Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
52


__ADS_3

Wen menarik bahu pria yang lebih muda darinya itu, agar menghadapnya.


"Bahkan selama ini meski dia tidak ada, hidup mu masih tak aman. Apa kau tahu sebabnya? Karena dia tidak pernah melakukan hal yang merugikan mu.!! Dia tidak pernah menyakiti siapapun terlebih pada keluarga mu.!!!


Dia yang kau kenal dengan segala keburukan, bahkan kejahatan yang kau sudutkan padanya, kenyataannya adalah orang yang selalu melindungi mu.!! Menjaga keluarga mu dari mereka yang berulang kali menyakitimu.!!"


"Tidak, aku tidak pernah salah menilainya. Wen Gē, jangan katakan itu padaku. Aku muak mendengarnya." Gumam Wang Yue, tak ingin mendengarkan ucapan Wen.


"Bahkan,, hingga dia mengorbankan nyawanya pun, kau masih menganggapnya sebagai parasit saat kau tak tahu bagaimana pengorbanannya untuk mu. Pengorbanan seorang Gēgē untuk melindungi Dìdì yang begitu ia cintai.


Yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai keluarga, dan justru membalas semua kebaikan nya dengan bertubi-tubi kebencian yang tak sepantasnya ia dapatkan.!!!


Hanya karena kesalahan-kesalahan yang tidak pernah dia lakukan, kau terus mendesaknya, meyakini dendam mu padanya, tanpa tahu betapa besar pengorbanan nya untuk melindungi mu, melindungi kalian semua."


"Tidak. Dia bukan Gēgē ku, aku tidak memiliki seorang Gēgē, kau jangan mengada.!! Kau tak tahu apa-apa tentang kehidupan ku.!! Lebih baik kau diam dan pergilah. Jangan membuat ku kesal.!"


"Dìdì,, untuk kali ini, ku mohon.. Bukalah pikiran mu, renungkan baik-baik tentang apa yang telah ia korbankan untuk mu selama hidupnya. Saat dimana Kuan menyelamatkan mu, menyelamatkan Hao'er, juga,, menyelamatkan Xiǎomèi hingga mengorbankan nyawanya sebagai taruhan.


Ku pikir saat itu Kuan Dìdì benar-benar mati, dia menghilang tanpa jejak setelah menyelamatkan Xiǎomèi. Tak ku sangka,, hari ini bertemu dengannya dalam keadaan selamat. Lalu apa kau pikir itu adalah kejahatan yang dia lakukan?"


Kembali Wang Yue terdiam, mendengar Wen terus menyudutkannya membuatnya merasa kacau. Banyak hal kini mulai membayangi kepalanya, namun disisi lain, Wen terus mencecarnya tanpa memberi celah untuk nya berbicara.


"Dìdì,, dengarkan aku. Kuan selalu berada di sisimu selama ini, dia selalu membusungkan dadanya ketika ia tahu bahaya mengancam mu di depan sana. Dan dialah yang menjadi punggungmu saat mereka mengincar nyawamu dari belakang.


Dia selalu menjadi benteng untuk mu, dengan seluruh kemampuannya menghambat pergerakan mereka yang selalu begitu ambisius untuk memilikimu. Namun ia selalu melakukannya dengan hati-hati agar kau tak menemukannya, karena ia tahu sejak awal kau bertemu dengan nya, kau begitu membencinya."


Wang Yue semakin tidak bisa berpikir rasional, entah yang di katakan Wen benar adanya, atau hanya karangan belaka. Wang Yue tak bisa begitu saja mempercayainya.


"Jika kau masih tak bisa mempercayainya, kau pikirkan lagi apa yang ku katakan kali ini. Aku tidak membual padamu, pikirkanlah baik-baik. Dan jika kau telah siap untuk mengetahui kebenarannya, datanglah padaku."


Wen mengakhiri kalimatnya, dan bergegas pergi meninggalkan Wang Yue dalam diam.


•°


~


Disisi lain, kini Cc dan Lubin memulai perjalanannya menuju tempat tinggal gadis cantik itu. Di temani si kecil yang cukup heboh melihat keramaian kota.

__ADS_1


"Bibi Cc,, kemana kita pergi? Bukankah kita akan memasak untuk Yi Maa?"


Si kecil bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil yang membuat pandangannya terus beralih.


"Kita ke rumah Bibi tinggal nak, karena tidak mungkin kita melakukan nya disana. Tempat itu bahkan tidak memiliki dapur, bagaimana kita memasak?"


Gadis cantik itu menolehkan kepalanya ke arah belakang, di mana a Yi tengah asik sendirian dengan gerak-gerik matanya.


"O,, baiklah kalau begitu." Si kecil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada apa ini? Mengapa begitu aneh.. Ah, atau.."


"Bin.! Binbin.!! Apa yang kau pikirkan? Perhatikan jalan mu.!!! Fokus pada kemudi mu, atau kita akan celaka.!!"


Cc menegur Lubin yang terlihat aneh, dan tak fokus mengemudi.


"Ah, i_maaf Jiě."


Lubin yang gugup menjawab sekenanya.


Niat hati ingin menjelaskan pada Cc bahwa dirinya merasakan keanehan sesaat meninggalkan rumah sakit, namun urung, ia masih tak yakin dan hanya menduga-duga.


"Jiě, euu,, bisakah kau pindah? Duduklah bersama a Yi, jaga dia. Usahakan agar dia tetap merasa aman."


Lubin lekas meminta gadis yang lebih dewasa darinya berpindah, setelah yakin dugaannya tak salah.


"Ada apa? Apa yang salah?"


Cc justru tak langsung mengiyakan, dan justru balik bertanya.


"Cepatlah. Ku mohon, kali ini saja turuti ucapan ku." Titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari spion mobilnya.


"Binbin.!! Apa yang kau lakukan?!!! Apa kau gila.!!!"


Cc yang terkejut dengan aksi ugal-ugalan Lubin seketika marah, dan langsung melepas sabuk pengamannya.


"Jiě, maaf. Sudah tidak ada waktu. Pindahlan ke belakang, sekarang."

__ADS_1


Lubin menjawab sekenanya, berusaha untuk tetap fokus pada kemudinya.


Gadis itu pun menurutinya, ia dengan cepat berpindah ke belakang, di mana a Yi nampak terkejut dengan aksi Lubin yang dengan tiba-tiba mengebut di jalanan.


Sementara Cc menenangkan a Yi, Lubin nampak semakin khawatir akan sesuatu. Ia semakin menancap gasnya untuk segera mencapai tujuan.


Namun, hal itu membuat Cc semakin merasa ketakutan. Hingga matanya menangkap sesuatu yang jelas akan membuatnya kehilangan nyawa.


"Binbin.!! Ada apa ini, mengapa,,,"


Gadis itu kembali ingin memprotes ulah Lubin, namun kalimatnya tercekat, matanya membola sempurna, mendapati sesuatu tak terduga.


"Binbin.! Awas..!!!"


Cc memeluk erat tubuh mungil a Yi, saat merasakan kendaraan yang ia tumpangi menjadi tidak beres. Dengan mata terpejam tak lupa ia mengucap do'a.


"Tuhan,, lindungi a Yi, selamatkanlah kami.." Pintanya dalam hati.


"Aaaa..!!!"


"Yi Maa.!!!"


Teriakan Lubin dan a Yi bersamaan terdengar nyaring, saat kendaraan lain di seberangnya mulai mendekat dan menabraknya.


"Tidak.! Mengapa seperti ini.. Xiao Jiě, maafkan aku.."


Di tengah sisa kesadarannya, Lubin menggumamkan sesuatu di hatinya yang ia tujukan kepada Xiao Lin.


Mobil itu melaju tak terkendali, dalam keadaan setengah sadar dengan darah mengucur di kepalanya. Lubin tetap berusaha mengendalikan mobilnya agar tak terjadi hal yang jauh lebih buruk.


Terlebih saat dirinya menyadari sesuatu di hadapannya jauh lebih mengerikan, pemuda itu terus menekan rem agar mobil tersebut berhenti, meski ia sadar itu tidak mungkin bisa ia hindari.


Braakk.!!


Untuk kedua kalinya, benturan yang cukup keras terjadi. Entah apa yang terjadi setelahnya, Lubin telah kehilangan kesadarannya.


Sedangkan kedua mahluk berbeda usia di belakangnya, kini masih tak di ketahui keadaannya.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu, bagaimana keadaan mereka di dalam kendaraan tersebut. Entah mereka selamat, atau justru itu menjadi akhir dari kehidupan mereka? Hanya tuhan yang tahu.



__ADS_2