
Xiao Han berlari mendekati Wang Hao, bertanya dengan panik.
"Wue, Gē.! Aku bisa datang kemanapun aku mau. Begitu juga dengan tempat ini, meski kau melarang ku sekalipun, aku akan tetap datang. Tidak penting aku tahu dari mana, yang pasti aku tidak akan membiarkan Gēgē dalam bahaya, terlebih lagi jika kau terluka.
Eeeh,, jangan salah paham.! Maksudku, aku akan sangat merasa bersalah jika Ibu tahu, dan bersedih karenamu."
Ada kerutan di kening Xiao Han, bibirnya sedikit mengerucut dengan bola mata bergerak gelisah menanggapi kalimat Wang Hao.
"Eumm,,,, ya, ya, ya.. Mengapa sulit sekali mengatakan jika kau mengkhawatirkan ku?"
Wang Hao nampak ingin mengelak, namun kalimatnya tak sempat terucap saat Mo Liu kembali bersuara.
"Wuah,, sekumpulan sampah mengadakan reuni disini. Ah,, tapi baguslah, kesempatan ku untuk menghabisi semua sampah seperti kalian lebih besar disini. Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini sebelum menyusul kedua orang tua kalian yang telah mati itu."
"Hemph. Si tua tak berguna ini rupanya masih bisa bermulut besar ternyata. Tapi sepertinya kaulah yang akan lebih dulu mati disini.
Lihatlah, tidak ada lagi yang bisa melindungimu, semua pengawalmu sudah tak berguna lagi. Hanya aku sendiri saja akan dengan mudah mengalahkanmu."
"Cih.!! Bocah ingusan sepertimu berani menentangku? Kau,, jangan berbangga dengan semua ini.."
"Diamlah kakek tua. Kau membuatku muak.!"
Wang Hao menyela, ia memukul tepat di wajah Mo Liu hingga mengenai sisi matanya, dan cukup membuatnya babak belur. Namun tak lama kemudian bertambahlah banyak orang dan terus bertambah, merekalah orang-orang dari Mo Liu yang datang untuk membantunya.
Kelima pemuda itu di buat kewalahan dengan orang yang datang semakin banyak, meski tak ada luka yang serius, namun berhasil membuat Xiao Han serta yang lainnya kehabisan tenaga.
.°
Xiao Han terus menangkis serangan lawan meski dirinya benar-benar terkejut.
Sebelumnya mereka memang berhasil melumpuhkan semua orang suruhan Mo Liu, namun orang-orang tersebut kini menjadi semakin banyak dan terus bertambah entah dari mana datangnya.
Merasa kemenangan akan berpihak kepadanya, Lu Jing tertawa kencang dengan pandangan menggila.
"Shen Kuan.. Kau seharusnya mati di tanganku.!!"
Suara tembakan terdengar nyaring seraya Jin Lu Jing bersuara.
Tak hanya itu, Jing Xu Ying berlari mendekati Kuan dengan sebilah pisau di tangannya berniat menancapkan pisau tersebut pada Kuan.
Namun nampaknya Tuhan berpihak kepada nya, benda tajam itu tak menancap pada tubuh pria bertubuh kekar itu, melaikan seseorang yang kini tepat berada di hadapan nya.
Mata Kuan melebar sempurna dengan tubuh yang membatu untuk sejenak.
__ADS_1
Tanpa ia duga, Wang Yue akan berdiri di hadapannya untuk menahan serangan Xu Ying.
"D,dì_dì." Ucapnya lemas, tak menduga jika sosok yang selalu ingin ia lindungi kini justru mengorbankan nyawanya.
Kuan mengedipkan matanya berulang kali dengan embun yang mulai membendungi sudut matanya.
"Ma_af.."
Satu kalimat ia dengar serak namun cukup jelas.
Sementara Jing Xu Ying kini membolakan matanya sempurna kala melihat seseorang yang harus terluka karna dirinya.
"S,shen, Y_yue Gēgē. Ba,bagaimana kau datang kesini. Ma,maafkan Yingying, aku tidak sengaja melakukannya padamu. Shen Yue Gēgē, maaf. Maafkan aku,,"
Dengan raut syoknya, Jing Xu Ying terus melihat pada pisau yang menancap pada punggung pria tampan itu.
Tangannya gemetar sebelum kemudian bergegas mencabut pisau tersebut dan melemparnya ke sembarang tempat.
Tak jauh berbeda dengan Kuan. Xiao Han dan Wang Hao pun, keduanya merasa terkejut saat mendapati Wang Yue yang telah berada di tempat tersebut tanpa di ketahui oleh mereka.
Melihat ketiga musuh di hadapannya lengah, Lu Jing dengan antusias mengarahkan kembali senjata berbahaya itu di tangannya.
"Han Gu,, kini giliranmu.! Matilah kau.!!"
Lu Jing tertawa puas meski dirinya gagal, tetapi bukan tak ada kesempatan baginya untuk membunuh Xiao Han.
"Dasar iblis.!! Kau memang tak punya hati Lu Jing.!! Apa kau tak pernah menyesal telah bahkan membunuh anak-anakmu selama ini?!! Kau terus mengulanginya.!
Kali ini, apa sampai putramu benar-benar mati kau baru akan merasa puas?!! Pernahkah kau berpikir bagaimana hidupnya selama ini saat kau membuangnya?!!"
Xiao Han terduduk menopang tubuh Wang Hao yang berusaha menahan sakit di bagian dadanya.
Han meneteskan air matanya, ia mencoba menepuk nepuk pipi pemuda yang telah menjadi bagian dari keluarganya itu untuk membuatnya tetap sadar.
"Xiao'er, tolong tahanlah sebentar lagi. Aku akan memanggilkan dokter untukmu, hiks,, tolong bertahanlah.."
Hal serupa Kuan lakukan pada Wang Yue yang mengalami luka cukup dalam pada bagian punggung perutnya.
"Gē, jangan lagi berbicara ngelantur pada wanita itu,, cepat pergilah selagi kau masih memiliki kesempatan. Aku akan berusaha menahannya untukmu.."
Meski begitu serak dan terbata, samar-samar suara Wang Hao masih dapat Xiao Han dengar. Ia menggeleng, kemudian kembali mengoceh.
"Lu Jing! Kau benar-benar biadab.!! Dia adalah darah dagingmu, dia putramu.!! Apa kau benar-benar akan membunuhnya untuk kedua kalinya.!! Kau memang tak pantas di sebut sebagai seorang Ibu.!!"
__ADS_1
Matanya terus meneteskan butiran embun, wajahnya terlihat sangat khawatir meski di kuasai oleh amarah.
"Apa yang kau bicarakan. Jangan berdebat denganku. Karena aku tidak akan pernah lagi memberimu kesempatan untuk hidup.!"
Masih dengan senyum kepuasan di wajahnya, Lu Jing kembali menodongkan senjata api tersebut pada Han.
"Selama ini kau membuangnya, kau juga membuat hidupnya dalam bahaya, dan kau masih ingin membunuhnya?!"
"Apa?!! Kau,,," Lu Jing tak terima dan berteriak pada Han.
"Dia adalah putra kandung mu.!! Putra ketigamu.!!"
"Tidak.! Tidak mungkin.! Jangan mencoba membodohiku.! Jangan berpikir aku akan mempercayaimu.!"
"Apa yang tidak mungkin.! Kau ingat Xiao Zheng dan Xiao RuYing? Kau mengenalnya dengan baik bukan?!"
Dengan bola mata kembali melebar, Lu Jing semakin kebingungan.
"Bukit pemakaman. Batu nisan Zhen Xin Jing."
"Tidak. Itu tidak mungkin.! Bagaimana kau tahu hal itu, Xoai Zheng dan Ru Ying bahkan sudah mati. Siapa kau sebenarnya.!"
Lu Jing terlihat semakin kacau, ia mulai tak bisa mengendalikan diri.
"Ya. Mereka sudah tiada setelah kau membunuhnya.! Meski mereka telah merawat putramu selama ini, namun kau justru tak segan untuk membunuh mereka karena dendam mu itu.!"
Xiao Han menjeda ucapannya.
"Jadi kau,,?"
"Ya. Aku datang untuk membalas dendam padamu, karena yang kau bunuh adalah kedua orang tuaku.!"
Usai dengan kalimatnya, Xiao Han membangunkan Wang Hao, kemudian menggendongnya untuk membawanya pergi.
"Gē,,"
Mendengar suara lemah pemuda di punggungnya, Han berhenti sejenak.
"Aku tak pernah memiliki orang tua selain Ayah dan Ibu Xiao tua itu, aku hanya memiliki kalian sebagai keluargaku."
Melihat Wang Hao yang tak sadarkan diri, Han melanjutkan menggendongnya.
"Jangan berpikir untuk pergi dari tempat ini.! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja dengan selamat.!!"
__ADS_1