
~
Lain Wang Yue lain pula si kecil. Meski di waktu yang bersamaan ketiganya merasakan kesedihan yang sama,, namun kini situasi telah berubah.
Jika sang ayah kini masih di landa perasaan kacaunya, si kecil a Yi justru kini tengah berbahagia ria dengan sang ibu dan beberapa orang lainnya.
Setelah menggelengkan kepala dengan gumaman yang menandakan dirinya baik-baik saja, kini baik Xiao Lin atau yang lainnya nampak tengah bersenda gurau ria menikmati moment membahagiakan tak terkira di hati mereka masing-masing.
Seolah penderitaan yang telah mengusik kehidupan mereka selama ini, kini perlahan mulai hilang setelah mengetahui kebenaran yang selama ini membodohi diri mereka sendiri.
Seperti halnya dengan banyaknya dugaan-dugaan yang memenuhi isi kepala Xiao Lin saat ini. Membuatnya kembali perlahan mengingat kenangan-kenangan pahit di masa silam yang telah menghancurkan kehidupannya.
Meski bukan hal negatif yang memenuhi isi kepala nya, akan tetapi hal itu mampu membuat Xiao Lin tak habis pikir dengan kehidupan yang ia jalani selama ini. Yang ternyata membelenggunya dalam kepalsuan.
Namun meski demikian, Xiao Lin nyatanya kini mulai mampu mengendalikan diri dan emosinya sendiri, berbeda dengan sebelumnya yang penuh dikuasai dengan emosi dalam dirinya.
Kini semua orang di sekelilingnya dapat merasakan tawa bahagia di wajah Xiao Lin, serta semangat yang telah kembali memenuhi diri Xiao Lin setelah mengetahui putranya masih bersamanya.
Akan tetapi mereka tidak pernah tahu, bahwa di balik kebahagiaan yang Xiao Lin rasakan, tersimpan begitu besar ketakutan di hatinya.
Namun semua rasa takut itu Xiao Lin tepis, semua karna a Yi. Hanya untuk dan demi si buah hati.
Ia telah berjanji untuk tetap berjuang dan tetap berusaha semaksimal yang ia bisa demi melindungi malaikat kecilnya, jika suatu saat hal buruk datang menggangu nya kembali.
Hingga kini, mereka masih asik menikmati canda tawa yang sejak beberapa saat lalu mengelilingi mereka.
Namun sesaat, canda tawa mereka terhenti, ketika sebuah dering ponsel berbunyi terdengar nyaring, yang entah dari ponsel milik siapa. Mengalihkan perhatian mereka semua.
"Ah,, maaf.. Jiějiě tinggal dulu sebentar, kalian lanjut saja."
Lulu membuka suaranya, saat menyadari ponsel miliknya yang berdering.
"Tapi Jiě, kita sudah memesan beberapa menu makan malam. Kau tidak bisa pergi begitu saja.." Protes Cc.
__ADS_1
"Cc, Jiějiě hanya akan memeriksa seorang pasien saja, dia membutuhkan Jiějiě saat ini. Sebentar Jiějiě kembali." Jelasnya.
"Tapi bukankah ini sudah bukan jam kerjamu lagi Jiějiě? Mengapa kau harus pergi. Bukankah masih ada dokter lain yang menggantikan mu?" Kembali Cc memprotes.
"Cc,, tidak ada salahnya jika Jiějiě yang menangani pasien. Bukan masalah tentang ini masih jam kerja atau tidaknya, tetapi Jiějiě seorang dokter,, sudah kewajiban Jiejie untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Jiějiě janji, hanya sebentar saja. Setelah itu Jiějiě akan kembali lagi."
Skakmat. Cc tak lagi bisa membalas ucapan dokter cantik itu. Lulu tahu betul cara untuk membuat Cc bungkam dan hanya menghela nafas pasrah, serta mengiyakan apa yang dirinya katakan.
Ia tahu, jika sudah menyinggung tentang profesi, Cc takkan bisa mencegahnya, karena itu berkaitan dengan nyawa seseorang.
Meski sebenarnya dalam hal ini Lulu tidaklah sepenuhnya benar. Bagaimana tidak? Ia terpaksa harus berbohong pada orang-orang di dalam ruangan tersebut tentang alasannya untuk pergi.
~
"Jiě,,!"
Baru saja beberapa langkah meninggalkan ruangan a Yi, suara nyaring khas milik seseorang yang begitu ia kenali memanggilnya.
"Hahh,, Jiě. Aku mencarimu kemana-mana, rupanya Jiějiě ada disini.." Ucap seorang tersebut dengan nafas terengah akibat berlari.
"Binbin,, ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Tanya dokter cantik itu santai, pada seseorang yang tak lain adalah Lubin, sang Didi tercinta.
"Tidak. Hanya ingin menjemput Jiějiě saja, bukankah ini sudah lewat dari jam kerja Jiějiě hari ini? Juga,, seharusnya sekarang Jiějiě sudah pulang.." Jelasnya mengikuti langkah sang Jiějiě dengan santai.
"Masih ada beberapa urusan yang harus Jiějiě lakukan, lagi pula setelah ini tidak ada kesibukan lain setelah pulang, jadi lebih baik Jiějiě menyelesaikan urusan Jiějiě terlebih dulu disini."
"Jiě, apa Jiějiě tidak mengingat sesuatu? Aku rasa kau melupakannya."
Lubin mencoba menahan langkah sang Jiějiě, dan menarik tangan sang Jiějiě untuk menghentikan langkahnya.
"Sesuatu?? Ah,, Binbin, ini sangat penting dan maaf, Jiějiě harus pergi. Kita bahas ini nanti saja, kau lebih baik kembali saja nanti."
Dokter cantik itu melepaskan genggaman tangan Lubin dan kembali melangkahkan kakinya dengan terburu buru.
__ADS_1
Atau mungkin lebih tepatnya dokter cantik itu berlari di sepanjang koridor rumah sakit, mengabaikan sang Didi yang terlihat bak orang bodoh akibat tak bisa menahan dan menjelaskan perihal kedatangan nya.
Namun beberapa detik kemudian ia kembali melangkahkan kakinya, mengikuti langkah sang Jiějiě yang berada lebih jauh di depannya. Hingga langkahnya terhenti saat mendapati sang Jiějiě memasuki ruangan tepat di hadapannya.
Perlahan Lubin melangkah kakinya mengikuti sang Jiějiě memasuki ruangan tersebut tanpa ragu.
"Jiě,, syukurlah kau datang."
"A Cheng,, ada apa? Mengapa kau terlihat panik? Jiějiě datang karena kau mengatakan hal yang genting, jadi Jiějiě segera menemui mu." Ujar Lulu yang juga panik melihat ekspresi wajah Zi Cheng yang sebelumnya mengubungi dokter cantik itu.
Gadis itulah yang menjadi alasan Lulu pergi.
"Jiě, Gēgē memaksa untuk bertemu dengan Lin Jiějiě. Aku tidak tahu bagaimana mencegahnya, dia bersikeras meminta ku untuk membawanya menemuinya. Jiě,, Jiějiě tahu bukan? Gēgē baru saja pulih, aku hanya takut jika nanti terjadi sesuatu padanya.
Juga,,
Lin Jiějiě. Yang terjadi saat ini adalah hal baru untuk nya, Jiějiě bahkan baru saja membuka diri dari masa lalunya yang membelenggunya selama ini."
Zi Cheng terlalu panik,, ia bahkan tak dapat berbicara dengan benar saat ini.
"Dia,,, jika nanti mereka bertemu, bagaimana dengan Jiějiě nanti? Apa yang akan terjadi padanya? Aku,, aku takut trauma yang menimpa Lin Jiějiě selama ini kembali, dan aku tidak ingin itu terjadi Jiě, apa yang harus ku lakukan??"
"A Cheng,, tenanglah.. Biarkan Jiějiě masuk dan menemuinya, Jiějiě akan coba untuk berbicara dengannya."
Lulu mencoba menenangkan Zi Cheng yang panik.
Tak ingin membuang waktu, Lulu melangkahkan kakinya memasuki pintu ruangan lain di dalam ruangan tersebut untuk menemui seseorang yang Zi Cheng maksud.
Sementara Zi Cheng mengikutinya di belakang. Hal itu tak luput dari pandangan Lubin yang sedari tadi hanya diam di belakang keduanya.
Pemuda tampan itu tak mau tertinggal untuk mengetahui sesuatu yang di sebut urusan sang Jiějiě.
Tentu bukan karena ingin mencampuri urusan sang Jiějiě, hanya saja ia merasa khawatir pada sang Jiějiě yang bertingkah aneh menurutnya.
__ADS_1