
Saat ini Alice tengah berjalan seorang diri di kalidor sekolah. Dia akan berniat pulang dengan menaiki taxi, karna itu saran dari Alvin.
Tanpa dia sadari, jika di belakangnya ada yang tengah mengikuti langkah kakinya.
Alice terus saja berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekitar, dia harus cepat pulang jika hati dan perasaan nya ingin tenang. Karna di rumahnya lah tempat paling aman saat ini, mengingat statusnya sekarang.
''Kak Aliska!'' teriak orang yang ada di belakangnya itu.
Alice melihat kearah sumber suara, senyum lebar dia berikan pada orang tersebut.
''Dea. Kamu mau pulang juga?'' seru Alice pada gadis mungil tersebut. Alice merasa senang karna selama dia bersekolah di sini, baru kali ini dia bisa berbaur dengan banyak orang. Dan itu berkat Alvin tentunya, jika saja Alvin tidak hadir di hidupnya, mungkin Alice akan tetap menjadi Alice yang di kucilkan serta si kutu buku yang kurang pergaulan.
''Iya kak. Kakak pulang naik apa? Kan kak Alvin sama teman-teman nya udah pulang duluan'' tanya Dea sambil berjalan pelan bersama Alice.
''Mau naik taxi aja. Kalo kamu?'' tukas Alice
''Ada yang jemput sih kak, abang aku. Tuh dia udah ningguin'' Dea menunjuk ke arah laki-laki yang tengah duduk di atas motor bebek sembari menenteng helm.
''Oh! Ya sudah. Udah gih pulang'' tirah Alice
''Iya kak. Bye kak Alice'' Dea melambaikan tangan nya dan berlari kecil menuju laki-laki yang dia akui sebagai kakaknya itu.
''Bye'' balas Alice juga melakukan hal yang sama.
Tittt ...
Terlihat Dea dan kakak laki-lakinya pergi menggunakan motor bebek tersebut, tidak lupa dia mengklakson Alice sebagai perpisahan nya lagi.
Alice menunggu taxi di pinggir jalan. Namun, setiap mobil taxi yang melintas terdapat penumpang di dalamnya.
''Kok pada ada penumpang nya sih? Apa aku pesan ojek online aja yah, biar cepet juga sampenya'' gumam Alice saat tidak menemukan taxi yang kosong. Alice berniat memesan onek online lewat ponselnya. Hingga tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.
Bugh ...
''HEEEU'' Alice langsung terkulai lemas saat itu juga. Lalu orang yang memukulnya segera membopong tubuh Alice di pundaknya seperti karung beras.
Tidak lama datang lah mobil berwarna silver, lantas orang tersebut langsung masuk kedalamnya.
''Jalan'' titahnya tegas. Dan mobil pun melesat jauh dari area sekolah.
...****************...
Gelap, itulah yang di rasakan oleh Nafisha saat membuka kedua matanya, karna ada sebuah kain yang menutupi matanya membuat penglihatannya terasa gelap . Mulutnya yang ingin berteriak seakan urung saat ada lakban yang menutupi seluruh area mulutnya. Di tambah kedua tangan dan kakinya juga diikat, membuat gadis itu hanya bisa menggerakan tubuhnya di atas kursi kayu yang didudukinya.
''Hhmmmm''
''Hmmm''
''Tolong. Alvin tolong aku''
__ADS_1
Sekuat tenaga Alice terus menggerakan seluruh badannya mencoba memberontak pada tali yang mengikat semua akses pergerakannya itu.
Tap
Tap
Tap
Pendengaran Alice menangkap sebuah derap kaki, dan makin membuat Alice semakin menggerakan badannya namun untuk terlepas dari ikatan tersebut, ternyata tidak semudah yang dia pikirkan.
Ikatan tali itu sangat kuat hingga tidak ada celah untuk Alice bisa melepaskan diri saat ini.
''Akhirnya loe sadar juga''
Itu suara seorang perempuan, dan Alice tidak mungkin salah menebak jika pemilik suara tersebut adalah milik Yuri. Alice benar-benar tidak habis pikir dengan aksi gila teman barunya ini. Bukan nya Alice sudah pernah menolong Yuri dari kemarahan Alvin? Seharusnya Yuri berterima kasih pada Alice bukan malah menculiknya seperti sekarang.
''Hmmmm'' gumam Alice
''Percuma loe menghabiskan tenaga untuk bisa lepas dari ikatan itu, karna ujung-ujungnya juga elo gak akan bisa lepas dari gue'' ucap Yuri
''Hmmmm'' ingin rasanya Alice berteriak sangat kencang saat ini, namun yang keluar hanya sebuah gumaman saja.
''Loe mau ngomong? Ok lah gue kasih loe waktu buat ngomong sebelum permainannya di mulai''
Sret! ....
''Apa yang kamu inginkan dari aku?'' sentak Alice berani karna amarahnya sudah melampaui batas.
''Loe tanya mau gue apa?'' Yuri berjongkok di bawah kursi yang diduduki oleh Alice.
Sret! ....
''Akkhhh''
''Mau gue, loe serahin Alvin buat gue. Jauhin dia tinggalkan dia relakan dia untuk bersanding dengan yang layak seperti gue ini'' bisik Yuri tersenyum pongah.
''BRENGSEKk! Lepasin rambut gue'' gadis itu mengubah logat bicaranya agar terlihat tegar dan berani.
Plak ...
''Berani loe sebut gue brengsekk! Hah?'' Bentak Yuri mulai terbakar api emosi.
Wajah Alice sedikit miring akibat tamparan keras dari Yuri, juga wajahnya mulai terasa panas.
''Lepasin gue Yuri! Kalo sampai Alvin tau perbuatan loe kali ini. Aku- gue jamin nyawa loe gak akan selamat'' Alice sempat kesulitan mengubah kosa katanya. Meski begitu dia tetap terlihat sangar dan bengis.
''Oyah! Gimana kalo misalnya Alvin gak menyadari bahwa gadis kesayangannya di culik sama gue. Upp! Gue gak percaya kalo loe masih gadis pasti loe udah lolos dua jari yah''
Alice menatap sinis pada wajah Yuri yang tengah tersenyum mengejek. ''Loe gak tau aja kepekaan kekasih gue itu kayak apa, gue tau banget bagaimana Alvin bersikap apalagi itu menyangkut gue. Dia akan murka saat tidak menemukan gue di rumah, dan dia pasti akan secepatnya mengetahui keberadaan gue ini. Dan mengganjar loe sampai mati'' desis Alice tanpa rasa takut. Padahal saat ini dia tengah di kelilingi lima pria dewasa yang tampak menyeramkan.
__ADS_1
''Kalo gitu kita mulai saja permainannya, bagaimana? Jangan mengulur waktu lagi'' Yuri melihat kearah belakang di mana kelima laki-laki sangar itu berada. Dan berjalan kearah pintu hanya untuk sekedar menutupnya saja.
''Mulai'' titah Yuri pada mereka semua
''Kalian mau ngapain?'' sentak Alice mulai berdesir takut.
''Hanya pria bodoh yang tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan baik bukan? Juga di lihat-lihat loe itu cantik banget sumpah'' ucap salah satu dari kelina pria sangar tersebut.
''Dan gue akui itu'' sahut Yuri enteng sembari memegang kamera yang mungkin sudah dia hidupkan untuk merekam.
''Singkirkan tangan loe dari wajah gue brengsekk!'' Alice menggelengkan wajahnya saat pria itu ingin mengelus pipinya.
''Wuhoo! Ternyata loe berani juga yah. Makin asyik dan menantang ini''
Srekk ....
Baju seragam Alice tiba-tiba di tarik paksa oleh ketua mereka yang biasa di panggil luwis itu hingga robek dan menampilkan tangtop putih yang Alice kenakan.
''Tuhan''
"Ya tuhan''
''Alvin tolong aku''
Alice bergumam dan terus saja menyebut nama Alvin di sela-sela memohonnya. Apalagi saat pakaiannya tidak utuh lagi sekarang.
''Waw! Tubuh loe bagus banget astaga. Pinter banget sih loe nyimpen ini dari pandangan laki-laki'' puji Luwis saat melihat sedikit area tertutup milik Alice.
"Loe akan menyesal jika masih berani berniat sentuh gue. Ingat Alvin itu bukan hanya kejam tapi dia juga seperti iblis pencabut maut tanpa belas kasih''
Luwis sempat ragu setelah mendengar kalimat dari Alice, dia melihat kearah teman serta Yuri yang masih santai memegang satu buah kamera
''Loe jangan dengerin ucapan dia. Alvin sama seperti kita, bukan iblis atau semacamnya seperti yang di bilang wanita itu. Ayok lanjutkan lagi'' titah Yuri tanpa rasa takut ataupun iba terhadap Alice.
Air mata serta keringat Alice sudah sangat banyak membanjiri wajahnya, dia menggigit pelan kalung pemberian dari Alvin.
''Alvin. Aku butuh kamu sekarang sayang, benar-benar butuh. Hiks'' jerit batin Alice terasa pilu.
...****************...
"Bangsaat!''
''Mau mati dengan cara yang seperti apa mereka?'' desis Alvin saat mengetahui jika gadisnya tidak ada di rumah saat bubar dari sekolah
''Kayak nya kita bakal kebagian party malam ini. Gimana kalian siap?'' celetuk Abi pada Atala dan Aiden.
''Liat nanti lah Anjiiir. Kan kita belum sampe juga'' balas Atala terlihat ragu
''Gue sih siap'' timpal Aiden mantap dan tegas.
__ADS_1