
Usai melepaskan pelukannya, Kuan membawa gadis manis yang telah menjadi kekasihnya itu untuk duduk disisinya.
Hingga kemudian, ia mulai menceritakan tentang kisah kehidupannya.
"Sejak kecil, Ayah tidak begitu menyukai ku. Namun Ayah masih merawat dan membesarkan ku juga memberikan semua fasilitas yang memadai untuk ku.
Ayah mengajarkan ku bagaimana kerasnya kehidupan, menjadikan ku seorang yang begitu mampu melakukan apapun untuknya. Serta satu-satunya yang layak untuk Ayah percayai."
Ada jeda dalam ucapannya, hanya untuk memamerkan senyum pada sang kekasih yang nampak serius menyimak setiap kalimat yang ia katakan.
"Sampai pada akhirnya,, kisah baru dalam kehidupan ku di mulai,, dimana aku dan Yuan'er bertemu,, di saat bersamaan, aku mengetahui bahwa dia adalah Dìdì ku.
Orang yang akan menjadi satu-satunya penerus perusahaan Shen, yang harus ku jaga dan ku lindungi dengan sepenuh ragaku."
"Hah??"
Layaknya hembusan nafas yang terbuang kasar, itulah yang terdengar dari mulut Zi Cheng di sertai gelengan kepalanya.
"Sejak awal pertemuan ku dengan Yuan'er memang kurang baik. Sama seperti Ayah yang tidak menyukai ku, Yuan'er juga tidak menyukai kehadiran ku."
Kilas bayangan di masa kecil muncul dalam ingatan Kuan, dimana saat pertama kali ia bertemu dengan sang Dìdì tercinta yang begitu membencinya.
"Ayah,, kemana kita akan pergi?"
"Kita akan kembali ke rumah."
"Tapi baru saja kita keluar rumah, mengapa kembali lagi? Apa ada rumah yang lain Ayah? Mengapa jalannya berbeda dengan rumah kami? Ini bukan jalan menuju rumah.."
"Kau akan tahu setelah kita sampai."
"Apa kita akan berpindah rumah Ayah?"
"Tidak."
Lamunan Kuan terhenti, ia kembali memandang sang kekasih disisinya.
"Ayah.. Yeyy.!! Ayah pulang..!!"
"Hallo nak,, bagaimana harimu, apa menyenangkan?"
"Membosankan.! A Yuan rindu Ayah.."
"Ayah juga sangat merindukan mu nak. Ah,, tunggu sebentar. Kuan, keluarlah."
"Ayah,, siapa dia?"
"Nak,, dia adalah Shen KuanYu. Dia adalah Gēgē mu, panggil dia Gēgē. Dan kau Kuan, ketahuilah,, dia adalah Shen Yuan Yue, putra ku. Kau harus menjaga dan melindunginya sepenuh hatimu, karena dia adalah Dìdì mu."
"Tapi Ayah, aku tidak memiliki seorang Dìdì."
__ADS_1
"Tidak.!! Dia bukan Gēgē.!! Aku adalah anak tunggal.! Aku tidak memiliki seorang Gēgē.!! Jangan pernah berharap aku akan menganggap mu Gēgē.! Karena kau bukan Gēgē ku.!!"
"A Yuan.! Tunggu, jangan pergi."
"Biarkan saja,, aku akan mengurusnya. Kau pergilah beristirahat, kau pasti lelah."
"Terima kasih Istriku, tolong urus anak nakal itu, aku akan kembali ke kamarku."
"Dan kau, ikutlah dengan ku. Akan ku tunjukkan dimana kamarmu."
Merasakan sentuhan lembut di tangannya, Kuan kembali ke alam sadarnya. Dapat dilihatnya sang kekasih tengah memandang khawatir pada dirinya.
"Gē, ada apa? Kau hanya melamun sejak tadi, apa kau sakit? Jika begitu mari kita akhiri saja, jangan lagi mengatakan apapun. Aku tidak ingin kesehatan mu terganggu."
Si empunya menggeleng, di usapnya pipi sang kekasih yang membuatnya merasa gemas.
"Jika ku ingat, sifatmu yang dulu begitu mirip dengan Yuan'er. Begitu keras kepala, hanya saja,, Yuan'er bukan tipe orang yang mudah di dekati. Butuh seseorang yang benar-benar mampu menggerakkan hatinya, yang bisa membuatnya luluh."
"Hahh,,, apapun itu, terserah saja. Tapi jangan samakan aku dengan orang aneh itu. Dia benar-benar membuat ku kesal.!" Ucap Zi Cheng yang tak terima dirinya di samakan dengan Wang Yue.
"Jika saja waktu itu dapat kembali, dan berputar sedikit lebih lama,,"
Kuan menggantung ucapannya, pandangannya terarah pada pintu di hadapannya dimana sang Dìdì menyembunyikan diri di balik pintu ruangan itu.
"Mungkin akan ada sedikit waktu untuk ku menjelaskan semua padanya, atau mungkin akan ada pilihan lain bagiku untuk tidak pernah hadir dalam kehidupannya." Lanjutnya dengan pandangan sendu.
Satu tetes embun terjatuh membasahi pipi Kuan, hingga tetesan demi tetesan silih berganti kembali membasahi pipinya.
"Gē,,"
"Kau tahu Chengcheng,,? Aku sangat menyayangi Yuan'er, bahkan meski dia tidak pernah menyukai ku. Aku benar-benar ingin berada di sisinya, menjaganya, melindunginya, meski dia sangat membenciku.
Aku sungguh ingin menjadi seseorang yang selalu bisa memahaminya, aku tidak menginginkan apapun, bahkan harta. Aku sungguh tidak peduli dengan apa yang Ayah miliki, bagiku bisa memiliki seorang Yuan'er dalam hidupku sudah cukup."
Zi Cheng beberapa kali menghapus air mata di sudut mata sang kekasih, hatinya ikut merasakan kesedihan yang begitu besar dari sorot mata sang pujaan hatinya itu.
"Ibuku telah tiada sejak usiaku masih kecil tanpa ku tahu apa sebab kematiannya. Bahkan saat itu aku masih tidak mengenali siapa Ayahku, aku tidak memiliki sanak saudara yang bisa ku mintai pertolongan kala itu, jadi tinggallah aku sendiri tanpa adanya keluarga.
Meski tak lama kemudian aku mengetahui siapa sebenarnya Ayahku, tetapi sedikitpun aku tidak berniat mencarinya.
Sampai pada akhirnya, Ayah datang dan mengetahui Ibu telah tiada, kemudian Ayah pergi tanpa sepatah katapun yang ia ucapkan. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku melihat sosok Ayah yang selalu ingin ku temui."
"Maksudmu,, Ayahmu pergi begitu saja tanpa mempedulikan mu? Apa dia gila.! Aku rasa Ayahmu benar-benar tidak memiliki hati.!!"
Zi Cheng yang begitu marah mendengar penuturan Haikuan, meluapkan kekesalannya tanpa peduli dengan apa yang ia ucapkan.
"Euu,, ma_maafkan aku Gē. Bukan maksudku untuk mengatakan hal buruk pada Ayahmu. Hanya saja,, aku merasa kesal mengetahui dia telah mencampakkan mu dulu." Jelasnya saat menyadari jika ucapannya salah.
Kuan tersenyum menanggapi permintaan maaf sang kekasih.
__ADS_1
"Heumhh.. Jangan membuat wajah seperti itu,, kau terlihat seperti anak kucing kehilangan mainannya." Ucapnya dengan isakkan di kepala sang kekasih yang ia lakukan.
"Gē, apa kau tidak marah? Aku mengatakan hal yang tak pantas tentang Ayahmu, maaf.." Zi Cheng kembali meminta maaf pada Kuan, nampaknya ia benar menyesali ucapannya.
"Apa aku terlihat marah?" Ucap Kuan yang justru balik bertanya.
"Eu_emhh." Gumam Zi Cheng dengan gelengan kepalanya.
"Jika ku tahu mana mungkin aku bertanya.! Salahkan saja dirimu, kau marah atau tidak wajahmu tidak pernah berubah. Masih saja,,,"
Gadis itu tak lagi melanjutkan ucapannya, wajahnya nampak memerah di akhir kalimatnya yang menggantung.
"Tetap tampan bukan??" Goda Kuan, melanjutkan kalimat Zi Cheng yang tertunda.
"Ekhemm.! Manisnya.." Tiba-tiba saja Lulu bersuara, membuyarkan suasana manis di antara keduanya.
"Sepertinya kalian terlalu sibuk dengan dunia kalian sendiri,, hingga melupakan keberadaan kami disini. Atau,, kalian memang menganggap kali hanya bayangan tak bernyawa?" Godanya pada Pasangan KuanCheng itu.
"Jiějiě,," Zi Cheng memalingkan wajahnya merasa malu sekaligus tak enak pada Lulu.
"Ah, maafkan kami Nona Lu. Bukan maksud kami untuk mengabaikan keberadaan anda. Maaf, telah mengganggu waktu istirahat anda." Kuan pula yang juga merasa tak enak hati, meminta maaf dengan rasa bersalahnya.
"Sudah,, tidak perlu seformal itu. Lagi pula aku tidak apa-apa, kalian membuatku cukup terhibur." Ujar dokter cantik itu tanpa melepas senyum di wajahnya.
"Jiě. Mengapa beranjak dari tempat tidurmu? Berbaringlah, kau masih butuh istirahat."
Lubin yang baru saja memasuki ruangan di susul dengan Chen, ia menegur Lulu yang berniat turun dari ranjang tempatnya berbaring.
"Ah,, Binbin. Biarkan Jiějiě bangun. Jiějiě ingin melihat keadaan a Lin." Ucapnya lembut, saat Lubin membantu membaringkan tubuhnya yang masih lemas.
"Jiě, kau harus istirahat. Xiao Lin Jiějiě baik-baik saja, Yue Gēgē akan menjaganya dengan baik."
Lubin menolak mengiyakan saat Lulu menahan tangannya, berharap memberinya ijin untuk menemui Xiao Lin.
"Jiě,, percayakan padaku, Xiao Jiějiě akan baik-baik saja.. Tenanglah.." Sambungnya meyakinkan sang Jiějiě.
"Mn,, lalu jelaskan pada Jiějiě, kemana kau pergi tadi? Mengapa kau terburu-buru saat Chen Gē pergi? Jangan membuat masalah dengannya,,"
Merasa penasaran, Lulu sedikit berbisik pada Lubin menanyakan perihal yang ingin ia ketahui.
"Ah, bukan hal yang serius Jiě,, sudah, lebih baik Jiějiě kembali beristirahat. Biar ku tangani Xiao Jiějiě untuk mu."
Meski mengatakan demikian padanya, namun Lulu tahu bahwa pemuda kecilnya itu memiliki hal yang tidak ia ketahui tentang hal yang terjadi saat ini.
•
•
•
__ADS_1