Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
17


__ADS_3

Wang Hao membalikkan badannya memunggungi Cc juga Lulu, pandangannya lurus pada kedua mahluk berbeda usia di hadapannya kini yang tengah asik dalam dunianya.


Iamulai bercerita.


"Dulu ada seorang anak kecil, hidupnya begitu malang. Sejak ia terlahir ke dunia, keluarga nya tidak pernah mengakuinya, terutama kedua orang tuanya.


Anak malang tersebut terasing kan, ia di buang ke panti asuhan. Bahkan anak malang itu hampir terbunuh oleh orang tuanya sendiri.


Kemudian ada sepasang suami-istri yang begitu saling mencintai, berjanji untuk sehidup semati bersama. Mereka menyelamatkan anak malang itu.


Kehidupan yang mereka jalani begitu harmonis, meski hidup hanya pasangan yang sederhana, keduanya tidak pernah mengeluh..


Mereka menjalani rumah tangga yang sangat sulit, tetapi tidak pernah terlihat jika itu menyulitkan bagi mereka. Di tengah kehidupan itu, ada seorang anak yang mereka bawa, mereka rawat dan mereka jaga.


Apapun yang anak itu inginkan selalu mereka penuhi, mereka tak pernah merasa terbebani dengan kehadirannya, karna mereka sangat menyayangi anak tersebut."


Ada kebahagiaan terpancar dari wajah Wang Hao saat mengucapkan nya, hal itu dapat Cc rasakan lewat senyuman yang tercipta di bibir si empunya yang bercerita.


Bahkan Lulu juga dapat merasakan hal serupa dengan Cc.


"Saat itu usianya masih belum cukup untuk memahami kehidupan orang dewasa, ia hanya berpikir kehidupan yang ia jalani bersama pasangan tersebut sangat bahagia.


Ia tumbuh menjadi anak yang apa adanya, tidak membangkang, bukan pula anak yang penurut. Hanya mengikuti sesuai kata hatinya, melakukan apapun seperti keinginan nya.. Itulah yang ia jalani di kehidupannya, selalu seperti itu.


Hingga saat anak itu menyadari, kehidupan yang selama ini mereka jalani hanyalah kepalsuan.. Apa yang ia ketahui bukanlah kebenaran, apa yang ia lihat hanyalah kebodohan yang mereka lakukan. Dan kebenaran memang terasa sangat menyakitkan.."


Wang Hao mengalihkan pandangan mengelilingi sekitar ruangan, mencoba membuang kesedihan yang mulai merasuk ke dalam hatinya.


"Hancur. Itulah yang anak itu rasakan saat mengetahui nya." Lanjutnya lirih.


"Di saat yang bersamaan setelah mengetahui kebenaran, anak tersebut terpaksa harus berpisah dengan kedua orang yang telah merawatnya. Perasaan sedih tak mampu ia tahan lagi..


Namun yang lebih membuat nya hancur adalah, apa yang mereka lakukan semata hanya untuk dan hanya demi dirinya. Hanya karna mereka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anak itu, mereka harus menjalani kehidupan yang begitu sulit.


Kehidupan yang di tentang, kehidupan yang penuh dengan bahaya yang selalu mengancam mereka setiap saat. Kehidupan yang tak sepantasnya mereka jalani, dan kehidupan yang telah memisahkan mereka oleh kematian."


Pandangan Wang Hao kembali teralih,  pandangan yang semakin jelas menyimpan begitu banyak arti.


"Bukankah itu kejam???"


Pertanyaan yang entah untuk siapa ia ajukan. Namun pandangannya kini kembali beralih pada Cc.


"Itulah kebenaran yang menyakitkan. Kebenaran yang membuat anak tersebut begitu ingin mengakhiri hidupnya setelah mengetahui bagaimana berarti nya ia bagi kedua orang yang telah melindungi nya.


Tetapi apa yang bisa ia lakukan,? Situasi dan keadaan menahannya untuk menjadi seorang yang bodoh dan terus di bodohi oleh mereka."


Wang Hao menggeleng tak mengerti dengan seseorang yang tengah ia ceritakan.


"Namun_ tetap saja,, anak itu menurutinya. Dan ia menjalani kehidupan nya sesuai dengan apa yang telah mereka ajarkan kepadanya. Untuk tetap hidup dalam kejujuran, hidup bebas tanpa membebani hati, juga tidak menyakiti orang lain. Itulah yang mereka ajarkan padaku."


Ada setetes embun dari kedua sudut matanya yang berjatuhan membasahi pipinya. Meski begitu, tak sedikit pun terdengar isak tangisnya.


"15 tahun."


Ada jeda dalam ucapannya.


"15 tahun,, waktu yang cukup lama yang telah anak itu jalani bersama mereka. Dan kini 5 tahun terlewati setelah mereka tak lagi tinggal bersama.


Anak itu bersikeras untuk bisa kembali. Untuk mencari dan menyatukan semua kebahagiaan yang pernah ia miliki di masa lalu. Kebahagiaan yang semestinya tetap utuh, meski ia tahu,, jalan yang ia pilih tidaklah mudah.. Dan mungkin saja, kematian telah menantinya.."


Pemuda itu terdiam untuk beberapa saat,, tidak ada lagi kalimat yang terucap. Menjadikan ruang yang tadi cukup ramai, kini terasa sunyi.


"Saat ini anak itu telah cukup dewasa, dan ia telah kembali. Kembali untuk mencari keluarga nya yang telah terpecah belah, terpisahkan dari satu dan lainnya.


Karena itulah dia kembali, karena ia tahu,, sampai saat ini keluarga nya selalu berada di sekitar nya. Meski diantara mereka tidak ada yang menyadari keberadaan anak malang tersebut." Pungkasnya.


"Jadi apa hubungannya denganmu? Dan mengapa kau menceritakan tentang kehidupan orang lain pada kami? Bahkan itu tidak ada hubungannya dengan kami.."


Cc merasa tersentuh dengan cerita Wang Hao, tetapi ia juga tak mengerti mengapa pemuda itu menceritakan hal yang tak ada hubungannya dengannya.


"Karena itulah mengapa aku ada disini,, itulah alasan keberadaan ku disini.. Itulah sebab aku mencari tahu tentang nya selama ini, dan karena itulah aku tetap disini.."

__ADS_1


Di tatapnya Cc serta Lulu bergantian.


"Lalu,, apa yang kau maksud dengan 'alasan mengapa kau disini'? Bukankah seharusnya kau ada di antara keluarga yang kau ceritakan tadi,,?"


"Karena anak itu adalah aku. Seseorang yang telah menceritakan kisah hidupnya denganmu. Seseorang yang selama ini selalu mencari kebenaran tentang kehidupan keluarganya.


Dan sekarang,, aku bahagia. Saaangaatt bahagia. Karena keluarga ku di kelilingi oleh orang-orang yang begitu sangat menyayangi nya, sangat peduli padanya, juga sangat dengan hati-hati menjaganya.


Terima kasih,, terima kasih ku ucapkan untuk orang-orang yang telah menjaga dan bersamanya selama ini. Kalian orang orang baik."


Cc merasakan bintang-bintang memenuhi pandangannya hingga menerangi seluruh otaknya saat ini, melihat senyum menawan terpancar dari wajah pemuda itu.


Senyum yang begitu tulus dan tanpa beban menggantung di dalam nya.


"Nona Chen, terima kasih banyak, terima kasih juga Lu Jiějiě, terima kasih atas kebaikan dan kasih sayang kalian selama ini pada Xiao Jiějiě. Terima kasih. Aku berhutang banyak pada kalian.."


Wang Hao kembali membungkukkan badannya, berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada kedua wanita di hadapannya.


"A_apa ma,maksudmu?? A,apa yang kau katakan?"


Kalimat Cc terbata, ia begitu terkejut mendengar ucapan Wang Hao.


Sedangkan Lulu masih terdiam mencerna apa yang Wang Hao katakan sebelumnya.


"Orang yang ku maksud adalah Xiao Lin Jiějiě. Dan anak kecil dalam cerita itu adalah aku. Selama ini aku terus mencari tahu tentang Xiao Jiějiě, dan tak pernah sedikitpun aku meninggalkan jejak kalian saat aku mengetahui keberadaan nya bersama kalian." Jelasnya lagi..


"Berapa lama?"


"Semenjak Xiao Jiějiě di nyatakan meninggal. Atau bahkan sebelum itu terjadi."


"Selama itu?? Mengapa aku bahkan tidak pernah menyadari kehadiran mu,, selama ini aku berpikir kami baik-baik dan itu karena kami menjaganya dengan sangat baik. Tetapi,,"


"Cc,, sebisa mungkin aku melakukannya dengan sangat hati-hati. Karena jika sampai kalian mengetahuinya, usaha ku selama ini akan sia-sia. Dan aku tidak akan pernah bisa membawa kembali Xiao Jiějiě bertemu dengan keluarga nya.


Ah,, maksud ku,, kalian juga keluarga Xiao Jiějiě, tetapi Xiao Jiějiě juga harus tahu, jika selama ini Suami dan putranya masih hidup." Papar Wang Hao.


"Bagaimana kau membuktikannya? Jika hanya sekedar mengatakan, itu tak cukup membuat kami percaya jika apa yang kau katakan benar."


"A Yi??" Ulang Cc.


"Sudah jelas, bukankah kalian dapat mengenalinya.?" Sahutnya lagi dengan cepat.


"Mereka memang sangat mirip, tetapi itu tidak mungkin, karena setahu ku, dari data murid yang ku lihat, Ibunya meninggal saat dia melahirkan a Yi."


"W_wang Hao,, apa kau tak salah bicara? Apa kau ingin membodohi kami dengan cerita yang kau buat? Bagaimana bisa kau melakukan nya?? Aku tahu, wajah seseorang yang kau cari memang mirip dengan a Lin, tetapi dia bukanlah orang yang sama dengan orang yang kau cari..


Mereka berdua berbeda, orang yang kau maksud adalah orang lain. Mereka berbeda."


Lulu memprotes Wang Hao yang menurutnya tidak masuk akal.


"Kau salah Jiě,, mereka adalah orang yang sama. Aku tahu, meski kau menolak untuk mempercayai ucapan ku, tetapi dalam hatimu kau tahu jika apa yang kau lihat bukanlah kebohongan yang ku buat."


Lulu bungkam, apa yang Wang Hao katakan benar adanya. Saat melihat beberapa wajah seseorang di dalam sebuah potret beberapa hari lalu, ia sangat yakin dan mengenalnya.


"Baiklah, akan ku jelaskan kembali agar kalian percaya. Orang yang selama ini ku cari adalah Wang Xiao Lin, Istri dari seorang laki-laki bernama Wang Yue. Dia di nyatakan meninggal lebih dari 4 tahun yang lalu, tepat setelah melahirkan putranya. Wang Xiao Yi."


Lulu dan Cc membulatkan matanya, seolah sesuatu menyengat tubuh keduanya setelah mendengar ocehan pemuda itu.


"Tu,tunggu.!! Me,mengapa kau bisa mengetahui hal itu, a,aku masih tidak bisa mempercayai mu begitu saja, meski apa yang kau katakan itu benar."


"Kau salah a Hao,, Lín Xiǎomèi memang pernah menikah, tetapi bukan dengan orang bermarga Wang. Melainkan,,,"


"Shen. Marganya adalah Shen bukan Wang. Benar begitu, Jiě???"


Wang Hao mendahului kalimat Lulu sebelum mengatakan nya.


"Ba,bagaimana kau tahu??" Gadis itu menggeleng tak percaya.


"Karena yang menikahi Xiao Lin Jiějiě adalah Shen Yue, yang telah mengubah marganya sendiri menjadi Wang. Wang Yue.


Orang yang sama, dan akan selalu sama. Hanya saja marganya kini berbeda. Saat dulu menikah dengan Xiao Lin Jiě marganya adalah Shen. Shen Yue."

__ADS_1


Tatapan Wang Hao teralih pada Lulu.


"Namun setelah mereka menikah, Yue Gēgē pergi meninggalkan kediaman Shen dan mengubah marganya menjadi Wang. Begitu pula dengan Xiao Lin Jiě yang mengganti namanya menjadi milik Gēgē. Karena bagaimanapun, Yue Gēgē adalah suaminya." Pungkasnya.


"Lalu apa alasannya?"


"Itu_,,,"


Wang Hao menunduk, seakan ragu untuk menjawab.


"Jiě,,,"


Cc ingin mencegah agar Lulu tak bertanya tentang hal itu. Tetapi bahkan Wang Hao telah mendengarnya.


"Cc. Apa kau tahu sesuatu? Katakan."


Lulu menyipitkan matanya memandang Cc.


"Euu,,,"


Belum sempat mengatakan sesuatu, Wang Hao kembali membuka suara.


"Mereka menikah tanpa restu dari kedua orang tua. Gēgē memilih pergi karena ingin tetap mempertahankan Xiao Jiějiě, cinta nya begitu besar untuk Xiao Jiějiě. Sehingga,,, ia memutuskan untuk tetap bersama Xiao Jiějiě, meski hubungan mereka telah di tentang."


"Jadi rupanya kau tahu semua yang telah Lin Jiějiě alami selama ini?"


"Mn. Semua tentang kehidupan Xiao Jiějiě dan Gēgē aku mengetahuinya. Karena sejak sejak kecil aku tinggal bersama mereka, merekalah yang merawatku, jadi tidak sedikitpun hal tentang mereka yang tidak ku ketahui."


"Jika kau mengetahuinya, lalu mengapa kau tak menyelamatkannya?!! Mengapa setelah Lin Jiějiě menderita kau datang mencari nya.!!!"


"Itu salah ku,, itu memang kesalahan ku,, aku memang bodoh,, aku bodoh karena tidak ada bersamanya,, maafkan aku.. Hiks,, semua memang salahku.."


Pemuda malang itu kembali menitihkan air matanya, dengan rasa bersalah segenap jiwa raganya, ia ingin meminta maaf, namun itu terasa berat ia ucapkan.


Bagaimana pun, saat dirinya bertemu dengan sang Jiějiě, ia hanya dapat menyesali diri dan menyalahkan dirinya sendiri, dan tidak dapat mengungkapkan perasaan hatinya.


"Cukup, jangan menangis,, bukan salahmu. Maaf.."


"X_x,xiao Jiě,jiě.." Ucapan Wang Hao terbata, matanya membulat sempurna melihat seseorang yang kini telah berada di hadapannya.


"X_xiao Jiě_jiě.."


Matanya berulang kali berkedip, tak percaya dengan pandangan matanya sendiri.


"Maafkan Jiějiě, Hao'er.."


A Lin, atau mungkin yang sebenarnya adalah Wang Xiao Lin, ia mengusap sayang puncak kepala pemuda di hadapannya.


"Hiks,, tidak. Bukan salah mu Ibu, hiks,, maaf,, maafkan Hao'er karena selama ini menjadi penyebab semua penderitaan kalian.


Hiks,, maaf karena Hao'er tidak berguna untuk kalian,, hiks,, maaf, Hao'er tidak bersama kalian saat kalian dalam masalah. Hiks,, maaf, maafkan Hao'er, Ibu. Hiks,, selama ini Hao'er begitu bodoh dan tidak berguna.. Hiks,,"


Tumpah sudah tangis pemuda malang itu dalam pangkuan Xiao Lin. Istri dari sang Gēgē kesayangan nya, yang selalu ia panggil 'Ibu' sejak kecil.


"Hiks,, bodoh. Kau memang anak yang bodoh. Hiks,, bodoh karena mengatakan hal itu pada Jiějiě mu sendiri. Bangunlah, apa kau akan tetap seperti ini hm? Apa kau tidak ingin memeluk Jiějiě?"


Xiao Lin kembali menepuk sayang kepala Wang Hao, ia benar-benar merasa sangat merindukan sosok seorang Dìdì sekaligus putra nakal di hadapannya.


"Hiks,, Ibu.. Kau adalah Ibuku, hiks,, kau bukan Jiějiě ku. Hiks,, kau adalah Ibu yang telah merawat ku, hiks,, kau Ibu yang sangat ku sayangi setelah Ibu tua.. Hiks,,"


"Bodoh. Hiks,, ya, aku adalah Ibumu."


Keduanya berpelukan, menumpahkan segala kerinduan dalam hatinya.





__ADS_1



__ADS_2