
Nanda pulang dari markas tepat pukul 9.00 WIB Malam. Dia harus mengantarkan Marco pulang ke rumah Victor dahulu sebelum pulang kerumah nya.
Di sana Nanda bisa melepas rindu sejenak dengan sang ayah, meski dengan waktu yang singkat tetapi Nanda begitu senang bertemu dengan Viktor, begitu pun sebalik nya.
Setiba nya Nanda di dalam rumah nya, keadaan di sana sangat lah sepi. Kemana istri cantik nya itu?
''Aden sudah pulang'' Sapa Bi Yuyun kepada majikan nya itu.
''Iya Bi, Nona Naomi di mana dia Bi?'' Tanya Nanda
''Nona ada di atas kok Den, baru saja dia naik. Nungguin Aden pulang dari tadi'' Balas Bi Yuyun ramah.
''Oh ya sudah, saya keatas dulu kalo begitu. Selamat malam!'' Ucap Nanda yang sudah melewati Bi Yuyun.
''Iya Den'' Jawab nya, tanpa menawarkan makan malam kepada majikan nya tersebut, karna Bi Yuyun sudah mengetahui kapan jadwal majikan nya itu untuk makan malam.
Nanda sedikit berlari guna segera sampai di kamar nya, yang mana sang istri tercinta nya berada di sana.
Cklek ....
''Sayang!'' Ujar Nanda kala pintu kamar nya telah terbuka, dan menampilkan sosok anggun yang tengah berbaring di hamparan empuk tersebut.
Nanda tersenyum manis, melihat istri cantik nya tertidur dengan memeluk boneka beruang pink kesayangan nya.
Tidak ingin mengganggu istirahat Naomi, Nanda lantas segera pergi ke kamar mandi guna membersihkan tubuh nya.
Tak butuh waktu lama, kini Nanda sudah selesai melakukan ritual nya. Dan bersiap mengikuti istri nya menyelami alam mimpi.
''Good night, My Baby and Momy'' Bisik nya lembut kepada dua nyawa yang sangat berharga bagi hidup nya.
Setelah mengusap serta mencium perut Naomi yang sudah mulai sedikit buncit itu, Nanda segera memeluk tubuh hangat Naomi dari arah belakang.
Seakan terganggu dengan sentuhan suami nya, Naomi pun berbalik menghadap kearah Nanda.
''Jam berapa ini Kak'' Gumam Naomi dengan suara serak dan mata yang enggan terbuka. Tubuh nya masuk kedalam dekapan suami nya, mencari kehangatan serta kenyaman di sana.
''10 malam Sayang'' Balas Nanda
''Um, kakak udah pulang, tumben gak larut malam. Tapi Naomi seneng kakak udah pulang'' Ucap Naomi yang sudah sedikit tidak jelas dalam berucap.
''Iya sayang, tidur lagi yah masih malam banget'' Tutur Nanda, yang sudah mengusap lembut punggung Naomi.
''Hm'' Balas Naomi mengangguk kecil.
'' Malam ini gue gak cari mangsa dulu deh, gue gak mau ninggalin Naomi waktu tidur pulas kayak gini'' Nanda membatin
...****************...
Di sisi lain. Alvin juga tengah menemani gadis nya tidur, meski mata nya tidak akan pernah mendukung untuk dia tidur di jam segini.
Alvin tidak ingin meninggalkan Alice sekarang, entah kenapa rasa ingin melindungi kekasih nya itu sangatlah besar, dia sering merasakan khawatiran yang berlebih terhadap kekasih nya itu.
Untuk mengusir rasa jenuh nya, Alvin menyalakan batang nikotin untuk dia hisap, dengan di temani secangkir kopi pahit di hadapan nya.
Terlihat ada pergerakan di balik selimut, mungkin Alice mengubah posisi tidur nya saat ini.
''Umhh'' Lenguh nya sembari mengeluarkan diri dari selimut tebal milik nya, mata bulat nya seketika terbuka lebar memindai bangunan yang tengah dia singgahi sekarang.
''Ini di kamar aku, bukan nya tadi aku di markas nya Alvin. Huh! Aku ketiduran, kasian Alvin pasti cape banget bopong aku tadi'' Monolog nya setelah sadar. Alice bangun lalu bersandar di kepala ranjang nya, hidung kecilnya kembang kempis mencium aroma yang tidak asing.
__ADS_1
''Kok bau asap rokok sih, apa Alvin belum pulang yah'' Bisik nya merasa heran.
''Loe bangun'' Seru Alvin yang datang dari arah balkon.
''Astaga Al, bikin kaget aja tau gak'' Pekik Alice, tubuh nya terhentak saking terkejut nya. Namun Alvin tidak merespon apapun, dia masih melihat dengan wajah datar kearah Alice.
''Loe laper?'' Tanya Alvin lagi.
''Em, sedikit'' Balas Alice malu.
''Mana ada laper sedikit, kalo laper ya laper aja. Emang nya ada laper sedikit dan laper banyak gitu'' Celetuk Alvin.
''Ih, aku kan lagi nutupin rasa malunya Al, makanya bilang kayak gitu'' Ujar Alice apa ada nya.
''Cih! Malu, loe malu sama gue''
''Yah iya'' Balas Alice pelan sembari tertunduk menyembunyikan wajah nya di balik juntaian rambut panjang nya.
''Gitu aja pake malu, gue aja yang gantiin baju loe biasa aja'' Terang Alvin santai, dan itu mampu membuat Alice menganga dengan wajah yang sudah mendongak.
''A-apa? Gantiin baju?'' Alice gugup dan segera melihat pakaian yang dia kenakan sekarang.
Piyama tidur berwarna abu-abu, kini yang menempel di tubuh ramping nya. Padahal tadi dia memakai seragam sekolah bukan? Berarti apa yang di ucapkan Alvin suatu kebenaran.
''Aaaaaaa'' Jerit Alice saat itu juga
''Telat'' Sentak Alvin.
''Nih makan dulu, dan gak usah teriak lagi. Ingat! Loe itu calon istri gue, cepat atau lambat gue bakal lihat seluruh tubuh polos loe, jadi gausah berlebihan'' Alvin menyerahkan nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan ayam kepada Alice, dan mengingatkan Alice dengan status yang belum tentu.
Alice menerima nampan tersebut dengan tangan sedikit gemetar, dan jangan lupakan wajah nya yang sudah sangat merah. Entah dia tengah tersipu atau marah sekarang.
Alvin ikut naik ke atas kasur tersebut.. ''Abisin makan nya, gue mau baring sebentar'' Titah Alvin tegas.
''Al'' Bisik Alice, setelah dia selesai dengan acara makan malam nya. Tubuh Alvin sengaja dia selimuti karna berpikir bahwa kekasih tampan nya itu tengah tertidur.
Alice memperhatikan potongan wajah kekasih nya itu, sangat sempurna menurut nya. Perlahan tangan mungil nya terulur menangkup satu sisi rahang Alvin, refleks ibu jari nya mengusap area tersebut, sangat halus pikir Alice.
''Apa aku pantes berada di samping kamu Vin, apa yang kamu cari dari gadis biasa seperti aku, kamu sangat tampan sedangkan aku biasa saja, kamu kaya dan punya segala nya Vin, sedangkan aku? Kita begitu jauh berbeda Alvin'' Ucap Alice secara spontan, tanpa sadar dia saat ini tengah mengeluarkan kerisauan dalam hati nya.
''Gue gak akan salah pilih, jelas loe itu pilihan terbaik dan tepat buat gue Alice'' Alvin menjawab dalam hati
Alice bergerak mencium kening Alvin, semburat senyum serta hati yang menghangat kini tengah dirasakan oleh Alvin.
''Kena loe'' Batin Alvin tersenyum menang.
Deg....
Mata Alice melotot sempurna, kala sebuah tangan melingkari pinggang ramping nya, apalagi posisi nya saat ini sangat lah mendukung, di mana wajah Alvin tenggelam penuh di dada montok Alice, karna Alice saat ini tengah mencium kening Alvin.
''A-A-Alvin'' Ucap Alice Gugup, yang mana kini dekapan Alvin makin erat saja dia rasa.
''Hm'' Balas Alvin
''K-kamu kok udah bangun'' Tanya Alice tergagap
''Gue gak tidur Alice'' Ucap Alvin santai
''Hah? Jadi-i''
__ADS_1
''Iya, gue gak tidur, budeg loe'' Maki Alvin
'' Aduh malu banget ini, sumpah'' Jerit hati Alice
''Al, aku nindih kamu loh ini, berat nanti'' Ujar Alice, dia harus mencari cara agar bisa lepas dari lilitan tangan Alvin.
''Lima Alice pun gue sanggup, apalagi cuma satu'' Balas Alvin ringan, Alice memejamkan mata nya karna kesal.
''Tapi aku sesak sama susah gerak Al'' Beritahu Alice, semoga kali ini berhasil.
Alvin mengubah posisi mereka dalam sekejap mata, dan kini Alice sudah kembali tertidur dengan Alvin yang memeluk nya dari arah belakang.
Bulu roma Alice tiba-tiba berdiri menerima terpaan angin hangat yang berasal dari mulut dan hidung Alvin. Tapi sebisa mungkin dia mencoba rileks dan berdamai dengan tubuh nya.
''Em,, Al'' Bisik Alice
''Apa?'' Tanya Alvin cepat.
''Keputusan besok gimana? Apa Mas Marco mau di oparasi wajah nya?'' Tanya Alice penasaran, meski dia ikut berdiskusi bersama mereka tadi sore, tetapi tentang keputusan final nya dia tidak tahu sama sekali.
''Loe manggil si Marco 'Mas' mulu, dia bukan dari jawa tapi dari amerika Alice'' Sungut Alvin ketus, ada apa dengan Alvin? Marco yang di bilang 'Mas' kok jadi dia yang bete
Apa mungkin Alvin cemburu dengan hal sepele seperti itu, apa dia juga mau di panggil 'Mas Alvin' oleh Alice, lucu sekali anak SMA di panggil 'Mas', apalagi yang panggil kekasih nya sendiri, berasa tua sekali anda Alvin.
''Jadi aku harus panggil dia Mr begitu? Ah! atau Sir, iyah'' Seru Alice
''Ck, Abang aja, sama kayak gue manggil ke dia'' Pinta Alvin
''Em ok deh, jadi gimana keputusan nya Al?'' Desak Alice lagi.
Alvin memencet hidung kecil Alice dari arah belakang, merasa gemas sendiri dengan kepololosan gadis nya.
''Aww, sakit Alvin'' Pekik Alice dengan memegangi hidung nya yang memerah akibat ulah tangan nakal Alvin.
''Anak gadis gak perlu tau apalagi ikut campur sama urusan anak laki, paham?'' Tutur Alvin menasehati.
''Tapi-''
''Cukup dukung dan suport gue aja, itu udah lebih dari cukup buat gue sayang'' Sambung Alvin lagi.
''Pelit'' Alice mencebikkan bibir nya karna kesal, Alvin lagi-lagi tersenyum saat menebak ekpresi wajah kekasih nya saat ini.
Drettt.... Drettt...
Ponsel Alvin bergetar tanda ada panggilan masuk, Alice berbalik kehadapan Alvin, guna mengetahui siapa yang tengah menghubungi Alvin.
Alvin melihat siapa yang menelpon nya di jam 11 malam, nama Galih tertera sangat jelas di layar ponsel nya.
''****!'' Umpat Alvin yang sudah bangun dan berdiri tegak.
''Siapa Vin?'' Tanya Alice penasaran, dan sedikit panik terlihat dari wajah nya.
''Suutt! Gue minta loe jangan bersuara selama gue ngomong sama orang ini, jangan tanya kenapa dan ada apa, nurut aja ngerti kan'' Arahan Alvin untuk Alice, dan di jawab anggukan cepat oleh Alice, bahkan dia sampai membekap mulut nya dengan kedua tangan agar tidak sedikit pun menimbulkan suara.
''Hallo'' Sapa Alvin dingin, setelah menjawab panggilan dari Galih.
^^^''Hallo Son, how are you?''^^^
''Hm, i'm good''
__ADS_1
^^^''Ada misi baru untuk mu Alvin''^^^
''Katakan?''