
Masih setia dengan posisinya hingga kini menemani sang istri, Wang Yue perlahan memberanikan diri mendekatinya.
"Xiaoxiao,, apa benar kau tak mengingatku? Sungguh,, hatiku sangat yakin jika kau adalah Xiaoxiao ku.
Hanya saja,, dengan sikap yang kau tunjukkan padaku tadi, membuat ku merasa sangat takut. Aku takut jika perasaan ini hanyalah anganku semata, dan akan membuat ku sakit untuk kedua kalinya."
Wang Yue menggumamkan isi hatinya pada sang pemilik, segala keluh kesah yang ia pendam selama ini perlahan ia luapkan.
"Kau tahu Xiaoxiao,? Apa yang menjadi ketakutan terbesar ku selama ini?" Sambungnya dengan usapan lembut di kepala Xiao Lin.
"Aku selalu takut tidak bisa menemukan mu kembali, dan aku takut tidak bisa terus berpura-pura baik-baik saja tanpamu. Yang pada kenyataannya aku terus tersiksa hidup tanpa bersamamu."
Wang Yue berulang kali mengusap surai kecoklatan milik wanita cantik di hadapannya, yang ia yakini sebagai miliknya. Pandangannya begitu tajam, namun begitu dalam. Semakin dalam ia memandang, hingga hanya menyisakan kepedihan terpendam pada sorot mata itu.
"Sejak kepergian mu, hidupku terasa kosong. Hatiku seolah mati, bagaikan raga tak bernyawa. Layaknya mayat yang hidup, tak dapat merasakan apapun dalam dirinya setelah jiwanya pergi, meski raganya tetap utuh."
Jika bisa jujur, Wang Yue ingin sekali memeluk, mendekap dan mencium seseorang di hadapannya itu. Namun semampunya ia tahan segala keinginan di hatinya, karena ia tak ingin melanggar peraturan yang telah ia pelajari sedari kecil.
Yaitu kesopanan, kedisiplinan, kejujuran, dan ketegasan. Itulah yang sedari kecil telah tertanam dalam diri seorang Wang Yue.
Itu sebabnya, meski dalam hatinya ia ingin dan sangat ingin sekali memeluk Xiao Lin, sebisa mungkin ia tahan.
Wang Yue tahu hatinya tak pernah salah untuk mengenali siapa sang pemilik hatinya itu.
Akan tetapi ada sedikit perbedaan kali ini, meski dirinya sangat yakin pada hatinya, namun ada setitik keraguan merasuki pikirannya setelah mendapat respon yang tak sesuai harapan dari sang istri.
Ia mulai merasa takut jika hatinya salah, takut jika seseorang di hadapannya bukanlah Wang Xiao Lin istrinya.
Takut dirinya berdosa jika melakukan hal yang tak pantas pada orang lain yang bukan istri atau keluarganya. Dan ia takut, jika sampai ia memeluk bahkan menciumnya, itu akan membuat orang tersebut terluka atau merasa di lecehkan olehnya.
Itulah yang saat ini mengganjal dalam hati Wang Yue, pikirannya sangat kacau. Ia ingat saat hatinya tengah dilanda gelisah, dan emosi menguasai dirinya.
Jika itu beberapa tahun yang lalu, mungkin akan dengan mudah mereda, karena Xiao Lin dan Wang Hao akan selalu memiliki cara untuk menenangkan dirinya.
Namun,, melihat situasi dan keadaan saat ini rasanya mustahil ia bisa mengendalikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Terlebih dengan keadaan Xiao Lin yang terbaring tak sadarkan diri, dan Wang Hao yang juga tak jauh berbeda dengan Xiao Lin. Di tambah lagi Xiao Lin yang tak mengenali dirinya, itu semakin membuat Wang Yue tidak dapat berpikir dengan baik.
"Maaf Tuan Wang, mengganggu waktu anda sebentar. Tapi,, percakapan yang seharusnya kita bicarakan sebelumnya sepertinya harus kita bahas saat ini juga. Mengingat tadi harus tertunda karena,,"
"Mn. Silahkan."
Wang Yue menyahut dengan cepat, memotong kalimat Lulu yang tiba-tiba datang.
"Banyak hal yang ingin saya ketahui tentang kebenaran yang anda ucapkan sebelumnya, yaitu mengenai,,,"
"Antara saya dengan Xiao Lin?"
Lulu hanya mengangguk menanggapi ucapan Wang Yue di sela kalimatnya, yang belum selesai ia ucapkan pada lelaki tampan di hadapannya itu.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya adalah suami Xiao Lin. Ah, tidak. Maksud saya, Wang Xiao Lin lebih tepatnya." Jelas pria tampan itu.
"Maaf Tuan, bukan maksud untuk tidak mempercayai anda. Tetapi saya rasa anda salah orang. Ah, begini."
Dokter cantik itu terlihat sangat hati-hati mencoba menjelaskan tentang apa yang ia ketahui dari kehidupan masa lalu saudarinya nya itu.
Lulu menjeda ucapannya, bola matanya kini melebar sempurna memandang lawan bicaranya.
"Jangan bilang jika,,"
"Mn. Saya terlahir dan di besarkan di keluarga Shen. Seperti yang anda ketahui, suami Xiao Lin berasal dari keluarga Shen, Shen Yuan Yue. Tetapi itu dulu, saat sebelum kami resmi menikah." Terangnya dengan wajah suram.
"Maksud anda?"
Lulu semakin bertanya-tanya, tentang kebenaran apa yang tidak ia ketahui tentang kehidupan macam apa yang Xiao Lin jalani selama ini.
"Keluarga saya tidak pernah merestui pernikahan saya dengan Xiao Lin, itu sebabnya saya meninggalkan mereka dan menikah tanpa adanya restu yang saya miliki.
Sejak itulah kami sepakat untuk mengganti nama kami, untuk menghilangkan jejak dan menghindari segala sesuatu yang bisa membahayakan. Karena kami ingin memulai kehidupan baru dengan hanya ada kami dan Hao'er saja." Tutur Wang Yue dengan sorot mata kembali meredup.
"Lalu,, hubungan apa yang ada antara anda dengan Tuan Yu?"
__ADS_1
"Tuan Yu??" Ucap Wang Yue mengulang kalimat dokter cantik itu dengan kepala sedikit memiring serta kerutan di perempatan keningnya.
Lulu sendiri sedikit merasa heran melihat raut kebingungan di wajah Wang Yue saat ia menyebutkan nama seseorang tadi.
"Mn. Tuan Yu Kuan. Saya merasa sepertinya hubungan di antara kalian tidaklah biasa."
"Tuan Yu Kuan?? Apa maksud anda,,,"
"Ya. Seseorang yang berbicara dengan anda sebelumnya di luar ruangan ini." Jelasnya cepat, membuat Wang Yue tak melanjutkan ucapannya.
"Yu??" Batin Wang Yue bergumam. "Mengapa Yu? Bukankah seharusnya Shen?" Sambungnya.
"Tunggu.! Yu Kuan? Kuan Yu? Sejak kapan namanya berubah? Apa dia sungguh menggantinya? Itu tandanya dia bukan lagi bagian dari keluarga Shen?" Lanjutnya dalam hati.
"Tuan Wang, apa terjadi sesuatu?"
Lulu bertanya sebab ia menyadari sang lawan bicaranya mengabaikan keberadaan nya.
"Tidak. Itu tidak mungkin.! Itu pasti hanya salah satu cara dia untuk mengelabuhi orang, dengan memalsukan identitas aslinya. Sejak dulu aku tahu, dia bukanlah orang yang akan dengan mudah melepaskan semua yang telah menjadi miliknya.
Cih.! Dasar orang yang takut kesusahan.! Mau-maunya saja di peralat.! Hmph. Sebaiknya aku harus lebih hati-hati lagi dengannya, dan aku berjanji, takkan ku biarkan siapapun mendekati milikku. Termasuk kau Shen Kuan Yu.!"
Wang Yue kembali ke alam sadarnya, saat mendengar suara si dokter cantik di hadapannya yang terus saja memanggilnya.
"Apa anda baik-baik saja Tuan Wang?" Tanyanya khawatir.
"Maaf,, saya hanya merasa tidak fokus. Maaf jika membuat anda tidak nyaman Nona Lu." Sahut Wang Yue tak enak.
"Ah,, begitu, saya mengerti. Ya sudah, sebaiknya anda beristirahat dulu Tuan. Mungkin anda merasa lelah."
"Tidak, saya baik-baik saja. Hanya saja,, ini terlalu mengejutkan bagi saya. Banyak hal yang sama sekali tidak saya pahami, itu membuat saya tidak tahu harus berbuat apa."
Wang Yue menolak untuk beristirahat seperti yang di sarankan dokter cantik itu. Bukan karena merasa tidak enak, akan tetapi seperti apa yang ia ucapkan, pria tampan itu terlalu banyak memikirkan hal yang tak terduga.
Membuatnya tak tahu apa yang harus ia perbuat. Itulah sebabnya akan sangat tidak mungkin baginya untuk beristirahat meski sejenak.
__ADS_1
Kini pikirannya hanya tertuju pada keluarga kecilnya, terutama sang istri yang baru saja ia temui.