
~
Pagi menyapa, kuncup bunga telah bermekaran menambah kesan keindahan pagi hari.
Terhitung kini sepekan terlewati sejak peristiwa yang menimpa Lubin dan Cc kala itu, keadaan pun menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Namun nampaknya hal itu tidak bisa begitu saja membuat Xiao Lin merasa tenang, terlebih semenjak dirinya mengetahui rahasia besar yang tak pernah ia ketahui selama ini.
Suasana nampak tenang mengimbangi ketenangan seseorang yang kini terdiam dalam lamunannya, merenungkan sesuatu yang terlalu mengejutkan baginya.
Sementara disisi yang lain, seorang lainnya tak luput serta terdiam mengamati sang pemilik hatinya dengan perasaan khawatir.
Ialah Wang Yue yang sedari tadi memandangi Xiao Lin, istri tercintanya.
Ia telah berdiri sejak satu jam lalu hanya untuk memastikan jika istri tercintanya itu menghabiskan sarapan paginya, dan meminum obatnya dengan teratur.
Namun seperti yang ia khawatirkan, saat dirinya memasuki kamarnya, pria tampan itu hanya menemukan makanan yang telah ia sediakan untuk sang istri masih utuh tak tersentuh oleh si empunya yang terdiam dengan pandangan kosong.
Wang Yue menghembuskan nafasnya lemah sebelum beranjak mendekati istri tercintanya yang nampak tak terusik dengan kehadirannya.
Pria tampan itu tersenyum lembut saat Xiao Lin mendongak memandangnya, kala merasakan sentuhan lembut dari tangan besar milik sang suami yang mendarat tepat di puncak kepala istrinya itu.
"Apa masih memikirkan nya, hm?"
Wanita cantik itu tak menjawab, namun ia mengangguk dengan bibir terkatup rapat.
Wang Yue membuang nafasnya kasar, pandangannya kian melembut. Kemudian mendudukkan dirinya tepat di samping sang istri, guna menyandarkan tubuh sang istri padanya.
"Izinkan Suami yang tak tahu apa pun ini, mengetahui semua yang menggangu pikiran Istri kecilku yang murung ini.."
Mendengarnya, Xiao Lin tak dapat menahan senyumnya. Meskipun Wang Yue adalah orang yang keras dan dingin, akan tetapi saat bersamanya, pria yang berstatus sebagai suaminya itu akan benar-benar menjadi seorang yang begitu hangat dan lebih berperasaan.
Wang Yue memang selalu menggunakan hatinya untuk bisa memahami segala perasaan sang istri. Karena ia tahu, Xiao Lin adalah tipe orang yang akan selalu menyimpan bebannya sendiri dan akan sangat sulit mengungkapkan isi hatinya pada orang lain.
Namun alasan sebenarnya bukan hanya karena Xiao Lin berstatus sebagai istrinya, akan tetapi pada dasarnya Wang Yue memang selalu lebih mementingkan perasaan dan kenyamanan sang istri.
Jadi, bukan hal yang sulit baginya untuk mengetahui perasaan sang istri. Meski Xiao Lin bungkam, Wang Yue masih akan mengetahuinya.
__ADS_1
Pria tampan itu masih memandang lekat sang istri yang kini nampak nyaman bersandar padanya, hanya saja tak lagi sama memandangi dirinya seperti sebelumnya.
Namun kemudian Wang Yue merasakan lengan-lengan mungil istrinya itu mulai merayap ke sisi tubuhnya, hingga berakhir melingkari tubuh kekar miliknya.
Ada senyum tipis di bibir Wang Yue kini, hal serupa juga di lakukan nya pada sang istri, ia memeluknya penuh kasih.
"Jadi,, apa? Bisa tolong ceritakan sekarang?"
Xiao Lin mendesah pasrah, merasakan usahanya untuk mengalihkan perhatian sang suami agar melupakan pertanyaan nya itu telah gagal. Jadi mau tak mau ia pun harus mengatakan nya.
"Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya Gē, saat matanya menatap ku, aku merasakan rasa bersalah yang begitu besar padanya."
Kerutan kini muncul di pertengahan kedua alis Wang Yue, namun ia kembali memamerkan senyum menawannya.
"Xiaoxiao,, bagaimana pun itu adalah masa lalu. Dan jauh sebelum kau mengetahui keadaannya, kau tidak pernah bersalah dalam hal ini."
Xiao Lin mendongak melirik sang suami untuk sekilas, sebelum kembali menundukkan kepalanya.
Mendapati wajah sang istri yang menunduk sedih, Wang Yue beberapa mendaratkan kecupan sayang puncak kepalanya, dengan mengeratkan dekapannya pada wanita cantik itu.
"Seperti yang kau lihat, Gēgē bahkan telah melewati kehidupannya dengan baik hingga saat ini.
"Bukan aku tidak bahagia Gēgē telah kembali, tapi Yue Gē,, entah mengapa perasaan takut itu semakin besar menghantuiku.
Bahkan meski Gēgē telah lama berada dalam lingkungan mereka, bukankah nyawanya akan semakin dalam bahaya? Jika sampai mereka tahu bahwa orang yang selama ini mereka percayai adalah bagian dari keluarga ku."
Angan Xiao Lin melambung jauh, teringat saat pria bernama Chen membawanya menemui sang putra beserta orang-orang lainnya di tempat yang sama.
Juga, pertemuan itulah yang telah mempertemukan dirinya dengan seseorang yang kini terus membuatnya di hantui rasa khawatir.
~ ~ ~> 7hari sebelumnya. <~ ~ ~
"Kau.! Dasar brengsek.!! Apa maksudmu dengan mengunci kami disini seharian.!!"
Wang Yue yang sedari tadi asik menggoda Wang Hao bersama sang istri tercinta, seketika beranjak dari tempat duduknya untuk mendekati Chen yang entah datang dari mana dan dengan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Sedangkan si empunya hanya meringis konyol mendapati sang sahabat berada dalam mode ganasnya.
__ADS_1
"Eu,, maafkan aku, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara disini. Jadi,, Yue'er. Sebaiknya kita tinggalkan ruangan ini sekarang."
Chen tak ingin membuang-buang waktunya lebih lama di ruangan itu, jadi ia langsung mengajak suami istri itu untuk mengikutinya.
"Kemana kita akan pergi?" Wang Hao tiba-tiba membuka suara, mengalihkan perhatian Chen padanya.
"Eh,? A Hao?? Kau,, sudah sadar? Ah,, baguslah, jadi kita bisa bicarakan ini sama-sama."
Mengetahui bahwa Wang Hao telah siuman, Chen tak ragu untuk serta mengajaknya. Sedikitnya ia merasa lega karena Wang Hao terbangun di waktu yang tepat.
"Tunggu.! Dimana putraku?"
Wang Yue menghentikan langkah Chen saat berniat pergi.
"Jika kau ingin bertemu dengan putramu maka jangan banyak bertanya, cepat ikuti aku. Atau aku akan mengurung mu lagi di tempat ini selama yang aku mau."
"Eh,, tunggu.! Chen Gēgē, apa yang akan kau lakukan? Itu adalah dinding, apa kau berniat mengajak kami untuk menembus dinding itu?"
Wang Hao kembali membuka suaranya, dan kali keduanya untuk Chen menghentikan langkahnya.
"Kau pikir aku sehebat itukah? Sudahlah cepat datang kemari, atau aku akan benar-benar meninggalkan kalian disini."
Kini Wang Yue benar-benar menghampiri Chen dengan langkah cepatnya dan memukul kepala sahabatnya itu. Membuat si empunya mengaduh kesakitan.
"Oy.! Si tua Wang.!! Apa yang kau lakukan.?!!" Teriaknya tak terima.
"Kau bodoh atau bodoh.! Cepat bantu Hao'er,.!!"
Dengan perasaan kesal Chen berjalan mendekati Wang Hao.
"Chen Gē, Maaf atas sikap kasar Yue Gē."
Wajah masam yang Chen tampilkan sebelumnya, kini telah berubah sepenuhnya. Dengan senyum tulus darinya, ia menggeleng menanggapi pernyataan maaf dari Xiao Lin.
"Tidak apa-apa, si tua Wang memang seperti itu padaku saat merasa kesal."
Melihat wajah bersalah dari wanita cantik itu, membuat Chen tak tega.
__ADS_1
"Ah,, sudahlah sudah,, aku baik baik saja. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang sering menjadi buas dengan tiba tiba. Sebaiknya kau hati hatilah pada Suami barbar mu itu, aku takut dia memakan mu dengan paksa ketika suasana hatinya buruk."
Mendengar kalimat tak mengenakan dari sang sahabat, Wang Yue memandang tajam padanya.