Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
85


__ADS_3

Pak tua Ji yang semakin merasa tak tahan melihat gadis kecil kesayangannya yang semakin larut dalam kesedihannya, kini membawanya ke dalam pelukannya.


"Ayah,, apa yang harus ku lakukan sekarang? Hiks,, bagaimana caranya agar aku dapat menyelamatkan nyawanya Ayah?? Hiks,,hiks,,hiks,, bukankah Ayah pandai dalam hal ini?? Hiks,, bisakah Ayah selamatkan Han Gē??" Isak gadis itu dalam pelukan sang ayah.


"Nak,, tenanglah.. Ayah berjanji, sebisa mungkin Ayah lakukan. Sudah,, waktu menangis mu sudah selesai. Sekarang hapus air matamu dan tenangkan dirimu. Ayah janji akan menemukan cara agar bisa menyembuhkan Xiao'er."


Dalam usahanya yang menahan agar dirinya tak serta ikut menangis, pak tua Ji itu berusaha sebisa mungkin menenangkan sang putri. Meski ia sendiri tak yakin dengan keputusannya, akan tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini. Yaitu membuat putri kecil kesayangannya berhenti bersedih.


Keduanya terus larut dalam suasana haru, seakan lupa bahwa tidak hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.


Hingga tak menyadari perubahan di wajah salah satu di antara mereka yang masih setia mendengarkannya.


"Suamiku,, apa aku tak salah mendengarnya? Paman dan gadis kecil itu menyebut nama Xiao'er dan Han.." Ucap Yifei yang kini membuka suaranya.


Sejenak ia menatap si empunya yang ia tanyai.


"Istriku,,,"


"Suamiku, apa yang mereka maksud adalah Xiao Han, Xiao Gu Han putra Paman Xiao?"


Wen tak dapat melanjutkan kalimatnya saat Yifei lebih dulu menyela, wanita cantik yang berstatus sebagai istrinya itu pun seolah tak mau memberinya kesempatan untuk berbicara.


"Gē,, tolong katakan yang sejujurnya padaku. Aku mohon,, jangan lagi ada yang kau tutupi dariku."


Wen terdiam memandang tatapan terluka sang istri yang menuntut penjelasan darinya.


"Baiklah,, jika kau memilih diam. Maka lanjutkanlah."


Wanita cantik itu mengangguk seraya kalimat terakhirnya terucap. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya tanpa kata.


Sementara Wen di belakang sana yang masih terpaku dengan suasana, seakan tersadar dari lamunannya saat gadis kecil keluarga Ji itu bersuara.


"Jiějiě, aku akan mengantarmu." Ucapnya dengar suara serak.


"Ayah, aku akan menemuinya. Paman tua, maaf,, aku akan memberitahukan semua padanya."


Gadis itu pun melangkah dengan cepat menyusul Yifei di depan usai membungkukkan badannya seraya meminta maaf pada Wen.


Keduanya pergi, meninggalkan Wen yang benar benar bungkam tanpa suara.


"Jiějiě, lewat sini."

__ADS_1


A Xiang berjalan sedikit lebih cepat di banding Yifei yang masih setia mengikutinya.


Hingga sampailah mereka di depan sebuah ruangan, a Xiang menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan memegang kedua tangan yang lebih dewasa darinya.


"Jiě,, berjanjilah padaku untuk tetap tenang setelah melihatnya."


Tak ada jawaban dari Yifei. Emosi dalam dirinya tak menentu, hatinya tak tenang sejak saat dirinya tiba di tempat itu.


"Jiějiě,, jika benar seseorang di dalam sana adalah orang yang Jiějiě kenal, aku berjanji akan mengatakan apapun yang ingin Jiějiě ketahui asal Jiějiě berjanji untuk tetap mengendalikan diri saat melihatnya."


Yifei memandang lekat wajah mungil itu, ia tak tahu bagaimana mengatakannya.


Meskipun dirinya merasakan kekacauan di hatinya,, namun melihat wajah terluka gadis kecil di hadapannya itu membuatnya tahu, bahwa dibanding dirinya, a Xiang lah yang jauh lebih kacau.


"Baiklah, Jiějiě akan berusaha. Jadi, berhentilah membuat wajah itu di hadapanku,,"


Ada sedikit senyum yang Yifei pamerkan, hanya untuk sedikit melepas ketegangan di wajah gadis di hadapannya itu.


A Xiang pun mengajaknya untuk memasuki ruangan tersebut. Dengan langkah berat, Yifei mengikuti gadis itu, dengan harapan besar di dalam hatinya agar seseorang itu adalah orang yang sama seperti dugaannya.


"Hiks,,"


Terpampang jelas, tubuh pesakitan yang jauh lebih memprihatinkan di banding ketiga saudaranya yang lain.


"Xiao'er,, hiks,,"


A Xiang membantu menopang tubuh wanita cantik itu yang kembali meneteskan air matanya.


"Xiao'er,, apa yang terjadi denganmu? Hiks,, mengapa begitu banyak,,"


"Jiějiě,, tenangkan dirimu.." Ucapnya lirih. Memutus kalimat gumaman wanita yang lebih tua darinya.


"Hiks,, a Xiang,, tolong ijinkan Jiějiě melihatnya. Hiks,,"


"Jiějiě, maafkan aku,, aku tidak bisa membawamu menemuinya lebih dekat."


"Mengapa? Hiks,,"


Gadis itu terdiam. Ia sedikit menurunkan pandangannya.


"Aku pun ingin selalu berada di sampingnya. Tetapi,, kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk berada satu ruangan bersamanya."

__ADS_1


"A Xiang,, apa yang sebenarnya Xiao'er alami?"


Gadis itu pun mengangguk pelan. Ia memandang wajah cantik di hadapannya yang tampak masih sangat bersedih itu.


"Han Gē,, ia terluka saat peristiwa itu."


Ada jeda di kalimatnya.


"Meski lukanya tak parah, tetapi kemungkinan besar kondisinya tidak baik baik saja. Meskipun selamat, hidupnya akan cacat seumur hidup."


"Mengapa? Bukankah lukanya tak parah? Lalu mengapa Xiao'er seperti ini?"


Yifei seolah tak terima dengan jawaban gadis itu, ia sedikit terbawa emosi.


"Yang melukai Gēgē bukanlah luka di tubuhnya, melainkan racun yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Semua obat, bahkan penanganan yang kami berikan hanya membantu mencegah racunnya sementara saja. Takutnya,,, Gēgē bahkan tak tertolong."


Genangan air kembali memenuhi setiap sudut matanya.


"Dengan kondisi seperti ini, bahkan Ayah saja menyerah." Pungkasnya dengan lemas.


"I,, ini tidak mungkin kan? A Xiang,, kau,, bukankah kau seorang dokter? Dan,, bukankah keluargamu semua berprofesi dalam hal ini?


Bukankah itu keahlian kalian untuk menyembuhkan orang lain? Lalu mengapa? Mengapa kau mengatakan hal itu? Bukankah kau mencintainya? Hiks,, apakah masih ada cara untuk menyelamatkannya?"


"Jiějiě,, maafkan aku.. Hiks,,"


Tubuh Yifei limbung membentur dinding kaca itu mendengar jawaban gadis di hadapannya.


"Aku sangat mencintainya,, saaangat sangaat mencintainya. Bahkan jika saja harus bertukar nyawa, akan ku lakukan. Asalkan Gēgē selamat. Tapi Jiějiě, bisakah kau katakan bagaimana caraku untuk melakukannya?"


Yifei melebarkan matanya saat menyadari ia telah salah berbicara. Bagaimana mungkin ia lupa bahwa gadis di hadapannya adalah orang yang paling terluka di banding dengannya?


"Maafkan Jiějiě, a Xiang. Jiějiě tidak bermaksud,,"


"Tak apa Jiě,, memang benar. Jika dulu aku pernah merasa bangga dengan diriku sendiri ketika aku dapat menyelamatkan nyawa orang lain, tapi,,, sekarang aku bahkan merasa aku adalah orang yang paling tak berguna.


Saat nyawa orang lain saja bisa ku selamatkan, mengapa justru aku tak bisa berbuat apa apa untuknya? Hiks,, maafkan aku Jiějiě,, maaf.. Aku memang tak berguna,, hiks.."


"Tidak a Xiang,, hiks,, tidak. Jiějiě tidak bermaksud, maafkan Jiějiě, maaf telah melukai perasaanmu."


Keduanya larut dalam dunia mereka. Tanpa menyadari seseorang di dalam sana ikut menitihkan air matanya dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2