Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
44


__ADS_3

Lubin berulang kali memandang Chen dari atas kepala hingga ujung kakinya, dengan tatapan menyelidik.


"Baiklah, lakukan sesukamu." Ucap kemudian, setelah merasa cukup yakin namun kali ini dengan nada malas.


"Baiklah,, jika begitu. Biarkan aku mengantar Nona Lu."


"Tidak untuk itu, Tuan Ji QiChen.! Kau boleh melakukan apapun terserah mu, tetapi tidak untuk Jiějiě ku.! Jangan berpikir kau bisa mengganggunya.!! Dan jangan kau pikir aku tidak tahu niatmu untuk mendekati Jiějiě ku.!"


Lubin menggebrak meja di hadapannya, ia bangun dan menolak memberi Chen ijin untuk mengantar sang Jiějiě pulang.


"Eh,,?? Rupanya kau sudah mengetahuinya? Baguslah,, mulai saat ini aku tidak harus berpura-pura lagi." Ucap Chen dengan suara dan wajah menyebalkan, yang sengaja meledek Lubin.


"Sudah. Tidak ada waktu untuk main-main. Kau tahu aku bukan orang yang sabar, jangan membuat ku mengulur waktu. Atau semua berantakan."


Chen kembali pada mode serius, menahan Lubin yang berniat membuka suaranya.


"A,ada apa dengan wajahnya? Mengapa berubah begitu menakutkan,, rasanya seperti aku melihat Yue Gē lainnya saat sedang marah. Membuat ku merinding.."


Batin Lubin menjerit, melihat wajah Chen yang menurutnya berubah menyeramkan.


"Ya_ya sudah. Tolong jaga Jiějiě ku, dan selesaikan tugasmu." Gumamnya pasrah.


"Ho,, kau memang anak yang baik. Tenang saja, aku pasti akan menjaganya. Kau juga, kabari aku jika ada sesuatu."


Setelahnya Chen dan Lulu pergi meninggalkan mereka yang kini terdiam dengan pertanyaan masing-masing di kepalanya.


"Benarkah demikian? Apa hanya aku yang tidak tahu kebenarannya? Mengapa aku merasa menjadi orang yang bodoh selama ini.."


Cc memandang punggung kedua orang yang berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


~


Pagi menjelang, kini aktivitas nampak normal seperti biasa. Semua orang sibuk bersiap dan tergesa untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Di sebuah bangunan megah, kini nampak sepasang pasutri tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Meski demikian, mereka tetap fokus pada si pemilik hatinya meski tak saling memandang.


Mereka adalah sepasang suami istri yang terbilang memiliki hubungan yang sangat baik, meski jarang sekali keduanya memiliki kesempatan untuk bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Namun nyatanya itu tak menyurutkan rasa cinta di antara keduanya, terbukti hingga saat ini hubungan mereka masing sangat harmonis.


Tentunya itu tak hanya berjalan begitu saja,, karena selain kepercayaan, itu juga membutuhkan pengertian dan pengorbanan. Kesabaran juga ketulusan, yang terpenting adalah kesetiaan.


Bagaimana tidak? Cinta bukan hanya sekedar kata yang bisa di ungkapkan, tetapi cinta juga butuh perjuangan. Itu adalah landasan utama sebagai mana menjalin suatu hubungan yang baik dengan pasangan, karena cinta tanpa itu semua tidaklah mudah untuk mempertahankannya.


Meski memiliki waktu kebersamaan dan komunikasi yang baik dengan pasangan, nyatanya tidak selalu menjamin hubungan itu baik-baik saja tanpa landasan utamanya dalam hubungan.


Itulah mengapa hubungan pasangan ini tidak terpisahkan, karena baik a Fei maupun Wen, keduanya selalu menjaga fondasi utama yang menghubungkan perasaan masing-masing sebagai landasan kuat di dalam hubungan mereka.


"Gē,, bagaimana? Apa ada perkembangan?"


A Fei membuka suaranya, membuat sang suami mengalihkan pandangannya pada si cantik jelita dengan gaya anggunnya, tetap terlihat cantik meski usianya sudah cukup matang.


"Mn. Sepertinya kita harus waspada, mungkin saja akan ada hal yang jauh lebih mengejutkan dari ini." Sahut sang suami yang masih sibuk mengamati wajah cantik sang pemilik hatinya.


"Feifei,, maaf.." Lanjutnya dengan senyum yang perlahan memudar.


Sementara si empunya yang mendengar, semakin menyunggingkan senyumnya, menambah kecantikan alami di wajahnya.


Namun senyum itu tak bertahan lama, untuk sepersekian detik terlewat, senyum itu meredup.


"Ada apa? Feifei, Gēgē tahu, ini tidak mudah bagimu,, tetapi Gēgē harap kali ini kau bisa bertahan sedikit lebih lama. Maaf jika ini tidak adil untuk mu, tetapi hanya ini yang bisa Gēgē lakukan untuk mu.."


Melihat wanitanya memasang wajah sedih, si pria tersebut menjadi semakin merasa bersalah.


"Maaf,, membuat mu menunggu terlalu lama.." Sambungnya.


"Tidak, jangan mengatakannya. Itu tidak benar Gē."


Wanita cantik itu mendekatkan diri kepada sang suami dengan raut sedikit berbeda dari biasanya.


"Maaf.." Ucapnya kemudian.


"Apa yang kau katakan?? Tidak ada yang salah darimu, jadi jangan katakan hal itu padaku.


Kau sendiri yang mengatakannya, ini hanya masalah waktu. Dan ini tidak sama sekali menjadi masalah." Tandas Wen dengan memegang erat kedua tangan istri tercintanya.

__ADS_1


"Tetap saja,, a Fei yang bersalah. Maaf,, dan maaf,, telah menempatkan mu pada masalah ini Gē. Jika bukan karena ku, kita mungkin bisa menjalani kehidupan rumah tangga ini layaknya pasangan lainnya."


"Istriku,, dengarlah. Tidak seperti itu, ini tidak seperti yang kau pikirkan.. Aku melakukannya memang benar demi dirimu, tetapi bukan hanya itu. Untuk kita, dan untuk orang-orang yang yang amat berharga dalam hidup mu." Jelasnya agar sang istri tak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Mn. Mereka amat sangat berharga untuk kami, itulah alasan kami memulainya. Hanya saja,, ini terlalu bahaya.. Bisakah kita melewati ini semua Gē?"


"Mengapa tidak? Bukankah kau sendiri yang ingin melakukannya? Mengapa menjadi tidak yakin seperti itu,, apa sudah melupakan dendam mu hm?"


"Tidak. Sebenarnya aku tidak ingin memiliki dendam, dan ini bukanlah dendam. Hanya saja,, mereka terlalu kejam.."


"Heuumm.. Apapun itu,, bukankah sama saja dengan dendam?"


Tidak ada jawaban atau sahutan dari a Fei, hanya diam memandang sang suami dengan raut khawatir.


"Sudah,, apapun itu jangan terlalu mengkhawatirkan nya seperti ini, atau kau bisa jatuh sakit. Percayalah, ini akan segera berakhir,, dan setelahnya kita akan dapat berkumpul bersama kembali." Terangnya, mencoba meyakinkan sang istri.


"Duduklah sebentar dan tetaplah seperti ini sebelum aku pergi, tenangkan hatimu.." Titahnya kemudian dengan menuntun tubuh mungil istrinya untuk duduk di pangkuan nya.


Tanpa penolakan a Fei menuruti perintah sang suami, dan tak ingin membuang waktunya sia-sia, Fei memeluk erat tubuh sang suami.


"Gēgē juga sangat merindukan mu wanita kecil ku, namun hanya ini waktu yang tersisa sementara untuk kita. Tetaplah sabar dan menunggu ku kembali, percayalah,, kebahagiaan itu akan kembali, hanya milik kita."


Bukan tanpa sebab, Wen menggumamkan hal demikian. Pasalnya, ia tahu bagaimana isi hati sang istri, meski tak mengungkapkannya.


"Milikku,, sejujurnya aku tak ingin berada dalam situasi seperti ini. Tetapi,, ini telah menjadi tanggung jawab ku sejak dulu. Kau tahu bukan? Kita telah sama-sama berjuang selama ini. Jadi,,, berjanjilah untuk tetap disini dan menunggu ku kembali untuk mu.


Meski ini sangat berat bagiku, tetapi aku masih harus melanjutkannya hingga kita dapat mencapai tujuan kita bersama. Sial.!! Mengapa sulit sekali hanya untuk mengucapkan 'sampai jumpa' padanya."


Wen mengeratkan pelukannya pada sang istri, seraya kalimatnya terucap. Hingga berakhir dengan gumaman di hatinya di akhir kalimatnya.


"Ah,, begitu rupanya.. Baiklah, a Fei mengerti. Tidak apa-apa Gē, berhati-hatilah. A Fei akan selalu menunggumu disini."


Wen terbuyar dari lamunannya, setelah sang istri menyentuh hingga mengusap pipinya. Dengan kalimat yang begitu santai ia ucapkan, tanpa melepas senyuman serta tatapan yang begitu dalam. Menyiratkan sejuta perasaan dan kerinduan yang tulus untuknya.


"Mn. Terima kasih. Tetaplah di rumah, dan selalu berhati-hati."


Pesannya kepada sang istri sebelum melepas pelukannya, dan pergi dengan perasaan yang tidak bisa untuk ia jelaskan.

__ADS_1


__ADS_2