Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
48


__ADS_3

°


~


Si kecil memeluk erat sang ayah, entah mengapa ia seakan merasa rindu pada moment seperti itu.


"Yi Paa,, apa Yi Paa merindukan a Yi.??"


Wang Yue menundukkan kepalanya untuk bisa sedikit ia sandarkan pada kepala si kecil, yang begitu erat melingkarkan tangannya pada perpotongan leher miliknya.


"Mn. Jadilah anak yang baik, jika pergi harus meminta ijin terlebih dahulu. Jangan membuat Yi Paa dan Yi Maa mu khawatir." Tuturnya pada si kecil.


"Maaf.. A Yi telah membuat Yi Paa juga Yi Maa khawatir, a Yi janji a Yi tidak akan mengulanginya lagi." Ucap si kecil penuh sesal.


Wang Yue tersenyum melihat wajah putra kesayangannya bak seekor kucing yang kesepian.


"Yue'er,, itu bukan salah a Yi. Dia tertidur saat aku membawanya, jadi jangan memarahinya. Ini salahku." Timpal Chen menimbrung.


"Ya. Itu memang salahmu. Jadi jangan ulangi lagi. Jika sampai itu terjadi, ucapkan selamat tinggal pada kekasih impian mu itu.!"


Meski tak menggunakan kalimat yang kasar atau nada yang tinggi, namun pria tampan itu jelas menyudutkan dan sedikit ancaman pada Chen.


"Maaf,, jika aku tak sopan. Tapi ini semua adalah kesalahan ku, a Yi dan tuan Chen tidak bersalah. Aku yang meminta nya untuk membawa a Yi bersama ku, jadi tolong salahkan saja aku."


"Chen, aku tinggal dulu. Xiaoxiao menunggu kami di dalam, ah,, ya. Kau tidak harus selalu datang dan membuang waktu mu disini."


Wang Yue mengucapkan beberapa kalimat pada Chen usai Kuan ikut menimbrung.


Masih dengan santainya Wang Yue melirik sekilas pada Chen, dan berganti pada seseorang yang sangat ia benci sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan suasana tegang pada ruangan tersebut.


"Y_" Chen tak dapat melanjutkan ucapannya, suaranya seakan tercekat meski hanya untuk memanggil sang sahabat.


Chen tahu, jika kalimat yang Wang Yue ucapkan tidak di tujukan padanya. Melainkan untuk orang lain, namun entah mengapa ada rasa bersalah mengganggunya kini.


"Yue'er, sampai kapan kau akan mengabaikannya? Jika saja kau tahu,, dia bukanlah orang yang pantas mendapat perlakuan itu darimu." Gumamnya pelan.


"Tidak apa,, aku mengerti bagaimana perasaannya."


Chen menoleh pada sang sumber suara. Melihat si empunya tersenyum padanya, membuatnya seolah ingin untuk ikut tersenyum, meski begitu ia tetap tidak bisa melakukannya.


"Mengapa kau masih bisa dengan santainya tersenyum? Mengapa kau masih bisa berpura-pura baik-baik saja meski itu menyakiti mu.?


Apa kau ini benar-benar memiliki hati yang baik atau kau hanya orang bodoh yang selalu bersikap tidak memiliki beban dalam hidupmu.!!!"

__ADS_1


Tak tahan dengan perasaan kesal yang mengganggu hatinya, Chen memandang dengan tatapan aneh pada Kuan.


"Anak ini,, mengapa wajahnya begitu familiar?"


Bukannya menyahut, Kuan justru terdiam mengamati wajah pria yang lebih muda darinya itu.


"Kau.!!! Jaga ucapan mu.!!!"


Merasa kesal mendengar pertanyaan Chen, Zi Cheng yang sedari tadi terdiam kini ikut terpancing emosi karenanya.


"Mohon untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan disini, jika kalian memiliki masalah yang serius, tolong bicarakan baik-baik. Saya permisi. Cc,, ikut Jiějiě."


Kini berganti si dokter cantik yang juga mulai merasa tidak nyaman dengan suasana ruangan tersebut, ia ikut menegur karena tak ingin terus mendengar keributan yang terjadi di ruang kerjanya.


"Katakan. Katakan semua padaku, jangan terus menanggungnya sendiri.." Ucap Chen berlanjut, seakan mengabaikan peringatan Lulu.


Namun kalimat nya kini terdengar lirih, bukan karena takut dokter cantik itu memarahinya. Hanya saja, ia merasa lelah untuk bertanya, akan tetapi tidak bisa diam begitu saja.


"Ada apa dengan pemuda ini? Mengapa dia begitu mengkhawatirkan ku, benar-benar anak yang baik.."


Kuan semakin melebarkan senyumnya dengan kepala menggeleng santai, memandang Chen yang nampak sulit mengungkapkan isi hatinya, namun wajahnya tak mampu menutupinya.


"Apa yang membuatmu begitu khawatir? Aku sungguh baik-baik saja, ah,, aku dan Chengcheng membawa beberapa makanan, sebaiknya kita,,,"


Tak terduga, Chen justru membuat Kuan terkejut mendengar ucapannya.


Bagaimana bisa, Chen dengan tidak tahu malunya berkata sedemikian rupa tanpa berpikir itu akan menyinggung orang lain.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Dan apa maksud dari ucapan mu barusan, aku,,," Kuan tak melanjutkan kalimatnya, nafasnya seakan berat dan melambat.


Terlintas dalam ingatannya tentang masa lalu, yang bahkan Kuan sendiri hampir melupakannya.


"Gēgē_Gēgē,, mengapa Gēgē selalu berpura-pura tersenyum? Bukankah itu melelahkan?"


"Anak nakal, bagaimana kau tahu itu melelahkan? Ah,, mengapa kau tumbuh menjadi anak yang banyak bicara?"


"Mn. Aku tahu karena aku mengenal Gēgē lebih dari siapapun, bahkan jauh lebih baik dari Gēgē sendiri. Benarkan?"


"Heum,, nampaknya kau memang cukup memahami Gēgē."


~


Kuan lagi dan lagi menggelengkan kepalanya, kali ini dengan gerakan yang cukup cepat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Mengapa tiba-tiba aku merasa anak nakal itu ada di hadapan ku saat ini, tidak mungkin. Itu bukan Qi'er. Mereka bahkan telah pergi begitu lama, tidak mungkin dia kembali." Gumam hatinya, ada senyum kekecewaan terlukis di wajahnya.


"Gē. Apa yang kau lakukan.! Apa kau berniat mematahkan lehermu? Apa kau sakit? Ah,, mari, duduklah. Akan ku panggilkan Nona Lu untuk memeriksa mu."


Chen kepanikan saat pria yang lebih dewasa darinya itu melakukan gerakan tak menentu pada kepalanya.


Sementara Zi Cheng serta Lubin ikut mendekati Kuan, yang juga merasa khawatirkan padanya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Tolong tetap disini, aku masih ingin berbicara dengan mu. Tolong jangan ganggu Nona Lu, dia masih harus memeriksa keadaan Xiǎomèi di dalam."


Chen tak dapat melanjutkan langkahnya, karena Kuan menahan pergelangan tangannya.


"Sebenarnya siapa pemuda ini. Mengapa sejak pertama aku melihatnya, ada sesuatu yang membuatku tak nyaman saat Kuan Gē berbicara dengannya."


"Chengcheng,, aku tak apa. Duduklah, kakimu akan sakit jika terus berdiri."


Lamunan Zi Cheng buyar, saat sang kekasih menyentuh jemari tangannya dan memberikan gestur memerintah untuk duduk di sampingnya.


Sementara Lubin seketika mengangguk sebelum Kuan mengatakan hal serupa padanya, ia tahu jika Kuan bermaksud memintanya serta untuk duduk.


Sedang Chen masih tetap dengan posisi sebelumnya, ia berdiri tepat di di depan Kuan duduk.


"Mengapa aku merasa begitu akrab dengan perasaan seperti ini,, awalnya aku tak yakin saat pertama kali melihat mu.


Aku menampik semua perasaan yang menganggap bahwa aku mengenalmu, namun kali ini entah mengapa aku benar-benar merasa jika aku tak salah.. Maaf jika ini terlalu lancang."


Pria dewasa bertubuh kekar itu menunduk, seakan takut jika perasaan nya salah.


"A_apa yang di katakan nya barusan? Perasaan?? Ma,maksudnya perasaan seperti apa? A_apa dia memiliki kekasih lain? Ti_tidak. I_itu tidak mungkin. A,,,"


"Sudah jelas begini mengapa masih tidak yakin. Mengapa masih tak berubah sedikitpun setelah sepuluh tahun lamanya?


Benar-benar tidak menyenangkan menjadi dirimu, menjalani kehidupan dengan tanpa memiliki perkembangan." Chen menepuk kepala Kuan sesekali sesaat mengatakan nya, membuat si empunya mendongak menatapnya.


Sementara Lubin masih merasa bingung tak mengerti dengan keduanya, berbeda dengan Zi Cheng yang kini di selimuti awan hitam di kepalanya.


"Bocah tua Yu, apa masih tidak mengenal ku?"


Mata Kuan melebar saat Chen kembali bersuara. "Qi'er,? Chenchen??


Kuan menatap Chen ragu. "Kau,, sungguh Qi'er?? Apa Gēgē bermimpi? Apa kau sungguh Qi'er??"


Tanpa di duga, pria kekar itu beranjak dari duduknya dan langsung menyambar Chen. Memeluknya erat dengan kalimat sama yang berkali-kali ia ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2