Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
50


__ADS_3

Wen tak hentinya mengukir senyum dari bibirnya, saat mendapat kejutan tak terduga di pagi ini.


Mungkin lebih tepatnya adalah kebahagiaan yang tak terhingga, kala mendapati kedua orang lainnya dalam keadaan utuh dan selamat. Meski satu di antaranya di ketahui tengah tak sadarkan diri.


"Dewi penyelamat ku, kau benar-benar kembali. Syukurlah, kau benar-benar selamat. Hidupku akan jauh lebih tenang dan bahagia saat ini, terima kasih sudah kembali. Kau memang penyelamat.."


Tanpa basa-basi, atau aba-aba, bahkan permisi pun tidak.


Wen menyambar tubuh Xiao Lin yang tengah bercengkrama dengan sang suami serta putra kecilnya. Memeluknya erat tanpa tahu singa jantan di sampingnya siap menerkam dirinya kapan saja.


Sementara Xiao Lin hanya mampu diam, ia terlalu terkejut dengan perlakuan Wen. Terlebih ia sendiri sama sekali tidak mengenal siapa orang yang tengah memeluknya saat ini.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRI KU?!! SADARKAH SIAPA YANG KAU PELUK SAAT INI.?!! WEN TUA TAK TAHU DIRI.!!!" Ucap Wang Yue dengan menekan setiap kalimatnya.


Tanpa welas, ia menarik paksa kerah belakang baju Wen, melepaskan tubuhnya dari sang istri yang ia cintai.


"Wue, bocah tak sopan.!! Kau menarik ku seperti anak tikus.!! Apa tidak bisa melakukannya lebih baik lagi.?!!"


Wen yang tak terima, mengoceh kesal pada Wang Yue. Sementara Wang Yue sendiri tak dapat memikirkan sesuatu atau hal untuk memaki Wen, ia terlalu khawatir pada sang istri.


Pria tampan itu bergegas dengan cepat memeluk tubuh sang istri yang kini bergetar, dengan mata yang siap meluncurkan air terjun saat itu juga.


"Jangan menyentuh ku. Jangan mendekati ku." Gumamnya, membuat Wang Yue semakin khawatir.


"Xiaoxiao tenanglah, Gēgē disini bersamamu." Ucapnya mencoba menenangkan sang istri.


"Tidak. Jangan pernah berpikir untuk melakukan nya padaku.! Karena aku tidak akan pernah menyerahkannya. Ambil saja nyawaku."


Xiao Lin terus menampik lengan Wang Yue yang terus berupaya memeluknya, ia terus bergumam dengan air mata perlahan menetes.


Meski begitu tidak ada isak tangis atau bahkan emosi dalam ucapannya, seakan ia pasrah untuk lebih memilih mengakhiri hidupnya.


"Xiaoxiao,, sadarlah.! Ini Gēgē, tenanglah.. Tidak akan ada yang menyakitimu disini."

__ADS_1


Wang Yue tahu, sang istri kembali mengalami halusinasi atau lebih tepatnya trauma yang ia alami tengah mengganggunya saat ini.


Namun entah mengapa hatinya selalu merasa sakit ketika melihat sang istri tercintanya kembali histeris.


Hal yang sama juga di rasakan si kecil, yang untuk kedua kalinya melihat wajah kesakitan sang ibu tercinta menangis, kini kembali ikut menangis seperti saat pertama kali melihat sang ibu histeris.


"Xiaoxiao.!! Apa yang kau lakukan.!!! Hey,, tenanglah.!! Lihat Gēgē, tenanglah.! Yue Gē disini,, jangan takut. Yue Gē bersamamu. Tenanglah,, Yue Gēgē bersama mu.."


Wang Yue yang terkejut dan memanggil Xiao Lin dengan sedikit membentaknya, kala sang istri tiba-tiba mencabut paksa selang infus yang menancap di punggung tangannya dan berusaha untuk beranjak dari tempat tidur.


Darah mulai menetes, namun Wang Yue yang masih syok hanya mampu menenangkan Xiao Lin dengan kalimat yang berkali-kali ia ulang.


Berharap itu bisa meyakinkan sang istri dan kembali sadar jika dirinya hanya berhalusinasi.


"Yue,_Gē?"


Tiba-tiba saja Xiao Lin mengulang kalimat sang suami dengan pelan.


"Y,yue_Gē.! Hiks,,dia,, hiks,, dia datang lagi. Hiks,,dia,, ingin menyentuhku Gē. Hiks,,, tolong aku, bawa aku pergi bersama mu Gē, hiks,, kumohon.. Hiks,, jangan tinggalkan aku lagi,, hiks,, ku mohon,, hiks_ te,taplah_ber,sa_ma_ku.."


Wang Yue membaringkan tubuh ringkih sang istri, kemudian meraih tubuh mungil putranya. Menggendongnya untuk menenangkan tangisnya juga untuk memberi ruang agar sang istri dapat dengan nyaman dalam posisi tidurnya.


Cc dengan cekatan segera mengganti selang infus yang lain dan membalut luka akibat jarum yang merobek kulit Xiao Lin.


Beruntung hanya mengalami luka ringan dan hanya perlu jahitan kecil untuk menutup lukanya.


"Tuan Wang, sebaiknya lebih berhati-hati lagi untuk menjaga perasaan nya. Karena hal kecil saja itu sangat akan mudah mempengaruhi daya ingat nya, itu bisa menyebabkan traumatik yang Jiějiě alami kembali terjadi.


Untungnya anda masih sempat mengingat untuk menekan pin darurat, jadi Jiějiě bisa langsung di tangani. Karena, jika terlambat sedikit saja luka di tangannya akan mengakibatkan pendarahan dan terjadinya infeksi pada saluran darah." Papar Cc masih dengan menjahit luka sang Jiějiě.


"Maaf,, telah ceroboh. Terima kasih atas bantuannya.." Ucap pria itu penuh sesal.


"Jangan sungkan, syukurlah. Ini bukan apa-apa, Tuan Wang, terima kasih telah menjaga Jiějiě. Walau kita tak saling mengenal sebelumnya, tetapi bagaimanapun saya senang karena Jiějiě memiliki seseorang seperti anda. Sekali lagi terima kasih telah menjaga Jiějiě dan melindunginya selama ini."

__ADS_1


Wang Yue mengangguk menanggapi ucapan Cc, meski banyak hal yang ingin ia tanyakan padanya, namun itu urung ia lakukan.


"Syukurlah, selesai sudah." Gumam gadis itu merasa lega setelah selesai membalut luka sang Jiějiě.


"Eh,,,? Ada apa dengan wajah kecil ini? Mengapa menangis? Kemarilah nak, ikutlah bersama Bibi."


Gadis itu mengulurkan tangannya, berharap si kecil bersedia berpindah dalam gendongannya.


Masih dengan tangis pelannya, a Yi mendongak menatap wajah sang Ayah. Seolah meminta persetujuan dari sang Ayah untuk berpaling darinya pada sang Bibi.


Wang Yue tersenyum, menghapus jejak air mata di kelopak mata serta pipi chubby putranya sebelum mengangguk menyetujui.


"Apa a Yi ingin sesuatu? Bibi Cc memiliki beberapa makanan untuk a Yi, ingin mencobanya?"


Gadis itu terus mengoceh saat si kecil telah berpindah ke dalam gendongannya.


"Terima kasih Bibi,, tapi a Yi ingin disini bersama Yi Maa. A Yi ingin menjaga Yi Maa." Terang si kecil, ia menolak ajakan Cc lantaran ingin menemani sang ibu yang tak sadarkan diri.


"Nak,, Yi Maa baik-baik saja sekarang. Ada Yi Paa yang menemani Yi Maa disini, jika a Yi terus disini dan terus menangis seperti ini, Yi Maa akan sedih jika nanti ia bangun dan tahu putranya terus menangisinya sepanjang hari.


Bukankah a Yi bilang tidak suka melihat Yi Maa bersedih?"


Si kecil mengangguk mendengarkan ucapan Cc.


"Kalau begitu, apa a Yi bersedia ikut bersama Paman a Yang? Kita tunggu Yi Maa bangun sambil membuatkan makanan kesukaan Yi Maa saja, bagaimana?"


"Mn. A Yi mau. Bibi, ayo buat makanan untuk Yi Maa." Sahutnya penuh semangat dan antusias.


"Bibi, bisa turunkan a Yi sebentar?" Lanjutnya, meminta untuk di turunkan dari gendongan.


Ia berlari kecil mendekati sang ayah dan memeluk lututnya.


"Yi Paa,, izinkan a Yi membuat makanan untuk Yi Maa bersama Bibi.. A Yi mohon.." Pintanya pada sang ayah.

__ADS_1


Wang Yue tak langsung menjawab, ia merasa ragu untuk memberinya ijin. Namun melihat sinar kebahagiaan di wajah si kecil membuatnya semakin bimbang.


__ADS_2