Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
14


__ADS_3

°Rumah sakit [I].


~


Wang Hao memandang lekat wanita cantik di hadapannya. Wajah nya yang sedari sebelumnya santai, kini sangat berbeda,, ia menjadi lebih serius.


"Baiklah,, jika Jiějiě ingin mengetahui tentang diriku,, juga keluarga ku. Akan ku beri tahu.."


Lulu tak menjawab. Namun beberapa anggukan ia lakukan, tanda jika ia siap untuk mendengarkan.


"Aku hanya orang biasa Jiě, kehidupan ku tidak ada yang istimewa. Aku terlahir dari orang tua yang tak menginginkan ku.." Ucapnya lirih di akhir kalimat.


Lulu tersentak atas kalimat yang barusan ia dengar. Ia melihat kembali perubahan wajah Wang Hao yang kini menjadi begitu sedih. Dapat ia lihat tatapan itu,, tatapan yang menyimpan begitu banyak kepedihan.


"Setelah kehadiran ku di dunia,, kedua orang tua ku memutuskan untuk membuang ku, bahkan mereka ingin membunuhku. Tetapi ada sepasang suami istri, yang begitu dekat dengan kedua orang tua ku mencegah nya.


Kemudian mereka mengasuh ku,, layaknya putra mereka sendiri. Mereka juga telah memiliki seorang anak, tetapi mereka tidak pernah membedakan kasih sayangnya padaku."


Terlukis senyum di wajah pemuda itu, saat mengucapkan kalimat kalimat tersebut.


"Hingga beberapa tahun terlewati,, aku mulai mengenal tentang orang orang di sekitar ku, kau tahu Jiě,? Saat itu aku menyangka jika kedua orang tua asuh ku adalah orang tua kandung ku.


Dan juga, aku menyangka,, jika kedua saudara saudariku yang selalu menemani ku adalah saudara kandung ku." Ujarnya antusias.


Senyumnya mengembang begitu bahagia saat ia menceritakannya.


"Tetapi aku salah,, berjalannya waktu,, aku mulai mengetahui kebenarannya.


Mereka bukanlah orang tua kandung ku,, dan salah satu dari kedua saudara ku bukanlah saudaraku. Dia adalah putra dari orang tua asuh ku." Lirihnya, dengan pandangan kembali menyendu.


Wang Hao terdiam untuk beberapa saat, sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Di antara kedua orang yang sangat aku sayangi,, hanya satu. Yang benar benar adalah saudara kandung ku. Dialah satu satunya dalam keluarga ku yang menganggap ku sebagai keluarga.


Dia orang yang selama ini masih setia menemani ku, membimbing ku, menyemangati ku, juga selalu menjadikan ku hanya satu satunya yang benar benar keluarga nya diantara keluarga kami.


Juga,,,"


Wang Hao menghentikan ucapannya. Kini sudut matanya telah menggenankan air yang siap untuk ia terjunkan saat itu juga.


"A Hao,, jika memang itu tak mudah untuk kau ceritakan,, lebih baik kita hentikan sampai disini..


Maaf,, Jiějiě tidak bermaksud memaksamu untuk menjelaskan. Sebelumnya Jiějiě hanya mengkhawatirkan saudari Jiějiě saja. Jiějiě tidak menyangka jika itu akan membuat mu bersedih."


Namun Wang Hao menggeleng tak setuju.


"Tidak apa Jiě, aku tak menyalahkan Jiějiě. Wajar saja jika Jiějiě khawatir, karena itu menyangkut keluarga Jiějiě." Ucapnya meyakinkan.


"Tapi Jiě,, harus Jiějiě tahu. Aku tidak ada motif apapun yang ku rencanakan. Aku hanya ingin mencari informasi tentang seseorang.


Seorang saudari yang begitu berarti untuk ku, seorang Jiějiě yang sangat dan sangat kami cintai. Seorang Jiějiě yang telah tiada, namun meski begitu ia masih, dan akan terus hidup di dalam hati kami."


Genangan yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya, kini perlahan terjatuh membasahi pipi pemuda tampan itu.


"Itu sebabnya aku terus mencari tahu sebab dan alasan tentang kepergiannya. Meskipun itu terjadi karena kecelakaan di masa lalu,, tetapi banyak hal yang janggal tentang kematian nya.


Mungkin beberapa orang tidak ada yang menyadari hal ini. Tetapi satu hal yang pasti, aku yakin bahwa Jiějiě masih hidup."


"Lalu,, apa hubungannya dengan Lin Xiǎomèi?? Apa maksudmu kau mencurigainya sebagai pembunuh Jiějiě mu? A Hao, itu tak mungkin.!! Xiǎomèi adalah orang baik baik. Jadi takkan ada hubungannya dengan kematian Jiějiě mu itu.!"


Lulu yang sedari tadi tenang seolah tak terima, ia menduga duga dari apa yang Wang Hao cerita kan adalah bermaksud untuk menghakimi Xiǎomèi tersayang nya.


Padahal jelas jika ia bisa saja salah paham dengan pemikirannya sendiri.


°


~Kediaman Lu.


"Apa yang terjadi dengan Jiějiě mu? Wajahnya terlihat memiliki begitu banyak beban. Apa kau tahu sesuatu nak?"


"Eum,, tidak Bu. Sejak Binbin menjemputnya,, wajah Jiějiě sudah murung seperti itu." Ucap Lubin, menyahuti sang ayah.


"Hahh,,, ada apa dengannya,, apa dia memiliki masalah?" Gumam Tuan Lu dengan berlalu meninggalkan putranya.


"Istriku,, kemarilah. Temui putrimu, juga bawakan dia makanan. Ajaklah ia berbicara,, aku khawatir dia akan stres dengan pekerjaannya."


"Tenanglah Suamiku,, aku yakin putri kita baik baik saja. Ah,, akan ku coba untuk berbicara dengannya. Sebaiknya kau istirahat saja,, kau juga lelah bukan?."

__ADS_1


"Haahh.. Aku mengkhawatirkan putri kita,, aku takut dia terlalu lelah."


"Percayakan padaku Suamiku,, aku akan mengurusnya. Sekarang istirahat lah.. Aku akan menemui putri kita dulu.."


Tuan Lu hanya memandangi punggung sang istri yang berjalan menaiki anak tangga di hadapannya, sebelum akhirnya ia pergi menuju kamarnya setelah bayangan sang istri tak terlihat lagi.


Tok.!


Tok.!!


Tokk..!!


"Nak,, Ibu masuk ya.." Ucap Nyonya Lu seraya membuka pintu kamar putrinya.


"Ah, Ibu,, silahkan.." Sahutnya saat mengetahui kedatangan sang ibu.


"Ibu bawakan sup hangat untuk mu nak,, Ibu tahu kau pasti membiarkan perutmu kosong karena jam kerjamu yang padat."


Lulu menerima nampan yang cukup penuh dengan beberapa hidangan dan susu hangat yang sang ibu bawakan.


"Terima kasih Ibu,, tetapi Ibu tidak perlu repot-repot dengan ini. Lulu bisa mengambilnya sendiri Ibu.." Ucapnya tak enak pada sang ibu.


"Tak apa nak,, Ibu senang melakukan ini. Ibu hanya takut kau akan membiarkan perutmu kosong hingga pagi. Jadi Ibu membawakannya untukmu, agar kau bisa memakannya sebelum kau istirahat."


Nyonya Lu mengusap sayang puncak kepala putrinya, ia tersenyum mengamati wajah sang putri yang terlihat lelah.


"Makanlah nak,, setelah itu bersihkan dirimu dan beristirahatlah. Kau sangat lelah bukan,,?"


Lu tersenyum dengan anggukan,, ia selalu merasa sangat di manjakan oleh orang orang terdekatnya. Seolah mereka takut sesuatu yang buruk akan menimpanya jika mereka membiarkan nya sendiri.


"Mn. Ibu,, mari makan bersama.. Aaaa"


Nyonya Lu menggeleng dengan senyuman, tak lupa menyentuh sayang hidung lancip putrinya.


"Ibu masih kenyang nak,, kau habiskan makanannya. Ibu akan menemani mu disini sampai kau selesai memakannya."


Gadis cantik itu kembali mengangguk dengan senyum lebarnya, kemudian melanjutkan suapan demi suapan ke mulutnya hingga ia selesai dengan suapan terakhir nya.


"Masakan Ibu memang yang terbaik.! Terima kasih Ibu.." Ucapnya lalu mengecup sayang pipi sang ibu.


Selesai mengatakan nya Nyonya Lu mengecup sayang puncak kepala putrinya, tak lupa ia membawa semua tempat makanan yang telah kosong tak tersisa makanan sedikitpun.


°


~Rumah sakit.


"Hahh.."


Terdengar helaan nafas yang mungkin hanya sang empunya sendiri yang mendengarnya.


"Mengapa kalian tidur dengan posisi seperti ini,, tubuh kalian akan sakit jika terlalu lama tidur seperti ini.." Gumamnya kemudian.


Sudah dapat di tebak bukan siapa si empunya? Ya, dialah Wang Hao. Ia menggeleng heran melihat sepasang ayah dan anak di hadapannya saat ini.


"Gē. Yue Gēgē,, bangunlah. Hao'er bawakan makanan untukmu. Makanlah dulu.."


Wang Hao membangunkan sang Gēgē dari tidurnya.


Merasakan seseorang mengguncang lengannya, sang empunya terbangun.


"Haohao. Ah,, kau sudah kembali.." Ucap Wang Yue dengan suara khas orang bangun tidur.


"Mn. Hao'er baru saja datang. Mengapa kau tidur memeluk a Yi dengan posisi seperti itu Gē? Tubuh kalian akan sakit setelahnya."


Wang Hao meletakkan semua makanan yang ia bawa di meja, tak lupa ia menata dan menyiapkannya agar sang Gēgē bisa langsung menyantap nya.


"Gē,, makanlah. Biarkan a Yi Hao'er yang mengurusnya." Ucapnya dengan mendekati sang Gēgē, lalu mengangkat tubuh mungil yang masih terlelap dalam mimpi nya.


"Letakkan saja dulu di ranjangnya jika masih belum terbangun,, kau bisa makan dulu bersama Gēgē."


"Paman_Hao,,,"


Rupanya si kecil a Yi membuka matanya. Dengan mata sayupnya, tangan mungilnya begitu cekatan kini telah memeluk leher sang paman.


"Eh,, jagoan kecil paman sudah bangun rupanya." Ujar sang paman tanpa melepaskan gendongannya.


"Gēgē makanlah. Hao'er masih kenyang. Makanan itu ku bawakan untukmu, jadi kau habiskan saja Gē?."

__ADS_1


"Tidak.! Ini terlalu banyak, perutku tak akan sanggup menerimanya."


Wang Yue melotot horor memandang makanan di hadapannya.


Sedangkan Wang Hao hanya tertawa tanpa niat membalas ucapan sang Gēgē.


"Paman,, di mana bidadari cantik a Yi,,? A Yi ingin bertemu dengannya.." Tanya si kecil yang kembali menutup matanya.


"Mn. Sabarlah sebentar lagi,, Paman janji,, kali ini a Yi akan bertemu dengannya. Tetapi untuk sekarang,, a Yi harus membuka mata terlebih dulu,, lalu makan makan malam mu,, jika a Yi tidak mau menuruti Paman,, Paman janji a Yi tidak akan bisa bertemu dengan seseorang bidadari cantik milik a Yi itu."


Seketika mata terpejam yang enggan untuk terbuka itu kini membulat sempurna.


"Tidak Paman. Tidak. A Yi tidak mau. Lihatlah,, sekarang a Yi akan memakan semuanya. Tapi Paman Hao harus berjanji untuk mempertemukan a Yi dengan bidadari cantik a Yi ok?"


Jika Wang Hao tersenyum dengan mengangguk anggukan kepalanya sebab merasa lucu,, berbeda dengan Wang Yue yang entah mengapa wajahnya terlihat sangat aneh.


"Haohao,, jangan terus menjanjikan sesuatu yang tak mungkin akan terjadi. Jangan memberinya harapan, jika itu akan menyakitinya.. Dia masih sangat muda dan belum mengerti semua yang terjadi pada orang tuanya."


Wang Hao menghentikan suapan pada mahluk kecil di hadapannya.


"Kau lebih mengenal diriku Gē. Kau tahu bukan,, aku tidak akan berjanji jika itu tidak dapat ku tepati. Dan kau juga tahu,, apa yang akan ku katakan takkan pernah ku ucapkan jika itu tidak dengan kenyataan yang tidak dapat ku buktikan." Ucapnya, kemudian melanjutkan suapan demi suapan pada sang keponakan.


"Hao'er tahu Gē, jauh di lubuk hatimu, kau lebih dari siapapun menginginkan kedatangannya. Karena di dalam hatimu, ia lebih tahu,, jika sang pemilik masih akan kau temui di dunia ini.


Meskipun,, kau tahu itu tak mudah dan membutuhkan waktu yang lama, tetapi kau tetap berharap dan terus menunggunya."


Wang Yue tak bergeming. Benar,, apa yang Wang Hao katakan tidaklah salah. Wang Yue lupa,, jika sang Dìdì adalah orang yang bisa mengerti tentang isi hatinya selain mendiang sang istri.


"Hao'er tahu Gē,, di banding orang lain yang telah kehilangannya, kau jauh lebih sakit atas kepergiannya. Dan ingatlah janjiku Gē, bukan hanya pada a Yi,, tetapi janjiku untuk mu.."


Wang Yue menatap punggung tangan yang berada di pundaknya. Ia terlalu fokus dengan pemikirannya sendiri hingga tak menyadari sang Dìdì dan putranya, yang kini berada tepat di sisinya.


"Hao'er berjanji,, apapun akan Hao'er lakukan untuk kebahagiaan kalian. Hao'er berjanji,, akan mempertemukan kalian kembali. Percayalah Gē." Pungkas nya tanpa keraguan.


"Yi Paa,, a Yi ingin Yi Maa,, hiks,, a Yi ingin bertemu dengan Yi Maa,, hiks,, jangan memarahi Paman Hao,, hiks,, Paman Hao hanya ingin membantu a Yi saja. Hiks,, hiks,,"


Si kecil yang menyangka jika ayah nya tengah memarahi sang paman,, ia meminta di turunkan dari gendongan sang paman. Bermaksud membela sang paman agar tak di salahkan oleh ayah nya


"Hiks,, maafkan a Yi,, a Yi yang selalu memaksa Paman untuk bertemu Yi Maa,, hiks,, a Yi tahu,, Yi Maa sudah berada di surga,, hiks,, lebih dulu menyusul Kakek dan Nenek,, hiks,, tetapi a Yi tetap memaksa untuk bertemu dengan Yi Maa.


Hiks,, hiks,, jika Yi Paa marah,, Yi Paa bisa memarahi a Yi saja,, hiks,, Paman Hao tidak bersalah.. Hiks,, salahkan a Yi. Hiks,,"


Si kecil mohon dengan berlutut di sisi sang ayah dengan kedua tangannya menggenggam tangan besar milik sang ayah.


"Nak,, apa yang kau lakukan.. Bangunlah."


Wang Yue yang terkejut dengan apa yang dilakukan putranya, sontak terbangun dan mengangkat tubuh mungil itu kemudian memangkunya.


Tidak hanya itu, Wang Hao juga tak menduga jika sang keponakan akan berpikir sejauh itu, hingga rela berlutut memohon maaf pada sang ayah agar tak memarahi dirinya.


"Sungguh mulia hatimu nak,, kau sama seperti Ibumu yang memiliki hati seorang malaikat." Batin Wang Hao bergumam, ia begitu tersentuh dengan tingkah sang keponakan.


Sementara itu,, a Yi masih terisak di dalam pelukan sang ayah,, ia masih menyangka sang ayah marah.


Hal itu dikarenakan sedari Wang Yue mengangkat tubuh putranya,, tidak ada lagi kalimat yang terucap dari bibirnya. Hanya sebuah peluk dan cium yang ia terima dari sang ayah.


"Nak,, dengarkan Papa,, tidak ada yang memarahi Paman Hao mu.. Papa tidak memarahi nya, Papa juga tidak menyalahkannya,, Papa hanya memberi peringatan pada Paman saja,, jadi,, a Yi jangan menangis lagi,, karena jika a Yi terus menangis,, dada Papa akan menjadi semakin sakit.."


Meski tak sepenuhnya berhenti, namun isakan mulai tak terdengar lagi dari bibir mungil si kecil.


Ia mendongak menatap wajah dewasa di hadapannya, untuk beberapa saat ia terdiam, sebelum akhirnya ia kembali mendekap tubuh sang ayah.


"Maafkan a Yi_ Yi Paa,,, a Yi membuat Yi Paa sedih.. A Yi berjanji tidak akan mengulanginya lagi.. A Yi mencintai Yi Paa." Ucapnya dengan mengelus sayang dada sang ayah. Mungkin dia berpikir jika itu akan bisa mengurangi sakit yang ayahnya maksud.


"Papa juga saaaangat, mencintai a Yi.." Sahut sang ayah dengan senyum bahagia nya.


Sementara Wang Hao hanya menikmati pemandangan di hadapannya tanpa ingin menganggu. Hingga malam terlewati dan berganti dengan senja di pagi hari..






__ADS_1


__ADS_2