
Wang Yifei kini berlari dengan mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk menemukan sosok yang sangat ia cintai dan berarti dalam hidupnya.
Setelah pertemuan dan percakapan singkat dirinya dengan sang ayah sebelumnya, wanita anggun nan cantik itu pergi dengan tergesa menuju tempat dimana sang pemilik hatinya berada.
Langkahnya kini terhenti tepat di depan sebuah pintu besar bangunan kuno yang cukup megah di hadapannya, ia terdiam sejenak mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu tersebut.
Matanya terus mencari, menelusuri setiap sudut ruangan usai memasuki bangunan kuno itu.
Hingga pandangannya menemukan beberapa orang yang dengan keadaan memprihatinkan, Yifei semakin mengerutkan pertengahan alisnya, perasaannya menjadi tak karuan.
Sementara, beberapa orang yang berkumpul di dalam ruangan tersebut hanya memandang dengan perasaan aneh pada wanita cantik itu yang jelas tidak mereka kenali.
Yifei berhenti sejenak untuk memastikan jika orang yang ia sayangi tak ada dalam sekumpulan orang tersebut.
Niat hati ingin melanjutkan langkahnya, namun karena ia tak memperhatikan langkahnya yang terburu buru, dirinya menabrak seseorang yang tak ia kenali.
"Ma,maafkan aku.. Aku tidak sengaja." Ujar si korban yang sedikit menundukkan kepalanya pada Yifei.
"Ah,, maaf. Maafkan aku yang tidak berhati hati dan menabrakmu. Terima kasih.."
Wang Yifei menerima uluran tangan dari si empunya yang ia tabrak.
"Ah,, sekali lagi maaf telah menabrakmu." Ucapnya penuh sesal, kemudian membantunya membereskan benda benda mungil yang berjatuhan di lantai akibat ulahnya.
"Tidak apa apa,, ah ya.. Kalau boleh saya tahu, anda,,,?"
"Ah,, maaf. Saya Yifei. Saya ingin mencari Suami saya disini." Ujarnya lembut memperkenalkan diri.
"Ah,,, maaf,, Nona Yifei, bisakah saya tahu nama Suami anda? Mungkin saya bisa membantu ada mencarinya.."
"Wang Li Wen." Sahutnya cepat. Membuat sang lawan bicara mengerutkan keningnya bingung.
"Wang, Li_Wen??" Ujarnya mengulang.
"Mn. Wen. Lao Wen."
"Ah,, mungkin,,, maksud anda Wen Gē.?"
Yifei mengangguk antusias menanggapi pertanyaan lawan bicaranya.
__ADS_1
"Dasar si tua Wen.! Rupanya selama ini kau sangat pandai menyembunyikan identitasnya dari kami selama ini. Hmphh.! Pantas saja selama ini dia selalu menolak seseorang yang mendekatinya, rupanya karena ia sudah memiliki wanita cantik ini sebagai istrinya.."
Ada senyum kecil di wajah Yifei mendengar gumaman seorang gadis di hadapannya.
"Nona,, Nona,, apa kau mendengarku?"
Yifei beberapa kali mengibaskan tangannya, saat si empunya justru asik bergumam ria, mengabaikan kehadirannya.
"Ah,, ya. Maafkan saya. Eh,,? Tunggu. Apa yang anda panggil tadi? No,nona?? Ma,maksud anda,, saya??"
Yifei tak lagi menahan senyum kecil di wajahnya, kini ia justru melebarkan senyumnya itu mendapati gadis manis di hadapannya yang kini menjadi salah tingkah hanya karena panggilan yang ia sebutkan.
"Tentu. Kau memang sangat manis. Sungguh gadis yang manis."
"B,bagaimana anda tahu jika saya adalah seorang perempuan?!"
Yifei mengamati setiap perubahan di wajah gadis yang kini semakin lucu.
"Bahkan selama ini saya selalu menyembunyikannya rapat. Dan tidak ada yang menyadari jika selama ini aku adalah seorang gadis." Sambungnya lirih.
"Mn. Sejak aku melihat wajahmu, jelas saja aku melihatnya. Mungkin semua orang akan tertipu jika melihat tampilan ini, tetapi di mataku,, kau masih terlihat seorang gadis manis yang lucu. Baiklah,, sekarang beritahu aku siapa namamu?" Tuturnya begitu lembut, membuat gadis di hadapannya kini merona.
Ya. Rupanya gadis yang Yifei tabrak adalah a Xiang. Putri bungsu keluarga Ji yang untuk pertama kalinya ia temui.
"Wuah,, rupanya gadis kecil ini adalah si cerdas keluarga Ji. Salam kenal,, senang bisa bertemu denganmu."
Yifei mengulurkan tangannya yang di sambut dengan wajah bingung gadis di hadapannya.
"N,nona,, apa anda mengenalku?" Tanyanya dengan bingung di sela jabatan tangannya.
"Tentu. Kami adalah keluarga, bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu? Ah,, gadis kecil, dimana Wen Gē sekarang? Apa kau bisa membawaku menemuinya?"
Seolah tak ingin memberi waktu gadis di hadapannya untuk berpikir, Yifei memintanya untuk membawanya menemui sang suami yang hampir saja ia lupakan.
"Ah,, Wen Gē. Ya. Ah,, hampir saja aku lupa memberi tahu anda. Maafkan saya Nona,, mari ikuti saya."
"Jangan terlalu formal.. Panggil saja Fei Jiějiě.."
Kedua wanita itu melangkahkan kakinya sambil berbincang, mengabaikan pandangan beberapa pasang mata yang sejak tadi terfokuskan pada keduanya tanpa satupun dari mereka yang berinisiatif membuka suara. Meski dalam hati semua orang di ruangan itu bertanya tanya.
__ADS_1
"Silahkan masuk Jiě,," A Xiang memberikan ruang untuk Yifei agar memasuki ruangan di hadapannya.
"Wue Paman tua.! Lihatlah,, ada wanita cantik yang mencarimu."
A Xiang meninggikan suaranya seraya memanggil si empunya yang kini membelakangi mereka.
"Gadis bodoh. Siapa yang menyuruhmu berteriak disini.! Hahh,, pelankan suaramu kau sangat mengganggu kau tahu.! Lagi pula apa yang kau maksud? Aku sedang dalam mood yang buruk, dan aku tak ingin bertemu dengan wanita manapun."
Wen yang tahu siapa yang berbicara di belakangnya, ia enggan membalikkan badannya.
"A Xiang,, katakan padanya bahwa aku,,, tak_ter,,tarik_"
Ucapan Wen perlahan terdengar semakin lirih dengan kalimat terbata saat membalikkan tubuhnya dan bertemu pandang pada sosok yang berada tepat di sisi a Xiang.
Sejenak ia terdiam, matanya seolah menahan untuk tak berkedip memandang seseorang yang menjadi pusat perhatiannya.
Sesaat tak ada kalimat yang terucap. Namun mendapati senyum dengan kesedihan di wajah cantik pemilik hatinya, baik Wen maupun Yifei, keduanya melangkahkan kakinya dan berakhir saling memeluk.
"Hiks,, kau membuatku takut Gē. Hiks,, kau membuatku hampir mati karena mengkhawatirkan mu.! Hiks,,"
Pecah tangis Yifei dalam pelukan sang suami.
"Aiahh.. Kau menyakiti Suami kesayanganmu ini.. Huemm,, kasihanilah lelakimu ini,, ku mohon,, ini sakit.."
Niat hati ingin menggoda sang istri, namun agaknya itu tak membuatnya membaik. Justru membuatnya semakin menumpahkan kekesalannya pada sang suami.
"Feifei,, heyy. Lihatlah,, Suami mu ini baik baik saja. Jangan menangis,, kau akan terlihat semakin cantik jika melakukannya. Dan itu akan membuatku sangat menderita, karena tak bisa memperlakukan mu dengan baik.."
Bukan Wen namanya kalau tak bisa melukis senyum di wajah istrinya kecilnya.
"Apakah sakit Gē? Hiks,, maafkan a Fei memukul mu terlalu keras.."
Melihat ekspresi penyesalan di wajah sang istri, Wen kembali berulah.
"Aiiyaa... Sakit, sakit. Feifei ah,, kau sungguh kejam pada Suami besarmu ini. Apa kau mengumpulkan semua kekuatanmu selama ini untuk memukul ku hm?"
"Maaf.. Aku sungguh menyesal Gē.."
Tak tega melihat wajah pemilik hatinya bersedih, Wen kembali merekatkan pelukannya. Sesekali ia mendaratkan kecupan kecupan sayang di puncak kepalanya.
__ADS_1
Melupakan seseorang lainnya yang sejak tadi berulang kali mendesahkan nafasnya pasrah melihat interaksi sepasang suami istri di hadapannya itu.