
°
~
Di sebuah ruangan yang cukup megah, nampak deretan kursi berjejer rapi mengelilingi meja besar melingkar penuh dengan beberapa orang yang telah siap dengan beberapa tumpukan kertas-kertas tak bernyawa di hadapannya.
Namun salah satu orang di antaranya terlihat tak fokus, bahkan mengabaikan semua orang di sekelilingnya yang kini memperhatikannya dengan pandangan heran.
"Presdir,, semua sudah hadir. Apa bisa kita mulai?" Ucap salah satu staf pada sang bos. Karena merasa tak tahan melihat ekspresi aneh dari orang lain di sekitarnya saat memandang sang bos, yang terlihat nyaman dalam lamunannya.
"Presdir Wang. Bisa kita mulai??" Tanyanya lagi dengan sebuah tepukan pada pundak sang bos untuk membuatnya tersadar.
"Mulai??" Ucap sang presiden direktur itu, dengan bingung.
"Ya. Rapat,,,"
"Ah, ya. Maaf, membuat menunggu. Kita bisa memulainya sekarang."
Seakan tersadar, ia menjawab dengan cepat. Membuat sang lawan bicara tak perlu repot untuk menjelaskan padanya.
"Mn. Kalau begitu kita mulai rapat hari ini."
"Jika begini bagaimana bisa aku fokus dengan pekerjaan ku. Hahh,,, perasaan ku tak tenang sejak pagi tadi, ada apa sebenarnya? Tidak biasanya seperti ini.." Gumam hatinya.
Hari ini adalah hari yang penting bagi Wang Yue, karena rapat yang berlangsung siang ini berhubungan dengan beberapa perusahaan besar yang sangat berpengaruh pada bisnisnya.
Tetapi justru ia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya, pikirannya terus terganggu dengan sesuatu yang ia sendiri tak tahu sebabnya.
Namun sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap profesional dalam pekerjaannya, meskipun beberapa kali ia tidak bisa mengontrol nya.
Rapat berjalan dengan lancar, meskipun banyak kesalahan yang tanpa sengaja Wang Yue lakukan. Beruntung, ia memiliki asisten yang handal. Sehingga tidak akan sulit baginya untuk mengambil alih semua masalah untuk menutupi kesalahan yang terjadi karena dirinya.
"Apa yang kau pikirkan? Kau nampak tak fokus, dan terus saja melakukan kesalahan."
Sang asisten yang merasa kesal padanya bertanya dengan nada berbeda, tak seformal sebelumnya.
"Tidak ada." Sahut Wang Yue singkat.
"Jangan bercanda.! Jika tidak ada yang menggangu mu, kau tak mungkin bertingkah bodoh seperti tadi. Kau tidak bisa membohongi ku, jadi lebih baik kau jelaskan padaku."
"Jangan bertingkah seolah kau mengetahui semua tentang diriku. Lakukan saja pekerjaan mu dengan baik."
Wang Yue memalingkan wajahnya untuk mengalihkan perhatian sang lawan bicara. Meski percuma, karena sang lawan bicaranya akan tetap mengetahui jika ia hanya berusaha menutupi hal tentang dirinya.
"Kau.!! Bisakah bertindak lebih sopan pada yang lebih tua darimu?" Kesalnya pada Wang Yue, yang selalu saja menutupi bebannya sendiri.
"Cih.! Menyebalkan.! Kau selalu saja seperti itu. Aku tahu kita tidak dekat, tapi setidaknya aku juga temanmu. Jadi bersikaplah selayaknya seorang teman."
Setelah mengatakan hal demikian, ia beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya meninggalkan Wang Yue.
"Wen Gēgē,"
__ADS_1
Langkahnya terhenti, saat Wang Yue memanggilnya.
"Apa kau pernah merasa kehilangan?" Tanya Wang Yue, tanpa mengalihkan pandangannya dari benda mati di hadapannya.
"Namun semakin kau merasa kehilangan, semakin kuat keyakinan mu bahwa kau masih memiliki nya." Lanjutnya bertanya.
"Tentang?"
Tidak ada jawaban dari Wang Yue. Ia terdiam dengan wajah yang begitu terluka.
"Jika kau yakin itu masih menjadi milikmu, maka jangan menentangnya." Ucap seseorang yang Wang Yue sebut sebagai Gēgē, sedikit menolehkan wajahnya pada sang lawan bicara.
"Jika kau menolaknya, maka jangan meyakininya." Sambungnya.
"Jika itu mengganggu, maka ikutilah apa kata hatimu."
Ucapan tegas namun memiliki kehangatan di dalamnya, terdengar cukup melegakan hati Wang Yue.
Terlebih saat pandangannya menatap tepat di bola mata seseorang di hadapannya tersebut, ada suatu harapan besar di dalamnya seolah memintanya untuk melakukan apapun tanpa membebani hatinya.
"Semua akan sia-sia saat kau mencoba untuk mengabaikannya, jika hatimu saja memiliki keyakinan yang berbeda dengan pemikiranmu sendiri. Apa kau mengerti?"
Lagi, ia tidak menjawab. Hanya mengangguk, pandangannya menurun. Ia kembali memikirkan tentang perasaan aneh yang menghampirinya.
"Yue_dì. Aku memang tidak pernah merasakan nya, tetapi aku tahu tentang bagaimana rasanya. Aku tidak akan pernah memaksamu untuk mengatakannya padaku, tetapi ketahuilah,, tidak akan sulit bagiku untuk mengetahui semua tentang dirimu."
Selesai dengan kalimatnya, ia membalikkan badannya dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Wang Yue yang memikirkan banyak hal di kepalanya.
Sementara Wang Yue sibuk dengan pekerjaannya,, di lain tempat di waktu bersamaan, beberapa orang juga terlihat sibuk tengah merencanakan sesuatu untuk seseorang.
°
Lupakan itu.!
~
Kembali pada sekumpulan orang-orang di ruangan si kecil yang sejak beberapa jam lalu berharu ria di dalam.
Nampaknya kini tidak banyak perubahan, namun jelas suasana di antara mereka jauh lebih kekeluargaan di banding sebelumnya.
Terlihat si kecil yang tak lain dan tak bukan adalah a Yi, kini masih nyaman dalam pelukan sang ibunda tercinta. Yang ternyata masih hidup, dan di ketahui identitas yang sesungguhnya.
Meski si kecil belum mengetahui kebenarannya, namun baginya, dapat dekat dan memeluk seseorang yang mirip dengan sosok sang ibu adalah kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Jadi, seperti apapun dan siapapun seseorang yang tengah memeluknya saat ini,, ia takkan berharap lebih. Karena apa yang ia impikan selama ini telah terpenuhi. Hatinya tetap merasa bahagia meski hanya menganggapnya sebagai seorang Ibu.
Namun itulah, ia hanya seorang anak kecil yang tak mengerti apapun.
"Yi Maa,, hiks,, jangan lagi menangis. Hiks,, a Yi tidak suka melihat Yi Maa bersedih. Hiks,, a Yi suka senyum Yi Maa, hiks,, a Yi mohon,, jangan menangis lagi.. Hiks,, dada a Yi terasa sakit.. Hiks.."
"Tidak nak, hiks,, Yi Maa tidak menangis lagi. Lihatlah,, Yi Maa tersenyum sekarang. Seperti yang a Yi inginkan.."
__ADS_1
Ucapan bisa saja berbohong, tetapi itu tidak bisa menutupi fakta bahwa air matanya masih mengalir deras. Sekuat apapun Xiao Lin menahan dan menghentikan tangisnya, itu tidaklah mudah. Ia terlampau bahagia dan tak menyangka jika putranya selama ini masih hidup.
"Hiks,, Paman, Hao,, hiks,, apa orang yang tidak menangis bisa mengeluarkan air dari matanya?" Tanya si kecil dengan polosnya.
"Hiks,, bukankah orang yang mengeluarkan air mata itu menangis? Yi Maa,, hiks,, Yi Paa bilang, berbohong itu akan mendapat hukuman.
Hiks,, nanti tuhan marah,, dan tidak mengabulkan permohonan kita jika berbohong. Hiks,, mengapa Yi Maa berbohong pada a Yi? Hiks,," Tuturnya dengan menghapus air mata sang Ibu.
"Hiks,, bocah nakal. Sudah, sudah. Maafkan Yi Maa sayang,, hiks,, Yi Maa menangis karena bahagia. Saaangaatt,, bahagia. Yi Maa bahagia bisa memiliki seorang malaikat kecil yang begitu manis dan sangat menyayangi Yi Maa,,."
Xiao Lin merenggangkan pelukannya, untuk melihat wajah polos nan menggemaskan buah hatinya. Tak lupa ia menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata putranya tersebut, hingga berkali-kali sebuah kecupan ia beri di seluruh wajah sampai puncak kepala si kecil.
"Yi Maa,, malaikat kecil itu seperti apa?"
"Ah,, itu.."
Ada senyum lucu dari Xiao Lin menanggapi pertanyaan polos dari putranya.
"Seperti a Yi. Berwajah polos dan menggemaskan, pandai, juga berhati baik." Lanjutnya memberi penjelasan pada si kecil dengan menyentuh puncak hidung si kecil menggunakan jari telunjuknya.
Ada semburat merah di pipi si kecil, entah karena menangis terlalu lama tau karna malu atas ucapan sang Ibu padanya. Xiao Lin tak hentinya di buat merasa gemas, pada mahluk kecil itu.
"Lucunya,,," Tak tahan melihat wajah menggemaskan sang putra, Xiao Lin mencubit kedua sisi pipinya.
"Ah,, ya. Yi Maa ingin tahu, apa malaikat kecil ini pernah berbohong?" Sambungnya bertanya.
Si kecil menggeleng dengan cepat. "Tidak." Jawabannya singkat.
"Ah,, benar-benar anak pintar.."
"Yi Paa bilang a Yi harus mengatakan apapun yang a Yi inginkan, dan tidak boleh berbohong. Jadi a Yi selalu mengatakan apapun yang a Yi inginkan pada Yi Paa." Terangnya dengan polos.
"Meskipun beberapa kali Yi Paa tidak bisa melakukan apa yang a Yi inginkan. Tetapi Yi Paa juga berkata pada a Yi, jika ada hal yang tidak bisa Yi Paa lakukan untuk a Yi,, maka a Yi halus berdo'a dan memohon pada Tuhan." Lanjutnya tanpa melihat wajah kebingungan sang Ibu.
"Tuhan pasti akan bisa mengabulkan semua permohonan anak yang baik, juga anak yang jujur. Itu sebabnya, a Yi tidak ingin berbohong agar Tuhan mau mengabulkan semua doa doa yang a Yi ucapkan.
Dan sekarang a Yi sangat bahagia, karena Tuhan benar benar mengabulkan semua doa a Yi.." Pungkasnya dengan tersenyum, namun senyum yang begitu memiliki arti yang sangat besar.
"Bolehkah Yi Maa tahu, apa yang a Yi inginkan dari do'a yang a Yi ucapkan?" Tanya Xiao Lin pelan.
"A Yi,," Ucapnya dengan menjeda kalimat.
"A Yi hanya ingin bertemu dengan Yi Maa, dan memeluk Yi Maa,,"
Wajahnya tertunduk, namun jelas terlihat ada genangan yang muncul di sudut matanya.
"A Yi senang,, a Yi bahagia, tuhan mengijinkan a Yi bertemu dan merasakan pelukan Yi Maa. Meskipun a Yi tahu, Yi Maa yang saat ini memeluk a Yi bukanlah Yi Maa yang sebenarnya."
Tes..
Tes..
__ADS_1
Tes..
Seakan tersambar petir, hati Xiao Lin seolah hancur mendengarnya.