti 'Paman a Yi' Paman bilang a Yi boleh memanggilnya sesuka a Yi, jadi a Yi memilih memanggilnya seperti itu. Apa tidak boleh Yi Maa?"


Xiao Lin mengusak surai hitam si kecil, ia benar-benar di buat gemas dengan wajah girang putranya itu yang kemudian berubah di buat semelas mungkin untuk mendapat persetujuan darinya.


"Tentu saja boleh, apa Paman mu merasa keberatan?"


Si kecil menggeleng dengan keras, tanda bahwa sang paman telah memberinya ijin. Kemudian berlanjut, si kecil menoleh pada sang ayah, tanda ia juga meminta persetujuannya.


"Yi Paa,,"


Wang Yue mendekati putra kecilnya dan mendaratkan sentuhan sayang pada puncak kepalanya.


"Mn. Tentu saja, asal Paman dan Yi Maa mu setuju, Papa juga mendukungmu nak."

__ADS_1


Dan pelukan bahagia a Yi lakukan pada kedua orang tuanya. Ia benar-benar merasa kebahagiaan nya kini sangat sempurna, dengan kehadiran sang ibu beserta paman barunya yang baru ia temui.


__ADS_2