Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
62


__ADS_3

Wen yang lebih dulu mendekat, sementara Wang Hao yang semula berada di sisinya kini telah beralih di sisi Wang Yue.


"A Xiang, ada apa?"


"Wen Gē, Han Gē,,"


A Xiang tak lantas memberikan penjelasan pada Wen, ia hanya menyebutkan nama seseorang dengan raut khawatir.


"Bagaimana bisa? A Xiang, bukankah sebelumnya kau sudah memberinya obat?"


Wen terkejut saat menyentuh kening serta leher Han yang terlampau panas meski tubuhnya berkeringat.


"Gē, aku telah melakukannya. Aku juga memberikan obat untuk mencegah infeksi pada lukanya, tetapi aku tidak tahu jika efeknya jauh lebih hebat dari perkiraan ku." Tuturnya dengan panik.


"Efek??" Ulang Wen.


"Efek apa yang kau maksud?"


A Xiang seakan terkejut dengan pertanyaan Wen padanya.


"Xiang_xiang,, apa yang kau lakukan.!! Mengapa kau ceroboh sekali.!!" Gumam hatinya yang mulai gusar.


"A Xiang. Jelaskan sekarang juga.!"


"G_gē. Tidak perlu membentak ku seperti itu. Kau membuatku jantungan, kau tahu.!"


"Jangan berbelit dengan ku. Cepat katakan.!"


A Xiang bergidik ngeri melihat Wen dengan tampang menyeramkan nya saat ini. Ia hanya bisa menghela nafas pasrah dan memberi penjelasan pada pria di hadapannya, karena menolak pun akan sia-sia. Ia masih sayang dengan nyawanya sendiri.


A Xiang kemudian membuka selimut yang menutupi kaki hingga tubuh Han, membuat Wen membulatkan matanya sempurna. Saat pandangannya jatuh pada lutut kaki Han yang berbalut kain, yang sebagian besar telah berwarna merah.


Namun rupanya masih tak cukup mampu menutupi bagian bawah lutut itu hingga ujung kakinya yang telah membiru sempurna.


"I_ini??"


Wen tak mampu melanjutkan ucapannya, ia benar-benar tak sanggup meski hanya melihat.


"Racunnya telah menyebar." Ucap a Xiang lemah.


"Itu sengaja di buat untuk melumpuhkan syaraf seseorang yang terinfeksi."

__ADS_1


"Apa?! Bagaimana bisa? A Xiang, kau bercanda bukan? Bukankah ini hanya luka tembak?"


Wen mulai gusar mendengar ucapan a Xiang, ia menyangkal jika itu bukanlah sesuatu yang serius, meski dirinya tahu itu bisa saja hal yang fatal.


"Gē, tenanglah. Akan aku jelaskan perlahan, tapi ku harap kau bisa lebih tenang saat aku mengatakannya."


A Xiang mencoba menenangkan Wen sebelum melanjutkan penjelasannya, ia tidak bisa begitu saja mengatakan semuanya pada Wen jika dalam keadaan emosi yang tak terkendali.


Wen tak menjawab, ia hanya menutup mata sembari menghela nafasnya panjang. A Xiang tahu, jika seseorang di sampingnya saat ini tengah mencoba mengendalikan dirinya.


"Itu memang hanya luka tembak, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang tak sekedar hanya untuk melumpuhkan pergerakannya saja. Itu adalah sesuatu yang sengaja di siapkan untuk menghilangkan nyawa seseorang secara perlahan."


"Ma,_apa yang kau maksud? Katakan dengan jelas.!"


"Itu,, semacam peluru biasa pada umumnya. Tetapi juga tidak bisa di anggap demikian, karena sesuatu di dalamnya berisikan racun yang perlahan akan melumpuhkan syaraf seseorang yang terkena, bahkan situasi terburuk nya adalah,,"


Kalimatnya terhenti, wajahnya perlahan menunduk dengan nafas lemah. Perlahan ia pergi menjauhi Wen beserta yang lainnya, dan kembali dengan sebuah kotak mini di tangannya.


"Bukalah."


Wen menerimanya, dan dengan bingung ia membukanya.


"Ini,,"


"Jangan menyentuhnya, kita tidak tahu, benda itu bisa saja melukai orang lain."


A Xiang mencegah Wen saat akan mengambil benda mungil itu dari dalam kotak.


"Aku telah memeriksanya, meski semua racun telah menyerang tubuh si penerimanya, namun masih ada sisa racun yang tertinggal di dalam benda itu. Dan itu akan sangat berbahaya jika seseorang menyentuhnya."


"Apa sangat fatal?" Tanya Wen penasaran.


"A Xiang, bukankah kau seorang dokter? Jadi, kau tahu bukan bagaimana cara mengobatinya?"


Yang di tanya mengangguk, namun wajahnya tak dapat membohongi semua orang bahwa ia juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"A Xiang,, katakan sesuatu. Kau bisa menghilangkan racun itu sepenuhnya dari tubuh Xiao Han bukan?"


Tak ada respon dari lawan bicaranya yang memilih diam.


A Xiang sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan, ia tidak bisa menjanjikan atau menjamin akan hal itu. Meski dirinya berusaha, akan tetapi untuk sesuatu yang sangat langka adalah hal yang sulit.

__ADS_1


Meski dirinya melakukan semampunya, namun untuk mendapatkan penawar racun itu tidaklah mudah, juga membutuhkan waktu lama agar benar-benar sempurna untuk menyembuhkan nya.


"A Xiang.! Cepat bicaralah.!! Katakan jika kau bisa menolongnya, bukankah kau sangat menyayangi nya?"


"W,wen Gē, aku tidak bisa menjanjikan nya untuk saat ini. Butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan penawar nya.


Sementara,, racun yang mulai menyebar ke seluruh syaraf Han Gē adalah racun aktif yang mematikan. Semakin lama mereka menyebar, akan semakin sempit ruang bagi Han Gē untuk bertahan."


Ada setetes embun menetes dari sudut mata a Xiang, ia menundukkan kepalanya, rasa kecewa pada dirinya sendiri tak mampu ia sembunyikan.


"A Xiang, Gēgē mohon, kali ini berusahalah untuk menolongnya. Gēgē mohon, selamatkan Xiao Han,."


"Xiao Han??"


Di tengah kepanikan keduanya, Wen dan a Xiang menoleh secara bersamaan pada seseorang yang mengulang menyebut nama Han.


"Maksudmu Xiao Han,, Xiao Gu Han? Wen Gē apa benar dia adalah Xiao Han Gēgē?"


kedua orang yang sebelumnya fokus pada percakapan mereka sebelumnya, kini terkejut saat mendapati Xiao Lin yang kini telah berada di belakang keduanya.


Wen kebingungan untuk menjelaskan. Ia melirik Wang Yue di sisi wanita cantik itu, harap-harap bisa menyelamatkan nya dari Xiao Lin yang kini menuntut penjelasan darinya.


Namun Wen yang sibuk dengan kebingungannya, tak sadar jika Xiao Lin kini telah berada tepat di sisinya.


Untuk memastikan sendiri wajah seseorang yang membuatnya begitu penasaran.


Tak di sangka,, wanita cantik itu kini justru meneteskan air matanya.


"Gē,, benarkah ini dirimu? Hiks,, Xiao Gēgē milik kami? Hiks,, benarkah itu sungguh dirimu Gē? Hiks,,


Ya, memang benar. Hiks,, hiks,, Gēgē, apa kau masih ingat dengan ku? Hiks,, Lin'er. Hiks,, ini Lin'er Gē. Hiks,, Lin'er disini, hiks,, Gēgē bangunlah.. Hiks,,"


Xiao Lin mulai mengoceh dengan isakkan, menyentuh lembut wajah seseorang yang terbaring tak sadarkan diri itu.


"Hiks,, Lin'er benar kan? Ini benar-benar dirimu, hiks,,hiks,, kau benar-benar masih hidup Gē? Hiks,, kau sungguh kembali Gē, hiks,, maafkan Lin'er yang tidak mengetahui keberadaan mu selama ini, hiks,,


Bangunlah Gē, hiks,, buka matamu,, Lin'er mohon, hiks,, jangan lagi tinggalkan Lin'er sendiri Gē, hiks,,hiks,,"


Tawa yang sebelumnya menghiasi wajah cantiknya, kini hilang tergantikan dengan tangis yang memilukan.


Xiao Lin benar-benar di kuasai kesedihan saat ini, Xiao Gu Han, atau yang biasa di panggil Xiao Han oleh Wen adalah Xiao Gu Han. Putra pertama dari pasangan Xiao Dao Ming dan Xiao Ru Ying, yang tak lain adalah saudara kandung Xiao Lin.

__ADS_1


Yang sebelumnya telah dinyatakan meninggal di usia muda saat mulai mengikuti jejak bisnis sang ayah, namun tidak pernah sekalipun terlihat jasadnya oleh siapapun yang mencarinya.


Dan kini setelah sekian lama Han hilang, ia muncul di hadapan Xiao Lin dengan keadaan yang membuat Xiao Lin tidak bisa untuk tidak bersedih karenanya.


__ADS_2