
*
Chen menghela nafasnya pelan sebelum menatap pria yang berstatus sebagai kekasih Zi Cheng.
Sementara si empunya yang ia pandang, kini masih asik memandang punggung tegak pria bermarga Wang itu yang perlahan tubuhnya menghilang di balik pintu.
"Sedalam itukah kebencian mu pada Gēgē, Yue'er. Gēgē tak menyangka, setelah sekian lama kita tak pernah bertemu, kau masih tak berubah. Maafkan Gēgē, telah mengubahmu menjadi orang yang pendendam seperti ini."
Ada setitik air yang terjatuh dari sudut mata Kuan melihat Wang Yue yang tak mempedulikan nya.
Lain halnya dengan Zi Cheng yang kini bertambah kaget, melihat sang kekasih di hiasi dengan aliran air membasahi pipinya.
"Gē,," Panggilnya lirih.
Merasakan sentuhan lembut di pundaknya, Kuan menolehkan wajahnya pada si empunya yang memanggil.
"Kau bisa ceritakan semua padaku jika itu sangat menyakitimu. Setidaknya itu bisa sedikit membuatmu lega, meski aku tak dapat mengurangi rasa sakit yang kau rasakan." Ucapnya tulus, benar-benar sangat lembut.
Nampak tak biasa, tak seperti Zi Cheng yang biasanya. Kuan sendiri hanya tersenyum dengan gelengan kepalanya.
Namun entah mengapa air matanya semakin deras mengalir, saat mendengar ucapan dari sang kekasih yang membuatnya merasa menjadi orang yang lemah di hadapannya.
"Tidak apa-apa,, menangislah.."
Zi Cheng membawa sang kekasih kedalam pelukannya. Dan,,, ya. Kuan menangis menumpahkan segala penyesalan, rasa bersalah dan sakit dalam hatinya lewat air matanya dalam pelukan sang kekasih.
"Menangislah sepuasmu Gē, luapkan semua beban dalam hatimu, untuk kali ini, tumpahkan semua air matamu.
Cukup kali saja, lepaskan rasa sakit yang menggangu hatimu. Aku disini,, akan selalu ada untukmu, mendukung mu, dan selalu bersama mu."
Zi Cheng memang tidak merasakan apa yang kekasihnya rasakan, akan tetapi, melihat sang kekasih bersedih, hatinya pula ikut merasakan sakit.
Terlebih melihat pandangan terluka dari kedua bola mata sang kekasih yang begitu menderita sejak pertemuannya dengan Wang Yue, entah mengapa ada bagian dari dalam diri Zi Cheng yang juga ikut terluka.
Beralih pada Chen yang setia menikmati pemandangan itu.
__ADS_1
Melihat sepasang kekasih yang tengah bersedih ria di hadapannya, Chen hanya dapat memaklumi. Lain halnya dengan Lulu, yang kini mulai merasakan pening di kepalanya akibat banyaknya pertanyaan yang muncul di otaknya.
"Nona Lu,, sebaiknya Nona beristirahat saja. Wajah mu terlihat pucat, apa Nona sakit?" Ucap Chen, yang khawatir melihat wajah lelah dokter cantik di sampingnya.
"Ah, tidak apa-apa Tuan Chen, saya baik-baik saja." Ujar Lulu menutupi sakit yang menyerang kepalanya.
"Jiějiě.!!"
Teriakkan menggema di ruangan tersebut. Lubin yang baru saja memasuki ruangan, ia di buat terkejut dan seketika panik lantaran tubuh sang Jiějiě limbung.
Zi Cheng dan Kuan, keduanya terpaksa harus merelakan waktu mengharukan mereka terganggu, saat suara nyaring pemuda bermarga Lu itu merasuki indera pendengarannya.
Keduanya pun terkejut saat perhatiannya teralih pada Lulu yang hampir saja terjatuh jika saja Chen tidak segera menangkap tubuhnya.
Ketiganya menghembuskan nafas lega, berkat Chen yang berhasil menolong si dokter cantik tersebut.
"Nona Lu,, kau tak apa? Apa kau sungguh baik-baik saja? Bukankah baru saja ku katakan, kau harus beristirahat."
Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Chen, kala ia bertanya tanpa jeda pada gadis dalam pelukannya.
Lubin tak jauh berbeda dengan Chen, ia bertanya dengan khawatir pada sang Jiějiě tanpa jeda.
Namun bukannya menyahuti orang yang khawatir pada dirinya, dokter cantik itu justru tersenyum menanggapi kekhawatiran orang-orang disekitarnya.
"Jiě,,!"
Merasa di permainkan oleh gadis yang lebih dewasa darinnya, Lubin menunduk malu mendapati sang Jiějiě terus menggodanya.
"Ah, baiklah.. Maafkan Jiějiě, tenanglah,, Jiějiě baik-baik saja. Jiějiě hanya sedikit pusing saja." Ujarnya dengan mengusap surai hitam milik Lubin, karena tak tega melihat raut khawatir di wajah sang Dìdì.
"Terus saja berbohong.! Apa kau lupa siapa aku?"
"Mm, Jiějiě ingat,, kau adalah Binbin kesayangan Jiějiě, yang sangat mencintai Jiějiě nya ini." Sahutnya lagi dengan senyuman lembut di bibirnya.
"Terima kasih Tuan Chen, saya baik-baik saja. Maaf merepotkan anda." Sambungnya yang di tujukan untuk pemuda Chen yang tak pernah mengalihkan pandangannya dari dirinya.
__ADS_1
"Mn. Sebaiknya makanlah sesuatu, dan minumlah obat. Istirahatkan tubuhmu, jangan memaksakan diri seperti ini. Kau akan jatuh sakit jika tak mempedulikan kesehatan mu." Ujarnya sambil memapah tubuh dokter cantik tersebut menuju sofa.
"Dengarkan apa kata Ji Chen Gēgē Jiě. Nah, makanlah. Aku membawakan makanan, lebih baik kita makan sama-sama." Lubin ikut menimpali kalimat Chen.
"Kuan Gē, a Cheng. Kemarilah, kita makan sama-sama. Jangan hanya berdiam diri disana, kau juga harus meminum obatmu Gē. Kau tak boleh melewatkan waktu makan dan minum obatmu." Pungkasnya, mengingatkan sepasang kekasih itu.
Kelima orang tersebut menikmati makanan mereka dengan tenang. Tak berselang lama, Cc yang semula berada di dalam kamar itu bersama a Yi, kini ikut bergabung dengan kelima orang tersebut.
Menyisakan salah satu orang lainnya yang kini masih di penuhi kesedihan serta ketakutan yang kembali melanda hatinya, karena sang istri tercintanya tak mengenali dirinya.
"Tuhan. Jika memang seseorang di hadapan ku ini benar-benar milikku, aku mohon,, kembalikanlah ia padaku. Sebagai mana engkau mempercayakan ku sebelumnya untuk bersama dan menjaganya.
Maka,, berikanlah kesempatan untuk ku berada di sisinya, dan melindunginya seperti dahulu.. Ijinkan aku menebus kesalahanku yang pernah melalaikan tanggung jawab ku padanya.
Restuilah kami dalam setiap langkah yang kami jalani, untuk sedikit mempermudah jalan yang telah kami pilih dalam kehidupan kami.
Tuhan,, aku tahu, sepanjang usia yang telah ku lewati hingga saat ini, aku tidak pernah mempercayai adanya engkau.
Tetapi ku yakin engkau tahu, seseorang yang sangat ku cintai, dia sangatlah mempercayai mu. Karena ia percaya, dalam setiap apa yang terjadi di dunia ini dan apa yang kami semua alami itu adalah kehendak darimu.
Jadi untuk kali ini, aku ingin mempercayaimu sebagai mana ia meyakinkan ku untuk mempercayaimu. Aku meminta dan memohon padamu, kembalikanlah,, apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab ku."
Wang Yue menatap kosong tubuh terbaring itu.
Hati Wang Yue benar-benar di landa gelisah gundah gulana. Ia merasa hancur dan kacau sejak kehilangan istrinya.
Hingga kini mereka di pertemukan, dan melihat sang istri tercintanya begitu menderita karena dirinya, hatinya seolah tak mampu menahannya.
Merasakan keluarganya yang ikut menjadi korban atas kekejaman orang yang tak menyukai kebahagiaan mereka, ia yang sebelumnya tidak pernah percaya adanya Tuhan, kini untuk kesekian kalinya berdoa di dalam hatinya, semenjak ia kehilangan sang istri hingga mereka dipertemukan kembali.
Mungkin sejak kecil ia sulit untuk mempercayai, meski Xiao Lin terus meyakinkan nya agar percaya dengan kuasa Tuhan. Namun kali ini, semenjak ia kehilangan sang istri, Wang Yue berusaha meyakinkan dirinya untuk mengikuti setiap perkataan istrinya.
Dari itulah ia belajar untuk mengenal Tuhannya, belajar mempercayai jika Tuhan itu ada, dan Tuhan takkan membiarkan setiap umatnya menderita. Karena Tuhan itu maha adil, maha bijak, dan maha pengasih.
Ia akan menyembuhkan setiap luka, menghapus kesedihan, juga mengganti semua kepedihan yang umatnya rasakan, menjadi keindahan tak ternilai yang takkan pernah kita bayangkan, hingga,, hanya menyisakan kebahagiaan yang sepantasnya kita dapatkan.
__ADS_1