
Alice mondar-mandir di dalam kamar Alvin. Ia bingung harus pada siapa menanyakan keberadaan Alvin saat ini. Pasalnya Alvin pergi dari jam 3 sore sampai sekarang jam 8 malam, belum juga kunjung kembali.
''Ach! Kemana dia perginya, udah malam gini aja belum juga pulang'' monolognya resah.
''Aku ambil minum dulu deh kedapur'' Alice bergerak membuka pintu lalu memasuki area dapur.
Saat Alice mengisi botol minumnya, entah dari mana datangnya bi Yuyun sehingga kini dia sudah berada di belakang Alice.
''Astaga!'' sentak Alice karna kaget.
''Non, kenapa?'' seru bi Yuyun tanpa dosa.
''Ih, bibi kenapa ngagetin aku sih''
''Maaf Non, bibi gak bermaksud. Ayo duduk dulu'' bi Yuyun menuntun tangan Alice agar duduk di kursi meja makan.
"Non ngapain malam-malam di sini? Non lapar yah'' tanya nya lagi
''Nih. Isi air bi, kalo laper sih enggak terlalu. Nanti aku makan kalo Alvin udah pulang'' jawab Alice. Bi Yuyun manggut-manggut saja
''Eh bi, kakak belum ada turun lagi?'' kini giliran Alice yang bertanya, karna setelah kejadian drama sore tadi dirinya langsung masuk ke kamar Alvin dan baru keluar sekarang ini.
''Belum Non, makannya saja Tuan yang ambil. Mungkin Non Naomi masih syok atas kedatangan nyi kunti tadi'' sahut Bi Yuyun dengan tawa di akhir kalimatnya.
''Bisa aja bibi''
''Emang bener kan dia mirip nyi kunti. Ngomong-ngomong Den Alvin kemana, kok belum pulang'' ujar Bi Yuyun penasaran
Alice menggeleng lesu. ''Gak tau bi, ponsel dia gak aktif'' imbuhnya kembali.
''Loh, memangnya gak kasih tau tadi mau kemana, gitu?''
"Ck! Alvin mah mana ada ngomong bener bi. Sekalinya dia pamit pun pas ditanya mau kemana, pasti jawabnya ada urusan'' tutur Alice apa adanya. Bukan hanya Naomi saja yang nyaman berkomukasi dengan bi Yuyun, tetapi Alice juga merasakan hal yang sama.
''Mungkin dia lagi ngasih pelajaran sama orang yang nyulik Non waktu itu. Mungkin tengah malam Den Alvin baru pulang'' celetuk bi Yuyun yang mampu membuat Alice sedikit heran.
''Tunggu! Bibi kok terkesan tahu apa hobi Alvin. Jangan-jangan bibi …'' selidik Alice curiga. Namun, bi Yuyun tetap santai dan tidak merasa gugup di desak seperti itu.
''Iya Non, bibi tau sisi gelap Den Alvin. Dia kan sama kayak Tuan Nanda, sama-sama suka darah'' jawab bi Yuyun ringan.
''Jadi, bibi tahu kalo bang Nanda sama Alvin itu …. Psikopat'' bisik Alice berhati-hati dalam mengucap
Bi Yuyun mengangguk tegas. ''Iya, bibi tahu sejak awal kerja disini Non''
''Terus, bibi gak merasa takut gitu?'' desak Alice lagi. Bi Yuyun tertawa kecil mendengarnya
__ADS_1
''Gini deh, sekarang bibi yang tanya begitu sama Non Alice. Kenapa gak takut sama Den Alvin? Jelas-jelas dia seorang pembunuh sadis''
''Ya, aku juga gak tau alasan pastinya apa. Yang jelas aku nyaman dan terlindungi jika dekat Alvin'' ucap Alice
''Itu namanya cinta Non. Kalo gak cinta, Non pasti udah pergi dari awal tahu tentang Den Alvin kan''
''Mungkin. Hi hi'' Alice nyengir kuda hingga menampilkan deretan gigi-giginya yang berukuran kecil.
''Nah, bibi juga begitu Non. Kalo bibi takut, udah dari dulu bibi minggat dari rumah ini. Juga, bibi sayang sama Non Naomi'' ungkap bi Yuyun penuh ketulusan.
Alice mengerti dan melempar senyum pada asisten rumah tangga Naomi itu, dia merasa kagum dengan bi Yuyun yang tulus menyayangi majikannya tanpa terpaksa.
...****************...
Sedangkan di posisi Alvin, kini dirinya tengah menjalankan misi untuk membasmi perusuh yang berani mengganggu kekasihnya.
Di ruangan lain ada ketiga sahabatnya yang ingin ikut juga membasmi orang-orang suruhan Luwis. Meski tidak yakin mereka akan sanggup atau tidaknya membunuh orang yang menjadi korban mereka tersebut.
Di hadapan Alvin kini Yuri sudah di ikat kuat di atas brangkar, pakaian gadis itu sudah Alvin lucuti dari tubuhnya. Yuri hanya menggunakan CD saja saat ini
''Gue gak mau tau, alasan apa sehingga loe berani culik gadis milik gue, yang jelas sekarang kita lihat sampai mana loe bisa bertahan. Hi'' Alvin berucap dengan nada yang sangat menakutkan, di tambah di tangannya kini terdapat mesin las listrik.
''A-pa yang mau loe lakuin sama gue?'' ucap Yuri sangat parau, karna selama dua hari dia di sekap. Gadis itu hanya makan sekali saja dalam sehari
Yuri menggeleng kuat-kuat sambil berontak, saat dia mendengar bunyi mesin tersebut.
''ALVIN. TOLONG JANGAN'' teriaknya dengan rasa takut yang luar biasa.
''Suuutt! Jangan berisik, yah'' Alvin melihat lekuk tubuh Yuri lalu menyeringai kembali.
Ngingggg …..
''AAAAAA. TO-LONG HIKS HAAA AAAA''
''Gimana rasanya, enak gak?'' tanya Alvin ringan setelah menempelkan mesin las itu pada payu-dara Yuri yang terekspos bebas.
Darah keluar sangat banyak dari area itu, maklum saja kulit tubuhnya lepas dengan mudah hingga tersisa daging yang sangat merah saja saat ini.
''AAAAA''
''Aaa-mpun! G-ue minta m-aaf''
''AAAAAA''
Tidak hanya sekali Alvin melukai tubuh Yuri dengan mesin tersebut, terhitung kali dia menempelkannya yang artinya lima area yang dia buat hilangkan kulitnya.
__ADS_1
''Teruslah teriak, karna gue suka. Hi hi''
Srett …
Srett …
Crat …
''Aaaaa. Hiks hiks'' jeritan Yuri semakin melemah, dia pikir dia harus bungkam saja karna percuma memohon ataupun berteriak. Karna Alvin disini tidak terlihat sebagai manusia, dia terlihat seperti iblis yang haus akan darah.
Apalagi sekarang Alvin sudah mulai mengonyak lagi luka tersebut dengan pisau kesayangannya. Hingga darah Yuri muncrat-muncrat pada tubuh Alvin, namun Alvin sangat suka itu. Di saat cipratan darah mengenai wajahnya, dia sangat-sangat suka dengan moment tersebut.
''Kalo saja aku tahu sejak awal, bahwa Alvin adalah manusia berdarah dingin. Aku gak akan pernah mau di ajak kerja sama oleh Luwis. Dan rasa iri yang ada di hati ini membuatku seperti ini sekarang. Hiks, memang benar penyesalan selalu datang terlambat'' batin Yuri mengeluh seakan fasrah dengan nasibnya yang akan berujung kematian nantinya.
Creak ….
Alvin membuka satu botol minuman keras berkadar tinggi, lalu perlahan-lahan dia siramkan pada luka yang menganga di tubuh Yuri.
''AAAAAAA. HIKS. HEN-TIKAN. AAAAAA''
Sekuat apapun Yuri bungkam, tetap saja dia berteriak kencang saat rasa sakit dan perih bersatu hingga tidak dapat di jabarkan dengan kata-kata.
Alvin tersenyum pongah dan dengan santai menyulut sebatang rokok untuk dia hisap secara santai.
''Bruuurr. Hiks hiks''
Dengan tega Alvin menuangkan minuman keras tersebut pada seluruh wajah Yuri, yang mana keadaan mulut Yuri tengah terbuka lebar akibat menahan rasa sakit. Otomatis minuman tersebut masuk kedalam mulutnya secara paksa.
''Bagaimana permainan gue? Hm''
''Bagaimana bisa loe punya pikiran busuk untuk Alice? Kita lihat gimana rasanya jika barang loe gue eksekusi hingga mencapai kenikmatan terakhir. Hi hi'' bisik Alvin tepat di telinga Yuri.
''Jang-an. A-ku le-bih bai-k mat-i seca-ra lang-sung dari, da-ri pada sepert-ih in-ih'' ucap Yuri terputus-putus karna napasnya yang sudah tidak beraturan.
Di tambah kerongkongannya yang serasa terbakar akibat minuman keras yang masuk secara paksa.
''Tidak bisa. Loe sendiri yang pilih jalan ini bukan? Jadi nikmati saja, hm'' Alvin menghembuskan asap rokoknya pada wajah Yuri.
Tanpa basa-basi Alvin mematikan rokok tersebut di salah satu luka yang ada di tubuh Yuri.
Mata Yuri terpejam erat saat rasa sakit. Ah, bukan, mungkin perih. Ah, itu tidak terlalu dominan. Entahlah rasa apa yang dirasakan saat ini di tubuhnya tidak bisa di sebutkan dalam istilah saking sakitnya.
''Kita mulai lagi'' ucap Alvin senang. Yang mana kini dia sudah melucuti kain satu-satunya yang ada di tubuh Yuri.
Alvin tersenyum remeh dan sinis melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Tidak ada rasa yang membuatnya berhas-raat, hanya satu yang dia rasakan kini. Yaitu ingin segera mendengar jeritan dari mangsanya itu, dengan cara melukainya hingga mati.
__ADS_1