Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
84


__ADS_3

Kini ke lima orang berbeda gender dan usia itu pun di hadapkan dengan setumpuk penuh makanan di atas meja yang sebelumnya a Xiang siapkan. Meski salah satu di antara mereka terpisah di tempatnya sendiri.


"Ekhemm.! Apa hanya aku yang merasa lapar melihat semua makanan ini?"


Yang lebih tua membuka suara, memecah keheningan yang terjadi saat ini.


"Ah,, rupanya memang hanya aku yang memiliki selera makan bagus disini. Baiklah baiklah,, jika tak ada yang ingin menemaniku makan, maka jangan menyentuhnya. Jadi jangan salahkan pak tua ini nanti jika membuat kalian harus kelaparan karena telah menghabiskan semua makanan ini sendiri.


Dan jangan salahkan pak tua ini nanti jika tak bisa mengontrol keadaan mereka karena terlalu banyak makan, dan terpaksa harus menunda untuk membawa kalian bertemu dengan saudara Shen nantinya.!"


Ocehnya lagi tanpa melirik anak anak muda di sekelilingnya yang kini mulai mengerutkan keningnya usai mendengar kalimatnya.


"P,paman,, apa yang Paman katakan barusan?" Kuan meresponnya lebih dulu di seberang.


"Maksud Paman,, Paman akan membawa kami bertemu dengan Paman Shen, Ayah dari,,"


"Heyy,, apa yang kau pikirkan anak muda? Tentu saja Ayah dari mereka. Kau pikir yang bermarga Shen itu siapa lagi selain Pamanmu?"


Tuan Ji dengan antusias memutus kalimat Yifei yang kini terlihat berbinar mendengarnya.


Yifei sendiri hanya mengikuti arah telunjuk yang lebih tua yang tertuju pada Kuan di seberangnya.


"Syukurlah,, terima kasih Paman.." Ucapnya tanpa melepas senyum lembutnya.


"Eeh,,, jangan berterima kasih padaku. Semua berkat kerja keras kalian. Cepatlah,, sekarang makan makanan kalian sebelum dingin."


"Mn. Terima kasih.." Ucap Yifei seraya menerima semangkuk berisi makanan yang tuan Ji berikan padanya.


Namun baru saja akan menyantap makanan itu, keempat orang tersebut menoleh secara bersamaan saat Kuan yang entah sejak kapan beranjak dari tempat tidurnya.


Dengan tubuh yang masih tidak stabil, ia memaksakan diri untuk berjalan.

__ADS_1


"Kuan, apa yang kau lakukan.! Mengapa tak bisa diam di tempat.!" Kesal Wen yang seketika berlari mendekati si empunya, dan dengan sigap membantunya berjalan.


"Bisakah aku bergabung bersama kalian? Aku merasa sepi untuk makan sendiri disana." Tuturnya dengan langkah perlahan mendekati meja ke empat orang itu.


"Kau masih harus memulihkan tenaga. Mengapa begitu ceroboh melakukannya sendiri. Tidak bisakah kau memanggilku untuk membantumu!"


"Sudah sudah.. Tidak apa,, ah, Kuan,, mari duduk."


Yifei menggeleng seraya kalimatnya terucap. Ada sesuatu menggelitik hatinya kala melihat tingkah sang suami yang tampak begitu mengkhawatirkan saudaranya itu.


"Kuan,, jangan di ambil hati ucapan Wen Gē tadi, dia hanya terlalu khawatir padamu. Nah,, makan ini.." Lanjutnya sembari menyodorkan makanan pada si empunya


"Mn. Terima kasih No,,,"


"Fei Jiějiě.!" Tegasnya memotong kalimat Kuan.


"F,fei,, J,jiě_jiě." Ulang yang lebih muda dengan terbata.


Yang lebih muda hanya menanggapi dengan anggukan lemah. Sementara yang lainnya hanya menyaksikan adegan itu dengan senyuman.


"Baiklah,, sekarang lanjutkan makan. Simpan perdebatan kalian untuk nanti." Putus tuan Ji yang di anggukki si empunya yang berdebat.


Namun saat tengah asik menyantap makanannya, ia menyadari salah satu di antara sama sekali tidak menyentuh makanannya.


"Jika merasa tak tenang, maka harus menjaganya dengan baik. Lakukan sesuai batas kemampuan mu, jika kau masih mampu, maka jangan pernah menyerah. Tetapi jika kau merasa telah mencapai batasmu, maka jangan putus asa atas segala usaha yang telah kau lakukan."


Si empunya melirik dengan terkejut mendengar pak tua itu berceloteh. Sementara ketiga lainnya yang asik menyantap makanannya, pun kini menoleh secara bersamaan saat mendengarnya.


"Nak,, Ayah tahu apa yang kau rasakan saat ini. Tatapi dengan kau terus memikirkan hal yang tak berguna itu hanya akan menambah beban saja di hatimu. Bukankah kau lebih tahu tentang keadaannya?"


Yang di tanya mengangguk dan menundukkan pandangan.

__ADS_1


"Ayah,, bisakah aku menerimanya? Disaat aku merasa tidak akan pernah siap dengan apapun yang terjadi padanya.."


Tuan Ji meletakkan benda yang sejak sebelumnya ia pegang. Ia memutar tubuhnya agar menghadap pada sang putri tercintanya yang sejak sebelumnya terus menjadi pusat perhatiannya.


Meski dirinya seakan bersikap cuek, atau mengabaikan putrinya, namun sebenarnya dirinya hanya tak ingin terus merasa kasihan melihat putri tersayangnya itu bersedih. Jadi ia mengalihkan perhatiannya pada ketiga orang lainnya.


Namun semakin dirinya mengabaikannya, semakin besar pula perasaan kasihan yang ia tahan.


Di genggamnya jemari mungil milik putrinya itu yang kini telah siap untuk meluncurkan genangan air di sudut matanya.


"Nak,, bukankah kau mencintainya?"


Yang di tanya mengangguk antusias. "Tapi bagaimana bisa aku menghadapinya,,?"


"Nak,, jika kau sungguh sungguh mencintainya, apapun yang terjadi,, kau harus tetap menerimanya. Cinta bukan hanya tentang perasaan suka terhadapnya, tetapi juga harus dengan persiapan. Ayah yakin, perasaanmu padanya sangat nyata.


Tetapi kau juga harus bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa apapun yang akan terjadi nanti, kau akan siap menerimanya dan bisa menjalaninya tanpa beban di hatimu. Tetaplah seperti ini, tetap bersamanya, tinggallah disisinya, cukup pikirkan tetang bagaimana caramu untuk membuktikan kesungguhan mu padanya."


"Hiks,, Ayah,, aku tak sanggup jika harus kehilangannya.. Hiks,, apa yang harus ku lakukan Ayah? Hiks,, membayangkan hidupku tanpanya membuatku tak berdaya. Hiks,, bagaimana aku akan menjalani hidupku kedepannya jika dia benar benar pergi dari hidupku Ayah??


Hiks,,, Ayah,, aku tak ingin hal lain dalam hidupku,, asal bisa selalu bersamanya saja itu sudah cukup. Aku hanya ingin dia menemani hariku,, hingga menua bersama.. Hiks,, apa tak bisa Ayah?"


Meski terasa sakit melihat sang putri menangis dengan begitu terlukanya, namun pak tua Ji itu tak berniat menghentikannya.


Ia tahu betapa tertekannya sang putri yang selalu menyalahkan dirinya karena tak bisa berbuat banyak hal untuk menyelamatkan sang kekasih. Jadi ia hanya mendengarkan keluh kesah putrinya, harap harap bisa membuat beban pikirannya jauh lebih ringan.


Kuan sendiri dapat memahami situasi di hadapannya saat ini, sedikitnya ia tahu tentang hal yang membuat gadis itu seperti saat ini.


Terlebih untuk Wen, ia jelas mengenal siapa si empunya yang tengah sepasang ayah dan anak itu bicarakan. Namun ia enggan ikut campur, ia justru sibuk berpikir akan reaksi sang istri jika saja ia mengetahui siapa yang mereka bicarakan.


Berbeda dengan Wen, Yifei sendiri meski ia dapat mengerti perasaan gadis muda di hadapannya itu, namun ia tak tahu siapa yang menjadi topik pembicaraan. Dan itu cukup membuatnya penasaran.

__ADS_1


Ada rasa prihatin memandang a Xiang yang terdengar putus asa dengan keadaan sang kekasih yang masih tak jelas baginya, namun ada juga perasaan kagum pada gadis itu yang terlihat sangat mencintai kekasih hatinya.


__ADS_2