Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
18


__ADS_3

"Hiks,, maafkan Hao'er Ibu, hiks,, maafkan Hao'er yang terlambat menemui mu, hiks,hiks,, maaf,, hiks,, maafkan Hao'er,, hiks,, yang sangat tidak berguna disaat kau membutuhkan bantuan. Hiks,,"


Haoxuan masih menangis meraung di pelukan sang Jiějiě yang ia anggap sebagai pengganti Ibu ke 2 baginya.


"Mn. Ibu tak pernah menyalahkan Hao'er, mengetahui kau selamat dan baik-baik saja membuat Ibu sangat bahagia.


Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu seperti ini, karena Ibu akan lebih dan lebih,,, bahagia, jika kau bisa tetap menjalani kehidupan mu dengan bebas tanpa menyakiti orang lain. Terlebih pada dirimu sendiri.."


Tutur Xiao Lin dengan lembut dan senyum mengembang di setiap kalimat nya.


Wang Hao termenung, ia ingat dan sangat mengingatnya.


"Ucapan itu,, kalimat itu,, dan bahkan tutur katanya, masih sama seperti dulu.. Hiks,, kau masih tidak berubah Ibu,, hiks,, kau memang seperti itu,, hiks,,"


"Dìdì, apa kau masih mengingatnya??"


Yang di tanya mengangguk pelan, ingatannya kembali pada masa puluhan tahun silam, beberapa adegan muncul dalam ingatan nya, saat sebelum semua hancur dan menghilang dari hidupnya.


~


"Xiao Hao, apa kau ingin terus bersembunyi? Apa kau juga ingin menjauhi Jiějiě hm.? Jiějiě mohon, jangan lakukan hal itu.


Kau tahu? Kau sangat berharga bagi Jiějiě, Jiějiě sangat menyayangi mu, jika kau menjauh dari Jiějiě dan tak mau bersama Jiějiě lagi, Jiějiě,,, tidak akan berarti apa-apa.."


"Xiao_Jiějiě, Xiao,Jiějiě,, ma,maaf.. Membuat Jiějiě bersedih.."


"Anak baik.. Kemarilah,, mendekat pada Jiějiě. Ah,,, anak pintar..


Nah sekarang, Xiao Dìdì dengarkan apa yang Jiějiě katakan.


Apapun yang terjadi,, Xiao Dìdì akan tetap bersama Jiějiě, menjadi bagian dari kehidupan Jiějiě, apapun yang terjadi Xiao Dìdì adalah Dìdì kesayangan Jiějiě. Jadi jangan berpikir untuk pergi dari Jiějiě mengerti?"


"Mn. Mengerti."


"Bagus, anak pintar.. Dan,, ingatlah. Meskipun Ayah dan Ibu telah pergi meninggalkan kita, sampai kapanpun, kita adalah keluarga. Selamanya, tidak akan ada yang berubah."


"Maaf,,"


"Apa yang harus Jiějiě maafkan dari anak semanis dirimu, hm?"


"Hao_"

__ADS_1


"Bukan salah anak sebaik dirimu, lagi pula,, itu sudah menjadi takdir yang tidak bisa dirubah. Mereka telah berada di surga, tuhan akan menjaga mereka dengan baik. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."


"Hiks,, maaf.. Hao_hao janji, hiks,, jika besar nanti akan menjaga Jiějiě dengan baik. Hiks,,hiks,, dan Haohao janji, siapapun yang menyakiti Jiějiě, hiks,, Haohao pastikan mereka akan merasakan balasan,, 1000 kali lipat lebih menyakitkan dari yang telah mereka lakukan. Hiks,,"


"Bodoh.! Apa yang kau katakan. Itu tak pantas di ucapkan oleh anak sekecil dirimu nak. Kau harusnya belajar dengan giat, bukan memikirkan hal seperti itu. Sekarang istirahatlah, jangan memaksakan dirimu."


"Tapi Jiě, Hao_hao akan menepati nya.."


"Hahh,,! Nak. Tidak baik menyimpan amarah mendalam di dalam hati mu, apa lagi kau masih sangat kecil. Jika itu tertanam sejak saat ini, kelak saat dewasa kau takkan dapat mengendalikan nya.


Jangan biarkan kebencian bersemayam dalam hatimu, karna itu akan membuat hidupmu tidak tenang, atau bahkan bisa menghancurkan masa depanmu.


Jadi lupakanlah, jangan membenci apapun atau siapapun, dan jangan menyalahkan apapun bahkan siapapun, termasuk dirimu sendiri.


Jalani lah kehidupan mu sesuai dengan keinginan mu, namun jangan lupakan kebaikan di dalam hati. Tanamkan kejujuran dalam hatimu, hiduplah dengan bebas, tanpa membebani hati. Juga tidak menyakiti orang lain. Berjanjilah.."


"Mn. Haohao janji."


~


Alam sadarnya kembali setelah beberapa saat ia termenung.


Nafas Wang Hao semakin tersendat, saat merasakan sentuhan lembut kulit tangan sang Jiějiě di pipinya. Sentuhan kasih sayang yang selama ini ia rindukan, sentuhan lembut yang telah lama terenggut darinya.


Xiao Lin tak henti menghapus air mata yang terus mengalir dari sudut mata Wang Hao.


"Selama ini hidupmu telah menderita karena kebodohan ku, hiks,, jika saja dulu Ayah dan Ibu tidak merawat ku dan juga tidak memberikan nama mereka untuk ku, mungkin semua penderitaan yang kalian alami selama ini tidak akan pernah terjadi.


Hiks,, mungkin mereka tidak akan pernah menyakiti kalian, hiks,, mungkin Ayah dan Ibu tua masih akan bersamamu Ibu. Hiks,, semua ini memang salah ku,, hiks,, apa kau masih bisa menerima semua ini? Sedangkan semua yang terjadi menimpa keluarga mu adalah aku, aku penyebabnya Ibu.!! Hiks,, aku,, dan hanya aku yang bersalah. Hiks,,


Mengapa kalian masih bisa berbaik hati padaku,, bahkan mengorbankan nyawa kalian hanya demi menjaga ku. Hiks,, mengapa kalian tidak membenciku selama ini,, mengapa Ibu,?? Hiks"


Diam, tidak ada sepatah kata yang Xiao Lin ucapkan saat ini, sementara mata emasnya kembali meneteskan air membasahi pipinya.


Wang Hao menatap manik emas milik Xiao Lin. 'Lembut' itulah yang ada dalam pikiran Wang Hao, dan tidak ada yang berubah dari tatapan matanya saat memandang dirinya.


Xiao Lin memang penuh dengan kelembutan, bukan hanya tatapan nya, tapi juga hatinya. Hati yang benar-benar lembut, tanpa memiliki kejelekan atau keburukan di dalamnya. Itulah sebab mengapa ia selalu ingin melindungi Xiao Lin.


Karena sebagai orang yang begitu mulia, ia tak pantas menerima keburukan orang lain (kejahatan). Dan sebab itu pula Wang Hao sangat menghormati Xiao Lin, hingga menganggapnya sebagai Ibu kedua setelah mendiang Ibu Xiao Lin meninggal.


°

__ADS_1


~


Di lain tempat, di waktu yang bersamaan. Nampak seorang laki-laki terdiam dalam kesendirian nya.


"Ahk. Mengapa perasaan ku,,," Ucapnya dalam hati.


Ada guratan kebingungan di wajah lelaki tampan tersebut.


Entah apa yang saat ini tengah mengganggu pikirannya, ia terlihat begitu fokus dalam lamunannya.


"Xiao_xiao.." Gumamnya, menyebut satu nama dengan pelan dan terbata setelah sadar dari lamunannya.


"Mengapa hatiku begitu tak tenang, tidak biasanya seperti ini,"


Ya. Dialah Wang Yue. Lelaki tampan yang begitu sibuk dengan lamunannya, ia menggelengkan kepalanya mencoba mengusir hal yang menggangu pikirannya.


"Bahkan di saat seperti ini saja,, hanya kau yang selalu hadir dalam pandangan ku. Apa kau merindukan lelakimu ini hm? Mengapa kau selalu datang menemui ku jika kau saja meninggalkan ku."


Pandangan Wang Yue menyendu, jika saja ia bukan seorang lelaki dewasa yang memiliki wibawa tinggi, mungkin saat ini ia sudah menangis meraung di dalam ruangan kantornya.


"Bahkan meski ku tahu itu hanyalah ilusi ku saja, tetapi aku tak mampu meyakinkan diriku jika kau telah tiada.


Bukan aku tidak menerima kenyataan ini,, tetapi hati ku tidak bisa menahan apa yang membuat hatiku yakin, jika apa yang telah menjadi miliknya masih bersamanya.."


Tes..


Tes...


Tes....


Tetesan demi tetesan mulai berjatuhan dari mata elangnya. Sungguh,, jika dia seorang perempuan, sudah tentu tangisnya akan terdengar jika ada seseorang di sisinya, meski hanya isakkan saja.


"Tidak. Tidak.! Mungkin aku hanya terlalu memikirkan mu saja, itu yang membuat ku selalu merasa kau berada disisi ku. Maafkan aku, maaf karena telah membuat mu tak nyaman di sana. Mungkin sebaiknya aku kembali melanjutkan pekerjaan ku, agar aku tak berhalusinasi tentang mu lagi..


Istirahatlah sayang, istirahat lah dengan tenang disisinya. Aku mencintaimu istriku, saanggatt mencintaimu. Cepatlah kembali bersama ku juga putra kecil kita, Xiaoxiao.."


Sebisa mungkin ia mencoba mengabaikan suasana haru di hatinya, meski nyatanya, itu gagal. Dan hatinya merasa lebih tak nyaman, merasakan sesuatu tak biasa yang saat ini menghampirinya.


Terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri, membuat Wang Yue tak menyadari seseorang telah mengintainya diam-diam. Mengincar, dan telah memata-matainya sejauh yang tak ia sadari.


°

__ADS_1


~


__ADS_2