Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
45


__ADS_3

~


Pagi ini suasana di dalam ruangan Xiao Lin nampak lebih hangat dari biasanya.


"Pagi Lin Jiě, Tuan Wang.. Bagaimana perasaan mu saat ini?" Sapa Cc yang baru saja memasuki ruang rawat Xiao Lin.


"Mn."


Wang Yue menyahut singkat hanya dengan anggukan di sertai gumaman, di susul dengan beberapa kalimat dari Xiao Lin.


"Mn,, pagi Cc.. Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik sekarang."


"Ah,, syukurlah.. Sekarang nikmatilah sarapan pagi mu, lalu minum obatmu agar tubuhmu cepat pulih kembali." Lanjut gadis cantik itu sambil menyodorkan beberapa hidangan untuk kedua orang yang lebih dewasa darinya.


"Mm,, terima kasih. Ah, bergabunglah bersama kami. Kau ini masih terlalu pagi, aku yakin perutmu masih kosong." 


"Eh?" Cc sedikit kaget mendengar ucapan sang Jiějiě.


"Ah,, terima kasih Jiě, aku tidak ingin mengganggu kalian. Lagi pula,, aku sudah lebih dulu sarapan sebelum membawanya untuk mu." Tuturnya kemudian.


"Eh?? Ma_maaf.."


Lubin yang datang tanpa mengetuk pintu sebelum masuk, menjadi malu dan gugup saat tahu kamar yang ia masuki membuat beberapa orang di dalamnya beralih memandangnya.


"Sial.!! Aku lupa jika Wang Yue Gē masih disini.! Cih.! Eh, tapi bagaimana dengan Cc Jiějiě? Kapan dia datang?" Gumamnya dalam hati.


"Ada apa denganmu? Apa kau lupa cara mengetuk pintu dengan benar?"


Lamunan Lubin buyar seketika hingga tubuhnya bergidik ngeri, saat mendengar pertanyaan yang Cc tujukan padanya.


Cc memang buka tipe orang yang mudah menggunakan nada suara tinggi, juga ia bukanlah orang yang mudah menunjukkan rasa kesalnya pada orang lain.


Ia selalu terlihat penuh kasih sayang dan kelembutan, terlalu lembut, hingga tak menyisakan sedikit celah untuk orang lain berasumsi buruk tentang dirinya.


Namun itulah,, orang lain memang terkadang lebih pandai menilai segala sesuatu yang ada pada diri orang lainnya di banding si empunya sendiri.


Namun kembali pada diri sendiri, meski banyak orang memiliki keahlian untuk menilai orang lain, hanya beberapa orang saja yang benar-benar memiliki kemampuan untuk bisa membaca atau bahkan memahami kebenaran di dalam benak orang yang mereka nilai.


Karena menilai hanya berdasarkan apa yang terdengar saja tidak cukup, bahkan melihat secara nyata itupun tak cukup hanya untuk mengerti isi hati seseorang. Butuh keahlian dan ketulusan dari hati seseorang, untuk bisa melakukannya.


"Euu,, ma_maaf.." Ucap Lubin yang salah tingkah namun penuh penyesalan.


"Xiao Jiějiě, maaf.. Wang Yue Gē, maaf.. Cc Jiějiě maaf.. Aku lupa jika Wang Yue Gēgē ada disini menemani Xiao Jiějiě. Lagi pula,, Jiě, kapan kau datang? Bahkan aku tak tahu kau lebih dulu berada disini dariku." Paparnya.


"Bahkan jika aku tidak ada, kau harus tetap menjaga kesopanan mu. Jangan lupakan itu, atau kau akan mendapat masalah jika itu tak kau terus berprilaku seperti itu.


Lagi pula, ada apa dengan mu? Apa aku harus terlebih dulu melapor padamu untuk datang kesini."

__ADS_1


Sontak Lubin melebarkan matanya mendengar kalimat gadis yang sedikit lebih tua darinya.


"Ada apa dengannya? Apa kesalahan ku begitu fatal? Hingga membuatnya harus mengatakan hal demikian padaku." Batinnya miris.


"Dia.. Ada apa dengannya? Ada apa dengan tatapan itu."


Rupanya Xiao Lin pun memiliki pertanyaan serupa dalam hatinya seperti Lubin.


Merasakan keterkejutan dengan sikap Cc yang berbeda dengan dirinya sesungguhnya, namun Xiao Lin yakin apapun itu ada sebab yang membuat Cc demikian.


"Cc,, apa ada yang mengganggumu? Jika ada yang menggangu mu katakan saja. Jiějiě akan dengan senang hati mendengarkan apapun yang kau katakan." Tuturnya sesaat setelah Cc memarahi Lubin.


"J,jiě,, maaf.. Aku tidak bermaksud membuat mu kesal, kalau begitu aku permisi. Maaf telah membuat gangguan disini."


Lubin melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan aneh.


"Eh, Binbin. Binbin.!! Tu,, aishh.! Anak ini, pergi begitu saja, bahkan tanpa mempedulikanku disini.!" Gerutu Xiao Lin yang kesal karena di tinggal begitu saja.


"Cc, katakan. Ada apa denganmu? Apa yang benar-benar mengganggumu, kau tidak seperti yang ku kenal. Apa yang salah dengan Lubin? Mengapa harus mengatakan itu padanya?"


"Aku bahkan tidak tahu apa alasannya Jiě, mengapa dengan spontan mengatakannya."


Cc tak menjawab, hanya diam dengan pandangan tertuju pada sudut tertentu. Xiao Lin mengikuti arah pandang gadis itu, nampaknya ia tahu apa sebab dan alasannya.


"Sebaiknya tenangkan hatimu, dan jangan lupa untuk meminta maaf pada Binbin nanti." Tuturnya membuat Cc menoleh padanya.


"Tidak apa,, dia baik-baik saja. Datanglah jika perasaanmu lebih baik."


Cc mengangguk, kemudian pergi meninggalkan kedua orang yang kini memandangnya.


"Eh,, Yue Gēgē. Mengapa masih tak menyentuh makanan di depanmu?" Tanyanya pada sang suami dengan bibir yang ia majukan setelahnya.


"Makanlah dulu, Gēgē belum lapar." Sahut Wang Yue dengan memerintah.


"E,,, begitu ya.. Baiklah, jika tidak ada yang ingin menemani ku sarapan, aku juga tidak bisa memakannya." Ucapnya dengan berpura-pura merajuk pada sang suami.


"Xiaoxiao, ah Xiaoxiao. Malang sekali nasibmu, tidak ada yang mengasihani mu disini. Membiarkan mu kelaparan seperti ini, hiks, hiks, bahkan tetua Wang juga melakukannya. Hiks, membiarkan Xiao Wang malang ini mena,,,"


"Makan saja. Dan jangan membuat wajah seperti itu di hadapan ku, atau kau akan terima akibatnya."


Wang Yue yang tak tahan melihat tingkah sang istri, mengambil semangkuk makanan di hadapannya lalu memasukkan dengan paksa suapan kedalam mulut sang istri yang tengah mendrama di hadapannya.


Bukan, Wang Yue bukan marah. Hanya saja ia merasa begitu gemas, merasakan kembali kebersamaan yang telah lama ia rindukan.


"Wue, Yue Gēgē.! Aku bahkan belum selesai mengatakannya, mengapa begitu cepat menyuapiku dengan makanan itu.!" Protes Xiao Lin tak terima.


"Makan dan jangan berbicara saat mengunyah." Sahutnya memperingati sang istri.

__ADS_1


"Ch. Dasar tetua Wang membosankan.! Kau selalu saja seperti ini sejak dulu." Rajuknya melipatkan kedua tangannya di dada.


"Hm,, dan kau masih tetap sama seperti yang dulu, Xiaoxiao ku. Tetaplah menjadi seperti ini.."


"Tersenyum seperti itu, aku tahu apa yang kau pikirkan. Teruslah tersenyum seperti itu Suamiku, hahh.. Aku benar-benar merindukannya.."


"Ekhemm.!!"


Wang Yue berusaha menyadarkan sang istri yang nampak asik dengan lamunannya, namun nampaknya suaranya tak cukup mampu menyadarkan nya.


"Ukhukk.ukhukk.!!"


Tiba-tiba saja Xiao Lin terbatuk tak beraturan.


"Minumlah.." Titah pria tampan itu sembari menyodorkan segelas air dan membantu sang istri meminumnya.


"Wue, Yue Gē.! Apa yang kau lakukan, apa kau ingin membuat Xiao Wang malang ini mati muda." Gerutu Xiao Lin setelah batuknya mereda.


"Tidak, kau terus melamun dengan wajah seperti itu. Memanggil mu saja tidak cukup mampu untuk menyadarkan mu, jadi.."


"Jadi kau menciumiku dengan tiba-tiba, dan aku tersedak karena mu.! Begitu saja, selalu mencari kesempatan.!" Maki Xiao Lin, tanpa mendengar lanjutan kalimat sang suami.


"Maaf." Ucapnya merasa bersalah.


Baik Wang Yue maupun Xiao Lin, keduanya terdiam tanpa suara. Wang Yue sedikit menurunkan pandangannya, wajahnya terlihat begitu merasa bersalah telah membuat istrinya celaka.


"Ppfftt..! Ahahahaa.. Wue, tetua Wang. Lihatlah bagaimana wajahmu saat ini."


Xiao Lin tertawa terbahak memegangi perutnya, dengan satu jemari menunjuk wajah sang suami. Membuatnya kebingungan dengan sikap sang istri padanya.


"Yue Gē, lihatlah, kau masih saja mudah tertipu. Haha,," Ucapnya kemudian lanjut tertawa.


"Ekhemm. Baiklah, aku sudah cukup tertawa. Gē,, tidak apa-apa. Aku hanya tersedak, ini tidak akan membunuhku."


"Maaf.."


Mendengar ucapan sang istri yang mengganggu telinganya, Wang Yue semakin merasa tak nyaman.


"Kau memang benar-benar tak berubah Gē, hanya hal sekecil itu saja akan selalu membuatmu khawatir padaku. Heuummh.. Setidaknya itulah alasan mengapa aku begitu mencintaimu hingga saat ini.."


Xiao Lin menggeleng dengan tawa yang masih terdengar, meski tak seheboh sebelumnya.


"Tidak apa Gē, jangan khawatir,, aku baik-baik saja. Terima kasih.." Ucapnya di sela tawanya.


Sedangkan si empunya yang menjadi bahan tertawaan, hanya mengedipkan matanya lucu, namun ada sedikit senyum menghiasi wajah tampannya.


"Teruslah tertawa seperti ini, bahkan jika aku harus menerima semua amarahmu, aku baik-baik saja. Asal bisa tetap melihat tawa itu darimu, istriku." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2