
Wang Yue tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
"Mengapa kau begitu bodoh Wang Yue. Kau seperti badut yang konyol. Sungguh memalukan.!"
"Bin." Panggil Wang Yue dengan ekspresi wajah tertahan, yang sulit di artikan.
"Gē, maafkan aku. Aku mengerti perasaan mu, lakukan itu padaku jika kau merasa tak nyaman. Aku akan menerimanya, dan tak akan melawan."
Lubin dengan cepat menjawab, ia yang menyadari akan kesalahannya, kini pasrah jika saja Wang Yue ingin melampiaskan padanya.
"Kau tahu bukan bagaimana tersiksanya aku selama ini?"
Lubin tahu bagaimana penderitaan laki laki di hadapannya, namun tak ada yang bisa ia lakukan meski dirinya mengetahuinya. Kenyataan tak memberinya pilihan yang sulit.
Wang Yue menundukkan wajahnya.
"Kau tahu bukan bagaimana menderitanya putraku yang selalu mencarinya?" Sambungnya dengan suara yang mulai bergetar.
"Kau tahu bukan, betapa kacaunya aku selama ini.?!" Lanjutnya dengan nada yang lebih tinggi.
"Dan kau tahu bukan, betapa hancurnya hatiku setiap kali aku tak menemukan apapun tentangnya. Kau tahu, tetapi kau memilih diam.!! Jika kau memang mengerti perasaanku, mengapa kau merahasiakan semua ini dariku.!!"
Wang Yue mengangkat wajahnya. Di awal kalimat, ucapannya terdengar begitu lembut, namun perlahan berubah dengan nada yang begitu tinggi di setiap kalimatnya.
Namun bagi Lubin, itu menunjukkan jika Wang Yue berada dalam titik dimana dirinya benar-benar kecewa, meski entah tertuju pada siapa.
"Hiks,hiks,, apa salahnya memberi tahuku? Aku bukanlah orang yang akan mencelakainya, hiks,, Xiaoxiao adalah orang yang sangat penting bagiku. Mana mungkin aku membiarkan orang lain menyakitinya.!
Hiks,,hiks,, kau tahu? Xiaoxiao adalah segalanya dalam hidupku, dan aku sangat mencintainya. Bagaimana bisa kau memisahkan kami selama ini,, hiks.."
Wang Yue meluapkan kekecewaan dalam hatinya, hingga menitihkan air mata.
Lubin begitu terkejut melihat seseorang di hadapannya saat ini. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah yang begitu terluka dari seorang Wang Yue.
Selama ini yang ia tahu, meski Wang Yue menderita karena kepergian sang istri, namun tidak pernah sekalipun ia menampakkan wajah terluka itu pada orang lain.
"Gē, maaf.. Semua ku lakukan hanya untuk keselamatan Xiao Lin Jiě. Dan karena aku tahu kau begitu mencintainya, itu sebabnya aku meminta Jiějiě merawatnya untukmu, agar Xiao Lin Jiějiě memiliki harapan dan aman dalam pengawasan ku. Hingga saatnya Xiao Lin Jiě benar-benar pulih, saat itulah aku membawanya kembali padamu."
Ada beban di setiap kalimat yang Lubin ucapkan. Entah apapun itu, yang pasti ia benar-benar merasa bersalah pada Wang Yue.
"Mengambil tindakan di saat genting, itu tidak akan menjamin hasil yang menguntungkan Gē. Dan lagi, yang mereka incar bukanlah aku, atau keluarga ku, bukan juga kau.
Melainkan Xiao Jiějiě. Mereka menginginkan nyawa Jiějiě, jika aku melakukan hal ceroboh, nyawa Xiao Jiějiě adalah taruhannya. Dan itu tidak akan pernah bisa ku terima jika sampai mereka benar-benar menghabisi Xiao Jiějiě."
Lubin terus mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini, tanpa ada orang yang tahu selain dirinya dan Wang Yue yang kini masih mendengar ucapan nya.
__ADS_1
"Benar juga. Semua ini memang salahku. Jika saja dia tidak berada disisi ku, mungkin nyawanya tidak akan terancam." Batin Wang Yue kembali bergumam.
"Kau benar. Apa yang Xiaoxiao alami selama hidupnya hanyalah penderitaan, dan itu semua akulah penyebabnya. Jika saja, bukan aku. Mungkin Xiaoxiao tidak akan menderita, jika saja bukan diriku yang bersamanya, mungkin hidupnya akan bahagia."
Meski tak ada isak tangis, namun air matanya kembali jatuh membasahi pipi pria tampan itu.
"Gē. Itu bukan salahmu, Xiao Jiějiě memilih mu karena dia yakin kaulah orang yang tepat untuknya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang telah terjadi Gē, karena aku yakin,, Xiao Jiějiě tidak akan menyukainya jika ia mendengar ucapan itu darimu."
Lubin menoleh, mengalihkan pandangannya dari Wang Yue.
"Yang ku tahu, Xiao Jiějiě mampu melupakan setiap rasa sakitnya saat ia bersamamu. Xiao Jiějiě akan tersenyum tanpa beban karena itu karena dirimu, juga,,"
Lubin menjeda ucapannya sesaat.
"Xiao Jiějiě terlihat begitu bahagia saat berada disisi mu. Meski banyak rintangan yang ia jalani, namun itu tidak membuatnya takut akan bahaya yang mengancam nyawanya. Karena ia tahu, kau akan selalu berada di hadapannya untuk melindungi apa yang menjadi milikmu."
Wang Yue terlihat ingin memprotes, namun kembali Lubin melanjutkan kalimatnya.
"Mulai saat ini dan seterusnya,, aku serahkan tanggung jawab Xiao Lin Jiějiě sepenuhnya padamu Gē. Lakukanlah apa yang menjadi kewajiban mu. Aku disini, kami semua mendukung mu. Kita hadapi semua bersama." Pungkasnya.
Wang Yue menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang Lubin katakan.
"Xiaoxiao,, kumohon percayakan padaku sekali lagi. Takkan pernah ku lakukan kesalahan untuk kedua kalinya."
Seakan teringat sesuatu, Wang Yue segera menanyakan hal lain pada Lubin.
"Ah,, Untuk Hao'er, akan aku jelaskan."
Dengan cepat Lubin memotong kalimat Wang Yue, saat menyadari arah percakapan yang akan Wang Yue katakan padanya.
"Hampir serupa dengan yang pernah Xiao Jiějiě alami, Hao'er memiliki memori ingatan yang mengunci semua kenangan di dalam hatinya.
Itu terus ia pendam selama bertahun-tahun, membuatnya tak sadar apa yang ia lakukan, semua adalah faktor ingatannya yang memaksanya untuk terus melakukan sesuai keinginan hatinya melebihi kemampuan yang dimilikinya."
"Maksudmu?"
"Ah, begini Gē. Untuk hal ini sebetulnya di luar kekuasaan ku, karena ini bukan bidang ku. Tetapi Lu Jiějiě,, ia adalah saudari perempuan ku.
Dia bukan saja ahli dalam mengobati penyakit, tetapi juga sangat memahami tentang kondisi psikologis seseorang. Jadi dia mengatakan semua tentang Hao'er padaku tentang apa yang ia ketahui."
Wang Yue semakin di buat kebingungan dengan ucapan Lubin.
"Gē, memori dalam ingatan seseorang bisa saja menganggu, jika seseorang itu tidak bisa melepasnya. Seperti yang saat ini Hao'er alami. Umumnya memori itu hanya untuk di kenang bila saatnya, sesuatu, atau hal yang pernah kita miliki hilang kita masih bisa mengingatnya.
Tetapi jika seseorang itu tidak mampu mengendalikan perasaannya, itu bisa saja menganggu kejiwaan nya."
__ADS_1
"Mengganggu kejiwaan katamu?" Tanya Wang Yue serius, perasaannya mulai tak karuan.
"Hn. Hao'er bisa saja mengalami tidur panjang jika ia tidak mampu mengendalikan pikirannya sendiri, itu adalah hal buruknya. Namun ia juga bisa kehilangan memori dalam ingatannya ketika ia sadar kembali nanti."
Wang Yue semakin tidak percaya dengan pendengaran nya, ia merasa pendengaran nya berkurang hingga salah mendengarkan ucapan Lubin.
"Kau bercanda bukan? Kau hanya main-main dengan ku."
Wang Yue menggeleng, menolak percaya ucapan Lubin.
"Aku berkata jujur padamu Gē. Satu hal yang harus kau ketahui,, Hao'er yang kau kenal akan perlahan hilang jika ia sampai tak bisa mengendalikan dirinya. Apa kau tahu, apa yang Hao'er simpan selama ini dihatinya?"
"Tidak." Sahutnya singkat.
"Katakan" Lanjutnya.
"Untuk hal ini aku tidak bisa menjawabnya Gē. Lebih baik kau tanyakan nanti pada Jiějiě saja."
"Tolong jaga mereka disini. Aku akan menemui Nona Lu sekarang." Ucap Wang Yue dengan langkah kakinya.
"Eh?? Tunggu Gē.! Ku mohon jangan sekarang. Biarkan Jiějiě beristirahat, ku mohon jangan mengganggunya."
Lubin dengan cepat mencegah Wang Yue yang berniat pergi meninggalkan nya. Tanpa Lubin sadari, ada seringai aneh di bibir Wang Yue.
"Tidak ada gunanya hanya menemanimu disini. Lebih baik ku tanyakan langsung pada orang yang bisa mengatakannya padaku."
Lagi-lagi Lubin hanya menghembuskan nafasnya pasrah.
"Baiklah, baiklah,, akan ku katakan padamu. ku mohon jangan ganggu Jiějiě ku."
Kali ini Wang Yue benar-benar tertawa dalam hati melihat wajah aneh milik Lubin.
"Kau memang anak yang baik." Ucapnya membuat Lubin melemas.
"Hao'er memiliki dendam yang besar di hatinya, itu seperti obsesi terhadap sesuatu. Ada beberapa kasus serupa yang pernah terjadi seperti yang Hao'er alami.
Gejalanya serupa, hal yang terburuk dalam kasus ini adalah, mereka rela mengunci ingatan itu, membuang hati nuraninya, hingga tak terkendali.
Takutnya, ia menutupi semua itu karena ingin merencanakan sesuatu yang buruk. Dan karena tak ingin rencananya gagal, ia menutupinya selama ini untuk membalas dendam."
"Hao'er? Balas dendam?? Itu tidak mungkin. Apa yang dia lakukan? Dan siapa yang ia benci? Bukankah selama ini dia berada jauh, lalu apa maksudnya dengan dendam?
Apa dia memiliki musuh? Tidak.tidak. Aku tidak boleh berasumsi buruk terlebih dulu, sebaiknya aku selidiki nanti. Karena akan percuma jika aku menanyakannya pada Hao'er."
"Oyy, Gē.! Apa yang kau lakukan. Kepalamu akan terputus jika terus menggoyangkannya seperti itu."
__ADS_1
Lubin mencoba menyadarkan Wang Yue dari lamunannya, saat melihat pria itu terdiam dengan terus menggelengkan kepalanya.
•