
~
Chen kini kembali berada di ruangan Lulu, entah mengapa sesuatu seolah menuntunnya untuk melewati ruangan tersebut terlebih dahulu di mana Kuan dan kedua bersaudari Meng berada, sebelum melancarkan tujuan nya.
"Qi'er,, ada apa? Di mana Nona Lu?"
Kuan yang lagi lagi merasa di kejutkan dengan kehadiran Chen yang entah datang dari mana, langsung melayangkan pertanyaannya pada pria muda itu.
"Gē, tidak ada waktu lagi.." Ucapnya pasrah dengan tubuh lemas.
Pandangan Chen berbeda dari sebelumnya, membuat Kuan heran dengan perubahan ekspresi wajahnya yang secara tiba-tiba.
"Bisakah beri tahu Gēgē apa yang sebenarnya membuat mu begitu terganggu, tolong katakan yang sebenarnya apa yang terjadi,"
Kuan mendekatkan diri pada Chen, sedikit memaksanya untuk berbicara.
"Sesuatu telah terjadi. Dan, dan,,, darah. Ya,, aku membutuhkan darah saat ini juga. Darah,, Gē, dimana aku bisa mendapatkan darah untuknya saat ini? 10 menit, apa yang harus aku lakukan sekarang.. Apa yang akan ku lakukan,,"
Chen tak menyahuti Kuan, namun ia terus menggumamkan banyak kalimat yang tidak Kuan mengerti.
"Qi'er.. Qi'er.!! Tenanglah, katakan dengan jelas pada Gēgē."
Kuan terpaksa membentak Chen saat si empunya menjadi orang yang linglung. Namun tak seramai sebelumnya, Chen kini justru terdiam.
"Sebaiknya tenangkan dirimu dahulu. Duduklah, katakan dengan pelan dan lebih jelas."
Kuan menuntun Chen dan mendudukkan nya di tempat sebelumnya ia duduk bersama kedua bersaudara Meng.
Lanjut ia memberikan segelas air minum untuk pria muda itu, guna meringankan rasa cemas yang berlebih padanya. Meski sebenarnya itu tidak berpengaruh.
"Sesuatu terjadi Gē, Lubin mengalami luka berat. Dan ia membutuhkan donor darah saat ini, tetapi aku tak tahu dimana aku bisa menemukan nya. Meski rumah sakit ini besar, a Xiang mengatakan jika saat ini darah yang sama tidak tersedia.
Dan hanya 10 menit waktu yang tersisa, ba,bagaimana aku akan me,,"
"Qi'er,, tarik nafas.."
Kuan kembali menjeda kalimat Chen, ia merasa khawatir takut-takut jika pemuda itu kehabisan nafas karena terus mengoceh tanpa jeda sedikitpun.
"Dimana dia sekarang? Bisakah aku menemui nya? Ambil saja darahku untuk nya, tenang saja, saat ini aku dalam keadaan sehat."
Chen menegakkan pandangannya, namun tak sampai disitu.
__ADS_1
Tanpa permisi Zizi menyambar dengan ocehannya, sementara ketiga orang yang berada bersamanya terdiam untuk sesaat.
Chen menggeleng kemudian, ia tak setuju dengan gadis itu.
"Maaf Nona, bukannya saya tidak menghargai niat baik anda. Tetapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat, jika saya membawa anda dan hasil tes darah anda tidak sama dengan Lubin, itu akan sangat beresiko."
Chen yang saat ini di kuasai kebingungan, tidak begitu saja mengiyakan niat gadis itu.
Karena ia tahu, jika ia begitu saja langsung membawa Zizi, ia akan membutuhkan waktu untuk memeriksa darahnya. Dan jika darah gadis itu tak cocok dengan Lubin, maka ia tidak akan memiliki kesempatan kedua kalinya untuk mendapatkan donor darah yang cocok untuk Lubin.
Yang artinya nyawa Lubin adalah taruhannya.
"Bukankah Anda bilang Lubin membutuhkan donor darah saat ini? Lalu mengapa anda tidak mencoba memberi saya kesempatan untuk menolongnya? Tidak akan sulit, percayalah padaku,, kau bisa langsung mengambil darahku untuknya. Kumohon,, biarkan saya membantunya.."
"Jiě,, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan hanya untuk memandang seseorang saja. Apa ini alasan yang membuat mu begitu murung sejak tadi?"
Zi Cheng cukup terkejut dengan reaksi sang Jiějiě yang menurutnya sangat langka. Yang ia tahu, sang Jiějiě adalah orang yang tidak cukup peduli dengan sekitar, namun kali ini untuk pertama kalinya ia melihat seseorang di hadapannya begitu peduli pada orang lain.
"Qi'er,, tidak ada salahnya untuk mencoba. Jangan pernah menolak niat baik orang lain, membuang kesempatan yang kau miliki belum tentu kau akan mendapatkan nya untuk yang kedua kalinya.
Jika memang hasilnya tidak cocok, kau masih memiliki aku, juga Chengcheng. Dan jika kami masih tidak bisa menolongnya, akan ku coba dengan beberapa orang-orang ku, mungkin salah satu dari mereka ada yang bisa menyelamatkan Lubin."
Helaan nafas panjang Chen hembuskan. Tentu ia tidak akan tidak setuju dengan Kuan, karena ia begitu mempercayainya.
"Baiklah,, kita tidak bisa membuang waktu lagi."
Zizi dan Kuan tersenyum puas mendapati persetujuan dari Chen, sedangkan Zi Cheng hanya diam mengikuti.
Namun agaknya sesuatu mengusik pendengaran mereka sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Tidak di ragukan lagi, pelakunya tentu saja masih sama. Yaitu Wang Yue.
Ia kembali berteriak dan menggedor pintu meminta untuk di bukakan, sementara kedua bersaudara Meng dan Kuan hanya saling bertukar pandangan.
Berbeda dengan Chen, ia bergegas mendekati pintu tersebut.
"Wue, si tua Wang.! Berhenti membuat ulah. Tetap diam disana dan tunggulah sampai aku memberimu kesempatan untuk keluar. Tenang saja, putramu aman bersama ku.
Jika sudah waktunya aku akan membawa kalian menemuinya. Nikmatilah waktu kebersamaan kalian di dalam sana, gunakan suaramu dengan baik dan benar. Jangan sia siakan untuk seseorang yang tidak akan bisa mendengar teriakkan jelekmu itu.!"
Setelahnya, Chen berlalu meninggalkan ruangan tersebut dengan ketiga orang menemaninya, meninggalkan Wang Yue yang terus mengumpatinya di dalam sana.
__ADS_1
"Gē,, apa kau tak lelah terus berteriak seperti orang gila disana? Aku saja muak mendengarnya. Kau benar-benar merusak pendengaran ku kau tahu."
Seseorang di belakangnya mengoceh. Wang Yue yang masih kesal karena di abaikan, kini menjadi semakin kesal karenanya.
"Diam dan kembali tidur. Kau begitu berisik saat matamu terbuka."
Tak terima dengan ucapan sang Gēgē, Wang Hao kembali mengoceh dengan wajah yang ia buat sedih.
"Ibu,, lihatlah. Gēgē memarahiku lagi,, memangnya apa salahku. Dia kesal pada orang lain, aku yang menjadi pelampiasan.."
Xiao Lin menghela nafas, ia menggelengkan kepalanya sebelum membuka suara.
"Suamiku,, apa kau lelah?" Tanyanya lembut pada sang suami.
Si empunya menoleh dengan gelengan kepalanya, ia berjalan mendekati sang istri tercintanya.
"Apa kau lelah? Kembalilah ke tempat tidurmu, jangan pedulikan anak bodoh ini. Dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri."
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Wang Yue justru balik bertanya. Namun Xiao Lin menggeleng.
"Enak saja.! Asal kau tahu Gē, aku adalah pria tampan yang pandai. Kau saja yang tak menyadarinya, aku bahkan lebih pandai darimu kau tahu.!"
Agaknya Wang Hao memang sengaja melakukannya, ia kembali melontarkan kata kata yang semakin memancing kekesalan Wang Yue padanya.
"Kau.!!"
"Sudah,, kalian berdua jangan berdebat lagi."
Wang Yue berniat beradu cekcok, namun Xiao Lin menggeleng keras.
"Yue Gē, kemarilah."
Wanita cantik itu menepuk ruang kosong di sampingnya agar sang suami duduk bersama nya.
Wang Yue menurut, ia mendudukkan dirinya tepat di tempat yang istrinya tunjuk. Dengan begitu Xiao Lin dengan senang hati menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Begini lebih nyaman.." Gumamnya dengan tersenyum.
"Ekhemm.! Ibu,, kau tak adil,, kau sengaja memamerkan nya di depanku. Benar-benar curang, baru saja membuka mata, kalian justru membuat mataku iritasi. Lihat saja, setelah aku keluar dari sini, aku juga bisa melakukannya."
Wang Hao merengek bak anak kecil, selalu seperti itu sejak ia kecil. Meski kini telah menjadi jauh lebih dewasa, namun sifat kekanakan nya akan kembali saat ia bersama dengan Xiao Lin, yang notabenenya telah ia anggap sebagai seorang ibu sejak dirinya menjadi bagian dari keluarga wanita cantik itu.
__ADS_1