
°
~Rumah sakit [II]
"Haohao.!! Apa yang terjadi,? Mengapa a Yi seperti ini? Bukankah Gēgē telah menitipkannya padmu? Gēgē memintamu untuk menjaganya selama Gēgē pergi.!! Apa sesulit itu kah?!!"
Wang Yue yang baru saja tiba langsung memarahi Wang Hao.
"Gē,, maaf.."
Hanya maaf yang bisa Wang Hao katakan.
"Benar juga,, ini semua salah ku sendiri yang pergi. Tidak seharusnya aku meninggalkan nya. Maafkan Gēgē terlalu keras terhadap mu."
Bukan, sebenarnya Wang Yue bukan marah pada Wang Hao saat ini. Wang Yue hanya merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, ia hampir saja hilang kendali dan menyalahkan Wang Hao.
Yang seharusnya ia salahkan adalah dirinya sendiri, atas ke kecerobohan nya yang untuk ke dua kalinya terulang.
"Gē,,"
"Haohao, kau tolong urus untuk kepindahan a Yi ke rumah sakit yang jauh lebih besar dan lebih baik"
"Ba_baik Gē. Kalau begitu Hao'er permisi dulu."
Meski banyak hal yang ingin Wang Hao katakan, namun rasanya ini bukanlah waktu yang tepat baginya.
Ia mengurungkan niatnya untuk bercerita, saat ini adalah waktunya untuk benar benar memperhatikan si kecil.
"Apa yang sebenarnya terjadi nak?? Mengapa kau bisa melakukan hal seperti ini,, tidak mungkin tanpa sebab kau melakukan hal yang begitu ceroboh hingga hampir membahayakan dirimu sendiri."
Ada banyak pertanyaaan yang menumpuk di kepala Wang Yue, namun ia pula merasa keselamatan dan kesehatan putranya saat ini yang utama. Jadi ia hanya menyimpan dalam benaknya saja.
°
~
Kediaman Meng sore ini nampak sunyi seperti biasanya, yang hanya ada kedua penghuni kedua bersaudari Meng saja.
Di karenakan sang Tuan rumah Meng Zhou selalu sibuk dengan bisnisnya, dan sang istri yang juga sibuk menemani sang suami berbisnis.
"Nak,, kemana kau akan pergi? Apa kau akan berkencan sore ini?"
Meng Jiyi istri dari Meng Zhou itu menghampiri putri pertamanya yang terlihat terburu buru untuk pergi tanpa menyadari kedatangannya.
"Eh,, I_ibu?!"
Gadis cantik Meng itu terkejut melihat sang ibu saat ia membalikkan badannya.
"Oh,, mengapa kau terkejut melihat Ibu? Apa kau tak senang jika Ibu kembali ke rumah??" Tanyanya lagi pada sang putri yang tak kunjung menjawab pertanyaan nya tadi.
"Tidak. Hanya sedikit aneh saja melihat Ibu berada di rumah." Sahutnya santai setelah pulih dari rasa terkejut nya.
"Aish,, kau ini.. Apa ada yang salah jika Ibu di rumah?"
"Tidak. Hanya saja,, ini masih terasa aneh bagiku.. Ibu selalu saja sibuk dengan urusan Ibu sama seperti Ayah. Kemanapun Ayah pergi Ibu selalu bersamanya, dan dengan tiba-tiba Ibu di rumah. Apa Ibu sudah tak takut lagi ada yang mengambil Ayah darimu Ibu?"
Meng Jiyi menunduk sedih mendengar ucapan putrinya, ia merasa begitu egois pada kedua putri nya selama ini.
Selama ini yang ia pikirkan hanya bagaimana cara agar semua kebutuhan kedua buah hatinya itu terpenuhi, tanpa memikirkan bagaimana perasaan putra putrinya yang juga membutuhkan sosok seorang ibu disisinya
"Ibu hanya rindu pada gadis kecil Ibu dan putri nakal Ibu.. Apa kau tak ingin memeluk Ibumu ini hm? Sepertinya,, Ibu memang tak di harapkan di rumah ini.." Ucap sang ibu dengan nada yang di buat sesedih mungkin.
Gadis Meng itu sedikit bersalah atas ucapannya yang membuat sang ibu sedih, namun ia juga ingin memberikan sang ibu sedikit pelajaran karena telah mengabaikannya selama ini.
"Aku pikir Ibu tidak membutuhkan itu,, yang Ibu butuhkan hanya Ayah berada di samping Ibu saja. Ah ya,, Ibu. Maafkan aku, aku harus pergi.."
Zizi melangkahkan kakinya untuk meninggalkan sang ibu yang kini merasa sedih.
"Zi_zi,,," Ucap Jiyi lirih dengan pandangan mendunduk.
"Hiks,, maafkan Ibu nak.. Maaf,, selama ini Ibu telah egois padamu..hiks,,"
Tak terasa air matanya menetes dan isak tangis mulai terdengar. Saat dengan tiba-tiba Zizi memeluk tubuhnya.
"Zizi merindukan Ibu,, sangaaattt rindu.. Maafkan Zizi yang telah bersikap kasar pada Ibu." Ucapannya dengan manja.
"Hiks,, jadi kau tidak marah pada Ibu?" Tanya sang ibu dengan merenggangkan pelukannya.
"Tidak."
"Jadi kau tidak membenci Ibu?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tidak."
"Jadi kau benar-benar merindukan Ibu?" Kembali ia bertanya.
"Tidak."
Luntur sudah senyum di wajah Jiyi seketika.
"Tidak Ibu,, Zizi benar benar sangat merindukan Ibu.." Ucapnya cepat, sebelum sang Ibu kembali menangis bak anak kecil yang tengah di marahi sang Ibu.
"Dasar, kau memang gadis nakal.! Ibu juga sangat,, sangat merindukan mu nak.."
Namun belum sempat mengucapkan beberapa kalimatnya,, mulutnya terbuat terbuka lebar saat tiba-tiba terdengar suara deheman cukup keras, suara yang sangat familiar dan sangat ia rindukan.
"Ayah..!!"
Zizi berlari mendekati sang Ayah, senyumnya mengembang begitu lebar.
"Aiyo,, berapa umurmu sekarang gadis kecil.. Mengapa kau masih suka bergelayut pada Ayahmu hm.." Meng Zhou mencubit pipi putrinya yang kini bergelayut manja di pundaknya.
"Dan berapa usia Ayah sekarang? Mengapa masih suka membawa bunga mengerikan seperti itu." Sahutnya meledek pada sang Ayah yang memeluk serangkaian bunga di tangan kirinya.
"Aish,, dan sampai kapan kalian akan seperti itu di depan sana? Terus saja mengabaikan ku disini." Kesal Jiyi yang di abaikan suami dan putrinya.
"Eh,, ngomong ngomong dimana putri nakal Ayah? Apa dia tak ingin menyambut kedatangan Ayah?"
Meng Zhou bertanya tanya dengan menengok sekeliling nya mencari keberadaan sang putri.
"Ah, ya. Dimana si bungsu nakal itu?? Aish,, aku bahkan melupakannya disaat seperti ini."
Jiyi menepuk keningnya menyadari dirinya telah melupakan putri bungsunya.
"Chengcheng saat ini masih di rumah sakit Ayah, Ibu.." Jelas Zizi.
"Pantas saja Ibu tak melihatnya sedari tadi. Ah,, jadi kau terlihat terburu buru tadi karena kau ingin menyusulnya? Atau kau ada kencan sore ini hm?"
"Ibu,,, aku bahkan tidak memiliki kekasih, bagaimana bisa aku memiliki kencan.." Sahutnya dengan rona merah menghiasi pipinya.
°
~Rumah sakit [I]
•
"Mn. Namanya adalah Wang Xiao Yi putra WangXiao"
"Mn.! Wang adalah Ayahnya dan Xiao adalah Ibunya, lalu Yi adalah namanya. Wang marganya, lalu Xiao?? Haahh,, aku bahkan tidak tahu mengapa aku bisa berpikir untuk menambahkan namaku.."
"Xiao menggambarkan kepribadian mu sebagai seorang Ibu, jadi tanpa perlu alasan apapun kau memang harus memberikan nama itu untuk putra kita.."
"Ah,, ya,, kau benar Ge. Dan Yi adalah satu, jadi,, Wang Xiao Yi yang berarti 'putra pertama Wang Xiao' betul tidak Gē?"
"Mn. Putra pertama Wang Yue dan Wang Xiao Lin."
~
"Eum,, sayang sekali,, padahal Xiaoxiao yang malang ini masih ingin bersama pangeran kecil tampan ini..
Heumm,, mengapa dokter tak mengijinkan kita dalam satu ruangan saja? Hah,, sungguh menyiksa.
Benar juga sih, ini semua karena salahku.."
"Itu bukan salahmu, aku yang bersalah membiarkanmu dan putra kita celaka.. Maafkan aku Xiaoxiao,, jika saja aku tak meninggalkanmu, mungkin putra kita akan lahir dengan selamat tanpa harus memiliki luka di tubuhnya. Juga,,, maaf, karena kesalahan ku, kau terus terluka dan menderita."
"Jangan berkata seperti itu,, kau membuat hati seorang Xiaoxiao yang malang ini bersedih.."
"Tidakkah aneh? Seorang yang bersedih justru tersenyum?"
"Jika aku benar benar menangis, apa seorang Wangyue Gēgē benar benar bisa menenangkan Xiaoxiao yang malang ini hm? Baiklah,, sekarang sudah waktunya putra kita kembali ke ruangannya. Tolong jaga dia untukku Tuan tampan,,"
"Tanpa kau memintanya, aku akan tetap melakukan apapun untuk menjaga kau juga putra kita."
"Mn. Aku percaya padamu Gē."
"Mn. Xiaoxiao,, jaga diri baik baik disini selama Gēgē mengantarkan putra kita, setelah dokter datang, Gēgē akan segera menemui mu."
"Tentu. Eu,, Yue Gē, aku harap setelah ini tak ada lagi yang bisa memisahkan kita.
Tetapi..
Jika memang harus berpisah,, tolong jaga dan lindungi putra kita dengan segenap jiwamu. Cintailah dia seperti kau mencintaiku, jangan biarkan dia sedih dan sendiri."
__ADS_1
~
"K,k_kau?!! A,apa yang akan k_kau lakukan padaku.!! Pergilah,, ku mohon,, jangan ganggu aku.!! Yu_yue Gē,, Yue Gē..!!! Sadarlah.!! Hiks,, kau tak bisa seperti ini, hiks,, ku mohon,, bangunlah.!!! Hiks,,, bangun dan larilah sejauh mungkin.. Hiks,, pergilah,, bawa putra kita bersamamu.. Hiks,, pergi,, ku mohon.. pergi,,hiks,, hiks,, bangunglah,, hiks.."
"Bodoh.!! Ya,, seperti ini saja. Teruslah memohon kepadaku. Lalu akan ku akhiri kau saat itu juga."
"Hiks,, kumohon jangan lakukan itu padaku,, hiks,, hiks,, kumohon,, biarkan dia hidup,,hiks,, dia tak bersalah dan tak ada hubungannya denganmu. Hiks,, ku mohon,, jangan lakukan itu padanya. Hiks,, lakukan apapun, hiks,, lakukan sesuka hatimu,, hiks,, tapi ku mohon jangan sentuh mereka,, hiks,,hiks,, biar aku saja,, hiks,, aku saja,, jangan mereka,, hiks,, ku mohon.. Hiks,, mengapa kau tega melakukan itu padaku. Hiks,,"
"Sudah terlambat. Tetapi,, tenang saja. Dengan senang hati aku akan menuruti apa yang kau inginkan. Ucapkanlah selamat tinggal pada duniamu"
"Tidak,, jangan. Hiks,, jangan lakukan itu,, hiks,, kumohon,, biarkan mereka tetap hidup.. Hiks,, kumohon..!!"
A Lin membuka matanya, air matanya jelas mengalir.
"A Lin.!! Mi_minumlah dulu,"
Lulu menyodorkan segelas minuman pada a Lin yang telah sadarkan diri.
"Lin Jiějiě,, apa kau mengalami mimpi buruk lagi?" Tanya Cc khawatir seusai sang Jiějiě meneguk habis minumannya.
"Cc,, hiks,, katakan. Dimana a Yi sekarang.! Hiks,, cepat antarkan Jiějiě menemuinya,, hiks,, bukankah dia di ruangannya? Hiks,, hiks,, cepatlah.!! Antar Jiějiě menyanyinya sekarang. Hiks,, aakhh..!!"
"A Lin.!! A Lin,, tenanglah dulu, kau baru saja bangun. Istirahatlah, tenangkan pikiranmu.."
Lulu menahan tubuh pemuda yang lebih muda darinya itu saat mendengar ringisan darinya, yang berniat beranjak dari tidurnya.
"Jiě, tenanglah.. Perhatikan keadaanmu saat ini. A Yi baik baik saja,, Cc janji akan mengantarmu, tetapi Jiějiě harus beristirahat untuk sementara waktu dulu."
Cc yang tak tega melihat sang Jiějiě yang memegangi kepalanya menahan sakit, ikut serta menahan sang Jiějiě agar kembali beristirahat.
"Hiks,, Lu Jiějiě,, a Lin mohon,, hiks,, tolong antarkan a Lin untuk bertemu a Yi.. Hiks,, kumohon.. Hiks,, hiks,, hanya untuk memastikan, hiks,, dia putra kecilku atau bukan,, hiks,, kumohon.. Cc,, hiks,, Jiějiě mohon,, hiks,, bawa Jiějiě menemui a Yi,, hiks,,hiks,,"
Tak tahan lagi melihat sang Jiějiě yang terlihat begitu kacau, Cc memeluknya mencoba untuk menenangkan agar sang Jiějiě tak terus menangis.
"Jiě,, Cc janji,, kita akan bertemu dengannya, tetapi Cc mohon untuk kali ini saja,, tolong dengarkan kami."
Setelah dirasa sang Jiějiě jauh lebih tenang, Cc melepas pelukannya. Ia menyamankan duduk berhadapan disisi sang Jiějiě.
"Jiě,, saat ini kita berada di rumah sakit yang berbeda dengan a Yi. Jadi jika Jiějiě ingin bertemu dengannya, Jiějiě harus pilih dulu.
Setelah itu baru kita temui a Yi, karena jika Jiějiě tetap memaksa pergi dengan keadaan seperti ini, itu akan membuat kondisi Jiějiě semakin buruk.
Dan akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa bertemu dengan a Yi jika keadaan Jiějiě tetap seperti ini." Tutur gadis cantik itu, berharap sang Jiějiě bisa mendengarkan ucapannya.
"Hiks,, tapi a Yi,, hiks,, kau bahkan tahu Cc, dia kehilangan banyak darahnya yang tanpa kita sadari.
Hiks,, orang macam apa diriku ini? Hiks,, karna kecerobohan ku,, a Yi nekat memaksakan diri untuk bangun,, hanya,, hanya untuk bisa memelukku. Hiks,,
Yang bahkan dengan bodohnya,, aku tidak menyadarinya,, hiks,, jarum yang menancap di pergelangan tangan,hiks,, a Yi,, terus menancap,hiks,, yang bahkan telah terpisah dari selang infusnya. Hiks,, itu semua karna diriku. Cc.!!! Hiks,,
Kalau saja aku lebih dulu menyadari a Yi terbangun dan memanggil ku,, hiks,, mungkin itu tidak akan terjadi.. Hiks,, Cc,, Jiějiě mohon,, hiks,, bawa Jiějiě menemuinya.. Hiks,,"
"Tidak mungkin Jiějiě,, Wang Hao Jiějiě sebelumnya menghubungi ku, dia menanyakan keadaanmu juga,, dia mengatakan saat ini dia tengah mengurus untuk kepindahan a Yi ke rumah sakit yang jauh lebih baik lagi. Jadi kita tidak bisa pergi." Cc mencoba menjelaskan kembali secara perlahan.
"Katakan.! Katakan pada Jiějiě sekarang Cc.! Katakan dimana rumah sakit itu. Dimana Wang Hao akan memindahkannya.! Hiks,, katakan pada Jiějiě, Cc..hiks,,"
"A Lin, tenangkan dirimu. Kau akan semakin merasakan sakit di kepalamu, kendalikan dirimu.."
Lulu ikut mencoba menenangkan a Lin yang masih saja tidak terkendali.
"Jiě,, dengarkan Cc, ini yang terakhir kali. Kau harus tenangkan dirimu dan beristirahat sepenuhnya, entah dimana pun Wang Hao Gēgē akan memindahkan a Yi, tetapi yang pasti,, Cc akan mengantar Jiějiě menemuinya nanti setelah Wang Hao Gēgē memberi tahu dimana rumah sakitnya.
Dan yang pasti itu setelah Jiějiě sembuh." Ucap Cc yakin.
"Tetapi jika Jiějiě tetap memaksa untuk pergi saat ini, maaf Jiě,, Cc tidak akan melakukannya. Dan jika Jiějiě benar benar ingin bertemu a Yi, maka Jiějiě harus menuruti apa yang Cc katakan."
Tidak ada isakan atau satu kalimat pun yang terdengar dari a Lin. Namun Cc tahu,, di balik wajahnya yang menunduk, sang Jiějiě tengah menyembunyikan tangisnya.
"Maaf, maafkan Cc yang membawamu kesini. Cc hanya mengkhawatirkan keadaan mu saja, setelah dokter mengambil darahmu, tubuhmu menjadi lemah dan tak sadarkan diri.
Jadi aku meminta Binbin untuk menjemput kami lalu membawamu kemari, karena hanya Lulu Jiějiě saja yang bisa ku andalkan dan ku percaya untuk merawatmu." Ucapannya bersalah.
"Terima kasih,, telah sangat dan sangat mempedulikan Jiějiě, juga,, terima kasih telah merawat ku Jiě. Maaf telah menyusahkan kalian."
•
•
•
•
__ADS_1
•