
"Haahhh.."
Kini terulang untuk kesekian kalinya a Xiang mendesah pasrah.
"Ekheemm.! Kheemm.!! Aiiyaa,, sepertinya sangat mengasikkan berpeluk ria seperti itu.."
Gadis bernama a Xiang itu mulai merasa gerah melihat kemanisan sepasang pasutri di hadapannya.
"Haahh.. Bagai dunia milik berdua,, yang lain hanyalah angin yang berhembus. Tak terlihat,, tak berupa.. Sungguh kejam,, membiarkan seseorang di belakang hanya menyaksikan dengan perasaan dilema.."
Keduanya mengalihkan pandangan secara bersamaan saat mendengar ocehan gadis di belakang mereka dengan seolah tengah membaca puisi.
"Dasar gadis bodoh.! Apa yang kau gumamkan? Apa otakmu bermasalah?"
"Yak. Paman tua.! Apa yang kau maksud?!! Lagi pula, kalian sangat tak sopan membiarkan seorang gadis kecil melihat adegan menyebalkan itu.!"
A Xiang dengan cepat membalas kalimat Wen yang semakin membuatnya kesal. Namun sejenak ia membulatkan matanya sempurna, seolah mengingat sesuatu yang mengganggunya.
"Tunggu. A,apa yang kau sebut barusan? K,kau,, tahu dari mana bahwa aku,,"
"Istriku,, lihatlah gadis kerdil itu.. Bukankah dia bodoh? Dengan penampilannya seperti itu, bukankah akan sangat mudah untuk mengenalinya? Apa dia tak sadar jika wajah dan tubuhnya adalah miliki seorang perempuan?"
"Apa?!! Wue, Paman tua.! Berhenti menyebutku gadis bodoh. Dan hentikan tawa kalian sekarang.! Kau sungguh membuatku kesal.!"
A Xiang yang tak terima melihat kedua orang dewasa di hadapannya itu terus menertawakan dirinya, ia terus mengoceh memprotesnya.
"Baiklah, baiklah.. Hentikan kejahilan mu Suamiku,, berhenti menggodanya.."
Mendengar kalimat sang istri yang seolah menghipnotisnya untuk menuruti perintahnya, Wen pun menghentikan tawanya.
"Baiklah,, aku akan berhenti sekarang.. A Xiang,, sejak pertama melihatmu, aku bahkan telah mengetahui identitas mu sesungguhnya.
Mungkin awalnya aku terkejut saat pertama kali bertemu denganmu setelah sekian lama tak melihatmu selama ini. Namun saat menyadari itu dirimu, bagaimana bisa aku tak mengenalimu?"
"Tunggu. Maksudmu,, kau pernah bertemu denganku sebelumnya? Lalu,, kapan? Dan di mana kami bertemu?"
Wen tersenyum dengan melirik sekilas pada sang istri yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
"Mungkin kau lupa,, itu berlalu cukup lama. Dan kau masih sangat kecil."
"Mn. A Xiang yang dulu kami temui masih seorang gadis kecil yang akan merengek jika tak di ijinkan pergi mengikuti kemanapun ah Chen pergi."
Kali ini Yifei ikut menimbrung percakapan keduanya.
"Jika selama itu,, tidak mungkin kalian sangat mengenalku jika bukan bagian dari,,,"
"Sudahlah,, gadis kecil. Lupakan saja hal yang tak kah ingat. Lebih baik kau istirahat sekarang,, ini sudah larut. Kau juga butuh istirahat."
Wen memutus kalimat a Xiang dan menyuruhnya pergi, namun si empunya menolak. Dan justru mengabaikan perintahnya.
Gadis itu berjalan melewati keduanya, perlahan ia membuka tirai uang memutar menutupi ke tiga orang yang masih tak sadarkan diri di dalamnya.
Wang Yifei memutar tubuhnya seraya langkah a Xiang berlalu, mengikuti setiap pergerakan gadis itu yang menjadi objek perhatiannya.
Hingga matanya tertuju pada sosok lemah yang terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa selang menjuntai menempel pada tubuhnya, Yifei membulatkan matanya sempurna.
Matanya bergetar dengan air mata yang siap mengalir saat itu juga, tubuhnya seakan lemas. Hampir saja limbung dan terjatuh jika sang suami tak menangkapnya.
"Yuan'er,, Yu,yuan kecil ku,, hiks,, apa yang terjadi padamu?? Hiks,, mengapa kau seperti ini? Hiks,, maafkan Jiějiě yang gagal menjagamu. Hiks,, maaf.."
"Gē,, bagaimana ini terjadi? Mengapa Yuan'er seperti ini?? Hiks,, siapa yang melukainya? Hiks,, bagaimana jika nanti Paman dan Bibi melihatnya dalam keadaan seperti ini Gē,, mereka pasti akan menyalahkan ku.. Hiks,, lalu bagaimana aku akan menebusnya,, jika seperti ini..? Hiks,,"
Wen merengkuh tubuh sang istri yang kini menangis sejadinya. Meski ia tahu cepat atau lambat sang istri akan mengetahui keadaan sekarang, namun ia tak pernah berharap akan secepat itu istrinya mengetahui keadaan Wang Yue yang kini masih memprihatinkan.
"Sayang,, tenanglah.. Tenangkan dirimu,, tidak apa apa,, semua akan baik baik saja.. Tenanglah,,,"
"F,fei Jiějiě,, tenangkan dirimu,, tenang saja,, keadaan Wang Yue Gēgē sekarang baik baik saja.. Meskipun keadaanya masih lemah, namun ia telah melewati masa kritisnya. Dan dapat bertahan hingga saat ini, itu sungguh keajaiban baginya. Sebaiknya kita tunggu saja, sampai ia membuka matanya.."
A Xiang tak tinggal diam. Meski dirinya terkejut dengan reaksi tiba tiba wanita cantik itu, namun ia tak ingin melihat wanita di hadapannya itu larut dalam kesedihannya.
"Gadis manis, apa kau sungguh sungguh dengan ucapan mu? Kau, bukan hanya menghiburku saja bukan?"
"Tidak tidak. Jiějiě,, anda dapat yakin.. Wang Yue Gēgē akan segera pulih. Eu,, tidak tidak. Bukan aku memaksamu untuk mempercayaiku,, tetapi,, aku hanya berkata jujur tentang kondisi Wang Yue Gēgē saat ini."
Yifei memaksakan senyumnya pada gadis di seberangnya yang kini terlihat lucu baginya.
__ADS_1
"Kalau begitu Jiějiě percaya padamu.. A Xiang,, terima kasih.."
"Tidak tidak.. Fei Jiějiě,, jangan lakukan itu padaku. Aku tidak melakukan apa apa,, jangan melakukan ini padaku."
A Xiang dengan cepat berjalan memutari ranjang di hadapannya yang memisahkan jarak antara dirinya dengan pasangan suami istri itu.
Ia dengan cepat mencegah si empunya yang membungkukkan badannya seraya kalimatnya terucap.
"Xiang Mèimèi,, meski aku terlambat mengetahuinya, tapi aku tahu,, kau dan keluargamu lah yang menolongnya. Terima kasih.."
"Fei Jiějiě,, meski aku tak mengingat siapa kalian. Tapi aku yakin kau adalah orang yang baik, jadi tolong jangan lakukan hal ini padaku. Yang ku lakukan hanyalah hal yang seharusnya ku lakukan."
A Xiang kembali menahan kedua sisi pundak Yifei yang kembali akan membungkuk padanya.
"Kalau begitu,, mohon waktunya sebentar, aku akan memeriksanya dulu."
Yifei dan Wen mengangguk. Mereka berpindah tempat tepat di seberang a Xiang, dimana gadis itu berdiri sebelumnya.
Sementara gadis di seberangnya memeriksa, Yifei mengalihkan pandangannya pada sang suami.
"Gē,, dimana mereka?"
"Mereka?"
Wen sedikit menundukkan wajahnya pada sang istri saat mendengar pertanyaannya.
"Mn. Kuan'er, Hao'er, juga Xiao'er.. Dimana mereka? Mengapa aku tak melihatnya sejak tadi,,"
"Takk.!"
Tanpa di duga, sesuatu terjatuh dari genggaman tangan gadis yang sejak tadi fokus memeriksa keadaan Wang Yue.
Sementara Wen, ia tak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan sang istri.
Yifei tahu, meski tak ada kalimat yang ia dengar,, namun melihat ekspresi wajah kedua orang di sekitarnya itu sudah memberinya jawaban. Bahwa keadaan mereka tak baik baik saja.
Tahu bahwa ia tidak akan mendapat jawaban, Yifei berniat pergi. Namun tubuhnya yang masih lemas itu kembali limbung, dan membuatnya harus berpegang pada apapun ia mampu ia jangkau.
__ADS_1
Entah keberuntungan berpihak padanya, atau itu adalah kesialan bagi Wen,, atau bahkan tidak dari keduanya.?