
Masih diarea sekolah.
Sang guru sudah masuk membawa buku dan juga satu orang murid baru, seketika isi didalam kelas itu gaduh akan hal tersebut.
Sang guru hanya mampu menggeleng..''Sudah-sudah. kalian jangan berisik'' tegur guru tersebut.
Para siswa pun terlihat sedikit tenang kala mendapat teguran itu, mereka terlihat tidak sabar dengan seruan berikutnya.
''Ok. Hari ini kelas kita mendapatkan murid baru lagi, dan untuk kalian semua harap tenang dalam sesi perkenalan nanti, mengerti'' ujar sang guru tegas, pasalnya dia sangat hapal dengan reaksi anak didiknya itu. Mereka akan gaduh jika mendapat teman baru, apalagi bening dan glowing seperti murid baru yang sekarang.
''Mengerti bu!'' jawab mereka secara kompak dan serentak.
''Bagus. Kamu, silahkan perkenalkan diri pada teman-teman baru kamu'' titah bu guru lagi.
Murid baru itupun mengangguk dengan senyum yang manis, baru ada pergerakan seperti itu saja, desas-desus para siswa sudah terdengar ditelinga.
''Hallo! Selamat pagi'' sapanya sangat santun dan ramah.
''Hallo cantik, selamat pagi'' balas semua murid laki-laki secara kompak.
''Hallo!'' sapaan dari murid perempuan, itupun tidak terlalu kompak. Entah ada apa dengan mereka itu.
''Perkenalkan, nama aku Yuri Prisilia. Semoga kita bisa berteman baik'' ujarnya tanpa mau menyebutkan asal sekolahnya yang dulu.
''Hallo Yuri'' ucap mereka lagi. Yuri hanya tersenyum simpul menanggapinya.
''Baiklah! Yuri sekarang kamu duduk dibangku yang kosong. Dan sekarang kita mulai pelajaran nya, buka halaman 112 pada buku masing-masing'' ucap Guru tersebut.
Yuri berjalan kearah belakang, disana ada tiga bangku yang kosong.
''Duduk dimana yah?'' gumamnya sembari menimang-nimang tempat duduknya.
''Disini aja Yuri'' ujar salah satu murid laki-laki yang kebetulan bangku disebelahnya kosong.
Yuri tersenyum lalu menggeleng, terdengar hembusan napas kecewa dari orang yang menawarinya tadi. Hingga matanya menangkap satu buah bangku kosong paling pojok, Yuri berjalan sangat yakin kearah sana.
Sesampainya disana dia langsung saja duduk, tanpa menyapa ataupun berbasa-basi pada orang yang ada disebelahnya.
''Dia kok duduk disitu sih, itukan tempat duduknya Alvin'' batin Alice sedikit tidak suka terhadap murid baru tersebut, namun dia tidak bisa melayangkan protes apapun saat ini.
"Eh murid baru, pindah sono. Loe gak boleh duduk disitu'' ucap Aiden sedikit bengis.
''Kenapa? Orang bangku ini kosong kok'' balas Yuri tidak kalah judes.
__ADS_1
''Siapa bilang kosong, itu bangku ada penghuninya. Cuma dia lagi kagak masuk aja hari ini'' terang Aiden lagi.
''Berarti hari ini free dong ini bangku, apa salahnya gue duduk disini'' ujar Yuri terdengar tengil
''Ck! Batu juga yah loe, gue pelet kelepek-kelepek loe nanti'' sahut Atala ikut geram.
''Bodo! Dan gak usah so ganteng'' ucap Yuri tidak perduli.
''Dih! Emang gue ganteng kali, mata loe belekan'' balas Atala, yang mendapat pandangan jengah dari Yuri.
Abi yang mendengar hal itupun segera beraksi, dia berjalan kearah bangku milik Alvin yang tengah diduduki oleh Yuri. Lalu secara tiba-tiba, Abi mengambil tas milik Yuri untuk dibawa kemejanya.
''Eh, loe mau bawa kemana tas gue'' pekik Yuri namun tidak kencang, karna keadaan saat ini tengah mengajar. Dia tidak mau dianggap biang rusuh oleh teman-teman barunya.
Abi tidak niat menjawab pertanyaan dari Yuri, dia meletakan tas Yuri dimeja miliknya secara santai. Mau tidak mau Yuri pun bergerak pelan kearah meja tersebut.
''Maksud loe apaan sih, rese banget jadi orang'' sungut Yuri ketus dan tidak terima. Abi mengkode Aiden supaya berpindah tempat duduk.
Alice tersenyum puas melihat hal tersebut, yang mana kini bangku milik Alvin sudah terisi oleh Aiden, sedangkan Atala sudah bergeser menggantikan tempat Aiden. Lalu Abi? Jelas! Dia sudah duduk dibangku milik Atala.
''Gue yakin loe lebih senang gue yang duduk disini, dibanding dia. Gue izin duduk disini yah'' bisik Aiden pada Alice.
''Iya'' balas Alice singkat dan juga menyetujuinya.
''Mau kemana loe'' sentak Yuri saat melihat Abi sudah bergerak pergi dari bangkunya.
Yuri menggeram kesal saat menyadari posisi itu, dia merasa telah tertipu dengan trik yang sedang dimainkan oleh Abi.
Brak...
Yuri duduk dibangku milik Abi dengan perasaan yang dongkol, senyum remeh terlihat dari ketiga pria yang telah berhasil mengusirnya secara halus itu. Yuri mengacungkan jari tengahnya pada mereka bertiga
''Si*lan loe semua!'' desis Yuri menantang.
''Gue tunggu pembalasan dari loe'' balas Abi masih dengan senyum mengejek.
''Hari yang sial, padahal ini hari pertama buat gue'' batin nya kesal.
...****************...
Dibelahan dunia lain nya. Kini Alvin sudah terbang keamerika bersama Ares, mereka tidak berdua semua anggota yang Ares bawa pun ikut pulang keamerika.
Dan saat ini, mereka sudah sampai dikediaman Galih yang bak istana tersebut. Kehadiran mereka disambut baik oleh bawahan nya Galih.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, jamuan istimewa pun sudah disiapkan oleh Galih khusua untuk mereka berdua.
''welcome back to this house, Dady's heroes'' seru Galih kepada dua remaja yang dia anggap jagoan itu.
''Hallo Dad!'' sapa Ares sembari masuk kedekapan sang ayah.
''Bagaimana keadaan kamu Res?'' tanya Galih penuh perhatian pada anak satu-satunya itu
''as Daddy can see. I'm fine, semua berkah Alvin Dadd.'' jawab Ares dengan senyum lebarnya.
Galih mengalihkan pandangan kearah Alvin, lalu kedua tangan nya terbuka secara lebar dengan senyum bangga.
''Alvin, peluklah Daddy'' pinta Galih dengan kemudian. Alvin masuk kedalam dekapan Galih dengan tatapan mata yang lurus serta dalam
''Apa kabar Tuan'' sapa Alvin tidak bisa menghilangkan rasa hormatnya barang sedetik.
''Daddy oke Al, terimakasih banyak atas semua yang sudah kamu lakukan untuk Ares dan juga Daddy. Kami sayang kamu Alvin'' ucap Galih terlihat sungguh-sungguh. Tidak tahu dengan hatinya
''Sama-sama tuan, itu sudah menjadi kewajiban saya'' balas Alvin secara formal. Ares tersenyum miris kala melihat cara Alvin beratraksi dengan ayahnya, sangat canggung dan formal sekali.
''Ah! Silahkan duduk, kita makan malam dulu. Setelah itu kalian boleh istirahat, hm''ujar Galih kembali.
''Baik Dadd!'' balas Ares, sedangkan Alvin hanya mengangguk saja. Mereka memulai makan malam dengan obrolan yang tidak begitu asyik, bahkan monoton menurut Alvin. Karna disini dia tidak bisa mengutarakan apa yang hatinya inginkan saat makan.
''Kapan kamu akan kembali Alvin?'' tanya Galih setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.
''Besok tuan'' balas Alvin sekenanya
''Ah! Kenapa singkat sekali, Daddy masih ingin bersama mu'' ujar Galih terdengar sendu.
"Maaf tuan! Saya harus mengerjakan misi yang tuan berikan, bukankah kejanggalan itu masih belum terjawab'' ucap Alvin menjekaskan, seolah dirinya benar-benar perduli dengan keselamatan Galih.
''Ah betul. Yasudah, terserah kamu Alvin, daddy hanya berdoa untuk keselamatan serta keberhasilanmu'' ujar Galih
''Loe gigih banget dalam menjalankan misi Vin, pantes Daddy sayang banget sama loe'' sahut Ares merasa bangga juga terhadap Alvin.
"Itulah satu alasan mengapa Daddy begitu takut kehilangan Alvin. Ares'' timpal Galih yang sudah menepuk bahu kokoh milik Alvin
Alvin hanya tersenyum simpul menanggapinya, dia jelas bukan manusia b*d*h. Alvin tahu apa maksud dari ucapan Galih tersebut.
''Baiklah, kalian boleh pergi istirahat. Good night'' lanjut Galih
''Oke Daddy, good night'' balas Ares.
__ADS_1
''Selamat malam tuan'' sahut Alvin
''Hm'' balas Galih singkat. Mereka berpencar menuju tempat peristirahatan nya masing-masing.