
"Tunggu.!"
Baru saja keduanya membalikkan badan untuk pergi, suara Lubin menghentikan sepasang kekasih itu untuk melangkahkan kakinya.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padanya? Bukankah sebelumnya kau sangat memaksa ingin bertemu dengannya? Apa kau sungguh ingin pergi?"
Pemuda itu mengucapkan kalimatnya dengan perlahan melangkahkan kakinya.
"Bukankah kau melihatnya? Kehadiran ku disini hanya membuatnya terganggu.
Lagi pula, aku cukup lega melihatnya baik-baik saja sekarang. Dan aku tidak ingin menyakitinya dengan melihat ku berada di sekitarnya." Sahut kekasih Zi Cheng tanpa menoleh pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya.
"Yi Maa.!!! Yi Maa.!!! Hiks,, Yi Maa,, bangun.! Hiks,, Paman, Bibi, hiks,, tolong Yi Maa.. Hiks,, apa yang terjadi dengan sebenarnya? Mengapa Yi Maa menutup matanya? Hiks,, Yi Maa.!! Bangunlah..!!"
Tiba-tiba saja a Yi histeris memanggil sang ibu, membuat Wang Hao dan yang lainnya segera melakukan pemeriksaan pada Xiao Lin yang kembali tak sadarkan diri.
Sementara Zi Cheng dan sang kekasih yang juga mendengarnya, dengan cepat berlari menghampiri Xiao Lin.
"Cc, sebaiknya kita bawa a Xiao ke ruangan Jiějiě. Tubuhnya benar-benar lemah. Binbin, cepat bantu Jiějiě." Ujar dokter cantik itu sembari memeriksa keadaan Xiao Lin.
Tanpa bertaanya atau bahkan meminta persetujuan yang entah pada siapa. Wang Hao tiba-tiba mengangkat tubuh Xiao Lin.
Membawanya keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan milik sang dokter, di mana Xiao Lin menjalani perawatan sebelumnya.
Sementara Lulu dan Lubin dengan langkah cepatnya mengikuti dari belakang.
"Hiks,, Bibi Cc,, hiks,, a Yi ikut.."
Cc yang berniat pergi, menghentikan langkahnya saat mendengar isak tangis si kecil.
"Hiks,, a Yi ingin bersama Yi Maa. Hiks,, a Yi mohon,, ijinkan a Yi ikut,, a Yi ingin menemani Yi Maa.. Hiks,,"
__ADS_1
Ia dengan cepat mengangkat tubuh mungil itu, membawanya ke dalam gendongannya.
"Ini. Pakailah ini. Itu akan mempermudah mu. Jika kau menggendongnya, itu bisa mengakibatkan tekanan dan menyebabkan pendarahan pada pergelangan tangannya."
Zi Cheng membawakan kursi roda pada Cc, dan kemudian ikut menyusul bersamanya menuju ruangan sang dokter cantik tersebut.
Sesampainya di ruangan milik sang dokter, Wang Hao dengan cepat merebahkan tubuh Xiao Lin. Tak mau kalah, Lulu pula dengan cekatan menyiapkan beberapa alat yang akan ia hubungkan pada tubuh Xiao Lin.
Hingga semua siap dan semua alat terpasang pada tubuh Xiao Lin, Wang Hao jatuh terduduk lemas di lantai. Hal itu tak luput dari pandangan Lulu, membuat dokter cantik itu terkejut dan berteriak.
Lubin yang berada di luar pintu di dalam ruangan tersebut, seketika memasuki kamar tersebut setelah mendengar teriakkan sang Jiějiě.
"A Hao.! A Hao.! Apa kau baik-baik saja? A Hao.!!"
Lulu terus memanggil Wang Hao, mencoba untuk tetap membuatnya sadar.
"Ada apa dengan tubuh ku? Mengapa seolah tenagaku habis terkuras, tidak. Tidak.! Aku tidak boleh lemah, aku harus tetap sadar, Ibu membutuhkan ku. Tidak. Aku tidak boleh menutup mataku, demi Ibu, aku harus kuat.
Tuhan,, jangan biarkan mata ini tertutup, aku ingin menjaga Ibu disini. Ku_mohon,," Perang batinnya, sebelum akhirnya Wang Hao tak sadarkan diri.
Lubin mengangkat tubuh yang tak sadarkan diri itu pada sofa yang terletak di dalam ruangan besar itu.
Sementara Lulu yang sibuk memasang beberapa alat di tubuh Xiao Lin, Cc terus mencoba menenangkan a Yi yang terus menangis.
Si kecil yang melihat kejadian itu pun semakin keras tangisannya.
"Hiks,,hiks,, Yi Maa.. Hiks,, Paman Haohao,, hiks,, apa yang terjadi? Hiks,, mengapa kalian menutup mata kalian,,? Hiks.. A Yi mohon, hiks,, tolong buka mata kalian, hiks,, a Yi takut.. Hiks,,"
Tangis si kecil tak kunjung henti, terlebih saat melihat tubuh sang ibu terbaring lemah dengan banyak selang menjuntai menempel pada tubuh nya.
Di tambah lagi sang Paman tercinta yang selalu ada di sampingnya, ikut serta tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Nak,, mulai sekarang, a Yi harus tenang ya,, Yi Maa hanya terlalu lelah saja, setelah beberapa hari beristirahat, Yi Maa akan baik-baik saja nanti, dan pasti akan kembali menemani pangeran kecil kesayangan Yi Maa ini.."
Lulu yang merasa tak tega melihat a Yi bersedih, mencoba menghibur dengan meyakinkan bahwa sang Ibu baik-baik saja.
Meski ia tahu itu tak cukup membantu dan tidak cukup mampu meyakinkan si kecil, tetapi ia tetap berusaha untuk menenangkan nya.
Setidaknya, Lulu telah berusaha untuk sedikit mengalihkan kecil dari kesedihan dan kepanikannya.
"Bibi,, apa dengan tidur disini Yi Maa akan baik-baik saja? Apa Yi Maa benar-benar akan kembali menemani a Yi nanti?"
Nampaknya si kecil yang tak yakin, kini memastikan kembali ucapan yang sebelumnya Lulu katakan.
"Mn. Tentu." Sahut dokter itu cepat.
"Lalu, bagaimana dengan Paman Hao? Apa Paman Haohao baik-baik saja Bibi?" Tanyanya lagi khawatir.
"Ya. Tentu. Paman Hao mu baik-baik saja sayang,, Paman Hao mu juga kelelahan, sama seperti Yi Maa. Itu sebabnya Paman Hao ikut tertidur seperti Yi Maa, agar lelah Paman Hao hilang dan bisa kembali bermain bersama a Yi nanti.."
"Sungguh Bibi? Kalau begitu a Yi ingin menemani Yi Maa dan Paman disini. Bolehkah Bibi??"
"Nak, kau juga harus istirahat, jika kau tetap menunggu disini, kau bisa jatuh sakit lagi. Dan nanti Yi Maa mu akan bersedih.."
"Jadi a Yi tidak boleh menemani Yi Maa disini? Hiks,, a Yi hanya ingin bersama Yi Maa disini Bibi,, hiks,, tapi mengapa Bibi tidak mengijinkan a Yi bersama dengan Yi Maa disini.. Hiks,, a Yi ingin bersama Yi Maa, hiks,,hiks,, a Yi mohon Bibi,, hiks,, ijinkan a Yi menemani Yi Maa disini..
Hiks,, a Yi janji, a Yi tidak akan nakal. Hiks,, a Yi tidak akan macam-macam, hiks,, a Yi akan jadi anak baik disini,, hiks, hiks, hiks,, tapi tolong biakkan a Yi bersama Yi Maa disini,, hiks,, Bibi,, a Yi mohon.. Hiks,,hiks,, tolong ijinkan a Yi disini.. Hiks,,"
Hati Lulu ikut menangis melihat si kecil yang terus menangis memohon, hanya untuk bersama sang ibu.
Ia menjadi tak tega untuk memaksa a Yi kembali ke ruangan nya, namun ia juga tak bisa jika membiarkan a Yi tetap menunggu sang ibu hingga membuka matanya. Karena itu akan berakibat buruk pada kesembuhan a Yi.
Akan tetapi ia juga tidak akan bisa membiarkan a Yi terus menangis memohon padanya seperti saat ini.
__ADS_1
Lulu dilema dengan perasaannya sendiri, ia tak tahu bagaimana harus menanggapi rengekan si kecil.
Sepasang ibu dan anak itu terlalu membuatnya khawatir.