Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
55


__ADS_3

Kini mereka memulai perjalanannya menjauhi tempat kejadian.


Jika sebelumnya Lubin dan Cc membutuhkan waktu kurang setengah jam, a Xiang dan Wen hanya butuh sekitar sepuluh menit untuk sampai rumah sakit.


Selain memotong jalan, mobil yang mereka kendarai juga melaju dengan kecepatan tinggi. Berbeda dengan Lubin yang mengendarai dengan kecepatan lambat, sebelum akhirnya mereka mengalami musibah.


Sesampainya di rumah sakit, a Xiang memarkir mobilnya. Namun ia menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatannya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal berjalan dengan langkah cepatnya, entah apa yang membuatnya terburu-buru untuk pergi.


"Wue,, Ji Chen Gēgē.!!! Kemana kau akan pergi.? Cepat datanglah dan bantu kami."


"Eh,,?? A Xiang.!! Apa yang kau lakukan disini?"


Merasa seseorang memanggilnya, Chen tersenyum dan berlari mendekatinya.


"Gē, tidak ada waktu untuk menjelaskan. Tolong bantu aku."


Chen tak mengindahkan permintaan a Xiang. Ia berniat untuk pergi, namun lebih dulu di tahan.


"Apa yang kau perlukan? Aku tidak ada waktu meladeni mu bocah. Ada yang harus ku lakukan sekarang."


"Gē. Lihatlah.!!! Ini lebih penting.!! Lagi pula aku tahu apa yang akan kau lakukan, mereka akan segera sampai."


Chen membolakan matanya saat a Xiang membuka pintu mobilnya, seorang laki-laki yang ia kenal dengan luka cukup parah di kaki dan lengan serta kepalanya.


"I,ini.. A Xiang.! Apa yang sebenarnya terjadi?"


Namun belum sempat a Xiang menjawab, sebuah mobil lainnya mendarat tepat di belakangnya.


"Nah. Tugasmu kali ini ada di sana."


A Xiang menunjuk mobil di belakang pria itu, Chen yang masih tak paham hanya terdiam memandang.


"Gē, jalan perlahan. Aku akan membantumu." Ucap a Xiang sembari membungkukkan badannya, berusaha membantu pria yang terluka di dalam mobilnya itu.


"Tidak. Aku baik-baik saja, kau bantulah mereka. Aku masih sanggup jalan sendiri."


"Tapi Gē, meskipun begitu biarkan aku membantumu."


Han menggelengkan kepalanya, menolak a Xiang yang ingin memapahnya. Dengan sisa tenaganya ia berusaha mampu, meski tak bisa ia pungkiri seluruh tubuhnya terasa remuk.


"Apa kau masih akan melongo bodoh seperti itu disana.?!! Cepat datang dan bantu kami.!!"


Teriakan Wen mengalihkan perhatian Chen, ia tersadar namun keterkejutan tidak hilang begitu saja darinya.

__ADS_1


"Wen Gē. I_ini.. Lubin.!! Gēgē, ba_bagaimana bisa seperti ini?" Tanyanya terbata, masih dalam rasa terkejut.


"Haissh.. Sudahlah Gē, jangan terlalu banyak bertanya.!! Cepat bantu, jika kau terlalu banyak bicara, seseorang akan mati karena tak secepatnya tertolong."


A Xiang berlalu bersama Han meninggalkan beberapa orang di belakangnya, ia menggendong tubuh kecil a Yi dan tetap memegang Han yang kesulitan untuk berjalan.


A Xiang memimpin semuanya menuju tempat yang ia rasa aman, melalui akses rahasia yang tidak mungkin bagi orang lain tahu kemana mereka pergi, tentu saja mempermudah baginya untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka saat ini.


"Gēgē, apa kita perlu menghubungi si tua Ji itu untuk datang.?"


A Xiang menjadi orang kedua selain Chen yang banyak bicara, ia terbukti kini menjadi pengganti sang Gēgē yang notabene nya berisik.


"Apa yang kau pikirkan.!! Bagaimana jika dia terkena serangan jantung nanti.!"


Chen menepuk dahi a Xiang, dengan gerutuan.


"Cih.!! Bagaimana bisa ini menjadi lebih lama.!! Oy Xiang.!! Apa kau salah menekan tombol lift itu?!"


"Oy Gē.!! Kau marah mengapa harus memukulku.!! Lagi pula aku tak salah, apa matamu buta? Sampai tak bisa melihat angka menyala itu yang begitu jelas.!!"


"Diamlah.!!! Kalian ini, jika ingin berdebat lihat tempat.!! Selesaikan tugas kalian dan baru pikiran untuk berkelahi nanti.!!"


Wen yang tak tahan memarahi keduanya, beruntung pintu lift terbuka, membuatnya dapat melepas pening di kepalanya akibat ulah kedua saudara itu.


"A Xiang cepat buka pintunya.!"


"Euh.!! Aku tahu.!!"


Setelah membuka pintu tersebut, Chen dengan cepat membaringkan tubuh Lubin. Di susul dengan yang lainnya.


"A Xiang, kau siapkan semuanya. Aku akan memanggil Nona Lu terlebih dahulu."


"Mn. Cepatlah."


Chen pergi meninggalkan mereka, melalui pintu lainnya ia dengan cepat menghilang. Seolah sesuatu menelannya bulat-bulat.


~~


Chen yang sebelumnya pergi dengan tergesa, kini secepat kilat telah berada di ruangan Lulu si dokter cantik itu.


"Qi'er?? Apa ada sesuatu tertinggal? Kau,, datang dari mana??"


Kuan yang sejak sebelumnya tengah asik bersenda gurau dengan sang kekasih, kini terkejut saat dengan tiba-tiba Chen muncul entah dari mana dengan raut wajah terlihat kacau.

__ADS_1


"Ah, Kuan Gē. Tidak ada. Apa Nona Lu masih memeriksa pasien lain?"


"Mn,, sebelumnya dia datang tepat setelah kau pergi. Namun karena kau membawa pergi kuncinya, jadi ia pergi untuk mengambil kunci cadangan lainnya."


Chen menepuk keningnya sendiri, ia bukan hanya lupa membawa kunci setelah mengunci pasangan suami istri itu di dalam. Ia bahkan melupakan dimana ia meletakkan kunci tersebut yang sebenarnya berada tenang di dalam saku celananya yang ia pakai.


"Kalau begitu, sebaiknya aku cari Nona Lu dulu."


"Eh, Qi'er. Apa kau tak berniat membuka pintu itu terlebih dulu?"


Kuan mencegah Chen yang berniat pergi mencari si dokter cantik, ia sedikit heran dengan sikap Chen yang menjadi aneh menurutnya.


"Aiyo, Gē. Tidak ada waktu, aku harus cepat bertemu Nona,,, akhh. Hidungku.!!"


"Ah, Tuan Ji Chen,, maaf. Saya tidak sengaja, saya tidak tahu anda ada di balik pintu."


Chen kini harus merasakan sakit di wajah, terlebih bagian hidung nya yang kini mulai mengeluarkan darah akibat benturan keras dari pintu di hadapannya.


Entah siapa yang harus disalahkan,  dirinya atau mahluk cantik di hadapannya? Keduanya sama-sama tak tahu seseorang berada di balik pintu, jika saja mereka tahu, mungkin keduanya tidak akan membuka pintu itu secara bersamaan.


Yang satu mendorong dan satu lainnya menarik. Entah dirinya yang terlalu bersemangat mencari sang pujaan hati, atau anggap saja itu kemalangan nya?


"T_tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Ssttt.. D_darah? H_hidungku berdarah?"


Meski mulut berkata demikian, namun dalam hati tidak serupa dengan ucapannya.


"Ah, Tuan Ji Chen, mari obati dulu. Hidung anda berdarah.."


"Tidak. Tidak ada waktu lagi, Nona Lu, ikutlah denganku sekarang. Lubin saat ini membutuhkan mu."


"Binbin?" Gadis itu menggumamkan nama sang Dìdì.


Tanpa aba-aba Chen menarik lengan dokter cantik itu, ia membawanya melalui pintu rahasia yang ia lewati sebelumnya.


"Cheng_ Chengcheng,, kau melihatnya bukan? Kemana mereka pergi? Apa aku tak salah lihat?"


Yang di tanya mengangguk dengan bingung.


"Emn,, mereka hilang di balik dinding itu. Gē,, apa itu sebuah pintu? Apakah benar dinding itu memiliki pintu? Ah,, atau itu di sebut pintu rahasia?"


Zi Cheng mengajukan rentetan pertanyaan dengan wajah polos. Yang di tanggapi dengan hal serupa oleh sang kekasih.


"Hn. Sepertinya memang begitu. Mungkin kita harus memeriksanya nanti."

__ADS_1


Keduanya larut dalam perbincangan kecil yang di selimuti kebingungan.



__ADS_2