
Tanpa terasa, air mata Xiao Lin kembali terjun bebas begitu saja tanpa permisi. Hatinya terasa sungguh sakit mendengar ucapan a Yi.
"Hiks,, tidak. Tidak.! Hiks,, akulah Ibumu nak, hiks,, aku yang melahirkan mu. Hiks,, inilah Yi Maa yang selalu ada dalam do'a mu nak, hiks,, a Yi adalah putra Yi Maa. Hiks,, Yi Maa adalah Mama a Yi. Hiks,, Yi Maa disini, Yi Maa bersama a Yi disini,, hiks,,"
Tidak ada kalimat atau pergerakan dari si kecil, ia nampak terdiam dalam pelukan sang Ibunda. Namun air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya.
"Maafkan Yi Maa nak, hiks,, maaf, karena Yi Maa tidak pernah bersamamu selama ini,, hiks,, maafkan Yi Maa yang pergi meninggalkan mu,, hiks,, maaf,, hiks,, maafkan Yi Maa hiks,, tolong jangan pernah membenci Yi Maa,, hiks,, tolong,, jangan lagi menganggap Yi Maa tiada. Hiks,, maafkan Yi Maa,, maafkan Yi Maa.."
Xiao Lin lepas kendali, ia menangis sejadinya dan terus meminta maaf kepada putranya. Perasaan bersalahnya begitu kuat menekan hatinya, sakit yang teramat di hatinya tak mampu ia kendalikan.
Benar benar menyakitkan. Hingga tak mampu lagi ia merasakannya.
Yang ia tahu,, hatinya di penuhi dengan penyesalan mendalam saat dan sejak peristiwa di masa silam.
"Yi Maa.!!!/Ibu..!!!"
"Lin Jiějiě.!!!/Xiǎomèi.!!!"
Keempat orang berbeda usia itu secara bersamaan membolakan matanya sempurna, saat tubuh Xiao Lin limbung dan hampir terjatuh.
"Jiějiě cepat." Ucap Cc panik.
Sementara Wang Hao dengan cepat membaringkan tubuh Xiao Lin tepat di samping a Yi.
"Hiks,, Yi Maa,, hiks,, Yi Maa.."
Tangis si kecil mengalihkan perhatian Wang Hao.
"Tenanglah nak,, Yi Maa baik-baik saja. Yi Maa hanya terlalu lelah. Jadi jangan menangis lagi hm, anak pintar.."
Sebisa mungkin pemuda itu mencoba menenangkan keponakan tercintanya, agar tak semakin terlarut dalam kesedihan.
"Benar apa yang Paman Hao katakan nak,, Yi Maa hanya lelah,, jadi biarkan dia istirahat dulu,, agar nanti saat Yi Maa terbangun, a Yi bisa lebih lama bermain bersama Yi Maa. Mengerti?"
Tak tahan melihat a Yi yang begitu sedih, Cc ikut serta menenangkannya. Begitu pula dengan Lulu, yang ikut andil dalam hal serupa. Ia meminta semua orang termasuk dirinya untuk tetap tenang, agar tidak menggangu Xiao Lin.
"Jiě, bagaimana?" Tanya Cc cemas.
"Sebaiknya kita sedikit menjauh dari a Lin agar tidak menggangunya. Biarkan a Yi menemani disisinya."
Cc dan Wang Hao mengikuti langkah Lulu menjauh dari tempat sepasang Ibu dan anak tersebut.
"A Lin hanya terlalu menekankan pikirannya sendiri, terlalu banyak hal mengejutkan yang ia ketahui hari ini.
Selama ini hidupnya begitu hancur, sehingga ia mengasingkan diri tanpa ingin orang lain mendekatinya. Menjaga jarak dari orang lain, bahkan enggan mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya."
Dokter cantik itu terdiam sejenak, ia mengingat semua kepahitan hidup Xiao Lin sebelumnya. Masa dimana ia benar-benar merasa hancur.
"Hingga a Yi datang,, dan merubah segalanya dari a Lin. Hidupnya jauh lebih berarti dan memiliki semangat. Lebih banyak kata yang dia ucapkan, juga,,, senyum yang dulu hilang, perlahan kembali.
Sampai hari ini,, a Lin begitu bahagia mengetahui tentang siapa a Yi sebenarnya. Dia terlampau bahagia, akan tetapi ia juga memendam begitu dalam rasa bersalah dalam hatinya. Penyesalan yang selama ini menghantuinya kembali menguasai pikirannya, itulah sebabnya a Lin tak mampu mengendalikan emosinya sendiri."
"Benarkan? Xiao Jiějiě memang sudah seperti itu sejak kecil. Ah,, tidak. Mungkin sejak Jiějiě lahir sifatnya memang sudah seperti itu.
Akan selalu menyalahkan diri dan membebani dirinya dengan perasaan bersalah, meski dirinya tidak melakukan sesuatu yang salah pada orang lain. Bahkan ia tak pernah berubah hingga saat ini."
__ADS_1
Wang Hao menyambung ucapan Lulu, menyerukan hal serupa dengan dokter cantik itu.
"Kau.! Mengapa begitu banyak hal yang kau ketahui, bahkan jauh lebih banyak dari yang ku tahu. Dan mengapa kau memanggilnya dengan sebutan Ibu?"
Cc memicingkan pandangannya kini, bertanya dengan nada yang terkesan merajuk. Atau lebih tepatnya iri karena Wang Hao lebih dekat dengan sang Jiějiě.
"Apa kau cemburu padaku?" Goda Wang Hao dengan tersenyum menyebalkan.
"Ja,,"
"Xiao Jiějiě dan aku selalu bersama sejak kecil. Kami tumbuh bersama dalam satu atap. Apa yang Xiao Jiějiě miliki, aku juga memiliki nya. Dan apa yang aku inginkan, selalu saja Jiějiě berikan.
Kami sangat dekat, hingga orang menyangka jika kami benar-benar adalah saudara. Tidak ada yang tahu, jika kami tidak sedarah. Bahkan tak banyak yang mengetahui jika aku hanyalah anak angkat di keluarganya."
Wang Hao lebih dulu memotong kalimat Cc, ia menjelaskan bagaimana kedekatan antara dirinya dengan sang Jiějiě.
"A Hao, bukankah saat itu kau bilang, eu,, maaf. Seorang pasutri mengadopsi mu sejak kau lahir?"
"Mn. Kau benar Jiě."
"Lalu bagaimana bisa kau,, jangan,,,"
"Hn. Benar. Pasangan suami-istri yang ku ceritakan waktu itu adalah orang tua Xiao Jiějiě. Dan seorang saudari yang ku katakan padamu adalah Xiao Jiějiě, anak dari Ayah dan Ibu Xiao."
Lulu dan Cc terkejut mendengar ucapan Wang Hao. Mereka sama-sama tidak mengetahui apapun yang pemuda itu katakan.
"Tapi mengapa aku bahkan tidak mengetahui sedikitpun tentang mu? Aku tidak pernah mendengar kabar jika Paman dan Bibi mengadopsi seorang anak.." Ujar Lulu dengan nada kecewa.
"Itu karena mereka tidak ingin orang lain mengetahui tentang diriku. Itu sebabnya mereka menjaga ku dengan sangat hati-hati, itulah sebabnya tidak banyak orang yang mengetahuinya tentang diriku. Seperti yang ku katakan sebelumnya."
Cc yang terlampau penasaran, tak dapat mengontrol ucapannya. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, dan berkali-kali menepuknya saat menyadari jika ucapannya salah dan bisa saja menyinggung perasaan orang lain.
"Mulut jahat. Mulut jahat.!! Bagaimana bisa kau mengatakannya,, kau bisa saja melukai hatinya. Tuhan,, maafkan aku.."
Namun ekspresi berbeda yang Wang Hao tunjukkan, tidak seperti Cc yang terlihat tidak enak. Wang Hao justru tersenyum melihat wajah lucu milik gadis itu.
"Jika kau ingin mengetahui alasan sebenarnya, aku tidak memiliki penjelasan apapun untuk mu."
Cc memberengut sebal mendengar ucapan Wang Hao.
"Tetapi mungkin Xiao Jiějiě bisa memberikan jawabannya padamu. Karena aku sendiri masih tidak mengetahui alasan nya."
"Yi Maa,, Yi Maa bangun. Hiks,, Yi Maa bangun.. Paman Hao,, Yi Maa sadar.."
Ketiga orang yang sedari tadi asik berbincang itu seketika menolehkan kepalanya pada sumber suara.
Mengingat jarak mereka yang masih dalam satu ruangan, dan hanya terpisahkan beberapa meter saja dari a Yi, membuat ketiganya dapat dengan jelas mendengar suara a Yi.
Ketiga orang dewasa tersebut bergegas mendekati a Yi yang masih setia menemani sang Ibu.
"Syukurlah,, a Lín Xiǎomèi, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa ada bagian yang terasa sakit?"
Dokter cantik itu lekas memeriksa keadaan Xiao Lin begitu sampai disisinya.
"Tidak ada Jiě, hanya masih terasa sedikit pusing saja.." Ujar Xiao Lin menyahuti yang hanya di balas anggukan dengan senyuman, serta usapan di puncak kepala dari dokter cantik itu.
__ADS_1
Pandangannya teralih pada si kecil yang menggemaskan di sampingnya.
"Hey,, jagoan kecil Yi Maa, mengapa menangis?? Heuumm,, Yi Maa jadi sedih melihat wajah malaikat kecil ini menangis.. Hiks,hiks,,hiks.."
Xiao Lin tersenyum menggoda sang putra, dengan wajah di buat sedih serta tangisan yang ia buat.
"Hiks,,hiks,, Yi Maa... Hiks,, jangan lakukan itu lagi,, hiks,, jangan tinggalkan a Yi lagi. Hiks,, a Yi sangat mencintai Yi Maa, hiks,, a Yi ingin terus bersama Yi Maa, hiks,, berjanjilah untuk tetap bersama a Yi,, hiks,, jangan pernah pergi lagi dari a Yi,, hiks,, a Yi mohon,, hiks,,"
Xiao Lin membawa a Yi kedalam pelukannya.
"Tidak. Tidak akan pernah Mama meninggalkan mu lagi nak. Bahkan tanpa kau memohon pun Mama akan terus bersamamu, menjagamu dan menemanimu, merawat serta melindungi mu. Meski harus mengorbankan nyawa Mama, Mama berjanji,, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita." Sumpah nya dalam hati.
"Menangis lah nak, Yi Maa tahu, selama ini kau pasti terluka. Tapi Yi Maa berjanji pada a Yi, Yi Maa dan a Yi akan selalu bersama, untuk selamanya.."
Namun bukannya menangis, si kecil yang sebelumnya menampilkan wajah sedih dengan terlukanya, kini justru berubah sepenuhnya menjadi wajah polos nan menggemaskan dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari bola matanya.
"Hn. Benar-benar menggemaskan. Wajahnya terlihat begitu bahagia, bagaimana mungkin Mama bisa meninggalkan mu lagi nak?
Kau adalah segalanya bagi Mama, Mama bahagia, sanggaaatt bahagia, kau masih hidup dan bisa bersama Mama. Sampai mati pun, Mama akan menjaga dan melindungi mu, hingga akhir hidup Mama."
"Benalkah?? Apa Yi Maa sungguh-sungguh??"
Suara si kecil membuyarkan angannya.
"Mn. Tentu. Yi Maa sungguh-sungguh berjanji pada malaikat kecil menggemaskan Yi Maa ini." Sahutnya mengulang janji yang ia ucapkan.
"Yeee,, asik.. A Yi punya Mama,, Yi Maa telah kembali pada a Yi.. Paman Hao, a Yi punya Mama, Bibi Cc, Yi Maa benar benar menjadi Mama a Yi.
Eum, tidak, bukan seperti itu. Yi Maa adalah Mama a Yi yang sebenarnya. Bibi,, ini adalah Yi Maa, Yi Maa yang a Yi rindukan.
Paman Hao, a Yi harus memberi tahu Yi Paa nanti, Yi Paa pasti senang jika bertemu dengan Yi Maa. Benar kan Paman?"
"Yi Paa? Lagi dan lagi a Yi selalu menyebutnya. Sebenarnya siapa yang ia sebut dengan Yi Paa? Mengapa hatiku merasa ada yang salah,, apa dia orang yang merawat putraku sejak kecil? Atau dia orang yang telah menyelamatkan nya?
Ah, sebaiknya aku tanyakan nanti pada Xiao'er. Dia pasti tahu semua tentang putraku."
Wang Hao mengangguk dengan gumaman menyahuti a Yi, sedangkan kedua orang lainnya terus tersenyum tanpa henti menikmati kebahagiaan milik si kecil di hadapannya.
Namun tidak dengan si empunya yang menjadi topik pembicaraan, ia terdiam benar-benar bungkam saat ini. Entah apa sebabnya ia menjadi lebih pendiam.
"Yi Maa,, ayo bertemu Yi Paa nanti,, Yi Maa.! Yi Maa.! Apa Yi Maa sakit?"
A Yi yang khawatir melihat Xiao Lin terdiam, menyangka jika sang Ibu tengah menhan sakitnya, membuatnya beberapa kali memanggil dengan nada yang cukup nyaring.
Ketiga orang dewasa yang sedari tadi fokus pada a Yi, seketika memburu Xiao Lin dengan pertanyaan khawatir.
Namun hanya di tanggapi gelengan dengan gumaman lirih, yang menandakan dirinya baik saja.
•
•
•
•
__ADS_1
•