
Keduanya menoleh secara bersamaan pada sumber suara.
Itulah Lubin, yang tiba-tiba datang dan menyela kalimat sang Jiějiě. Membuatnya menggeleng heran dengan sifat sang Dìdì yang gemar menimbrung pembicaraan orang lain.
"Mn. Tentu. Kita semua keluarga, dan harus saling melindungi. Bukan begitu Yue Dìdì???"
Meski begitu, Lulu tetap santai menanggapi. Ia bahkan kini menjadi lebih terbuka, tak seformal sebelumnya pada Wang Yue.
"Ah, ya. Binbin, jangan terlalu suka mengganggu obrolan orang lain. Ubahlah kebiasaan buruk mu itu, kau sangat tak sopan." Tegur Lulu pada sang Dìdì.
"Ah, maafkan aku Jiě,, sebenarnya aku datang hanya ingin mengajakmu pulang. Ayah dan Ibu terus menghubungi ku dan meminta ku untuk membawamu pulang, mereka khawatir padamu Jie." Jelas Lubin sedikit gugup.
"Binbin,, bagaimana bisa Jiějiě meninggalkan Xiǎomèi disini? Katakan saja pada Ayah dan Ibu, Jiějiě akan tinggal sampai Xiǎomèi benar-benar baik-baik saja."
Lubin menghela nafasnya, ia tahu tidak mudah untuk membujuk sang Jiějiě jika itu menyangkut Xiao Lin.
"Maaf jika saya ikut campur, tetapi sebaiknya anda mengikuti apa yang Lubin katakan Nona,, mengingat sebelumnya kondisi anda kurang baik, ada baiknya jika anda bisa beristirahat penuh.
Untuk saat ini lebih baik jika anda memperhatikan kesehatan anda terlebih dahulu, biar Xiaoxiao saya yang menjaganya." Timpal Wang Yue.
"Dengar kan Jiě? Sebaiknya Jiějiě ikut dengan ku pulang, karena penjaga Xiao Jiějiě yang sebenarnya ada disini."
Lulu menghela nafas pasrah, dan menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan Lubin.
"Baiklah,, Jiějiě percayakan Xiǎomèi padamu. Tolong jaga dia baik-baik, Jiějiě pergi dulu. Jika ada sesuatu tolong kabari Jiějiě, ok?"
Dokter cantik itu berpesan pada Wang Yue sebelum dirinya pergi.
Kedua bersaudara itu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
"Ah, satu hal yang harus Jiějiě perjelas. Jangan memanggilku dengan sebutan 'Nona', panggil aku Jiějiě mulai sekarang. Dan jangan seformal itu lagi padaku, bersikaplah lebih santai padaku. Apa kau mengerti Yue Dì?" Ucapnya lagi sesaat menghentikan langkahnya.
"Xiǎomèi adalah keluarga ku. Dan kau adalah keluarganya, orang yang sangat di cintainya, jadi anggaplah aku sebagai mana Xiǎomèi menganggap ku. Karena kau juga bagian dari kami, dan kami adalah keluarga. Ingat itu, Yue Dì."
Ada keraguan di hati Wang Yue, berniat memprotes apa yang Lulu katakan. Namun itu tak sampai ia ucapkan, karena si empunya lebih dulu pergi meninggalkan ruangan itu.
Hingga keduanya menghilang di balik pintu, ia kemudian menganggukan kepalanya dengan ragu.
~
__ADS_1
"Jiě,, bagaimana keadaan Xiao Lin Jiě? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Cc khawatir.
"A Lin baik-baik saja,, sudah,, tak apa.. Jangan terlalu mengkhawatirkan nya.." Ujar Lulu sesaat pintu itu tertutup rapat.
"Eh,,? Dimana a Yi?" Tanyanya kemudian.
Cc tak menjawab, namun jari telunjuknya ia gunakan untuk menunjukkan keberadaan si kecil.
Lulu tersenyum, ia berjalan mendekati a Yi yang kini berada di pangkuan paman lainnya.
"A Yi,,," Gumamnya pelan, dengan ucapan menggantung.
"Apa a Yi tertidur?" Lanjutnya bertanya dengan lirih.
"Mn. Sangat pulas.." Sahut Kuan, si empunya yang memangku a Yi.
"Jiě,, kemarilah,, duduk bersama ku." Zi Cheng ikut membuka suaranya.
Dengan semangat serta senyuman yang tak luntur dari wajahnya, Lulu berjalan mendekati Zi Cheng.
"Terlihat sangat nyaman,, apa sudah lama tertidur?" Tanyanya kembali setelah mendudukkan dirinya di samping Zi Cheng.
"Mungkin a Yi kelelahan, itu membuatnya mengantuk. Mn_ Nona Lu,, bagaimana keadaan di dalam? Juga,,,"
"Semua baik-baik saja,, bagaimana dengan anda sendiri? Apa sudah lebih baik?"
Terlihat ragu untuk menjawab, namun tak berselang lama Kuan kembali membuka suaranya.
"Jauh lebih baik sekarang." Ucapnya dengan senyum di paksakan.
Lulu melirik ke arah sepasang kekasih di sampingnya, sebelum tersenyum dan kembali bersuara.
"Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, atau mengganggu pikiran kalian,, ceritakan saja.. Jiějiě disini siap mendengarkan semua yang ingin kalian katakan." Katanya, masih dengan senyum mengembang.
"Ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan pada Yuan'er, namun rasanya akan tidak mungkin untuk mengatakannya. Karena sejak dulu Yuan'er sangat membenciku, hingga saat ini. Kebencian itu terus bertambah, tanpa menyisakan ruang untuk memberiku kesempatan meminta maaf.." Ucap nya sedih.
"Apa itu membuat anda menyerah? Dan tidak ingin mencobanya kembali?" Tanya Lulu yang mendapat gelengan kepala dari Kuan.
"Tidak. Hanya saja,, mungkin memang tidak ada kesempatan bagiku untuk bisa mengatakannya. Meskipun sangat ingin bisa memiliki hubungan baik dengannya, namun terasa mustahil. Karna bagaimana pun, Yuan'er tidak akan pernah menganggap ku ada dalam kehidupannya."
__ADS_1
"Apanya yang tidak? Ingatlah kembali ucapan anda tuan Shen Kuan. Apa yang anda katakan jelas itu adalah keputusasaan, apa ada sungguh puas dengan keadaan seperti ini? Apa anda tidak akan menyesal jika tidak mengatakannya?"
Chen yang entah datang dari mana, dengan tiba-tiba menyambar dengan pertanyaannya.
"Melihatnya bahagia,, sudah cukup. Mungkin kehadiran ku di hidupnya hanya membuatnya merasa terganggu." Tuturnya dengan memalingkan wajah.
"Hahkh.! Sampai kapan anda akan menyembunyikan semua itu? Apa anda tidak punya rasa lelah? Dan sampai kapan anda akan menyimpan itu sendiri?"
Chen berjalan mendekati Kuan dan kedua orang lainnya.
"Gē, memendam rahasia yang begitu besar selama hidupmu itu tidak mudah. Kau benar-benar harus rela mengorbankan dirimu untuk di benci orang lain yang bahkan tidak mengetahui tentang dirimu sendiri, seperti yang terjadi antara kalian.
Kau yang terlalu takut di benci olehnya, dan Yue'ee yang semakin salah menilai tentang dirimu. Apa kau sadar Gē, Yue'er begitu tidak menyukai mu karena kau yang terlalu berpikir jauh menilainya.
Terlalu takut mendekatinya, dan terlalu takut mengatakan kejujuran. Rasa takutmu membuatnya semakin jauh menilai mu sebagai orang yang pantas dia benci. Yang tanpa dia sadari bahwa orang yang di bencinya selama ini, adalah orang yang selalu berada di hadapannya.
Namun itu semua terhalang oleh rasa kebencian nya yang amat besar, hingga membuatnya beranggapan jika orang tersebut adalah dalang di balik semua kesulitan yang dialami nya."
Kuan memandang tak percaya pada pria yang lebih muda di hadapannya, sementara Lulu dan Zi Cheng dan yang lainnya hanya mendapati kebingungan tentang apa yang entah sebenarnya mereka bicarakan.
"Mengapa kau mengatakan hal demikian? Itu sama sekali tidak benar." Ucap Kuan.
"Gē, memang benar kau tidak mengenal ku. Atau mungkin kau mengenalku namun kau sama sekali tak mengingatku, yang jelas itu tidaklah penting.
Tetapi harus kau tahu, bahwa aku mengenalmu Gē. Aku mengenal kalian jauh lebih baik dari kalian sendiri, jadi jangan pikir aku tak tahu bagaimana kehidupan kalian sebenarnya." Paparnya dengan gamblang.
"Sebenarnya siapa kau? Bagaimana bisa kau bicara begitu banyak tentang kehidupan orang lain yang,,"
"Siapa aku tidaklah penting. Namun percayalah,, kebaikan pasti akan mendapatkan berkali lipat kebaikan. Dan kejahatan akan kembali pada siapa yang melakukannya.
Begitupun denganmu Gē, akan ada saatnya Yue'er tahu. Dan akan ada saatnya, kehancuran bagi mereka yang telah melakukan kejahatan semasa hidupnya."
Usai dengan celotehnya, Chen berlalu mendekati Lubin yang tengah berbincang dengan Cc disisi lain di antara ketiga orang yang telah ia tinggalkan.
"Bin, bisakah kita serius mulai saat ini? Aku lelah terus berpura-pura selama ini." Ucapnya, membuat Lubin menoleh padanya.
"Apa kau bisa di percaya?" Tanya Lubin yang kini nampak serius.
"Ya. Tidak ada waktu lagi untuk bermain-main." Sahut Chen tegas.
__ADS_1
Terlihat perubahan di wajah keduanya yang nampak begitu serius saat ini, hal itu tak luput dari perhatian ke empat orang lain di sekitarnya.