
*
Sesampainya di rumah sakit, Wang Yue bergegas untuk cepat sampai ke ruangan rawat putranya. Ia berlari dengan tergesa, mengabaikan beragam pandangan aneh orang lain padanya. Melupakan seseorang yang mengumpat kesal padanya yang ia tinggalkan.
Kepanikan semakin melanda hatinya kala mendapati ruangan tersebut kosong tak berpenghuni.
Ia berlarian mencari ke setiap sudut ruangan hingga koridor rumah sakit, namun tak kunjung menemukan keberadaan keduanya.
Tepat saat Wang Yue berencana menanyakan pada perawat, dirinya berpapasan dengan dokter cantik yang merawat putranya.
"Ah, Tuan Wang. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Lulu si dokter cantik dengan tak lupa menanyakan hal yang sekiranya bisa ia lakukan.
"Mn. A,,"
"Ah,, apa anda mencari putra anda? Saat ini putra anda ada di ruangan saya Tuan." Ucap dokter cantik itu memotong kalimat yang akan Wang Yue katakan.
"Oy. Yue'er bodoh.!!! Mengapa kau suka sekali me_ning,,,"
Chen datang dengan teriakan menggema di sepanjang koridor, namun kalimatnya terhenti saat pandangannya bertemu dengan seseorang yang berada di seberang Wang Yue.
Matanya membola sempurna, dengan tingkah yang menjadi serba salah bak seorang putri yang tengah di mabuk asmara.
Sementara Lulu yang melihat, hanya tersenyum tanpa mengurangi kecantikan di wajahnya.
"Selamat datang kembali,, semoga harimu menyenangkan.. Ji Chen Gēgē."
Lulu memberi ucapan selamat datang pada Chen yang masih tak menyangka jika dirinya akan bertemu sang bidadari tambatan hatinya.
"Te_tterima kasih Nona Lu." Sahut si laki-laki bernama lengkap Ji Chen itu, atau yang kerap di sapa Chenchen oleh Wang Yue.
"Mari Tuan, saya antar ke ruangan saya."
Usai mengatakan nya, dokter cantik itu kemudian memimpin kedua orang di belakangnya menuju tempat dirinya bekerja.
"Silahkan Tuan, mohon tunggu sebentar. Akan saya panggilkan a Yi."
Lulu mempersilahkan kedua laki-laki di belakangnya itu untuk masuk serta duduk untuk menunggu.
"Jiějiě. Mengapa kembali? Bukankah sudah kukatakan jika sebaiknya kau istirahat saja, lalu dimana Binbin? Mengapa dia membiarkan mu kembali kesini."
Cc yang semula asik berbincang dengan a Yi terkejut melihat sang Lulu yang seharusnya telah pergi meninggalkan rumah sakit, kini justru datang menemuinya.
"Mm,, Jiějiě ingin mengambil ponsel Jiějiě yang tertinggal. Tetapi saat perjalanan menuju kemari, Jiějiě berpapasan dengan Tuan Wang.
Beliau tengah khawatir mencari putranya, jadi Jiějiě membawanya datang." Jelas Lulu tanpa mengurangi ucapannya.
"Euu,, Cc. Dimana a Cheng? Apa dia pergi?"
Lulu mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan, mencari keberadaan gadis yang sebelumnya datang bersama sang kekasih.
"Eh,, bukankah mereka ada di ruang depan Jiě,? Kemana mereka pergi." Sahut Cc yang juga merasa heran.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Nak,, ikutlah dengan Bibi,, Ayah mu menunggu di depan."
"Benarkah Bibi.?" Ucap si kecil dengan girang.
"Mn. Ayo."
Lulu mengangguk dengan cepat, ia mengulurkan tangannya yang di sambut dengan antusias oleh si kecil.
"Yi Paa..."
Si kecil dengan cepat berlari menghampiri sang Ayah, membuat Lulu hampir kesulitan mengimbangi langkahnya.
Beruntung selang infus yang sebelumnya menempel pada lengan a Yi telah Cc lepas, jadi tak akan mengganggu setiap pergerakan yang a Yi lakukan.
"Yi Paa,, a Yi merindukan Yi Paa.."
"Mn, Papa juga merindukan pangeran kecil Papa yang tampan ini."
Berkali-kali Wang Yue menciumi seluruh wajah si kecil, hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Ekhemm.!! Sepertinya aku kembali terabaikan."
Chen membuka suaranya setelah dirinya cukup puas menikmati candaan dari sepasang ayah dan anak di hadapannya.
A Yi mengeryit memandang orang dewasa yang baru saja membuka suaranya.
"Paman. Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya polos.
Si kecil mengangguk-anggukkan kepalanya membuat Chen tersenyum girang.
"Tidak."
Dan,, seketika senyum itu luntur saat mendengar jawaban bocah kecil itu yang membuat sang lawan bicara mendesah kecewa.
"Nak,, dimana Pamanmu?" Tanya sang ayah mengalihkan perhatian si kecil padanya.
"Paman??" Ulang si kecil dengan wajah nampak berpikir.
"Ah, maksud Yi Paa Paman Haohao??" Ucapnya kembali seperkian detik kemudian.
Wang Yue hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Paman Haohao ada di dalam sana, bersama Yi Maa."
Wang Yue mengerutkan keningnya, mendengar jawaban putra kecilnya.
"Yi Maa??" Gumamnya mengulang kalimat si kecil.
"Mn.! Yi Maa. Yi Maa ada di dalam, Yi Paa,, ayo kita temui Yi Maa di dalam."
Si kecil terus bergerak dengan lincah dalam dekapan sang ayah, tangan mungilnya terus menunjuk sebuah pintu yang sebelumnya ia lewati bersama sang bibi. Namun tak ada pergerakan dari Wang Yue.
__ADS_1
"Yi Paa.!! Yi Paa.!! Ayo, kita temui Yi Maa,, ayo cepat.."
Dengan pikiran bingung menguasai seluruh isi kepala nya, Wang Yue menurut.
Mengikuti langkah si kecil yang meminta turun dari gendongan sang ayah. Si kecil dengan senyum riangnya membawa sang ayah memasuki kamar tersebut, setelah Lulu membukakannya.
"Yi Maa.!!"
Tepat setelah memasuki kamar tersebut, a Yi berteriak memanggil sang ibu yang telah sadarkan diri.
"Hey,, Kemarilah nak. Yi,,,"
Dan saat itulah, pandangan Wang Yue dan Xiao Lin bertemu. Namun reaksi berbeda terpampang dari wajah keduanya.
"Xiao_xiao,," Gumam Wang Yue lirih dengan terbata, pandangannya menyipit dengan genangan air memenuhi sudut matanya yang siap terjun saat itu juga.
Sementara Xiao Lin, matanya membola sempurna setelah melihat pria di hadapannya.
"Xiaoxiao,, apa benar ini dirimu? Mengapa kau begitu takut melihat ku.?"
Baik Cc, Lulu, bahkan a Yi memandang bingung kedua orang yang saling pandang di hadapannya.
Berbeda Xiao Lin dan Wang Yue sendiri, mereka memiliki begitu banyak hal yang kembali memenuhi isi kepalanya. Dengan banyaknya pertanyaan yang ingin ia tanyakan, namun tak tahu pada siapa harus ia tanyai.
°
Tak sadar air mata yang sedari tadi tertahan, perlahan jatuh membasahi pipi pria tampan itu. Kilas bayang masa lalu mengusik ingatannya.
"Mn. Xiaoxiao,, jaga diri baik baik disini selama Gēgē mengantarkan putra kita. Setelah dokter datang, Gēgē akan segera menemui mu."
"Tentu. Eu,, Yue Gē, aku harap setelah ini tak ada lagi yang bisa memisahkan kita.
Tetapi..
Jika memang harus berpisah,, tolong jaga dan lindungi putra kita dengan segenap jiwamu. Cintailah dia seperti kau mencintaiku, jangan biarkan dia sedih dan sendiri."
~
Wang Yue masih termenung dalam lamunannya, tak ada kata satupun sedari tatapan keduanya bertemu. Ia terpaku melihat wajah seseorang yang sangat dirindukannya selama ini.
Melihatnya, bukan berarti akan baik baik saja bagi Wang Yue.
Kilas bayangan masa lalu terus muncul dalam ingatan nya, membuatnya larut dalam angan yang tak memberinya kesempatan untuk melupakannya. Beberapa adegan sebelum sang istri pergi, tergambar jelas dalam pikirannya.
"Xiaoxiao..!!! Xiaoxiao..!! Biarkan aku masuk.!! Xiaoxiao..!!! Tunggulah,, Gēgē akan menyelamatkan mu.. Xiaoxiao bertahan lah..!!! Jangan halangi aku..!! Kumohon,, hiks,, istriku ada di dalam,, dia masih terbaring di dalam sana,, hiks,, ku mohon,, jangan halangi aku untuk menyelamatkan nya,, hiks,, tolong selamatkan istriku... Hiks,, Xiaoxiao,, bertahanlah...hiks,,"
Tidak ada yang tahu, apa yang tengah mengganggu pikiran Wang Yue, semua orang di sekelilingnya hanya dapat memandang dengan heran melihat keduanya.
Karena baik Cc ataupun Lulu, keduanya tidak ada yang mengetahui kebenaran tentang kehidupan mereka berdua sebelumnya.
"Hiks,, hiks,, tidak.!! Xiaoxiao.!!! Tunggulah, Gēgē akan menyusul mu, hiks,, Gēgē mohon, jangan tinggalkan Gēgē sendiri. Hiks,, kau bilang kau ingin bersama Gēgē, hiks,, bersama putra kita, hiks,, Gēgē mohon,, bertahanlah disana, Gēgē akan menyelamatkan mu sayang."
__ADS_1