
Mendengar gumaman gadis cantik di belakangnya, Xiao Lin beranjak dari tempatnya mendekati gadis itu.
"Cc,, ada apa?" Tanyanya usai mendekat.
"Jiě,, ini terkunci.." Sahut Cc lemah.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Tenanglah dulu, mungkin pintunya bermasalah.. Sebaiknya kita tunggu saja, Yue Gē pasti akan membukakannya nanti."
Xiao Lin menjawab santai dan tetap memamerkan senyumnya, ia kemudian berbalik badan dan mengambil ponsel miliknya.
Tuutt...
Ia memanggil nomer sang suami yang sejak sebelumnya menjadi pusat yang memenuhi pikirannya. Namun meski panggilan nya tersambung, tak ada jawaban dari si empunya yang ia hubungi.
"Gē, ku mohon untuk terakhir kalinya, jangan biarkan dirimu terluka karenaku lagi. Ingatlah, ada seseorang yang selalu menunggu mu disini, dan betapa hancurnya ia jika sampai sesuatu terjadi padamu.."
"Yi Maa,, apa itu Yi Paa??"
Lamunan Xiao Lin buyar saat si kecil menyentuh pipinya.
"Ah,,"
"Yi Maa, mengapa Yi Maa menghubungi Yi Paa? Bukankah Yi Paa di luar? Hiks,, mengapa kita tidak menemuinya saja Yi Maa? Hiks,, ayo temui Yi Paa,, hiks,, a Yi ingin bersama Yi Paa,, hiks,, a Yi ingin memeluk Yi Paa sekarang.. Hiks.."
Melihat putra kecilnya kembali menangis dengan merengek, Xiao Lin dengan segera menenangkannya.
"Nak,, hey,, mengapa menangis? Papa di luar, tapi saat ini kita tidak bisa menemuinya sayang,,"
Meski dalam hati Xiao Lin benar-benar khawatir, namun dirinya tak ingin membuat anaknya semakin sedih.
"Mengapa? Apa Yi Maa takut Yi Paa marah?"
"Tidak sayang,, pintu kamar ini terkunci, dan Mama tidak tahu cara untuk membukanya. Jadi a Yi harus bersabar untuk menunggu Papa membuka pintunya."
"A Yi bisa. A Yi akan membukanya."
Si kecil menggerakkan tubuhnya dalam gendongan sang ibu.
Xiao Lin yang tak ingin buah hatinya terjatuh, ia lekas menurutinya saat si kecil memberikan gestur untuk membawanya ke suatu tempat.
"Aku mencintaimu Xiao_Yi."
Kalimat halus yang terucap dari si kecil tepat saat berada di hadapan dinding yang tak jauh dari pintu tersebut.
Awalnya Xiao Lin tak cukup heran saat dengan tiba-tiba putra kecilnya mengucapkan kalimat yang berarti "Aku mencintaimu (Xiao Lin/a Yi)"
Namun dirinya dibuat terkesima setelahnya, saat dinding bernuansa rumput hijau yang di penuhi dengan banyaknya kelinci itu berubah menjadi transparan.
__ADS_1
Sungguh tak terlihat seperti dinding yang kokoh, melainkan sebuah layar kaca dengan kelinci-kelinci kecil berlarian di dalamnya.
"Wuah,, cantik sekali.."
Binar matanya terlihat jelas bahwa Xiao Lin sangat menyukai pemandangan di hadapannya saat ini.
Jika saja putra kecilnya tak menunjukkannya, ia mungkin takkan pernah mengetahuinya.
"Yi Maa,,"
Mendengar si kecil memanggilnya, Xiao Lin menoleh.
"Yi Maa tolong menghadap layar ini."
Xiao Lin yang bingung hanya memandang wajah putra kecilnya, tepat saat wajahnya berpaling, terdengar suara yang asing baginya.
"Wajah dikenali. Kunci akan terbuka secara otomatis. Terima kasih atas kepercayaannya, semoga hari anda menyenangkan Nyonya."
Lagi dan lagi Xiao Lin hanya melongo bodoh, rupanya itu adalah suara sistem yang mengatur kunci rahasia ruangan tersebut menggunakan wajah si kecil dan dirinya.
Tepat saat pintu besi yang sebelumnya terkunci itu terbuka, sepasang ibu dan anak itu serta Cc, ketiganya bergegas keluar.
Namun yang mencuri perhatiannya kini bukan hanya seluruh isi dalam ruangan tersebut yang berubah, tetapi juga sesuatu di balik lantai ruangan tersebut yang juga berubah transparan sehingga menampilkan kehidupan kecil nan tenang yang begitu indah di pandangnya.
Sungguh, pemandangan yang mampu membuat Xiao Lin jatuh cinta pada tempat itu.
Kembali pada Wen yang kini telah sampai pada tujuannya. Ia berjalan tergesa sesampainya ia di bangunan cukup megah dengan desain kuno yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian.
"A Xiang, bagaimana keadaan mereka? Apa semua baik-baik saja?"
Wen memegang erat kedua lengan yang di tanyai setibanya ia di sebuah paviliun tua yang menjadi tempat untuk mengobati orang yang terluka.
"Kuan,, Xiao Han,, bagaimana keadaannya? Lalu Yue'er, dan Hao'er bagaimana? Apa mereka baik-baik saja?"
Melihat kepanikan di wajah Wen, a Xiang balas memegang tangannya.
"Gē, tenanglah.. Peluru di lengan Kuan Gēgē dan kaki Han Gē sudah kami keluarkan, sekarang mereka baik-baik saja. Sementara Wang Yue Gēgē dan Wang Hao Gēgē, Ayah dan yang lainnya masih menanganinya, mungkin butuh waktu lebih lama untuk melakukannya."
"Apa begitu parah?"
"Hn. Pisau itu menembus punggung Yue Gēgē cukup dalam, aku khawatir itu menembus sumsum tulangnya. Dan untuk Hao Gēgē,,"
"Hao'er kenapa? Katakan.!"
Wen tak sabar saat a Xiang menjeda kalimatnya.
"Peluru itu bersarang di posisi yang sulit,"
__ADS_1
A Xiang memilih pergi meninggalkan Wen yang kini terdiam. Pasalnya ia tahu, jika dirinya tetap tinggal, mungkin Wen akan terus mencecarnya. Dan ia tak mungkin mengatakan semua kebenaran yang ia ketahui padanya.
"Jika kau ingin bertemu dengan Kuan Gē dan Han Gēgē, mereka ada di sebelah sana."
Tanpa sahutan Wen berjalan menuju ruangan yang a Xiang tunjuk, saat pintu di hadapannya itu terbuka, Kuan yang sadar sepenuhnya memandang heran padanya.
"Tu_an Wen?" Gumamnya kemudian.
"Ini pertemuan kita yang kedua kalinya, maaf sebelumnya tidak mengenali anda." Lanjutnya dengan lantang.
"Ah,, begitu,, tidak apa-apa. Lalu bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"
Kuan mengangguk, ia kemudian berniat untuk duduk namun Wen menahannya.
"Tidak apa, tetap berbaring di tempatmu. Apa itu sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil."
Karena Kuan bersikeras untuk bangun, Wen tak lagi ingin melarangnya.
"Tuan Wen, langsung saja. Untuk apa anda disini? Saya telah mengingat semuanya, apa Tuan Mo meminta anda untuk mengawasi saya?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Tidak. Aku hanya mengkhawatirkanmu, dan tidak ada yang menyuruhku untuk mengawasimu."
"Tak apa, aku baik-baik saja. Jika anda tidak memiliki kepentingan lain, saya mohon dengan hormat agar anda meninggalkan tempat ini. Saya sudah tidak ada kaitannya dengan mereka, tidak ada informasi yang bisa saya sampaikan kepada anda."
Wen tersenyum santai menanggapi kalimat Kuan.
"Apa kau sangat membenciku?"
"Tidak. Hanya saja saya muak dengan sesuatu yang berkaitan dengan para iblis itu."
"Jika kau demikian, bagaimana denganku? Kuan, aku hanya ingin mengetahui keadaanmu karena aku mengkhawatirkan mu. Dan perlu ku perjelas padamu, aku tidak ada hubungannya dengan para berengsek itu."
Wen berbalik arah memandang Han yang berada di seberang Kuan, ia berjalan mendekatinya.
"Memastikan kalian selamat dari bahaya sudah membuatku lega. Baiklah, kau istirahatlah agar tenaga mu segera pulih.
Aku akan memeriksa keadaan Yue'er dan Hao'er terlebih dulu."
"Jika kau datang bukan untuk ku melainkan untuk tujuan lain, sebaiknya kau pergi saja. Karena jika sampai kau menyentuhnya sedikit saja, maka kau harus berhadapan dengan ku terlebih dulu.!"
Entah apa yang ada di pikiran Kuan saat ini, dirinya kini telah sepenuhnya berdiri dengan tegak di hadapan Wen dengan wajah yang penuh dengan amarah.
Wen sendiri tak menanggapi, ia justru fokus pada punggung tangan Kuan yang kini mengalirkan darah.
Tanpa pikir panjang ia menarik dengan paksa selang jarum yang masih menancap itu, kemudian membalutnya dengan beberapa benda seadanya yang terletak di dekatnya.
__ADS_1