
Hal yang sama seperti sebelumnya kembali membuat Yifei membeku di tempatnya. Tepat saat tirai yang menumpu tubuhnya ikut terseret, mengikuti arah genggaman tangan wanita cantik itu.
Dimana hal itu membuatnya harus kembali merasakan kesedihan yang dalam dari hatinya. Saat mendapati tubuh yang kini tertimpa olehnya, adalah orang yang selama ini terus ia cari, dan satu orang lainnya yang juga terbaring tak sadarkan diri disisinya.
"I_ini,,," Suaranya seakan tercekat, sejenak ia mencoba berdiri dengan tegak, meski tenaganya seakan telah terkuras.
"K,kuan'er,, hiks,, benarkah ini dirimu? Hiks,, ini Jiějiě. Hiks,, maafkan Jiějiě,, Jiějiě terlambat melindungi mu dan membuatmu seperti ini. Hiks,,"
Wen mendekati sang istri yang kembali menangis.
"Gē,, mengapa???" Yifei bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya. Ia terus memandang secara bergantian tubuh lemah Kuan dan Wang Hao di hadapannya.
"Mengapa, semua menjadi seperti ini?? Hiks,, mengapa harus keluargaku yang menjadi korban? Hiks,, mengapa mereka selalu mendapatkan hal yang tak sepatutnya mereka rasakan.? Hiks,, bahkan meski itu adalah takdir yang harus mereka jalani, bukankah itu tak adil bagi mereka??"
"Istriku,, tenangkan dirimu.. Jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini,, semua terjadi karena kesalahanku yang tak bisa menjaga mereka dengan baik. Seharusnya akulah yang ada di posisi mereka, seharusnya aku yang menggantikan tempat mereka.
Maafkan aku,, aku telah gagal menepati janjiku untuk menjaga keluargamu. Maafkan aku, karena tak berguna untukmu.."
Wen tak dapat berpikir dengan jernih, ia hanya mampu mengulang kalimat kalimat yang tak berbeda dari sebelumnya.
"Gē,, apa yang kau bicarakan? Selama ini kau yang paling berusaha untuk mereka. Kau yang paling tahu bagaimana yang terbaik untuk mereka. Kau yang selalu ingin menjaga mereka, dan hanya demi mereka,, kau merelakan segalanya,, semata hanya untuk mempertahankan mereka."
Yifei kini menghadap sang suami, memegang kedua sisi pipi sang suami yang menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Gē,, bahkan meski tak mengungkapkannya pun aku masih tetap tahu, bahwa kau sangat menyayangi mereka lebih dariku."
Usai dengan kalimatnya, Yifei memeluk erat tubuh kekar sang suami yang kini nampak tengah menahan buliran embun yang mulai menumpuk di sudut matanya.
"Terima kasih,, terima kasih atas perjuanganmu selama ini untukku Gē, terima kasih telah bersamaku selama ini. Terima kasih,, untuk semua pengorbanan mu selama ini..
Kau bukan hanya seorang saudara, tetapi juga layaknya orang tua yang senantiasa melindungi putra putrinya. Terima kasih.."
Yifei berulang ulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada sang suami. Sementara Wen, ia tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Ia tak berniat membalas kalimat sang istri, namun pelukannya kian mengerat seraya senyumnya mengembang.
Hal itu pun masih terus a Xiang saksikan sejak beberapa waktu lalu, tak ada yang terlewat berang sedikitpun dari pandangannya.
Namun saat asik mengamati sepasang suami istri yang tengah bermesraan di hadapannya itu, tiba tiba saja pandangannya mendapati pergerakan dari sosok pemuda lemah di ujung seberangnya.
__ADS_1
Gadis itu pun bergegas mendekatinya tanpa mengganggu ke manisan pasangan itu. Ia langsung memeriksa keadaan Wang Hao yang kini mulai bergerak tak menentu.
Peluh membanjiri seluruh wajah pemuda itu, entah apa yang mengganggu dalam tidurnya, wajahnya kini terlihat tak baik baik saja.
Segera ia memberikan obat penenang pada selang infus yang terhubung di lengan pemuda itu agar membuatnya kembali tenang.
"A Xiang,, ada apa? Bagaimana keadaannya?"
Wen yang entah sejak kapan berada disisi gadis itu, menanyakan dengan wajah paniknya.
"Ah,, Gē. Kau mengagetkanku saja." Ucapnya dengan raut keterkejutan.
"Wang Hao Gēgē baik baik saja. Mungkin itu hanya reaksi setelah operasi, atau mungkin sesuatu tengah mengganggu tidurnya."
"Tapi a Xiang,, apakah ada hal semacam itu? Bukankah operasinya berjalan lancar?"
"Meski begitu,," Gadis itu tak melanjutkan kalimatnya saat mendapati ponselnya bergetar.
Ia melirik sesaat dan langsung menjawab panggilan yang ia terima.
Sementara gadis itu tengah serius membahas apa yang tak keduanya ketahui, sepasang suami istri itu kini berada di sisi Wang Hao. Hal yang sama di lakukan wanita cantik itu pada si pemuda, mengusap sayang sisi pipi dan kepalanya.
*
Waktu berjalan begitu saja,, tak terasa pagi telah datang. Kicau burung mulai terdengar, menambah kesan yang lengkap menghiasi suasana keindahan hari.
Pintu ruangan baru saja terbuka, menampilkan wajah tua seorang pria paruh baya yang sangat Wen kenali.
"Anak muda,, apa kau tak istirahat sejak semalam?" Ujar pria tua itu saat mendapati Wen yang masih siaga menjaga ketiga pasien dan wanita cantik disisinya.
"Paman Ji, selamat pagi.. Aku tak mengira kau akan datang, maaf merepotkan mu.."
"Ah,, dasar anak muda. Bukannya menjawab pertanyaan orang tua, malah berbicara ngawur. Tentu saja aku datang, aku ingin memastikan keadaan putra putraku disini."
Tuan Ji melirik sekilas pada ketiga pria yang masih terbaring di sisi seberangnya. Namun matanya kini justru fokus pada wanita cantik yang tak terusik dalam lelapnya di sisi Wen.
"Apa Fei'er baik baik saja?"
__ADS_1
"Mn. Meski semalam sempat hampir tak terkontrol emosinya, namun sekarang sudah tak apa."
Tuan Ji mengangguk anggukan kepalanya.
"Hmm,, pasti sulit baginya untuk menerima. Terlebih mereka adalah orang orang yang ia kasihi. Hahh,,,"
Wen mengangguk, namun pandangannya tak lepas dari sang istri yang nampak nyaman dalam tidurnya.
"Baiklah,, aku akan memeriksa mereka dulu. Sebaiknya kau istirahat saja sekarang. Eh,,?? Dimana gadis kecil ku? Anak muda,, apa kau melihatnya?"
Wen melirik orang tua di seberangnya itu yang kini seakan mencari keberadaan sang putri dengan mengedarkan pandangannya.
"A Xiang, dia bersamanya." Sahutnya sekenanya.
"Bersamanya??" Ulang tuan Ji.
"Mn."
"Ah,, ya, ya,, hahh.. Anak muda sekarang."
Tuan Ji menggelengkan keras kepalanya sambil bergumam dengan langkah santainya mendekati ke tiga pasien itu.
"Hmm,, anak muda,, bagaimana perasaanmu?"
Wen yang semula berniat memejamkan matanya, kini urung, kala mendengar pria tua itu berbicara.
Yang di tanya hanya mengedarkan pandangan ke atas.
"Y,yuan'er.."
Kuan tak menjawab, namun ia memanggil Wang Yue yang masih tak sadarkan diri di sampingnya.
"Syukurlah,, tubuhmu jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Ah, T,tuan Ji,, terima kasih atas bantuan anda. Saya merasa jauh lebih baik sekarang."
"Aishh,, apa yang kau katakan anak muda. Lagi pula aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan kalian. Dan berhenti memanggilku tuan. Panggil aku Paman, seperti mereka memanggilku."
__ADS_1
Kuan berniat menjawab, namun ia mengatupkan kembali bibirnya saat Wen tiba tiba mendekatinya.
Wen memegang salah satu pundak Kuan saat ia berada disisinya, usai mendekati si empunya.