Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
53


__ADS_3

~


Di lain tempat, suasana nampak tenang di dalam ruangan, namun agaknya kegelisahan kini menyelimuti hati beberapa orang di antaranya.


"Wen Gē. Apa sudah selesai?" Tanya Chen begitu melihat si empunya keluar.


"Ada apa Gē? Mengapa wajahmu begitu khawatir?" Lanjutnya kemudian.


"Ah, a Chen. Apa yang kau lakukan?"


Bukan menjawab, Wen justru kembali bertanya.


"Hanya memikirkan sesuatu." Sambungnya kemudian.


"Tidak ada. Eum,, lalu kemana kau pergi Gē,? Mengapa tidak duduk dulu sebentar, temani aku mengobrol disini."


"Mengapa harus,? Lebih baik ku gunakan waktu ku untuk bekerja, daripada ku habiskan untuk meladeni bocah kurang sehat seperti mu."


Wen dengan sedikit gurauannya mulai menggoda Chen, memancing mulut ember pria muda itu.


Benar saja, Chen kini nampak tak terima dan memprotes Wen karena ucapannya.


"Eh,,,? Apa maksudmu. Enak saja. Aku sangat sehat dan selalu sehat kau tahu?!!"


"A Chen, setelah aku pergi, tolong jaga mereka. Lakukan sesuai tugasmu jika itu di haruskan."


Tentu saja Chen sedikit terkejut dengan kalimat lanjutan Wen, setelah memancing kekesalannya, kini berubah memberi peringatan padanya.


"Gē, ada apa? Mengapa tiba-tiba?"


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan."


Chen sadar, agaknya Wen tak berniat menjelaskan padanya.


"Mn. Tenang saja, akan ku lakukan sekuat tenaga ku."


Wen hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Euu,, Tuan. Maaf, jika saya terlalu ingin tahu tentang anda. Tapi jika di perkenankan, bolehkah mengenalkan diri? Maaf, sedikit mengganggu waktu anda."


Kuan yang sedari sebelumnya ragu untuk bertanya, kini memberanikan diri mengungkapkan rasa penasarannya.


"Kuan Dìdì, tidak apa. Namaku Wen, ah ya, untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa mengulur waktu. Lain kali akan ku beri tahu siapa diriku, kalau begitu aku pergi dulu."


Tak ingin membuang waktunya, Wen melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.


"Kuan Dìdì,, tolong jangan tinggalkan tempat ini. Jika kau membutuhkan sesuatu mintalah pada a Chen. Dan tetaplah waspada."


Sesaat langkahnya terhenti dan kembali terdengar beberapa kalimat yang ia ucapkan, sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya pergi.


"Qi'er,, bisa jelaskan padaku?"


"A,hahaha.. Itu,, bukan apa-apa Gē. Sudahlah-sudahlah,, anggap saja itu sebuah perhatian kecil seorang keluarga."


Menanggapi pertanyaan Kuan, Chen merasa gugup dan tak tahu harus menjelaskan apa.

__ADS_1


"Emm,, Kuan Gē, aku akan melihat ke dalam. Tetaplah disini, dan kau gadis pemarah. Tolong jaga Kuan Gē dengan baik. Mengerti?!"


Sebagai orang yang di tunjuk Chen, Zi Cheng mengangguki ucapannya. Meski dengan perasaan kesal.


"Ada apa dengan gadis ini, mengapa tak seramai biasanya? Apa yang dia pikirkan? Ah, sudahlah. Lebih baik aku temui mereka di dalam, dari pada disini, Kuan Gē akan semakin bertanya-tanya padaku nanti."


Chen meninggalkan kedua orang yang sedari sebelumnya bersamanya.


"Wue. Ada apa dengan wajah kusut itu, mengapa tampak lebih buruk dari biasanya."


"Hemphh.." Wang Yue menghembuskan nafasnya kasar.


"Tidak bisakah kau datang dengan cara yang benar. Setidaknya ketuklah pintu terlebih dahulu." Ucapnya tanpa membalikkan badan, masih terlalu sibuk mengusap punggung tangan sang istri yang terus ia genggam.


"Cih. Tidak di butuhkan. Lagi pula,,"


Chen mulai berulah, ingin memprotes tetapi Wang Yue lebih dulu menyela ucapannya.


"Maka tetaplah seperti hantu, yang datang tanpa di undang. Dan pergi dengan sesuka hati. Lagi pula orang sepertimu tidak akan peduli dengan hal semacam itu."


Kalimat itu membuat Chen tak terima dengan ucapan sang sahabat padanya, dengan sedikit memakai perasaan ia kembali mengoceh.


"Wue,, apa yang kau katakan. Mengapa begitu keterlaluan padaku, lagi pula apa salahku. Memarahiku tanpa sebab dengan wajah seperti itu.! Baiklah,, akan ku ulangi untuk mengetuk pintu."


"Tidak di butuhkan.!" Ucap Wang Yue tegas.


"Apa Wen Gē sudah pergi?" Tanya Wang Yue bertanya setelahnya.


"Mn. Dia pergi beberapa menit yang lalu."


"Lalu, a Yi,,, kapan mereka pergi? Apa Lubin bersamanya?"


"Hn,, Lubin mengantarnya. Mereka pergi sekitar hampir dua puluh lima menit yang lalu. Ada apa?"


Dengan antusias Chen mendekati Wang Yue, mengamati wajah pucatnya, dari jarak yang lebih dekat.


"Eh,,, biar ku tebak. Inikah alasan mu membuat wajah buruk itu dan memarahi ku tanpa sebab? Ah,, tidak perlu di jawab. Aku sudah tahu jawabanmu."


Wang Yue memandang Chen tanpa minat. Namun Chen tahu, dari tatapan itu Wang Yue tengah merasakan kekhawatiran di hatinya.


"Chenchen,, perasaan ku selalu tidak tenang saat a Yi tidak ada bersamaku. Kau tahu bukan, aku sangat menyayangi nya? Entah mengapa kali ini terasa berbeda, aku.."


"Mn. Aku tahu, kau mengkhawatirkan nya saat ini. Tapi Yue'er,, a Yi tidak sendirian. Yakinlah, a Yi pasti baik-baik saja. Lagi pula mereka pergi hanya sebentar, atau kau ingin aku menyusulnya? Untuk memastikan bahwa putramu baik-baik saja?"


Chen menyela ucapan Wang Yue, berusaha menenangkannya dari rasa kegelisahan yang tengah mengganggu hatinya.


"Tidak. Aku akan melakukannya. Chenchen, bisakah kau menjaga Xiaoxiao? Aku tidak bisa membiarkan a Yi di luar sana terlalu lama, bisakah kau membantuku? Aku ingin kau menjaganya disini."


"Tidak.! Jangan bodoh. Istrimu membutuhkan mu disini, biar aku yang melakukannya untuk mu. Kau jagalah istrimu, dia,,,"


"Chenchen,"


Pria tampan itu tak dapat melanjutkan kalimatnya, saat merasakan cengkeraman di tangannya yang masih terhubung dengan jemari lentik sang istri.


"Xiaoxiao,,"

__ADS_1


Wang Yue menggumamkan nama sang istri, mencoba untuk membangunkannya.


"Xiaoxiao, bangunlah.."


Meski beberapa kali memanggil dan menggoyangkan pundaknya, nampaknya itu tak cukup mampu membangunkan Xiao Lin.


"Yue'er, lakukan sesuatu. Ah Lin mungkin mengalami sesuatu dalam tidurnya. Cepat bangunkan dia."


"Diamlah. Aku masih berusaha membangunkan nya."


Sementara itu tidak ada respon dari Xiao Lin, ia nampak tak terganggu dengan suara serta guncangan di pundaknya.


Tentunya Wang Yue kini menjadi lebih khawatir memikirkan kedua orang terkasihnya, di sisi lain ia begitu cemas memikirkan sang buah hati, sementara disisinya ia di buat cemas dengan keadaan sang istri yang tak kunjung sadar.


"Yue'er, sebaiknya aku panggilkan Nona Lu saja, mungkin dia,,,"


"Xiaoxiao. Kau bangun?"


Chen tak melanjutkan kalimatnya, saat Xiao Lin terbangun.


Wang Yue lekas berpindah ke sisi Xiao Lin dan menyandarkan tubuh sang istri pada pundaknya.


"Minumlah.."


Tak lupa ia menyerahkan segelas air untuk sang istri, dan membantu meminumkannya.


"Yu_yue Gē, di,mana putra kita?"


Dengan nafas terengah Xiao Lin menanyakan keberadaan sang putra, dengan mata menelisik ia terus mencari putranya.


"Sayang,, tenanglah.. Putra kita bersama Guru Cc dan Lubin, sekarang ceritakan perlahan, apa yang menggangu tidurmu?"


"Gē, tolong panggilkan a Yi.. Ku mohon,, mereka ada disini bukan? Cepat panggilkan,, aku ingin melihatnya."


Xiao Lin tak menghiraukan pertanyaan sang suami, dan memohon padanya agar bisa bertemu dengan si buah hati.


"Mn,, akan ku panggilkan. Tunggulah disini, aku akan segera kembali."


"Tidak. Aku tidak bisa menunggu, Gē, tolong bawa a Yi padaku sekarang."


"Xiaoxiao, Gēgē mohon,, tunggulah sebentar saja. Gēgē janji akan membawanya padamu."


Mata Xiao Lin yang sedari tadi berkaca-kaca, kini mulai membendung air yang siap mengalir kapan saja.


"Gē, apa a Yi tidak disini? Apa a Yi pergi? Lalu,, kemana a Yi pergi?? Bisakah kita menyusulnya?? Tolong katakan dengan jujur Gē, di mana putra kita?"


"Istriku,, tenanglah.."


Wang Yue tak tahu dari mana ia harus menjelaskan pada sang istri, melihat genangan air di sudut matanya ia menjadi tak tega, terlebih ia tahu, saat ini apa yang Xiao Lin rasakan sama seperti dirinya yang begitu cemas memikirkan putranya.


"Bagaimana bisa aku tenang.! Sementara putraku dalam bahaya.! Hiks,, Yue Gē, apa kau sungguh tak ingin memberi tahuku? Hiks,,


Apa kau sungguh tak bisa menjawab pertanyaan ku? Hiks,, hiks,, apa kau tak tahu bagaimana perasaan ku saat ini? Hiks,, aku tak ingin kehilangannya lagi Gē, hiks,, Yue Gē,, ku mohon.. Selamatkan putra kita.."


Perasaan Wang Yue menjadi semakin tak karuan, ia terdiam seribu bahasa. Sebelumnya ia hanya berpikir mungkin hanya perasaan nya saja yang terlalu mengkhawatirkan putranya, mengingat ia tak pernah jauh dari sang buah hati.

__ADS_1


Akan tetapi mendengar ucapan sang istri membuatnya semakin sulit mengontrol perasaannya, apakah itu yang terjadi di dalam mimpi sang istri?


Atau memang hanya perasaan mereka berdua saja yang juga sama-sama merasa khawatir? Itulah kira-kira isi di kepala pria tampan itu.


__ADS_2