Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
7


__ADS_3

°


°


°


"Yi Paa,, hiks,, Yi Paa,, hiks,,hiks,, mengapa Yi Paa menangis,,hiks,, maafkan a Yi..hiks,, membuat Yi Paa menangis,,hiks,, Pa,paman Hao,,hiks,, to,tolong a Yi,,hiks,, Yi Paa tidak bisa_hiks,, mendengar a Yi,, hiks,, hiks,, paman Hao,, to_hiks,, tolong a Yi..."


Dengan sisa suara nya yang semakin serak, a Yi meminta tolong pada Wang Hao,, berharap sang Paman berada di luar dan mendengar ucapannya.


Meski si kecil tahu itu tak mungkin terdengar hingga keluar kamarnya,, karna apa? Karena kamar milik ayahnya kedap suara, jadi sekencang apapun suara dari dalam, takkan terdengar oleh orang lain.


"Hiks,, Yi Paa,, hiks,, jangan abaikan a Yi,,hiks,, Yi Paa,, sadarlah,,hiks,, Paman Hao,,,hiks,, tolong a Yi,,hiks,, Yi Paa tidak bisa mendengar suara a Yi,,hiks,, Yi Paa,, jawab a Yi...hiks,,hiks,,, Yi Paa,,,"


Sekuat tenaga a Yi berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya, meski tubuhnya terasa lemah, tidak ada pilihan selain bangun dan berjalan keluar untuk memanggil sang Paman agar membantu nya.


"Brugkk.!!"


Tubuhnya tak dapat lagi menahan, tak sempat kakinya menyentuh lantai,, a Yi terjatuh.


"A Yi..!!!"


Mungkin Tuhan mengabulkan do'a nya,, Wang Hao yang baru saja tiba di rumah dengan terburu buru ingin segera menemui keponakan kecilnya, untuk menceritakan banyak hal yang telah ia ketahui.


Namun saat memasuki rumah megah nan mewah milik Gēgē tersayang nya, perasaannya menjadi tak karuan. Entah apa sebabnya,, Wang Hao hanya ingin segera bertemu dengan keponakan kecilnya itu.


Dan betapa terkejutnya dia, melihat pemandangan di hadapannya. Entah apa yang telah terjadi saat ia tak ada, Wang Hao tak sempat memikirkan nya,, baginya yang terpenting saat ini adalah a Yi.


"Apa yang terjadi nak?? Mengapa bisa kau terbaring di lantai,,? Aish,, dasar Gēgē bodoh.!! Masih saja sibuk terlihat bodoh dengan kebodohan nya tanpa menyadari keadaan putranya yang membutuhkan dirinya.!!"


Wang Hao menggerutu marah pada sang Gēgē, yang terlihat seperti patung hidup menangis.


"Paman,,, Hao,. Yi Paa,,,"


Entah apa yang akan terjadi, jika Wang Hao tak datang, mungkin a Yi bisa saja tak sadarkan diri jika terus terbaring di lantai. Meski lantai kamarnya tertutup rapat oleh karpet penuh dengan bulu bulu halus, tetapi dengan keadaan a Yi yang masih sakit itu bisa membuat anak kecil tersebut semakin sakit.


"Apa yang kau pikirkan Gē,,? Mengapa kau begitu menderita? Bahkan kau mengabaikan putramu yang masih tak berdaya,, sadarlah Gē,, jangan biarkan masa lalu terus menghancurkan kehidupan mu.."


"Paman Hao,,, Yi Paa,, to,long jangan biarkan Yi Paa menangis lagi,, hiks,, a Yi sedih melihat Yi Paa terus menangis,," Ucap a Yi lirih.


Terdengar seperti gumaman, namun dapat dengan jelas Wang Hao dengar karena pendengaran nya cukup tajam. Mengingat jarak di antara mereka begitu dekat, jadi akan sangat mudah Wang Hao mendengarnya.


"Gē,,"


Tepukan pada pundak Wang Yue yang Wang Hao lakukan, nyatanya tak cukup mampu membuatnya sadar.


"Gēgē,, sadarlah..!!!"


Di guncangnya pundak kekar milik sang Gēgē, namun masih tak juga mendapat reaksi.


"Wang Yue Gēgē, bodoh..!!! Mengapa kau seperti ini..!! Sadarlah..!! Apapun yang kau pikirkan, jangan mengunci dirimu pada hal yang membuat hidupmu hancur.!!! Sadarlah,!! Ingatlah pada a Yi, dia putra mu,, dia membutuhkan mu Gē. Mengapa kau begitu egois..!!!"


Wang Hao marah,, berkali kali dirinya menampar wajah sang Gēgē hingga tubuhnya tersungkur di lantai. Namun bagai raga yang terpisah dari jiwanya, tubuh Wang Yue masihlah bernafas, namun seolah telah kehilangan jiwanya, yang menolak untuk kembali pada kehidupan normalnya.


Wang Hao sangat marah,, bukan marah yang sebenarnya pada sang Gēgē. Tetapi marah kepada dirinya sendiri,, marah karena tak bisa membantu sang Gēgē di kala ia harus berjuang mempertahankan miliknya sendirian.


Marah, karena terlambat mengetahui penderitaan yang di alami keluarga kecil Gēgē tersayang nya, dan kecewa, melihat keluarga sang Gēgē yang menjalani kehidupan nya dengan sandiwara.


Sandiwara yang entah sengaja, atau telah di rencanakan oleh seseorang.. Wang Hao marah kepada dirinya, kecewa telah menjadi orang yang begitu egois pada sang Gēgē.


"Hiks,, setidaknya ingatlah pada putra kecil mu Gē,, hiks,, dia begitu terluka melihat kau seperti ini,, ingatlah pada a Yi.!!! Gēgē,, sadarlah.!!! Hiks,, kau membuat ku sedih,, kau juga membuat ku takut,, setelah sekian lama aku bertahan dengan semua upaya yang kau lakukan, kau membuatku kembali merasakannya,, hiks,,"


Wang Hao tak dapat lagi menahan tangisnya, ia terus mencoba menyadarkan sang Gēgē meski entah mendengarnya atau tidak apa yang ia katakan.


"Setelah belasan tahun aku tak pernah menangis dan bersedih, kali ini,, kau menghancurkan semua upaya mu sendiri Gē, kau menghancurkan usaha ku untuk tetap tegar dalam menghadapi apapun meski sebenarnya aku tak mampu,!!


Hiks,, kau yang menguatkan ku Gē,, hiks,, kau juga yang membuat ku sanggup bertahan selama ini,, kau membuat ku melupakan rasa sakit ku,,"


Wang Hao terus saja menyeruakkan isi hatinya, namun sang lawan bicara masih saja tidak merespon.

__ADS_1


"Hiks,, kau ingat Gē? Saat dimana aku hampir mati dan hampir kehilangan mu dulu? Saat itu usia ku tak jauh dengan putramu, Wang Xiao Yi.!! Tetapi kau menyelamatkan ku dengan menjaminkan nyawa mu sendiri agar aku tetap hidup. Dulu kau berhasil Gē,, kau adalah penyelamat hidupku,, tetapi mengapa sekarang kau seperti ini?!!!


Hiks,, kau membuatku takut Gē,,hiks,, Gē,, Hao'er tahu,, Gēgē tak selemah ini,, hiks,, Hao'er mohon Gē, sadarlah.. Jangan membuat Xiao Lin Jiějiě sedih dengan keadaan mu yang seperti ini,, hiks,, Yue Gē...!!! Sadarlah..!!!"


Tanpa di sangka, kalimat terakhir yang Wang Hao katakan membuat Wang Yue kembali pada masa lalu.


Dalam angannya, kembali muncul potongan potongan adegan dimana Xiao Lin tersenyum bersamanya, hingga menangis karena dirinya.


"Yue Gē,,"


~


"Yue Gēgē,, apa kau mencintaiku??"


~


"Yue Gēgē, apa kau akan tetap memilih ku jika kau menemukan yang terbaik untukmu,?"


~


"Yue Gē,, ayo hubungkan nama milik kita,, WangXiao Yi. Wang adalah ayahnya, dan Xiao milik Ibunya,, Yi adalah satu,, Wang Xiao Yi yang berarti putra pertama dari Wang Yue dan Xiao Lin."


~


"Hiks,, mengapa kau selalu saja tak mempercayai ku Gē,,hiks,, sungguh,, dia benar benar, hiks,, datang dan meminta ku untuk meninggalkan mu seperti saat sebelumnya.. Hiks,,,"


~


"Yue Gē,, jika suatu saat aku pergi, aku titipkan a Yi kita padamu,, aku harap Yue Gē bisa mencintai putra kecil kita seperti kau mencintaiku.."


~


"Wang, Xiao, Yi,,?"


Seakan jiwanya terseret kembali kedalam raganya, Wang Yue bergumam, kepalanya memiring seolah tengah mengingat nama yang ia sebutkan.


"Yue,, Gē,,,??"


Wang Hao mendongak menatap Wang Yue, ada senyum terukir di bibirnya.


"Aku tahu, kau akan mengingat nya Gē,"


"Ah,, a Yi..!!! Di,dimana a Yi ku,?? Nak,, kau dimana?? Ha_haohao,?? Kau disini,?? Sejak kapan? Akh,, tidak.! Itu tak penting. Apa kau melihat a Yi,,? Di,dimana putra kecil ku??"


Meski telah mengingat putranya,, namun ia terlihat bingung seolah melupakan apa yang baru saja terjadi.


"Gē,, bangunlah,, kau akan terserang flu jika terus duduk di lantai. A Yi tertidur Gē, dia terus menangis melihatmu seperti itu, dia begitu terluka.


Saat aku datang, aku menemukan a Yi terbaring di lantai dengan suara yang hampir sepenuhnya hilang, dan mungkin karena tubuhnya masih demam, itu menyebabkan tubuhnya semakin melemah."


Wang Hao menjelaskan dengan rinci kepada Wang Yue, agar sang Gēgē mengetahui apa yang terjadi pada putra kecilnya saat ia tak mengingat apapun tentang yang terjadi.


"Lagi,, Papa membuat mu menangis nak, menambahkan luka yang dalam di hatimu. Maafkan Papa,, karna kebodohan Papa kau terus menderita.."


Wang Yue berjalan mendekati a Yi yang begitu lelap dalam tidurnya, masih jelas terlihat jejak jejak air mata yang membasahi pipi mungil putranya.


"Mengapa tubuhnya panas sekali."


Wang Yue terkejut saat menyentuh tubuh putranya.


"Haohao.!! Cepat panggilkan dokter sekarang.! Tubuh a Yi demam tinggi, cepat.!!"


Awalnya Wang Yue berniat untuk mengecup kening putra kecilnya, namun saat merasakan suhu tubuh si kecil demam tinggi, ia menjadi panik.


"Ya Tuhan,, mengapa seperti ini,, bahkan tadi tubuhnya tak sepanas ini Gē."


Wang Hao pun merasa terkejut saat menyentuh tubuh sang keponakan, usai dirinya menghubungi donkter.


"Gē, jangan buang waktu lagi,, kita bawa a Yi ke rumah sakit sekarang. Aku akan siapkan mobil sekarang."

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Wang Hao berlari keluar untuk menyiapkan mobilnya, sementara Wang Yue bergegas menggendong tubuh mungil itu membawanya menuju rumah sakit terdekat.


°


~ Kediaman Chen.


°


"Cc,, apa benar yang di katakan orang itu jika dia akan benar benar membawanya untuk menemui ku lagi?"


Cc merasa tak percaya dengan pendengarannya, untuk seperkian detik ia terdiam.


"Cc,, apa kau mendengar ku?"


Dan kali ini dirinya yakin jika pendengaran nya tak salah. Ada rasa terkejut juga bahagia di hatinya, karena setelah sekian lama sang Jiějiě terdiam dan hanya mengucapkan kalimat seperlunya, kini ia mendengar kalimatnya yang sangat panjang baginya


Untuk yang yang pertama kalinya setelah lebih dari 4 tahun ia tinggal dengan sang Jiějiě sejak masa itu, a Lin tak pernah mengajaknya berbicara. Jangankan untuk bertanya kepadanya, hanya mengucapkan sepatah kata itu pun jika ia atau Lulu bertanya.


Bagi Cc, itu adalah suatu kemajuan besar,, berkat si kecil yang saat itu tanpa sengaja bertemu dengan mereka dan menangis sejadinya di lorong rumah sakit.


Ingatkan Cc untuk mengucapkan rasa terima kasih nya kepada a Yi nanti.


"Mn. Tentu,, dia pasti akan menepatinya Jiě, dan akan membawa a Yi untuk bertemu dengan Jiějiě nanti."


Melihat senyum bahagia di wajah sang Jiějiě, Cc ikut tersenyum.


"Eum,, kalau begitu,, tolong beritahu jika dia datang.."


"Pasti. Segera Cc beritahu jika Wang Hao dan a Yi akan datang.."


"Euu,, Cc,,, apa kau tahu makanan kesukaan a Yi?"


"Eum.! Cc tahu Jiě,, apa Jiějiě akan membuat makanan untuk a Yi nanti?"


Cc tak kalah semangat menyahuti pertanyaan pertanyaan yang di ajukan sang Jiějiě.


"Akan ku buatkan apapun makanan kesukaan nya nanti jika ia akan datang,, dan kau harus memberi tahu ku segera."


Lagi dan lagi Cc mengangguk antusias, meski sang Jiějiě hanya menyebut 'aku' tapi itu tak mengurangi rasa bahagia dalam hatinya.


~Rumah sakit [II]


"Dokter,, bagaimana keadaan putra saya? Apa dia baik baik saja dok? Apa ada hal yang serius? Dia mengalami demam sejak malam kemarin, pagi tadi dia membaik, tapi,,,"


Rentetan pertanyaan Wang Yue lontarkan, saat dokter selesai memeriksa keadaan putranya.


"Gē,, tenanglah,,"


Wang Hao menepuk punggung sang Gēgē, mencoba menenangkan nya.


"Tn. Wang,, putra anda hanya mengalami demam,, jika demamnya turun, putra anda akan baik baik saja,, tidak ada yang serius saat ini,,"


"Apa maksud anda dengan 'saat ini???"


Wang Hao memotong ucapan sang dokter sebelum ia melanjutkan nya.


"Jika demamnya tak kunjung menurun, atau jika demamnya terus kembali setelah mereda,, itu akan menjadi hal yang serius Tuan.." Lanjut sang dokter.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada putra saya dok? Apa itu penyakit serius?? Jika begitu,, tolong lakukan apapun agar putra saya sembuh dok.. saya mohon,," Ucapnya sedih.


"Putra anda tak menderita apapun Tuan. ,,"





__ADS_1



__ADS_2