
Tak terasa matahari mulai terbenam, semua tenaga medis yang terlibat dalam upaya penyelamatan kedua bersaudara Wang itu pun kini telah membubarkan diri.
Tersisa hanya mereka saja yang sebelumnya terluka, tentunya masih dengan pengawasan Wen dan Chen saat ini.
"Gē, apa yang harus kami lakukan sekarang? Apa kita akan membawanya pulang? Aku tahu pasti Xiao Lin dan putranya khawatir jika Yue'er tiba-tiba menghilang." Ujar yang lebih muda, menampilkan wajah bingungnya.
"Hahhh..."
Helaan nafas kebimbangan terdengar dari Wen.
"Aku tahu bagaimana karakter mereka. Meskipun kita membuat alasan, dan mengatur skenario, itu tidak akan membuatnya begitu saja percaya. Tetapi jika kita membawanya pulang, jelas kau akan tahu konsekuensinya bukan?
Itu hanya akan menambah kesedihan dan kekhawatiran Lín Xiǎomèi juga putra kecilnya saja. Dan itu hanya akan semakin membuatnya merasa bersalah jika kita membawanya dalam keadaan seperti ini."
Chen hanya ikut menganggukkan kepalanya menyamakan pemikiran dengan Wen.
"Tetapi saat masih sadar Yue'er mengatakan padaku bahwa ia sengaja mengunci Xiǎomèi, a Yi dan Cc di kamar mereka saat dirinya pergi. Dia juga berkata padaku bahwa dirinya tak mengijinkan siapapun membuat mereka tahu bagaimana pun keadaannya setelah ia meninggalkan rumah itu."
Wen serupa dengan Chen, ia awalnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya seperti yang di lakukan pria yang lebih muda darinya itu saat mendengarkan kalimatnya.
"Eh??"
Namun seperkian detik kemudian dirinya seakan tersadar dan mengulang kalimat Chen.
"Kau bilang Yue'er mengunci Xiǎo Mèimèi dan putranya di kamar??"
Menanggapi itu Chen hanya mengangguk pelan dengan sedikit bingung melihat perubahan wajah lawan bicaranya itu yang secara tiba tiba.
Dan....
Plaakkk..!!
Pukulan keras Chen dapati di sisi kepalanya.
"Haissh,, kau ini,,,!"
"Yak.! Dasar bodoh.!! Mengapa kau tak mengatakan padaku sejak tadi.!! Mengapa baru kau katakan sekarang hah.!! Lihatlah pukul berapa saat ini.!!! Bagaimana jika mereka kelaparan??
Cepatlah pergi, dan jangan lupa bawakan beberapa makanan untuk mereka.! Ingatlah untuk tidak mengatakan hal apapun padanya nanti. Jangan biarkan Xiǎomèi khawatir pada Yue'er."
__ADS_1
"Wue, Gē.!! Mengapa kau suka sekali memukul kepalaku.!! Ini menyakitkan.!! Bisakah kau berbicara tanpa menyakitiku?!! Dan mengapa harus aku yang pergi? Bukankah ini tanggung jawabmu sebagai keluarganya?!
Dan apa yang harus ku katakan pada mereka nanti jika mereka menanyakan tentang keadaan Yue'er? Lagi pula aku harus berjaga disini, bagaimana jika nanti a Xiang membutuhkan bantuan ku saat Yue'er bodoh itu atau Hao'er,,"
Wen yang geram menyela kalimat Chen yang membuatnya semakin membuat pening kepalanya.
"Haissh.!! Cepat pergi, atau akan ku buat kau yang menggantikan Yue'er di dalam sana.!! Dan jangan sampai kau lepas bicara padanya, usahakan agar mereka tak curiga dan makan dengan baik. Jika memang kau tak bisa mengatasinya, akan ku urus sisanya.
Kau hanya perlu membuat mereka tak mengkhawatirkan Yue'er dan Hao'er saja, apa kau mengerti?"
"Benar apa yang Wen Gē katakan Gē, kau hanya perlu membawakan makanan dan mengatakan hal yang tidak membuat mereka khawatir, hanya itu saja,, apa kau sungguh bodoh Gē? Hanya mengatasi hal begini saja tidak bisa.
Tenang saja,, lagi pula aku masih disini,, aku akan mengawasi Wang Yue Gē dan Wang Hao Gēgē. Ada Wen Gē yang akan menjaga kami disini, jadi kau jangan beralasan lagi."
Chen memandang kesal pada saudari yang berpenampilan pria itu, yang entah sejak kapan muncul dengan tiba-tiba dan menimbrung percakapan diantara dirinya dengan Wen.
"Masih tak ingin pergi?"
Dirinya ingin memprotes kembali, namun aura yang di keluarkan Wen kini semakin menakutkan baginya.
"Ba,baiklah aku akan pergi sekarang." Pungkasnya pasrah.
•
Di hadapkan dengan suasana yang berbeda dengan para laki laki yang saat ini dalam suasana hati di penuhi ketegangan.
Kedua wanita cantik di temani si kecil yang setia menggandeng satu persatu tangan keduanya itu, kini di sibukkan dengan pemandangan yang memukau pandangannya.
Bagaimana tidak? Pemandangan itu benar benar mengagumkan bagi mereka, sedikit mengobati perasaan gelisah dan sesak yang menyeruak kedalam hati ketiganya sebelumnya.
Usai si kecil membuka sebuah pintu ruangan itu yang kini sepenuhnya menjadi transparan itu, si kecil menuntunnya menuju salah satu pintu tersembunyi yang mengarah ke bawah lantai itu.
Si kecil yang terlampau semangat itu pun menarik pergelangan tangan sang ibu agar mengikuti langkah cepatnya.
Mendapati pergerakan tiba tiba dari putra kecilnya itu pun membuat Xiao Lin terkejut. Namun ia melebarkan senyumnya sesaat setelah sang putra menghentikan langkahnya.
Malaikat kecil nan menggemaskan itu berlari dengan berjongkok hanya demi menangkap kelinci kelinci kecil yang berlarian menyebar ke seluruh area tersebut.
"Yi Maa, Yi Maa..! Lihatlah.."
__ADS_1
Si kecil berteriak memanggil sang ibu dengan girang setelah ia berhasil menangkap salah satu kelinci kecil yang tengah menikmati makanannya.
"Wuah,, cantik.. Yi Maa.."
Xiao Lin kembali tersenyum saat si kecil memberinya seekor kelinci yang ia pegang.
"Mn. Sangat cantik.."
"Mn. Cantik seperti Yi Maa.." Ujar si kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari sang ibu yang tersenyum gembira dengan hewan kecil dalam genggamannya.
"Eehh?? Mengapa Yi Maa??"
"Mn. Karena Yi Maa cantik."
Xiao Lin terdiam sejenak usai kalimat sang putra terdengar. Namun sejenak ia kembali tersenyum dengan gelengan kepalanya, tanpa lupa mengusap sayang surai hitam milik malaikat kecilnya itu.
"Apa a Yi suka kelinci?"
"Mn. Sangat suka." Sahutnya dengan cepat tanpa ragu.
"Lalu,, mengapa a Yi menyukainya?"
"Karena Yi Paa bilang kalau Yi Maa sangat menyukai kelinci, jadi a Yi menyukainya."
Yang lebih dewasa menganggukkan kepalanya pelan dengan membulatkan bibirnya.
"Mereka adalah teman teman a Yi selama ini. Sejak Yi Maa tidak bersama kami, Yi Paa membeli sepasang kelinci untuk menemani a Yi.
Hingga mereka memiliki kelinci kelinci kecil lainnya dan semakin bertambah banyak, Yi Paa juga membawa mereka saat pindah ke rumah ini. Bahkan Yi Paa semakin banyak membeli kelinci untuk memenuhi seluruh halaman rumah ini."
Pandangan Xiao Lin menyendu mendengarkan dengan cermat kalimat kalimat yang putranya ucapkan.
Nampak kembali gurat kesedihan di netra jernih si kecil kala menjelaskan tentang masa lalunya.
"Maafkan Mama nak. Mama membuatmu menderita dan kesepian selama ini.."
"Tidak Yi Maa,, Yi Maa tidak salah, jangan meminta maaf pada a Yi.. Selama ini, meskipun Yi Maa jauh dari a Yi, tetapi a Yi selalu merasa Yi Maa ada bersama a Yi disini." Tutur sj kecil dengan memegang dada kirinya.
Xiao Lin merengkuh tubuh mungil di hadapannya. Mendekapnya begitu erat, penyesalan semakin menderu hatinya membayangkan akan penderitaan putranya selama ini.
__ADS_1
Namun ada setitik kebahagiaan kini yang menghangatkan hatinya atas berkah yang tuhan berikan padanya melalui mahluk kecil di hadapannya itu.