
Lain di luar, lain pula di dalam. Seperti yang kita ketahui, di luar kamar dimana pasangan
WangXiao berada, terlihat gaduh dengan dari masing-masing di antaranya sibuk dengan cerita dan penjelasan tersendiri.
Sementara dari dalam kamar ruangan tersebut, pasangan Wang Yue dan Xiao Lin nampak masih tak saling membuka suara. Hanya pandang saling memandang satu sama lain, dengan berbagai macam pikiran tersendiri.
Cukup lama terdiam, salah satu dari keduanya membuka suara.
"Yue_Gē. Apa tidak ada yang ingin kau katakan?"
Rupanya, Xiao Lin lebih dulu membuka suaranya.
"Xiao,xiao.. benarkah itu dirimu? Benarkah itu kau? Xiaoxiao istriku? Jika benar, aku ingin sekali mendekapmu.."
Melihat sang suami yang terdiam bak patung bernafas, ia pun memiringkan kepalanya dengan kerutan di sela kedua alisnya.
"Apa yang mengganggumu Gē? Hingga membuatmu begitu sedih, dan meneteskan air matamu.."
Pandangan Xiao Lin menyendu, menatap sang pemilik hatinya seakan begitu terluka memandang dirinya.
"Apa hanya akan terus terdiam seperti itu memandang ku hm? Jika itu menyakiti mu, lebih baik tutup matamu dan bayangkan jika aku tak ada disini. Mungkin itu takkan sesakit saat kau menatapku Gē."
Bukannya langsung menjawab, Wang Yue nampak tak berniat membuka suaranya. Namun terlihat jelas kedua bibirnya bergetar tak beraturan, meski bibirnya terkatup rapat.
"Tidak. Jangan mengatakan itu, karena aku takkan mampu melakukannya. Kaulah kebahagiaan ku, kaulah nafas ku, kaulah kehidupan ku, dan kau lah tempat ku bersandar. Hanya kau lah,, tempat hatiku berlabuh.."
"Maaf,, jika aku menyakitimu Suamiku."
Xiao Lin perlahan membelai pipi sang suami dengan lembut. Menghapus setiap bulir-bulir embun yang masih menetes membasahi pipinya, dengan permintaan maaf yang tulus yang ia ucapkan pada sang suami.
Tanpa basa-basi Wang Yue meraih tubuh mungil istrinya, memeluknya seerat yang ia mau.
"Hiks,, tidak. Tidak. Jangan mengatakan itu padaku. Hiks,, kau sama sekali tidak menyakiti ku Istriku, hiks,, jangan mengatakannya lagi, hiks,, akulah yang harus meminta maaf padamu, hiks,, maafkan aku,, hiks,, maafkan aku,, maaf karena membuatmu menderita selama ini, hiks,,
__ADS_1
Maafkan aku,, hiks,hiks,, aku tahu, ribuan kata maaf yang ku ucapkan takkan bisa mengobati semua luka di hatimu. Hiks,, tetapi ku mohon,, maafkan aku,, hiks,, dan tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi. Hiks,,"
Dalam peluknya Wang Yue meluapkan segala perasaan yang ia rasakan, meski hanya kata maaf yang mampu ia ucapkan.
"Gē, apa yang kau katakan? Aku masih disini, masih Xiaoxiao mu yang dulu. Dan aku tidak pernah meninggalkan mu, aku selalu bersama mu sejak dulu.
Tolong jangan menangis dan meminta maaf padaku, itu terasa sangat menyakitkan untukku, melihat seseorang yang sangat ku cintai menangis." Ucap Xiao Lin dalam pelukan sang suami.
"Maaf.." Lanjutnya dalam hati.
"Sudah,, aku tidak akan membiarkan air mata jahat ini menodai wajah tampan Suami ku. Aku akan menghapusnya hingga tak tersisa, karena telah membuat Suami tampan ku ini menangis." Sambungnya dengan beberapa kali usapan pada pipi sang suami, yang di susul kecupan sayang pada kedua kelopak matanya.
Namun nampaknya itu membuat si empunya yang di kecup terdiam dengan mata memerah dan kali ini semakin banyak air mata berjatuhan membasahi kembali pipinya.
Hingga beberapa saat kemudian Wang Yue kembali merengkuh tubuh yang lebih mungil di hadapannya, tentunya tangis haru ikut serta meramaikan momen mengharukan itu.
Entah berapa lama mereka akan tetap dalam situasi dan posisi seperti itu, mereka nampak nyaman dalam peluk kasih kerinduan menyelimutinya.
Sementara satu pasangan tengah berpeluk rindu di dalam satu ruangan, satu pasangan lain beserta orang-orang yang bersamanya kini nampak tak lagi ramai seperti sebelumnya.
Masih dengan suasana serius, akan tetapi tak setegang sebelumnya. Mereka nampak asik dengan obrolan yang menghubungkan satu dengan lainnya, hingga tak menyadari keadaan dari dalam kamar lain lebih mengharukan.
Tidak ada yang tahu bahwa Xiao Lin telah sadar, ia bahkan telah mengingat sang suami dan tak merasa takut lagi berada di sampingnya.
Mungkin jika suara dari dalam kamar tersebut dapat terdengar jelas dari luar, mereka akan dengan mudah mengetahuinya.
Hanya saja,, itu sangat di sayangkan. Kamar tersebut cukup kedap suara, jadi jika keadaan dari luar bising,, itu tidak akan mampu mendengar suara dari dalam kamar tersebut.
Harus dalam keadaan senyap dan tenanglah, maka suara dari dalam kamar tersebut akan dengan mudah terdengar dari luar.
Lupakan mereka untuk sementara waktu, kita kembali pada pasangan Wang Yue dan Xiao Lin di dalam.
Dimana kini nampak ada sedikit gangguan dari si kecil yang mulai terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Si kecil yang melihat kedua orang tuanya berada disisinya, ia terlihat begitu gembira memeluk sang ibu yang telah sadarkan diri bersama sang ayah menemani di sisinya.
"Yi Maa.!! Yi Paa.!!" Serunya sembari memeluk keduanya.
"Yi Maa,,"
Kembali si kecil memanggil sang ibu, dengan melepas pelukannya dari sang ayah dan kembali memeluk erat sang ibu.
"Yi Maa,, syukurlah,, sekarang Yi Maa sadar.. A Yi bahagia,, a Yi mohon,, jangan tinggalkan a Yi lagi.. A Yi berjanji, akan menjadi anak baik, a Yi juga berjanji, akan menjaga Yi Maa untuk Yi Paa, tetapi a Yi mohon,, jangan tinggalkan a Yi dan Yi Paa lagi.." Pinta si kecil tanpa melepas pelukannya.
Ada tetesan embun yang membasahi pipinya, namun jelas sekali si kecil menahan tangisnya.
Meski sulit bagi si kecil untuk menahan, namun sebisa mungkin ia berusaha agar tak ada suara tangis dari bibirnya. Satu yang menjadi alasannya,, ialah sang ibu.
Ia tak ingin sang ibu tahu jika dirinya menangis, terlebih pada sang ayah. A Yi tak ingin ayahnya sedih jika melihatnya menangis.
Karena selama ini tanpa ayahnya tahu, ia selalu menyembunyikan kesedihannya dan tak ingin menunjukkan kelemahan dirinya pada sang ayah. Itu karena dirinya tak ingin menambah beban kesedihan sang ayah.
"Menangislah nak,, bersandarlah di bahu Mama. Lakukan itu untuk meringankan segala yang terpendam dalam hatimu, teruslah sandarkan kepalamu, dan menangislah saat hatimu tak mampu lagi menahan segala kepedihan yang kau rasakan. Mama disini, dan akan tetep bersamamu, Mama akan selalu ada untukmu.."
Tidak A Yi, ataupun Wang Yue. Tidak ada yang tahu apa yang Xiao Lin pikirkan saat ini. Karena meski itu iya ucapkan di dalam hatinya, itu takkan dapat terdengar oleh orang lain.
Xiao Lin masih terus memeluk sang anak dengan usapan lembut di punggungnya, Wang Yue mulai memberanikan diri memeluk keduanya. Merasakan kembali kehangatan yang telah cukup lama tak menemani harinya, kini saatnya akan terus bersamanya.
"Tuhan,, aku tak meminta hal lain selain kebersamaan ini. Yang ku inginkan hanya keluarga kecil ku ini kembali utuh, terima kasih telah mengembalikan apa yang telah menjadi milikku.
Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku, dan terima kasih telah mempercayai ku untuk menjaganya kembali."
Wang Yue semakin mengeratkan pelukannya, tak lupa kecupan-kecupan kecil terus ia berikan di puncak kepala kedua orang yang amat berharga dalam hidupnya.
"Terima kasih Tuhan,, telah memberikan ku keluarga yang amat mencintaiku.."
Pasangan suami-istri itu terus berbicara di dalam hatinya, tanpa satu dari mereka yang mengetahuinya.
__ADS_1